FF Freelance: 3 Wishes For You

3 Wishes For You

 

Author : Kim Kinra a.k.a Amkin

Main Cast : Lee Jinki (Onew), Shim Haeri

Other Cast : Kim Key Bum, Lee Taemin, Choi Soojong

Genre : Romance, Comedy, Teenage Life

Rating : PG-17

Length : One Shot

A.N : Ini adalah satu dari bejibun ff abal-abal yang aku punya. Jadi mohon maaf kalau ceritanya gak bermutu, membosankan, dan kurang berkenan. Tapi author bakalan seneng banget kalau readers seneng baca ff ini.

FF ini aku dedikasiin buat Byul Gi yang udah bersedia mempublish FF ini. Gomawo saengi.. Ingat tidak ada plagiarisme dalam proses pembuatan FF ini. Karena idenya sepenuhnya dari saya.

Sekali lagi cast SHINee di sini punya keluarga, SM, Shawol, dan Tuhan. Sedangkan Shim Haeri, cuman nama yang aku asal comot doang. Dari pada panjang lebar, ngomong gak jelas, saya sebagai author mengucapkan “Selamat Membaca!”

Don’t be SILENT READERS OK! Kasihan sama author dan empunya Wp ini kalau kalian cuman main dateng, baca tapi gak ninggalin jejak sama sekali.

[ Byul Gi notes (?): Annyeong readeeeeeeeeeeeeeeer maap ya, bukannya dateng bawa update-an cerita baru saya malah bawa FF Frelance XD Maap yaaaa *deep bow* Okeh, langsung aja deh. Tolong dibaca ini FF Frelance punya Amkin eon. Dan tolong dikomennya. Pleaseeeeeeee… Kalau kalian jadi siders FF buatanku sih aku masih bisa terima deh. Tapi sekali lagi tolong yaaaaa, dikomen ini FF soalnya FF ini bukan buatan saya. Makasih looooh🙂 ]

 

————————————oo———————————-

 

Haeri POV

 

Haish, Jinja! Kenapa tugas ini gak kelar-kelar sih. Seharian penuh aku duduk manis di depan laptop mungil ini, kenapa tidak ada perkembangan yang bagus. Copy-Paste-Edit Delete.

Oh God! Wae? Kenapa otakku tidak bisa diajak kompromi? Ottokhae?

 

Oh ya, Jinki. Kenapa dari tadi gak kepikiran anak pinter satu ini? Cepat-cepat aku ambil ponselku. Tak perlu waktu lama untuk tersambung di nomor yang sudah aku hapal di luar kepala. Biasalah, aku selalu menerapkam ilmu “Setiap ada masalah silahkan hubungi Jinki..”. Itu sudah menjadi tradisi mendalam semenjak si Dubu itu menjadi tetangga sebelah rumahku.

 

Yeoboseyo?

 

Yakk! Dubu! Cepat ke rumah! Kalau dalam 5 menit kau belum ada di depan rumahku, mati kau!” ancamku pada si empunya suara di ujung sana.

 

“Woi! Bicara pelan dikit bisa kan? Kau itu, selalu teriak-teriak, Shim Haeri. Mwo? Untuk apa ke rumahmu? Ada masalah apa lagi? Disuruh bantuin ngerjain tugas lagi? Shireo! Kerjakan sendiri. Aku capek, mau tidur. Annyeong!”

 

Bip.

 

“Ya! Ya! Yaaa! Dubu!”

 

Sial dimatiin lagi. Ck, kenapa anak ini susah banget sih dimintain tolong? Gak ada cara lain, selain samperin rumah gigi kelinci dan bikin keributan di sana. Mianhae Jinki, kau yang sudah membuatku harus mengganggu tidur lelapmu. Hehehe… #evil laugh.(Jadi inget ketawanya Onew pas di Jkpop Crzay,ada yang tau?)

 

-Dubudubu-

 

-At Jinki’s Home-

 

Tok..Tok..Tok..

 

 

Tok..Tok..Tok..

 

 

Tok..Tok..Tok..

 

Ini anak beneran molor nih? Just wait and see Dubu. Siapa bilang kau bisa tidur nyenyak sekarang. Segera saja aku memanjat ke kamarnya lewat tembok di sebelah rumahnya. Lumyanlah letak rumah kami yang bersebelahan ini memang dibatas tembok besi yang sesekali bahkan berulang kali memudahkan kami berdua untuk saling berhubungan. Ya dalam artian, menyuruh Jinki datang ke rumah saat dibutuhkan seperti sekarang ini tanpa diketahui kedua orang tuaku.

 

Sebenarnya orang tuaku tidak melarangku untuk berhubungan dengan Jinki. Malah mereka senang saat Jinki pindah di sebelah rumahku. Ya, orang tua mana yang tidak senang anaknya bisa bergaul dengan namja cakep, imut-imut, pinter, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung(?) ditambah lagi mandiri dan berasal dari orang yang berada. Memang pujian itu yang biasa dilontarkan eomma dan appa ku kalau dia berkunjung ke rumah. Tapi justru karena itulah aku tidak mau dia ke rumah dan bertemu dengan kedua orang tuaku. Bisa enek aku mendengar segala pujian itu. Meskipun pujian itu fakta, tapi tetap saja aku tak terima dengan segala pujian untuknya. Makanya Jinki sering ku suruh kerumah lewat tembok besi ini, seperti yang aku lakukan sekarang.

 

1, 2, 3, 4, 5

 

Hap.

 

Yes, dalam hitungan ke 5 aku sudah sampai di balkon rumahnya. Jangan remehkan aku, Shim Haeri, Si Pemanjat Ulung. Wakakakak.#lupakan

 

Ku ketuk pintu kamarnya. 1 menit berlalu tapi dia belum membuka pintunya. Benar-benar kebo. Kalau udah tidur susah dibangunin. 5 menit berlalu, aku masih di luar kamarnya. Sudah tida ada jalan lain.

 

Yakk, Dubu! Bangun! Kau bangun dan membukakan pintu atau ku bakar peternakan ayammu? Cepat bangun dan bukakan pintu!”

 

Jinki POV

 

Selalu saja. Kalau ada maunya aja telepon. Dasar yeoja tengil. Mana suara udah kaya’ toa masjid. Biarin aja aku tinggal tidur. Sekali-kali menyuruh dia untuk berusaha ngerjain tugas sendiri gak ada salahnya kan?

 

Hoaammhh.. Lebih baik aku tidur. Semoga aku bermimpi makan ayam nanti. #dasar maniak ayam! #digorok MVP.

 

Yakk, Dubu! Bangun! Kau bangun dan membukakan pintu atau ku bakar peternakan ayammu? Cepat bangun dan bukakan pintu!”

 

Greb..

 

Ck! Baru saja aku mau makan ayam di mimpiku. Kenapa nenek lampir itu datang? Beneran dah, dia benar-benar pengacau. Kenapa harus ada dia sih di dunia ini? Dengan terpaksa aku membukakan pintu kamar yang menghubungkan kamarku dengan balkon tempat Haeri sekarang berada. Daripada peternakan ayamku melayang, lebih baik ku lakukan ini.

 

“Haish, Shim Haeri! Tak bisakah kau tidak menggangguku? Kenapa kau selalu merusak hidup tentramku? Kau mau apa sih?” ucapku pada yeoja tengil ini.

 

“Apa ucapanku di telepon tadi kurang jelas Tuan Jinki? Aku butuh bantuanmu. Ayolah, tolong aku!” jelasnya sambil mengeluarkan puppy eyes-nya.

 

Yakk! tidak usah ber-agyeo ria di hadapanku. Itu tidak akan mempan. Kau tadi kan tidak meminta tolong padaku? Kau hanya menyuruhku datang ke rumahmu dengan suaramu yang bisa membuat telingaku tuli tau. So, aku tidak salah kan jika tak datang?” balasku. Ku lihat dia baru sadar kalau dia tidak meminta tolong padaku tadi. Hahaha.. Pasti dia malu sekarang.

 

“Sudahlah, lebih baik sekarang kau pulang. Aku mau tidur. Annyeong!” ucapku sekali lagi pada Haeri.

 

Greb..

 

Tanganku di tarik lagi oleh Haeri. Terpaksa aku menoleh padanya.

 

“Oh ayolah Jinki. Aku mohon tolong bantu aku. Bukankah kau tahu konsekuensi kalau aku tidak menyelesaikan tugas ini. Ayolah, tolong!”

 

Sial kalau sudah begini bisa susah nih.

 

“Begini deh. aku akan membuat penawaran. Kau bantu aku, lalu aku akan mengabulkan 3 permohonanmu. Otte? Jarang-jarang lho aku membuat penawaran seperti ini?” tambah Haeri lagi.

 

“Haishh. Ne..ne..ne..

Geurae..3 permohonan ok!

 

“Yey. Gomapta chingu-a!

 

Tiba-tiba saja dia memelukku. Apa sebegitu bahagianya dia, kalau aku akhirnya membantunya. Haeri..Haeri.. Kau bisa membuatku mati dengan kelakuan anehmu ini. Kadang-kadang bisa manis, eh 5 menit berikutnya balik lagi jadi yeoja tengil.

 

(Acara belajarnya di skip aja,ok)

 

Hampir 3 jam aku membantu Haeri mengerjakan tugasnya. Dan akhirnya selesai juga.. Sebenarnya yang paling banyak mengerjakan aku, dia hanya menambah beberapa di sana-sini dan pada akhirnya meninggalkan aku untuk tidur. Tapi aku hargai kerja kerasnya. Meskipun galak, keras kepala dan selalu ingin menang sendiri, dia tipe yeoja yang pantang menyerah dan kerja keras. Meskipun dia tahu kalau dia tak bisa apa-apa.

 

“Haeri-a bangun. Tugasmu sudah selesai. Kau tak ingin pulang?” ku guncang badan mungilnya dengan perlahan. Kalau sudah tertidur begini, aku tak tega untuk membangunkannya. Entah mengapa aku senang saat melihat dia tidur. Berulang kali aku melihatnya tertidur saat mengerjakan tugas dan itu adalah hal yang paling kusuka. Mungkin selain aku tidak akan mendengar suaranya yang seperti kapal pecah, aku bisa menatap wajahnya yang mempunyai daya tarik tersendiri. Tak usah memintaku untuk mendeskripsikannya. Karena aku tak mau ada orang yang tahu.

 

“Euungh. Sudah selesaikah Jinki? Mianhae. Lagi-lagi aku tertidur,” Haeri meminta maaf padaku. Jarang-jarang aku melihatnya bersikap manis seperti ini.

 

“Ya..ya.. Sekarang kau pulang saja. Tidur dan besok bangun pagi-pagi. Jangan sampai terlambat. Kamu gak mau kena hukum Lee Sam kan?”

 

Ne..Gomaawoo!!

 

“Oh ya Haeri. Jangan lupa 3 wishes. Ok?” ucapku sebelum Haeri keluar dari kamarku.

 

Ne. Aku takkan lupa. Kalau aku lupa, kau bisa berbuat apapun padaku sesukamu. Annyeong!” balas Haeri. Sesaat kemudian dia keluar dari kamarku.

 

Lebih baik aku kembali melanjutkan tidurku. Gara-gara dia aku jadi tidak bisa tidur. Jam berapa sekarang? Omo, jam 1? Jadi sekarang sudah jam 1? Benar-benar anak itu.

 

-Dubudubu-

 

Author POV

 

-At Konkuk University-

 

Hyung!” panggil seorang namja bermata kucing pada seorang namja yang lebih tua darinya.

 

Annyeong Key-a” balas namja mata sipit itu dengan lemas.

 

Yakk, Jinki hyung. Kau kenapa? Lemas amat. Omo, matamu? Wae? Apa ini gara-gara Haeri lagi? Tuh kan, hyung. Makanya kau pindah rumah saja. Balik lagi ke rumahmu yang lama. Daripada harus bertetangga dengan yeoja penyihir, tengil, suara udah kayak toa,” cerocos Key pada Jinki.

 

“Bisakah kau tenang sedikit Key? Kalau kau terus berceloteh seperti itu, kau tak ada bedanya dengan Haeri. Dan satu lagi. Aku akan hidup mandiri. Bukan bergantung lagi pada kedua orang tua angkatku. Sudah cukup aku menyusahkan mereka. Sudahlah aku mau ke kelas dulu,” balas Jinki sambil meninggalkan Key yang cemberut mendengar perkataan Jinki.

 

“Haish. Kau selalu begitu hyung. Kenapa sih hyung ini?” gerutu Key.

 

Key berlari kecil menyusul Jinki yang sudah berjalan duluan ke kelas mereka. Tapi di tengah jalan,

 

Bruukk..

 

“Kunci! Kau itu bisa gak sih jalan pakai mata? Mata kucingmu itu itu kau pakai untuk apa?” bentak seorang yeoja pada Key.

 

“Kau yang jalan pakai apa? Matamu kau taruh mana? Menunduk terus kalau jalan,” balas Key tak kalah galaknya.

 

“Pakai kaki lah. Nah itu kau tahu aku sedang apa. Harusnya kau yang minggir. Aku kan gak tahu kalau ada kamu. Kalau kau tahu aku ada di depanmu, harusnya kau minggir sedikit. Bukan malah ditabrak. Dasar namja!” omel yeoja itu yang tak lain adalah Haeri.

 

Mwo? Haish kau ini. Susah banget dibilangin. Malas aku berurusan denganmu. Aku kelas dulu saja. Dasa yeoja tengil!” ejek Key kemudian berlalu dari hadapan Haeri.

 

Haeri yang mendengar ucapan Key hanya bisa menggerutu kesal. Meskipun Key adalah sunbae-nya di kampus, Haeri tidak pernah bersikap sopan padanya. Mereka sudah seperti kucing dan anjing. Apa lagi kalau sudah ditambah lagi dengan Jinki. Bisa terjadi keributan besar. Tikus, kucing, dan anjing saling kejar-kejaran. Perang dunia III bisa terjadi tuh.

 

-Dubudubu-

 

-At Jinki’s Class-

 

Waeyo Key?” tanya Jinki setelah melihat Key masuk kelas dengan muka kesalnya.

 

“Biasalah hyung. Gara-gara yeoja yang tinggal di sebleah rumahmu. Bisa gila aku kalau ketemu yeoja seperti dia,” jelas Key pada Jinki.

 

“Kau itu seperti kucing dan anjing saja,” ejek Jinki.

 

“Apa bedanya dengan kau, hyung?” elak Key.

 

Pertengkaran kecil mereka terhenti saat Kangin Sam sudah masuk kelas.

 

-Dubudubu-

 

Haeri POV

 

Teet..Teet..

 

Akhirnya istirahat juga. Untung saja tugasku selesai tadi malam. Aku harus berterima kasih pada Jinki. Berkat dia aku tidak kena hukum lagi. Bisa-bisa di DO aku kalau tugas yang ini gak selesai. Ke kantin dulu ah.

 

-At Canteen-

 

Ramai sekali kantin ini. Apa tak ada tempat kosong. Tak tahu apa aku lagi lapar. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kantin. Nah itu ada yang kosong. Tapi kenapa harus ada duo sialan itu. Ani, lebih tepatnya kenapa harus ada si Kunci itu. Kalau Dubu untuk hari ini saja aku tidak akan membuat ulah dengannya tapi Kunci? Jangan harap aku bersikap baik pada anak satu ini.

 

Biarlah dari pada tidak duduk. Mending aku samperin mereka dan duduk bersama mereka. Meski harus berperang dingin dengan Key.

 

“Boleh aku duduk di sini?” tanyaku dengan manis pada mereka berdua. Lebih tepatnya Jinki.

 

Shireo!” jawab namja yang tak lain dan tak bukan adalah Key. Sepertinya dia benar-benar marah gara-gara ucapanku tadi. Tapi dia juga salah. So, aku tak sepenuhnya salah kan atas kejadian tadi pagi.

 

“Aku tidak berbicara denganmu, Kunci. Aku berbicara dengan Jinki. Bolehkan Jinki?”

 

“Kau kesambet setan apa berbicara manis pada Jinki hyung? Pasti ada maunya?” tanya Key masih belum memperbolehkan Haeri duduk.

 

“Anggap ini ucapan terima kasihku pada Jinki. Berkat dia tugasku selesai dan aku tidak kena DO. Sudahlah, malas aku berdebat denganmu. Jadi bolehkan aku duduk di sini?” tanyaku lagi pada Jinki. Kulihat Key masih sedikit shock dengan perubahan sikapku saat ini.

 

Tak apalah seperti ini dulu untuk hari ini juga. Hitung-hitung hemat suara. Hihihi..

 

“Bertengkar terus. Sudah duduklah, Haeri. Capek aku mendengar kalian adu mulut terus”

 

Akhirnya Jinki memperbolehkanku untuk duduk. Kami bertiga makan dalam diam. Entah apa yang mereka pikirkan dalam benak mereka masing-masing.

 

“Ehem..ehem..” Jinki berdehem, berusaha memecahkan keheningan di antara kami. Karena tak biasanya kami berkumpul tapi tak tejadi kericuhan di antara kami.

 

“Eh, Haeri-a, soal 3 wishes itu boleh aku pakai mulai hari ini?” tanya Jinki padaku.

 

“Uhuk..uhuk..”

 

Yakk! Pelan-pelan kalau makan,” ucap Jinki sambil menyerahkan segelas air padaku.

 

Key yang melihat tingkah kami hanya menatap kami berdua heran. Seakan dia meminta penjelasan atas ucapan Jinki tadi dan tingkah lakuku pada Jinki tadi.

 

Ne..ne.. Kau bisa memakai 3 wishes itu mulai sekarang. Tapi sebelum itu, kau jelaskan saja dulu pada sahabatmu itu. Aku tak suka dengan tatapan selidiknya itu,” pintaku pada Jinki.

 

Jujur saja aku memang paling tidak suka di lihat seperti itu oleh Key. Meskipun aku sering sekali bertengkar dengan dia dan terkesan tak pernah takut dengan Key tapi kalau sudah harus menghadapi tatapannya yang satu ini, aku takkan bisa berkutik.

 

Jinki akhirnya menjelaskan panjang lebar kejadian tadi malam. Ku lihat Key hanya mangut-mangut saja. Tapi tiba-tiba ada senyum evil di akhir aktivitasnya. Apa yang ia rencanakan. Oh Tuhan. Semoga ia tidak merencanakan sesuatu yang tidak-tidak padaku.

 

“Ya, Jinki hyung. Aku boleh minta permintaanmu satu? Dari 3 permintaanmu itu ku pakai satu ya? Jebal!” rengek Key pada Jinki. Sungguh menjijikkan kau Key. Kalau dengan Jinki saja kau bisa begitu.

 

Haish, kenapa harus aku yang panas sendiri. No..no..no.. Aku tidak boleh seperti ini. Ngapain gerah ngeliat kelakuan Key pada Jinki. Haish dasar namja aneh.

 

Shireo! 3 wishes ini punyaku. Takkan kubagi padamu. Kapan lagi aku dapat kesempatan seperti ini,” balas Jinki dengan tatapan evil-nya.

 

Oh Tuhan. Kurasa aku sudah memberi penawaran yang salah. Meskipun aku lolos dari rencana busuk Key tapi Jinki? Apa yang akan lakukan dengan 3 permintaan itu? Kenapa aku tidak berpikir dulu semalam. Kalau tahu akan begini mestinya aku mencari penawaran lain. Dasar kau pabbo, Shim Haeri.

 

Kurae. Haeri-a aku sudah menentukan permintaan pertamaku. Permintaannya kabulkan 3 permintaanku untuk hari ini. Dan permintaan yang pertama untuk hari ini akan ku beritahu nanti jam 4 sore. Kutunggu kau di depan rumah jam 4 sore. Annyeong!” jelas Jinki lalu meninggalkanku sendiri di meja ini. Karena Key buru-buru berdiri menyusul Jinki.

 

Jinki POV

 

Hyung, apa yang kau rencanakan? Kau aneh hyung. Dari tadi tidak bertengkar dengan Haeri. Biasanya kan kau selalu duet denganku kalau soal ngerjain Haeri. Apa jangan-jangan kau sudah..,”

 

“Ssstt. Kau bicara apa sih Key. Mana mungkin itu terjadi,” elakku pada Key. Aku gak mau Key tahu apa alasan di balik sikapku sedari pagi tadi.

 

Hyung, kau pikir aku kenalmu baru kemaren gitu. Aku tahu gelagatmu dengan baik hyung!” jawab Key lagi.

 

Memang aku gak bisa menyembunyikan sesuatu dari si almighty ini. Mian Key..

 

Hyung meskipun aku tidak setuju, tapi kalau kau bahagia dengan pilihanmu ini aku ikut mendukung. Tapi jangan memintaku untuk bersikap baik sepertimu juga. Dan satu saranku jangan membuat kesalah yang bisa membuat kamu dan Haeri terluka untuk pilihan gilamu yang satu ini,” pinta Key panjang lebar.

 

Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Key. Memang hanya dia yang tahu bagaimana perasaanku saat ini. Meskipun terlihat cerewet, dingin bin ganas, Key adalah seorang sahabat yang benar-benar bisa diandalkan.

 

-Dubudubu-

 

-4 o’clock-

 

Aku menunggu Haeri di depan rumahku. Lama sekali dia. 20 menit kemudian aku melihat dia keluar dari rumahnya dan berlari kecil ke arahku.

 

“Kau itu lama sekali sih. Ketiduran?” tanyaku sedikit mengejekku pada Haeri.

 

Dia hanya mengangguk lemah. Kurasa dia masih mengantuk.

 

“Dasar kau ini. Sudah cepat naik. Aku tak mau kau merusak segala yang sudah ku persiapkan,” pintaku pada Haeri.

 

Haeri akhirnya naik ke atas motorku setelah mengangguk pasrah untuk kedua kalinya. Aigoo, kyeopta. Kujalankan motorku dengan kecepatan sedang. Karena aku tidak akan merusak semua yang sudah aku susun secara rapi ini.

 

Setibanya di tempat tujuan aku menyuruh Haeri untuk turun. Dia terlihat bingung dengan tempat ini. Secara gitu, aku mengajakanya ke salon. Tempat yang sangat jarang sekali ia datangi.

 

“Sudah kau masuk saja ini permintaan pertamaku. Turuti semua kemauanku saat di dalam salon ini. Tak boleh protes,” jawabku tegas. Haeri terlihat tak bisa mengatakan apa-apa. Mianhae Haeri-a aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi.

 

Haeri POV

 

Aigoo apa-apaan si Jinki ini. Salon? Bahkan aku tak pernah ada niatan untuk masuk ke dalam tempat ini. Kenapa dia malah mengajakku ke sini. Baru saja aku masuk, Jinki sudah menyuruh seorang yeoja untuk mempermakku habis-habisan. Apa yang sebenarnya dia rencanakan?

 

Tak perlu waktu lama aku sudah tidak menjadi diriku yang biasanya. Mini dress, rambut yang di gerai dengan jepit sebagai pemanisnya dan sepatu hak tinggi yang hanya setinggi 3 cm sehingga tidak terlalu menyusahkanku untuk berjalan. Sungguh mengaggumkan, aku berbeda sepenuhnya dari diriku biasanya. Dan Jinki? Jangan tanya dia bagaimana. Ternyata sedari tadi dia tidak duduk diam saja. Ternyata dia ikut mempermak diri. Meski tidak seribet diriku tentunya. Tapi yang jelas dia terlihat tambah tampan dengan suit yang ia pakai sekarang. Ditambah lagi kacamata tanpa frame-nya yang menghiasi mata sipitnya itu. kenapa dia harus jadi begitu tampannya hari ini? Aku benci kalau aku harus mengakui dia tampan.

 

Perfect. Gomawo noona,” ucap Jinki pada yeoja tadi.

 

Kajja,” ajak Jinki sambil menarik tanganku. Oh, tolong aku Tuhan. Jangan biarkan aku untuk mengakui semua ini. Jebal Jinki, jangan buat aku mengakui hal konyol ini sekarang.

 

“Karena kau sekarang memakai dress jadi kita tidak bisa naik motor. Kita naik taksi tak apa kan? Biar nanti Key, yang akan mengambil motorku.”

 

“Kenapa gak dari tadi aja naik taksinya Dubu?” dasar anak ini. Pinter-pinter, oon juga.

 

“Haish, kau tak tahu apa yang aku pikirkan sekarang. Jadi jangan banyak komentar. Arachi?” balas Jinki. Sungguh anak ini.

 

Ternyata Jinki mengajakku untuk makan malam. Di restaurant Perancis yang letaknya tak terlalu jau dari rumah kami berdua. Dia menggenggam tanganku dan menuntunku masuk ke dalam. Apa permintaannya yang kedua hari ini? Kenapa dia selalu membuat kejutan yang bisa membuat jantungku ini copot? Wae Jinki?

 

“Silahkan duduk Nona,” ucap Jinki mempersilahkan aku duduk. Dia tersenyum sangat manis. Kenapa harus saat ini kau berperilaku seprti ini? Apa permintaan keduamu ini, kau ingin membuatku mati melihat segala kesempurnaan yang kau miliki sekarang? Kau ingin membunhku dengan mempercepat detak jantungku kah?

 

“Kau ingin pesan apa?” tanya Jinki padaku.

 

“Terserah kau saja,” jawabku.

 

Setelah itu dia memesan beberapa menu. Kami terdiam beberapa saat.

 

“Jinki?”

 

“Heem” dia hanya bergumam menanggapi ucapanku tadi sambil memainkan hp nya.

 

“Kenapa kau mengajakku ke sini?”

 

“Untuk makan,” jawabnya singkat.

 

“Ck. Aku tahu kalau untuk makan. Tapi kenapa harus berpakaian seperti ini? Dan kenapa harus di restaurant Perancis?” tanyaku lagi padanya?

 

“Kau ini memang selalu ingin tahu ya. Pertama aku hanya ini melihatmu berbeda dari biasanya. Bosan tahu ngeliat yeoja kayak kamu cuman pake T-shirt, hoodie, celana panjang, sneakers. Nah sekarang aku ingin kau sedikit berubah. Setidak terlihat lebih layak untuk disebut yeoja. Kedua, aku tahu kau suka masakan Perancis, tapi karena eomma dan appa-mu belakangan ini sibuk jadi kau tidak bisa makan makanan kesukaanmu ini. Makanya aku ajak kau kemari,” jelas Jinki panjang lebar.

 

Jujur aku tertegun dengan penjelasannya tadi. Matanya yang sedari tadi menatapku saat menjelaskan alasan mengapa ia memperlakukanku seperti ini sungguh membuatku takjub. Tak ada kebohongan, dan tersirat ketulusan di dalamnya. Lalu untuk apa dia meminta permohonan yang seharusnya menguntungkan diriku? Kenapa tidak meminta sesuatu yang bisa menguntungkan dirinya seperti yang biasa ia lakukan? Tolong jangan beri aku harapan Jinki.

 

Setelah makan, kami berdua pulang jalan kaki. Karena letak restaurant yang tidak terlalu jauh dari rumah kami berdua, kami memutusakan pulang jalan kaki saja. Hitung-hitung hemat biaya. Tapi meskipun tidak terlalu jauh, tetap saja aku capek kalau harus berjalan dengan menggunakan heels ini. Meskipun tak terlalu tinggi tapi aku kan tidak terlalu terbiasa.

 

Tiba-tiba Jinki berjongkok di depanku.

 

“Naiklah. Aku tahu kau capek. Kau kan tak terbiasa jalan jauh dengan memakai heels,” ucap Jinki yang sukses membuatku tercengang.

 

“Sudah naik saja. Atau ku tarik lagi tawaranku. Ingat ini sudah malam. Kau tak ingin mati kedinginan di laur sini kan kalau tak cepat sampai di rumah?”

 

Aku hanya bisa mengangguk. Lagi-lagi aku tak berkutik dengan perlakuannya saat ini. Aku naik ke punggungnya. Dia menggendongku. Menggendongku? Kesambet setan apa dia jadi begitu baik padaku?

 

“Apa kau heran dengan perlakuanku saat ini?” tanya Jinki. Kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan sekarang?

 

“Tak usah takut. Aku tidak bisa membaca pikiran seseorang. Aku tahu dari detak jantungmu yang sedari tadi berdetak cepat,” jawabnya yang sukses membuat mukaku seperti kepiting rebus. Dasar kau Jinki, ini tidak lucu.

 

Setibanya di depan rumah, Jinki menurunkanku. Aku berterima kasih banyak padanya untuk hari ini. Sebelum aku masuk rumah Jinki memanggilku lagi.

 

Jaljayo! Permintaan terakhirku untuk hari ini besok kita jalan-jalan lagi ya! ingat kau tak bisa menolak. Itu adalah permintaan terakhir dari permintaan pertama yang aku punya. Masih ada 2 permintaan lagi,” teriak Jinki.

 

Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Entah mengapa aku mulai terhipnotis oleh segala yang dilakukan Jinki hari ini. Apa aku mulai jatuh hati pada nya? Aagghh aku ingin cepat-cepat tidur dan bertemu hari esok.

 

-Dubudubu-

 

-Esok harinya di Konkuk University-

 

Jinki POV

 

La..la..la.. Aku besenandung ria selama perjalananku ke kampus. Aku tak sabar menunggu saat pulang sekolah. Tinggal 2 permintaan lagi dan akan aku ungkapkan segalanya.

 

“Jinki Hyung,” kurasa Key memanggilku. Kuedarkan pandanganku hingga ku lihat dia sedang bersandar di tembok gerbang kampus.

 

“Kemarin, otte?” tanya Key.

 

“Oh itu. Sukses besar,” jawabku singkat.

 

Hyung kau harus menceritakan semuanya padaku. Aku penasaran tingkat tinggi ini,” pinta Key.

 

Terpaksa ku ceritakan semuanya pada Key. Tak ada yang terlewatkan. Dia hanya bisa terbahak-bahak mendengarnya.

 

“Tak kusangka hyung. Kau bisa membuat yeoja itu berubah jadi gadis manis dalam sehari. Kau hebat hyung. Sudah kupastikan kau pasti bisa mendapatkannya hyung. Tak kusangka hyung sebentar lagi akan bisa berpacaran dengan mantan teman rusuhnya. Hahahaha…” dasar Key kalau sudah ketawa gak bisa diberhentiin. Lebih baik kutinggalkan saja dia. Aku ingin cepat-cepat ke kelas. Lalu pulang nanti jalan-jalan lagi dengan Haeri.

 

Teet..Teet..Teet..

 

Jam kuliahku hari ini sudah selesai. Akhirnya aku bisa pulang juga. Apa Haeri masih ada jam kuliah? Kuharap dia sudah selesai. Langsung saja kususul Haeri di kelasnya meninggalkan Key yang masih sibuk membereskan bukunya.

 

“Haeri-a” panggilku.

 

Dia menoleh dan berjalan ke arahku. Kurasa ada yang berbeda dengannya. Tunggu sebentar. Rok? Rambut digerai? Apa dia salah makan?

 

“Kau berbeda?” tanyaku akhirnya.

 

“Hehehe..” dia hanya bisa nyengir indah menanggapi ucpanku tadi. Apakah ini efek semalam. Kalau iya, itu sungguh membuatku senang.

 

“Ya sudah, Kajja!” ku genggam tangan Haeri. Sepintas ku lirik dia masih kaget dengan kelakuanku tadi. Tapi dia memilih untuk diam saja. Aku mengajaknya jalan-jalan di taman hiburan. Hitung-hitung melepas stres. Kami berdua tertawa lepas. Menikmati berbagai macam wahana yang ada. Haeri juga sudah berubah sikapnya padaku. Bolehkah aku berpikir dia mulai menerimaku ada di sisinya?

 

Hari sudah mulai sore. Aku mengajak Haeri ke toko aksesoris. Haeri terlihat sedang asyik sendiri memilih bando. Ternyata dia punya sisi perempuan juga. Yeoppoda..

 

Hyung!” tiba-tiba ada yang memanggilku.Aku menoleh ke belakang. Lee Taemin?

 

“Kau? Sedang apa di sini?” tanyaku ramah.

 

“Hanya mengantarkan noona hyung,” jawabnya Taemin.

 

Noona? Jangan bilang Soojong ada di sini. Sungguh aku tak ingin melihatnya saat ini. Membuka luka lama saat aku sudah mulai menemukan yang kucari. Aku tak ingin hal itu terjadi.

 

“Taemin-a kau menunggu lama?” panggil seorang yeoja.

 

“Soojong?” ucapku tak sadar.

 

“Jinki-a? Kau?”

 

Annyeong. Ternyata kalian sedang berkencan. Lebih baik aku tinggal dulu ya. aku masih ada..”

 

“Jinki. Aku sudah selesai kau mau kemana?” tiba-tiba saja Haeri datang. Oh Tuhan.

 

Hyung, dia siapa? Yeojachingu-mu?” tanya Taemin.

 

Ne, dia yeojachingu-ku. Aku duluan ya Taemin. Aku masih ingin jalan-jalan,” balasku cepat. Haeri tampat kaget dengan perkataanku barusan. Mianhae Haeri.

 

“Tunggu Jinki! Ada yang mau aku bicarakan,” teriak Soojong saat aku dan Haeri keluar dari toko.

 

Mianhae Soojong, sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Berbahagialah dengan Taemin. Jaga dongsaeng-ku baik-baik,” balasku.

 

Kutinggalkan Soojong dan Taemin. Ku tarik tangan Haeri meninggalkan mereka.

 

“Maaf Jinki mereka siapa mu? Wanita tadi cantik sekali. Apa dia yeojachingu-mu? Tapi kenapa kau meninggalkan mereka begitu saja? Apa laki-laki yang tadi adik mu?” tanya Haeri panjang lebar.

 

Kusesali sifatnya yang satu ini. Sama seperti Key, selalu ingin tahu.

 

Mianhae Haeri-a aku tak bisa cerita. Kita pulang saja,” jawabku dingin. Jujur aku memang ingin pulang. Aku sungguh tak ingin membahas persoalan ini.

 

“Tapi kita masih belum mencoba semua wahana yang ada di sini. Bukannya kau tadi ingin mencoba semuanya?”

 

“Ini permintaan keduaku Haeri. Kita pulang! Tak ada lagi penolakan,”balasku sedikit membentak. Haeri lagi-lagi kaget dengan ucapanku. Maaf Haeri. Aku memang laki-laki labil. Tolong bantu aku memantapkan hatiku untuk terus melihatmu.

 

Kami berdua pulang berjalan kaki. Tak ada satu pun dari kami yang membuka suara. Kami hanya diam saja. Sampai di depan rumahnya pun aku hanya bisa mengucapkan selamat malam. Sungguh lemah aku ini. Dengan kembali melihat Soojong saja aku bisa mendiamkan Haeri sampai seperti ini.

 

-Dubudubu-

 

Hari-hari berikutnya aku berangkat kuliah seperti biasa. Hanya saja aku lebih banyak memilih untuk diam saat Haeri dan Key bersenda gurau. Ya semenjak Haeri dekat denganku, Key sudah mulai terbiasa berseikap lebih ramah pada Haeri. Hanya saja candaan mereka tak bisa membuatku bahagia saat ini.

 

Aku berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Ponselku berbunyi.

 

Soojong? Untuk apa dia menelponku?

 

Yeoboseyo?

 

Ne waeyo Soojong-ssi?

 

“Bisa kita bertemu nanti sore?”

 

“Untuk apa? Kurasa tidak ada yang penting yang harus kita bicarakan. Dan sepertinya Taemin akan marah kalau kau bertemu denganku.”

 

“Jebal, Jinki. Kutunggu kau di taman jam 4. Aku akan menunggumu sampai kau datang.”

 

Kurae, aku datang. Tapi maaf Soojong-ssi aku tak punya banyak waktu. Hanya 30 menit saja. Otte?

 

“Baiklah. 30 menit tak masalah.”

 

Bip. Kumatikan telepon darinya.

 

Kenapa dia harus meminta bertemu segala? Oh ayolah Jinki. Sekarang kau harus bisa memantapkan hatimu. Ingat Haeri. Haeri adalah orang yang sangat kau cintai sekarang. Cepat selesaikan masalahmu dengan Soojong dan jangan buat Haeri bingung dengan kelakuanmu lagi.

 

Haeri POV

 

Kenapa Jinki? Sejak kami pulang dari taman bermain dia bersikap aneh. Kau sungguh-sungguh membuatku gila Jinki! Kenapa kau tiba-tiba bersikap dingin? Apa ini ajang balas dendam? Setelah kau bersikap manis padaku sekarang kau mendiamkankku begitu saja?

 

“Key-a, kau tahu kenapa Jinki jadi diam begitu?” kuputuskan untuk bertanya pada Key. Mungkin dia tahu alasannya.

 

Molla. Bukannya akhir-akhir ini kau yang sedang dekat dengannya? Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Key balik.

 

Ani. Saat ini kami tidak bertengkar,” jawabku.

 

“Kau ceritakan saja kejadian yang telah terjadi pada kalian padaku. Mungkin aku tahu sesuatu.” Sepertinya itu bukan hal buruk. Kuputuskan untuk menceritakan kejadian kemarin pada Key.

 

“Oh, pantas saja,” kata Key.

 

“Pantas saja? Wae?” tanyaku lagi.

 

“Wanita yang saat itu kalian temui adalah mantan pacar Jinki hyung. Dan laki-laki yang bersama wanita itu adalah adik angkat Jinki Hyung,” jelas Key.

 

Key menjelaskan semuanya. Jadi Jinki bukan anak kandung keluarga Lee. Dia anak angkat. Tapi keluarganya menyayanginya sama seperti anak kandung mereka sendiri. Dan wanita yang saat itu aku temui adalah Soojong mantan pacar Jinki. Jinki sangat mencintai Soojong. Namun rasa cinta Jinki akhirnya harus kandas karena Soojong memilih untuk menerima perjodohan yang ditawarkan kedua orang tuanya. Jinki sungguh tidak terima. Ia merasa dikhianati. Hidupnya mulai kacau. Ia menyebukkan dirinya dengan bekerja dan belajar. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat menghindarkan Jinki dari berita buruk.

 

Appa angkat Jinki, Tuan Lee memberitahukan kalau Taemin akan dijodohkan dengan anak sahabat appa-nya. Awalnya Jinki senang karena Taemin akan menikah. Tapi setelah mengetahui kalau yang akan dijodohkan dengan Taemin adalah Soojong, Jinki sangat marah. Jauh dilubuk hatinya, ia ingin sekali menentang keinginan orang tuanya itu. Tapi apa daya. Dia hanyalah anak angkat yang tak punya kuasa apapun dalam keluarga itu. Sudah terlalu banyak kesusahan yang ia beri pada kedua orang tuanya. Jinki memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan belajar hidup mandiri. Meskipun tak sepenuhnya biaya hidupnya ia dapatkan dari jerih payahnya. Karena appa angkat Jinki mendesak Jinki untuk tetap membantu Jinki memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Jinki pergi dari rumah dan berharap bisa melupakan Soojong. Tapi pada akhirnya, setelah kejadian kemaren luka Jinki kembali terbuka.

 

Kenapa aku bisa merasa begitu sedih mendengar Jinki pernah mencintai seseorang begitu dalam? Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? Hatiku sakit saat mendengar penjelasan Key tadi.

 

Jam berapa sekarang? Syukurlah masih jam 4. Lebih baik aku jalan-jalan saja di taman. Aku ingin melepas penatku.

 

“Aku mohon Jinki maafkan aku. Aku melakukan ini untuk keluargaku. Kau tahu, kalau aku tidak melakukan ini keluargaku akan hancur. Aku mohon mengertilah,”

 

Jinki? Kenapa nama Jinki disebut-sebut. Kususuri jalan ini mencari asal suara tadi. Tunggu dulu itu kan, Jinki dan Soojong? Untuk apa mereka disini?

 

“Maaf Soojong, ini sudah terlambat. Aku sudah tak bisa mempercayaimu lagi. Aku sudah mencintai orang lain. Kau jaga saja adikku itu. Kalau kau bersikap seperti ini, adikku yang terluka. Dan aku takkan membiarkanmu melukai hati adikku.”

 

Samar-samar aku mendengar ucapan Jinki. Jadi dia sudah menyukai orang lain. Ada apa lagi ini? Apa aku harus patah hati untuk kedua kalinya dengan orang yang sama? Apa kau tak tahu Jinki? Mendengar semua ucapanmu itu membuatku sakit. Kau telah berhasil menjatuhkanku setelah apa yang kau lakukan pada ku belakangan ini.

 

Tiba-tiba saja Soojong memeluk Jinki. Aku yang tak kuat melihat kejadian ini pun segera berlari menjauhi mereka. Ku dengar Jinki memanggil namaku. Kurasa dia tahu aku sudah melihat mereka berpelukan. Kupercepat lariku. Aku terus berlari. Tiba-tiba kepalaku pusing. Dadaku sakit. Aku lupa kalau aku punya jantung lemah dan tidak bisa terlalu lelah. Apalagi harus berlari sebegitu jauh. Tapi aku tetap memaksakan untuk berlari. Rasa sakit di dadaku ini sama sakitnya dengan hatiku. Kau sukses mempermainkan aku Jinki.

 

Jinki POV

 

Kulihat Haeri berlari. Sepertinya dia melihat dan mendengar percakapnku dengan Soojong tadi.

 

“Haeri-a!” kupanggil namanya tapi ia tak menoleh. Apa dia sebegitu sedihnya melihatku? Apa dia marah? Mianhae Haeri. Kau sungguh pabbo Jinki! PABBO!

 

Mianhae Soojong-ssi. Sudah ku katakan aku tak punya banyak waktu. 30 menit sudah berakhir. Aku masih ada urusan. Selamat tinggal.”

 

Aku membungkuk mengucapkan salam perpisahan pada Soojong. Inilah pilihanku sekarang. Mencintai Haeri adalah pilihanku. Tidak ada lagi Soojong. Yang ada hanyalah Haeri. Dimana Haeri? Kenapa dia lari begitu cepat? Apa dia tidak berpikir kalau dia terus berlari maka kondisi fisiknya akan melemah. Dia kan punya jantung lemah.

 

“Haeri-a” aku terus berteriak mencari Haeri. Di tikungan jalan aku melihat Haeri sedang menangis. Dia duduk bersandar di tembok sambil terus memegang dadanya. Sebegitu sakitnyakah dirimu saat ini? Kuhampiri Haeri dengan perlahan. Aku tak ingin membuatnya terkejut.

 

“Haeri,” panggilku lembut. Ia menoleh lalu..

 

Bruuk..

 

Badannya ambruk. Untung aku bisa segera menangkapnya. Ku bopong badan mungil itu ke rumahku. Ku tidurkan dia di kamarku. Aku sudah terbiasa merawatnya kalau-kalau penyakitnya ini kambuh. Orang tua Haeri sudah secara tidak langsung memintaku menjaga Haeri saat mereka pergi bertugas.

 

Oh ayolah Haeri, bangun. Jangan buat aku merasa sangat bersalah. Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka. Aku memang bodoh tidak bisa membuat keputusan dengan cepat.

 

“Euungh” Haeri bangun. Ia sudah sadar. Langsung saja kupeluk badan mungilnya.

 

“Jinki-a lepaskan,” ia berusaha melepaskan pelukanku. Meskipun dengan tenaganya yang masih sangat lemah.

 

“Lepaskan Jinki. Aku ingin pulang. Hiks,,” kurasa dia mulai menangis.

 

Mianhae Haeri. Mianhae. Mianhae karena aku tidak bisa membuat keputusan dengan jelas dan cepat,” ucapku padanya.

 

“Apanya yang belum membuat keputusan Jinki? Bukannya kau sudah memilih Soojong, ani bukan Soojong. Tapi seseorang yang sudah kau cintai selain Soojong. Kenapa kau harus meminta maaf padaku?” ucapnya masih terisak.

 

“Bodoh. Apa kau tak tahu kalau orang itu adalah kau? Kenapa kau tidak bisa menangkap segala maksud perlakuanku selama ini?” dasar anak ini. Di saat seperti ini pun masih bisa membuat orang kesal.

 

“Aku? Bukannya kau selama ini hanya mempermainkan aku? Kau seenaknya saja menyusup masuk ke hatiku kemudian kau hancurkan semuanya. Kau bilang itu sebagai tanda cintamu padaku? Kau ingin mempermainkanku lagi Jinki?!” bentaknya padaku. Meski begitu kulihat air matanya terus berjatuhan.

 

Aku memang namja bodoh. Kenapa aku harus membuat yeoja yang sangat kucintai ini menangis seperti ini. Tak pernah kulihat Haeri menangis sampai seperti ini. Dan orang yang sudah berhasil membuatnya menangis adalah aku. Namja seperti apa aku ini. Bodoh!

 

“Maafkan aku Haeri. Aku serius. Saranghae. Jeongmal Saranghae, Haeri. Kau bisa tatap mataku untuk melihat betapa aku tulus mencintaimu. Ini bukan sebuah permainan Haeri. Aku tulus,” ucapku. Kupegang kedua bahunya agar dia menatap kedua mataku.

 

Dia menatapku intens. Sesaat kemudian dia memelukku.

 

Mianhae Jinki-a. Gomawo,” ucap Haeri dalam pelukku.

 

Mian? Maaf dan terima kasih untuk apa?”

 

“Maaf karena aku sudah salah paham dan terima kasih karena sudah mencintaiku. Gomawo Jinki-a,” ucapnya lagi. Pasti kedua pipi kami sekarang sudah seperti kepiting rebus.

 

“Hanya itu sajakah yang ingin kau katakan?” tanyaku padanya.

 

Wae? memang apa lagi yang harus aku katakan? Aku pikir tak ada lagi,” jawabnya polos. Sepertinya dia mulai mengajak perang nih.

 

Kurae apa harus aku yang mengatakannya?”

 

Sepertinya sedikit menggoda Haeri tak ada salahnya.

 

“Memang apa Jinki? Tidak usah berbelit-belit segala ah,” jawabnya.

 

“Apa kau lupa apa yang kau ucapkan tadi? Baik akan kuulangi. Kau seenaknya saja menyusup masuk ke hatiku kemudian kau hancurkan semuanya. Bagaimana? apa masih tidak ada yang harus diperjelas?” godaku lagi sambil menirukan seluruh ucapan Haeri. Kena kau Haeri.

 

Yakk Jinki-a! Neo!

 

Dia mencoba memukulku lagi. Tapi sayangnya dengan sigap aku menangkap kedua tangannya dan menariknya ke dalam pelukanku. Sekali lagi dia jatuh dalam pelukku.

 

Saranghae Haeri-a. Untuk permintaan terakhirku jadilah pacarku. Kau mau kan?”

 

Akhirnya aku bisa mengucapkkanya.

 

Ne. Nado Saranghae oppa,” jawabnya dalam pelukanku.

 

“Apa aku tak salah dengar Haeri. Coba kau ucapkan sekali lagi Haeri.”

 

Nado Saranghae Oppa. Jinki Oppa,” jawabnya sekali lagi. Benarkah ini? Apa aku tak salah dengar?

 

“Akhirnya kau memanggilku oppa, Haeri. Jagiya? Boleh kan?”

 

Dia hanya menunduk malu.

 

Jagi, boleh aku meminta satu permintaan lagi?”

 

“Apa oppa?

 

Tan ba bi bu lagi ku dekatkan kepalaku padanya. Ku rasa aku tak perlu mengucapkan permintaan ku yang satu ini. Tak perlu waktu lama ku tautkan bibirku dengn miliknya. Manis. Aku suka. Hihihi..Haeri terlihat kaget.

 

“Aku minta first kiss-mu Haeri,” godaku.

 

Mukanya benar-benar memerah. Yeppeoda!

 

Oppaaaaaaaa!!!! Mati kau! First kiss ku? Kembalikan oppa!” teriaknya.

 

Omo! Kurasa aku sudah membangunkan singa tidur.

 

-3 Wishes For You END-

 

Otte? Hancurkah? Baguskah? Gejekah? Suka tidak? Aku harap readers suka. Ini FF garing bin ajaib. Aku gak tahu kenapa bisa jadi kayak gini. Oh iya sekali lagi, ini ff inspirasinya datang sendiri dari diri aku. Jadi tidak ada plagiarisme di dalamnya. Apabila ada kesamaan di beberapa tempat apalagi ide saya mohon maaf. Karena saya pikir alur ini sudah sedikit pasaran. Jadi mohon maaf apabila ada yang merasa sama dibeberapa tempat.

 

Tapi jujur kok saya tidak memplagiat karya siapa pun. Sekali lagi semoga para readers senang membacanya!!!

 

Jangan lupa comment yaaa..

 

Makasih buat Byul Gi yang udah mau mempublish FF abal-abal ini. Sekali lagi Gomawooooooooooooooo…^^

 

[Note: Amkin eon… FFnya bagus ;)! Aku sukaaaaaaaaa n_n . Oh iya maap ya eon, ini FFnya aku edit-edit dikit. Kaya’ dimiringin kalau ada bahasa selain Bahasa Indonesia. Aku baca dulu hihi terus baru diedit. Aku juga nemuin beberapa typo… But, overall DAE to the BAK (mandi ?) DAEBAK EOOOOOON XD]

9 thoughts on “FF Freelance: 3 Wishes For You

    • Cheonmaaaaaaaa🙂
      yg Key besok yaaaa😄

      Be ready buat komenku yg panjang ya hihi aku bakal ngomenin ff eon sepanjang jalan kenangaaaaan~ #minta ditabok

      Bentar dulu tapi (?) hihi :p

  1. satu… dua… tiga…

    AMKIN EON INI FFNYA KEREN LOOOOOOOH ^^
    Ceritanya simple dan gak belibet kayak punyaku -___-

    Mau doooong aku punya tetangga kayak’ Jinki :3 #minta ditabok

    AKU MAU NGASIH ONEW 10000000000000000000 permintaan. *nyanyi Genie: sowoneul malhaebwa~*
    Onyu licik yah? bisaan… Katanya cuma tiga permintaan, tapi 1 permintaan cabangnya tiga. Atuhlah jadi banyak -___- Beranak kayak soal fisikaku #eh

    Btw Shim Hyerinya rada-rada mirip aku hihi gak ada girly-girlynya #gak ada yg nanya -___-

    oh, ternyata Onyu anak angkat? Kasian… cup cup, jangan nangis onew, kan udah ada Hyeri (?)

    oh, aku kira Choi Sooyoung SNSD loooh… Hampir aja aku ganti. Kukira eon typo #sok tahu emanga kau jeng -___-

    errrr, yang masalah Hyerinya gak peka kalau Onyu naksir dia bikin aku pengen komentarin deh… Kadang kan kebanyakan cewek itu sebenernya bisa nangkep ‘radar’ kalo ada cowo yg interest sama dia. Tapi, cewek itu suka merasa “kok pede bgt sih gue?” ya jadinya tau tapi pura-pura gatau (?) ujung2nya jadi kayak si Hyeri gitu… untung onyu cepet2 meluruskan😀

    Endingnya sweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet~ aku kan ngedit pas sambil ngabuburit(?) jadi gimanaaaaaa gitu pas ada kissnya >< untung gak aku bayangin sih kekekekeke~ #tumben

    udah ah komennya… ntar komenku melebihi panjang FFnya lagi hihihihi #lebay

    Keep Writing eon! Fighting, chu :* *kecup basah* #iuuuuuh

  2. onew ksian bget gak bsa brbuat apa” wkt taemin d jdohin ma soojong, tp gak apa” yg pnting happy end🙂
    kren kren aq ska
    daebak, trus brkrya thor+ajeng, fighting🙂

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s