FF SHINee: It’s Too Late, Minho…

Title : It’s too late, Minho…

Author : angangels

Cast : You (as Kim ___), Minho SHINee, Hwang Jinra (OC), Taemin SHINee, Onew SHINee

Genre : Romance, Sad, Angst (?)

Length : Oneshot

~~~

Your POV

ya, Kim ___ ! kau pasti sedang memikirkan si Minho kan?” ujar seseorang menghentikan lamunanku tentang Minho. Ternyata Jinra.

a-anio…” jawabku.

“ck. Geotjimal. Kau tak pandai berbohong, ___-ya.

Aku menunduk, mengiyakan kata-kata Jinra dalam hati, “bagaimana ini? Ini sudah tahun keempat aku menyukainya tapi sampai sekarang dia tidak sedikitpun merespon…”

Aku, Kim ___. Kini aku duduk di tahun kedua SHS. Minho? Dia… dia adalah cinta pertamaku. Seperti kataku tadi, aku sudah mencintainya selama empat tahun ini. Tapi dia tak merespon sama sekali. Padahal aku yakin, dia tahu jelas bahwa aku menyukainya. Ya, aku memang orang yang tidak pandai menyembunyikan perasaanku sendiri.

“___-ya, lihat ke kanan! Pangeranmu datang…”

Aku menengok perlahan kea rah yang disebutkan Jinra tadi. Ya, Minho sedang duduk tepat di meja sebelahku. Omo! Bagaimana ini?

“ssst…jangan keras-keras. Aku malu.” Jawabku sambil berbisik.

“kau tak menyapanya?”

Aku menggeleng. Hey, sejak kapan kami saling menyapa? Bahkan kami tak saling bertukar senyum walau berpapasan. Kami memang seperti sepasang orang asing.

wae?

“entah. Kalau aku jelas, karena malu untuk menyapanya duluan. Dan dia juga bukan tipe namja yang suka menyapa yeoja duluan kan? Dia tak akan menyapa yeoja kecuali yeoja itu menyapanya duluan.”

“ck. Kalian ini. Kalau begitu tak bisakah kau mengalah? Sapalah Minho duluan…walau bagaimana pun kalian itu teman kan?”

“maunya juga begitu. Tapi aku tak bisa, Jinra-ya. Kau tahu pasti bahwa aku tak bisa menganggap Minho sekedar teman biasa. Karena itu aku selalu merasa awkward jika berpapasan dengannya. Sedihnya, Minho juga jarang menyapaku duluan. Dan bodohnya aku, jika Minho menyapa dan tersenyum aku akan dengan bodohnya pergi dan tak menjawab sapaannya karena aku terlalu senang dan malu di saat yang bersamaan. Jadilah Minho kapok menyapaku. Dan kau bisa lihat kami seperti tak saling kenal. Padahal kami dulu sekolah di JHS yang sama malah sempat sekelas.” Jelasku panjang lebar.

“bagaimana kau mau ada kemajuan dengan Minho? Kalian saja tak pernah saling sapa… mau ku ajarkan cara menyapa Minho?”

“Jang-” baru aku akan bilang jangan, namun Jinra bertindak lebih cepat.

Annyeong, Minho! Sendirian saja?” ujar Jinra.

“hai, Jinra. Ne, aku sedang menunggu Taemin.”

Minho melirikku dan aku hanya diam. Tak lama dia kembali memutar badannya membelakangi kami.

“seperti itulah caranya. Tidak sulit kan?”

Aku mencibir, “kau kan tak punya perasaan apa-apa padanya. Ya jelas berbeda denganku. Melihatnya saja sudah bisa membuatku deg-degan. Bagaimana bisa aku menyapanya?”

***

Minho POV

Aku duduk di kantin sendirian sambil menunggu Taemin. Namun tiba-tiba Jinra menyapaku. Aku melihat ___ yang diam saja saat aku meliriknya. Aku kira dia juga akan menyapaku—seperti Jinra.

Tapi nyatanya tidak. ___ memang selalu seperti itu. Selalu menghindariku. Dia tak pernah meyapaku duluan. Pernah sesekali aku menyapanya, tapi dia malah berlari begitu saja.

Jadi, apa maksudnya?

Apa ___ membenciku?

Tapi kenapa?

***

YOUR POV

“___-ya, aku rasa kau harus bilang pada Minho kalau kau menyukainya.” Ujar Jinra.

Aku menggeleng kuat-kuat. “shireo. Aku malu. Lagipula aku rasa tanpa bilang pun Minho pasti sudah tahu aku menyukainya.”

“itukan perkiraanmu saja. Belum tentu juga Minho tau kalau kau menyukainya.”

Aku menggedikan bahu. “entahlah,”

ya, apakah kau tidak lelah dengan hubungan kalian yang tidak jelas ini? Kau hanya jalan di tempat, ___-ya… setidaknya kau harus melangkah.”

ani. Biarkan saja seperti ini. Nanti juga aku akan melupakan Minho dengan sendirinya.”

***

Satu tahun kemudian, aku masih belum melupakan Minho. Jangan salah, aku sudah mencoba semampuku. Tapi aku selalu gagal. Parahnya, kami masih saja seperti orang yang saling tak mengenal jika bertemu.

“___-ya. kau kelas XII berapa?” tanya Jinra.

“XII sci 5. Kau?”

“XII sci 2. Kau tahu? Minho sekelas denganmu!”

“benarkah?” tanyaku lemas.

ya, mengapa kau tak terlihat senang?”

“bagaimana bisa aku senang? Bagaimanapun aku masih dalam proses melupakan Minho. Dan sekarang apa? Kami sekelas! Aku akan bertemu dengannya setiap hari”

***

Minho POV

Kulihat ___ memasuki kelasku.

Hey, apa kami akan sekelas?

Dia meletakkan tasnya dan duduk. Ya, sepertinya dia memang akan sekelas denganku.

Tapi, mengapa tadi dia melewatiku begitu saja? Tidak kah dia melihatku sekelas dengannya?

“berhubung Jung songsaengnim tidak masuk di jam pertama ini, jadi kita akan atur tempat duduk kita setahun kedepan. Satu meja akan diduduki oleh namja dan yeoja. Karena itu kita akan kocok sekarang.” Ujar Jonghyun.

Satu persatu nama keluar dan menjadi chairmate.

Tapi namaku belum juga keluar. Aku akan duduk dengan siapa ya?

“Choi Minho…” akhirnya namaku keluar juga!

“dan Kim ___”

Kim ___. Tidak buruk. Setidaknya dulu kita pernah sekelas kan?

Kim ___ menghampiri mejaku.

“J-jadi, dimana kita akan duduk? Kita chairmate sekarang.” Ujar ___. Namun matanya tak sekalipun menatapku.

“bagaimana kalau barisan kedua dari depan? Sepertinya itu bagus.” Usulku. ___ mengangguk.

***

Hari-hari berikutnya aku memutuskan untuk menyapa ___ duluan. Awalnya dia masih tak menjawab, namun lama kelamaan dia membalas sapaanku. Setidaknya kini kami sudah saling menyapa.

“___-ssi, mau mengerjakan tugas Biologi bersama?” tawarku.

n-ne? bukankah itu tugas individu?”

“aku rasa aku akan bertanya beberapa pertanyaan yang tak ku bisa padamu. Maukah kau mengajariku?”

___ mengangguk.

“oke. Aku akan kerumahmu sore ini…” tambahku.

***

“Minho-ah, kapan kita akan mengerjakan tugas kelompok seni?” tanya ___.

Sudahkah aku cerita? Aku dan ___ menjadi semakin dekat karena kami sebangku dan selama kelas XII ini tugas kelompok berarti adalah tugas berpasangan. Ya, chairmate berarti teman sekelompokmu selama kelas XII. Aku senang karena ternyata ___ bisa diandalkan, pintar dan bersedia mengajariku.

“bagaimana jika sore ini? Kita bertemu di taman belakang komplekmu, otte?

___ mengangguk.

***

“Minho hyung, tahukah kau? Aku rasa ___ menyukaimu…”ujar Taemin.

“uhuk.. uhuk! Apa katamu barusan?”

“aku serius, hyung. It’s too obvious. Kukira kau sudah tahu sejak lama.”

anio. Darimana kau tahu itu Taemin?”

“cara dia memandangmu. Dan sikapnya dulu jika berpapasan denganmu, hyung.

“bukankah dia tak pernah menyapaku duluan jika kami berpapasan? Bahkan dia selalu menghindar jika aku sapa. Lalu apanya yang kau bilang menyukaiku?”

“kau sungguh polos hyungJincha… Justru itulah yang kubilang menyukaimu. Dia terlalu malu untuk menyapamu karena dia menyukaimu, hyung. Mengerti?”

Aku terdiam. Benar juga kata Taemin.

Jadi, selama ini ___ menyukaiku?

***

Semenjak kejadian siang itu –Taemin menyadarkanku kalau ___ menyukaiku— aku mulai melihat ___ dengan cara yang berbeda.

“Minho-ssi,” ___ mengoyang-goyangkan telapak tangannya didepan wajahku.

“ya?”

“kau melamun? Melamunkan apa?”

Aku menggeleng.

“aku bawa brownies. Kau mau?” tawarnya.

Aku mengambil satu, “gomawo.

Tiba-tiba aku begitu penasaran dan ingin menanyakan apakah ia menyukaiku.

“___-ya. bolehkah aku bertanya?”

___ mengangguk “dulu… mengapa kau terlihat selalu menghindariku?”

___ tersedak. Aku spontan menepuk-nepuk punggungnya. “___-ya, gwaencanha?

***

Aku menceritakan ___ yang tersedak tadi.

“apa kubilang, hyung! ___ menyukaimu.”

Aku mengangguk. “lalu aku harus bagaimana?”

Taemin tertawa. “bagaimana dengan perasaanmu sendiri, hyung? Apa kau juga menyukainya?”

“entahlah. Tapi, aku rasa aku mulai terbiasa dengan keberadaannya. Dan aku nyaman berada di sampingnya.”

“itu berarti kau menyukainya, hyung. Jadi, kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya?”

“haruskah aku menyatakannya?”

“tentu saja, hyung! Itulah yang harus dilakukan seorang namja…Kau ini!”

***

YOUR POV

Aku sedang duduk bersama Minho di tepi sungai Han.

Tanpa sadar aku mengamati wajahnya dengat lekat.

Minho, namja ini yang sudah aku sukai sejak JHS. Namja ini yang sudah membuatku tak bisa melirik namja lain. Namja ini yang aku impikan hampir setiap malam.

“___? Ada apa? Ada yang salah dengan wajahku?” tanya Minho yang memergokiku tengah menatapnya dalam.

A-anio, tidak apa-apa” jawabku grogi.

Duduk bersama Minho berdua saja di tepi sungai Han adalah mimpiku sejak dulu.

Tapi, lihat… sekarang ini benar-benar terjadi. Bahkan, setiap hari akulah orang yang selama lebih dari 7 jam berada disampingnya—ingat? kami adalah chairmate

Ah, Tuhan begitu baik padaku.

Rasanya kali ini adalah kesempatan baik untuk aku menyatakan perasaanku. Biar, aku tak peduli apa kata orang, ‘yeoja yang menembak namja duluan’ ? biar saja.

Aku juga  tak akan peduli jika Minho akan menolakku. Yang penting aku sudah mengatakan tentang perasaanku padanya lima tahun ini.

Setidaknya, setelah aku mengatakan ini. Tidak akan ada penyesalan nantinya… iya kan?

***

Minho POV

“M-Minho-ssi,” panggil ___ yang sedang duduk di sebelahku.

ne? mengapa kau menjadi formal sekali padaku? Seperti saat kita pertama kali sekelas saja… ada apa?” jawabku.

“a-aku…” ___ mengehela napas, “a-aku ingin mengatakan sesuatu padamu…”

Aku mengernyit—heran— apa yang akan ia katakan? Omo! Apakah ___ akan bilang suka padaku? Eh, tapi bisa saja bukan. Percaya diri sekali kau Minho!

“sebenarnya… sudah dari lama aku… a-aku…”

Aku jamin prediksiku pasti benar.

Andwae!

Aku juga menyukaimu ___. Dan tak akan kubiarkan kau mendahuluiku menyatakan cinta padamu.

Tunggu sebentar lagi, ___-ah. Aku sedang mencari waktu yang tepat.

Aku rasa kita belum saatnya bersama.

Omo! Jam berapa sekarang? Sudah sore ___-ah. Besok kita ada ulangan kan? Kajja kita cepat pulang… kita harus belajar…” ucapku berusaha menggagalkan rencananya ‘menembakku’ (?)

“oh, ne..” aku bisa lihat gurat kecewa dari wajahnya yang berubah jadi sendu.

Tunggu sebentar lagi, ___-ssi. Kau akan kujadikan yeojachinguku.

***

hyung! Jadi bagaimana? Apa kau dan ___ sudah jadian?” tanya Taemin yang sedang main di kamarku.

Aku menggeleng.

ya! hyung! Bagaimana sih kau ini? Ck, apa susahnya menembak yeoja? Mau aku ajarkan?” ujar Taemin berapi-api.

Aku mengelus-elus rambutnya, “bukan itu masalahnya, Taemin… kau tak mengerti. Aku sedang mencari waktu yang tepat.”

“waktu yang tepat? Apa itu? Alasan, hyung! Bilang saja kau belum siap! Hyung.. jebal, kali ini tolong dengarkan aku. Aku tahu dimatamu mungkin aku hanya anak kecil sok tahu. Tapi, jebal. Dengarkan aku kali ini saja. Jangan tunda-tunda lagi, hyung. Selagi kau masih bisa bertemu dengan ___. Kalian juga sebentar lagi akan ujian lalu masuk universitas kan?”

aigooo… uri Taeminnie sudah dewasa.” Ujarku sambil mencubit pipinya—gemas— “bagaimana kalau aku bilang aku dan ___ akan berkuliah di universitas yang sama?”

jeongmalyeo hyung?” pekik Taemin.

Aku mengangguk. “jadi, apa aku boleh menyatakan cinta padanya nanti… saat hari pertama kami jadi mahasiswa? Bagaimana menurutmu?”

Taemin tersenyum, “boleh. Tapi ingat hyung. Lebih cepat lebih baik. Siapa tahu ___ ternyata berubah pikiran dan kuliah di tempat lain?”

Aku mengangguk.

***

Aku pasti bermimpi!

Dan ini adalah mimpi buruk.

Rasanya baru dua bulan lalu Taemin memperingatiku untuk cepat menyatakan cinta sebelum ___ pergi. Dan, kau tahu apa?

Taemin benar…

___ meninggalkanku setelah hari kelulusan kami.

Tapi, mengapa begitu tiba-tiba?

Bukankah ia berjanji akan kuliah di tempat yang sama denganku? Kenapa?

Kubaca lagi secakrik kertas yang ditinggalkan ___ untukku.

“Annyeong, Minho!

Ah, mianhae aku telah melanggar janji. Aku tidak jadi berkuliah di tempat yang sama denganmu.

Aku sekeluarga akan pindah ke Jepang. Dan aku akan melanjutkan studyku disana.

Mianhae, Minho.

Ini terlalu mendadak. Aku juga kaget.

Aku ingin tetap tinggal. Tapi aku tak kuasa melawan keinginan orang tuaku, Minho.

Jadi, tolong maafkan aku… Jebal.

Maaf juga aku sampai tak bisa menemuimu untuk berpamitan. Aku takut tak sanggup meninggalkanmu, Minho.

Saranghae.

Kata itulah yang ingin aku ucapkan saat kita duduk berdua di tepi sungai Han.

Aku sudah mencintaimu dari lama, Minho. Lima tahun.

Kau dulu pernah bertanya mengapa aku dulu tak pernah menyapamu dan selalu menghindarimu kan?

Itu karena aku malu, Minho. Aku menyukaimu. Untuk mentap matamu saja aku tak mampu.

Terima kasih, sudah menjadi chairmateku selama setahun ini. Kau tahu? Bagiku itu seperti mimpi yang jadi nyata… Setahun duduk bersama orang yang aku cintai. Sungguh sebuah anugerah.

Maafkan aku Minho.

Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi.

Kim ___.”

Lagi-lagi airmataku jatuh.Kim ___. Beraninya kau pergi bahkan sebelum aku mengatakan bahwa aku juga mencintaimu.

Kim ___. Aku berjanji jika kita bertemu lagi, aku akan menyatakan perasaanku ini. Aku tak akan menunda-nundanya lagi.

Saranghae, ___-ssi.

***

Lima Tahun kemudian…

Tok tok.

“masuk,” kataku.

sajangnim, ada yang ingin menemuimu.” Ujar asistenku.

nuguseyo? Kalau tak penting suruh dia kembali lain kali. Aku sedang banyak kerjaan.” Jawabku sambil menandatangani berkas-berkas yang sangat menumpuk.

“Choi Minho, apa aku menganggu?”

Suara itu….

Aku mendongkakkan kepalaku untuk melihatnya. “Kim ___ ?”

Apa aku bermimpi?

***

ya! kau keren sekali sekarang, Minho… kau sudah menjadi direktur sebuah perusahaan besar. Kau juga terlihat sangat sibuk tadi. Apa kau menggangu?” tanya ___.

anio. Apa kabar, ___-ssi?

“aku baik. Kau?”

“tidak pernah baik semenjak kau meninggalkanku…” jawabku jujur.

___ terlihat sedikit terkejut.

Kali ini, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatanku. Aku harus menyatakan perasaanku yang masih ku rasakan sampai saat ini padanya sekarang juga.

“___-ah, mungkin ini sudah terlambat. Tapi.. aku tetap harus mengatakannya.” Aku menarik napas, “Saranghae, Kim ___. Aku mencintaimu semenjak kita sekelas saat SHS dulu.”

___ tersenyum. Mungkinkah dia masih menyukaiku juga?

“terima kasih sudah mencintaiku juga, Minho. Tapi kau benar… Kau sudah terlambat…”

“maksudmu?” tanyaku bingung.

___ kembali tersenyum. Tapi aku tak suka melihat senyumnya kali ini, senyumnya mengandung kepedihan.

___ menyodorkan sesuatu kearahku. Aku meraihnya dan terbelalak.

Undangan pernikahan?

“seminggu lagi aku akan menjadi nyonya Lee. aku harap kau bisa datang.”

Aku mengambil undangan itu dan membacanya. Kim ___ dan Lee Jinki.

Seketika duniaku runtuh.

-END ^^-

4 thoughts on “FF SHINee: It’s Too Late, Minho…

  1. Ckckk bener² terlambat pukpukpuk Minho tenang masih ada byulgi koq ㅋㅋㅋ
    Ini angst yaa? tp aku suka endingnya lohh😀
    Nyonya Lee😀 Dari awal baca aku udh ngebayangin yg jd main cast yeojanya itu aku. Kebetulan marganya Kim. Nama koreaku kn Kim Hee Rin hihihi.. pas baca endingnya mrka g brsatu, aku malh senang wkkk😄 #mianhae minho ^^)v

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s