FF Freelance: One Year Loving You Without Reason

One Year Loving You Without Reason

 

 

Author : Amkin a.k.a Kim Kinra

Main Cast : Kim Kibum a.k.a Key, Shim Lena

Length : Drabble (?)

Genre : romance,sad(?)    

Rates : PG-15

 

Annyoung perkenalkan Amkin imnida. Ini ff one shoot pertamaku jadi mohon dimaklum ya kalau rada’ error pas endingnya. Selamat membaca!!

DON’T BE SILENT READERSSS!!!!!

 

~~~

 

Sinar matahari mengendap-endap masuk menyelinap di sela-sela tirai ruangan 6 x 7 ini. Aku yang mulai merasa panas setelah semalam dibungkus selimut tebal ini mulai membuka mata perlahan. Kulihat keluar jendela di sebelah ranjangku. Bekas pekarangan yang terguyur hujan masih menyisakan genangan-genangan air tempat burung-burung kenari bermain. Sunggguh suasana yang hangat di awal musim semi ini.

 

Sayangnya hangatnya pagi ini tidak menggambarkan bagaimana gelap dan dinginnya hatiku saat ini. Terlalu dingin sehingga aku sendiri tidak kuat untuk bertahan. Terlalu gelap sampai aku tak sanggup melihat bagaimana bentuk dan keadaan hatiku saat ini. Mungkin sudah remuk bahkan hancur.

 

Aku melihat di sudut ruang kamarku. Tempat di mana aku selalu mencurahkan segala perasaanku. Apa yang aku rasakan dari hari ke hari. Hingga semua lembaran itu terisi penuh dengan goresan-goresan pena yang senantiasa ku biarkan menari di atasnya. Mereka yang membantuku menuangkan segala keluh kesahku, segala kegembiraanku, segala kekesalanku, segala kesedihanku, semua kisah yang selalu ku rasa di setiap harinya.

 

Aku berjalan tertatih-tatih. Berusaha sekuat tenaga berjalan menuju buku itu bersandar mengingat keadaanku yang masih belum pulih sejak kejadian itu. Kejadian yang berhasil membuat hatiku menjadi seperti ini. Aku duduk di hadapan meja dimana buku itu berada. Kubuka lembar pertama buku itu.

 

Seoul, 25 Januari 2011

 

Annyeong my bunny, ini kali pertama kalinya aku mengotorimu. Kuharap kau mampu bekerja sama denganku untuk meluapkan segala perasaanku. Mohon kerjasamanya.

 

Kubaca tulisan pertamaku. Dimana aku bertekad untuk selalu menuliskan segala kejadian yang aku alami selama seharian penuh ke dalam setumpukan kertas yang terbendel rapi menjadi sebuah buku harian mungil bercoverkan biru langit. Lalu kubuka lembaran demi lembaran. Kubaca kembali sembari mengingat semua kejadian yang pernah aku alami.

 

Seoul, 26 Januari 2011

 

My bunny, aku punya kabar gembira. Ceritaku padamu akan kuawali dengan kabar gembira. Aku baru saja pulang dari taman. Niatku aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Namun apa kau tahu? Tiba-tiba saja seorang anak kecil yang sangat imut nan lucu datang menghampiriku. Dia menarik-narik rok yang ku kenakan kemudian memintaku menemaninya bermain. Bagaimana aku bisa menolak permohon anak dengan puppy eyes yang membuat gemas setengah mati? Jeongmal! Aku tak mungkin menolak permohonan anak ini.

 

Tapi kau tahu saat aku tengah asyik bermain dengannya, tiba-tiba ada seorang namja yang berlari mendekati anak ini. Sepertinya namja tadi adalah kakaknya. Mungkin seperti itu. Karena mereka mirip. Dan kau tahu? Namja itu sama imutnya dengan anak tadi. Dan apa kau tahu juga? Aku berkenalan dengan namja tadi. Namanya Kibum. Ya, Kibum. Mungkin nama itu akan selalu aku ingat. Entah mengapa tapi aku yakin itu.

 

Itu cerita pertama. Awal aku bertemu dengannya. Dengannya yang berhasil mengenalkanku apa itu cinta. Kubuka lembar selanjutnya.

 

Seoul, 30 Januari 2011

 

Bunny, aku senang sekali. Tadi aku kembali ke taman itu. dan aku kembali bertemu dengan Kibum. Namja itu tambah cakep saja rupanya. Hihi,,

 

Kau tahu? Tadi dia mengajakku berteman dengannya. Kurasa dia berhasil membuatku terhipnotis. Haha..lebay ya? Aku tak sabar menunggu matahari besok. Kuharap aku bertemu dengannya lagi. Haha terlalu maksa ya? Ok, good night dear!

 

Aku tersenyum pahit mengingat masa itu. Saat aku menyadari sedikit kekagumanku padanya. Kubuka lembar-lembar berikutnya.

 

Seoul, 16 Februari 2011

 

Bunny! Ada kabar baik. Did you know?
He invited me to his brother’s birthday. Aghh.. Aku gak tahu mau bilang apa. Sungguh aku gak sabar nunggu besok.

 

Seoul, 17 Februari 2011

 

Kyaaa… Aku gak tahu mau ngomong apa. Tadi Yoogen (Kibum’s brother) terlihat lucu sekali. Ah, aku ingin sekali punya adik seperti dia. Oh ya, satu lagi. Kibum oppa terlihat sangaat tampan. Tubuhnya yang lumayan tinggi itu terlihat sangat cocok dengan jas putih yang tadi ia kenakan. Kyaaa,,, Ku rasa mukaku memerah setiap mengingat dia. Omma! Kurasa anakmu sudah gila!

 

Lucu sekali. Kurasa saat itu pikiranku benar-benar terkontaminasi olehnya. Tak sengaja aku menitikkan air mataku. Aku rindu padamu, Kibum.

 

Seoul, 23 Februari 2011

 

I hope this day will never end, Bunny. Aku tak bisa membayangkan tadi Kibum oppa mengajakku pergi jalan-jalan. Omo! Kurasa aku benar-benar terlihat seperti orang yang baru dapat durian runtuh. Kurasa hubunganku dengannya semakin dekat. Ciiele bahasanya. Tapi aku memang merasa begitu. Tak apakan aku sedikit memberi harapan untuk diriku sendiri?

 

Seoul, 03 Maret 2011

 

Tuhan, bagaimana ini? Aku benar-benar bahagia. Aku merasa duniaku sudah terbang ke atas awan. Tadi Kibum oppa menjemputku di kampus. Kurasa bukan menjemputku lebih tepatnya tak sengaja lewat di depan kelasku dan tak sengaja melihatku lalu mengajakku pulang bersama. Tak kusangka ternyata Kibum oppa itu adalah sunbae ku. Dia mahasiswa semester 3 jurusan musik. Sedang aku mahasiswa baru semester 1 jurusan ekonomi. Wah bisa sering-sering pulang bareng dah. Terlalu berharap ya?

 

Seoul, 23 Maret 2011

 

Lena. Kurasa dirimu benar-benar sudah gila. Setiap hari hanya memikirkan Kibum saja. Padahal belum tentu dia memikirkanku. Bisa saja dia ternyata sudah punya yeojacingu. Mengenaskan bukan?

 

Seoul, 31 Maret 2011

 

Bunny-a, aku ingin menangis. Aku menangis sekencang-kencangnya. Tadi Kibum oppa datang ke rumahku. Dia menangis. Dia cerita panjang lebar tentang masalahnya. Ternyata dia baru diputusin sama pacarnya, Jiyoun unnie. Kasihan sekali dia. Kau tahu, matanya memerah saat tiba di rumahku. Kurasa dia benar-benar menangis selama perjalanan ke rumahku. Aku tak tahu harus bagaimana. Hatiku sakit. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kurasa aku memang gila. Mencintai seseorang tanpa sebab. Dan menangis karenanya pun tanpa sebab. Apa kau bisa memberiku alasan?

 

Aku ingat semua kejadian itu. Kejadian dimana aku pertama kalinya melihat Kibum oppa menangis. Sungguh yeoja yang tidak bisa bersyukur sampai-sampai memutuskan Kibum oppa. Kalau aku mungkin takkan pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Yang pada akhirnya pun akan membuatku menderita seperti sekarang ini. Ku buka lagi lembar demi lembar selanjutnya.

 

Seoul, 21 April 2011

 

Ottokhae? Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Tadi oppa terlihat murung sekali. Dan katanya ia akan pindah ke Daegu. Aku takkan bisa bertemu lagi dengannya. Bagaimana aku bisa mencegahnya pergi kalau dia saja hanya menganggapku adik? Apakah cukup alasan itu membuatnya menunda kepindahannya ke Daegu? Kurasa aku tak bisa mengantarnya besok. Aku tak siap menangis dihadapannya. Aku tak ingin terlihat cengeng di depannya. Mianhae oppa.

 

Seoul, 22 April 2011

 

Hari ini Kibum oppa berangkat ke Daegu. Aku tak kuat. Tuhan kuatkan aku. Karena aku memang mencintainya tanpa sebuah alasan yang jelas. Aku sudah berusaha untuk mencari apa itu agar aku bisa sedikit melupakannya tapi sungguh aku tak bisa menemukan apa jawabannya. Dia seperti sebuah puzzle yang masih harus kususun agar aku tahu alasan kenapa aku mencintainya.

 

Hari keberangkatan Kibum oppa. Hari dimana aku mengira aku takkan pernah bertemu kembali dengannya lagi dan aku melupakannya. Tapi aku salah. Kibum oppa tetap bersarang di hatiku. Parahnya lagi saat itu Kibum oppa masih sering menelponku. Sepertinya aku semakin susah untuk melepas dia. Berlebihan? Memang saat ini pun saat ku ingat masa itu, aku merasa sepertinya itu memang hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Tapi aku tak pernah menyesali itu. Kubaca lagi tulisanku di lembar berikutnya.

 

Seoul, 22 Agustus 2011

 

4 bulan setelah kepergiannya. Keadaanku masih sama seperti dulu. Hanya saja aku bisa sedikit ceria hari ini. Dan kuharap hari-hari berikutnya pun seperti itu.

 

Seoul, 16 September 2011

 

Seminggu sebelum ulang tahun Kibum oppa. Kenapa aku tahu ulang tahunnya padahal belum genap setahun aku mengenalnya? Jangan tanya aku. Aku saja tidak tahu. Lebih parahnya lagi aku tidak tahu bagaimana aku mengirim kado untuknya. Nomor teleponnya saja aku tidak tahu. Setiap kali Kibum oppa menelpon dia tidak mau memberitahu nomornya. Parah!

 

Seoul, 22 September 2011

 

Bunny, kurasa aku harus meralat semua yang aku tuliskan padamu berbulan-bulan yang lalu. Kau tahu sehari sebelum ulang tahunnya bukan aku yang mampu memberi kejutan padanya, tapi dia yang justru membuatku terkejut. Dia datang ke rumahku. Bahkan satu hal lagi yang mampu membuatku melongo mendengarnya. Dia hanya sementara di Daegu. Karena dia akan kembali lagi menetap di Seoul. Tuhan, terima kasih banyak.

 

Aku masih ingat saat itu. dimana aku kembali lagi menjadi seorang yang mengaguminya dengan diam-diam dan memperhatikannnya secara langsung. Tidak perlu seperti dulu saat ia masih di Daegu. Tapi percuma saja itu dulu. Bukan sekarang.

 

Seoul, 23 September 2011

 

Saengil Chukhae Kibum oppa. Akhirnya setelah perayaan kecil-kecilan tadi kadoku berhasil kuberikan padanya. Kuharap dia suka.

 

Seoul, 24 Oktober 2011

 

Satu bulan setelah hari ulang tahun oppa. Aku melihat oppa berangkat ke kampus menggunakan tas yang aku kado padanya. Wah, betapa berbunga-bunganya hatiku. Terima kasih oppa. Semakin kuat saja perasaan ku padanya. Meski ku tahu sepertinya aku masih belum bisa menyusup ke dalam hatinya. Walau kuharap tak seperti itu.

 

Seoul, 31 Oktober 2011

 

Oktober selesai! Awal yang baru untuk bulan Novermber. Wah sebentar lagi sudah musim dingin. Entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres di bulan November besok. Kuharap tidak terjadi apa-apa.

 

Aku menitikkan air mataku kembali. Saat aku membaca tulisan tanganku saat itu. seharusnya kuturuti perasaanku saat itu. Karena kalau aku turuti itu semua tidak mungkin aku kehilangan dia saat ini. Kehilangan seorang sosok yang bahkan aku tak mampu mengungkapkan sepatah kata yang seharusnya ku ucapkan saat masih ada di dekatnya meski aku sendiri tak tahu apa yang akan ia jawab.

 

Seoul, 15 November 2011

 

Aku diajak Kibum oppa ke suatu tempat besok. Katanya tempat itu sangat bagus dan membawa kedamaian saat Kibum oppa dalam masalah. Kyaa,,aku senang. Tapi kenapa aku semakin takut untuk bertemu besok? Padahal seharusnya aku senang. Ku harap ini hanya perasaanku saja. Biarkan aku terus mengaguminya, menyayanginya, mencintainya dalam diam ini, Tuhan.

 

Seoul, 13 Desember 2011

 

Aku tak kuat!

 

Kubaca tulisan itu terhenti begitu saja. Aku ingat saat itu adalah tulisan terakhirku. Aku menulisnya dengan penuh tangis. Terlihat jelas dari tulisanku yang kacau terkena air mataku. Aku ingat itu adalah hal yang paling tidak ingin aku temui. Aku menangis sejadi-jadinya. Oppa kenapa kau meninggalkan aku begitu saja. Saat aku belum sempat menemukan alasan mengapa aku begitu mengharapkanmu. Kenapa aku bisa begitu menggilaimu oppa?

 

-Flashback-

 

Oppa kita ini mau kemana sebenarnya?”

“Sudah kau ikut saja. Ku jamin kau tak bakal kecewa,”ucapnya.

“He’em,” aku hanya mengangguk saja.

“Lena-a bisa kau ambilkan bungkusan di sebelahmu itu?” pinta Kibum oppa.

“Yang ini oppa?” tanyaku balik.

Ne. Bukalah!” titahnya lagi.

 

Ku buka kotak kecil yang diberi oppa.

 

Oppa, ini?” tanyaku setengah tak percaya. Bagaimana tidak? Kau tahu di dalam kotak kecil itu ada sebuah cincin.

“Heem. Pakailah! Itu untukmu,” jelasnya lagi sambil tersenyum hangat.

Gomawo oppa!” jawabku riang. Tuhan, bolehkah aku berharap lebih?

 

Tapi tiba-tiba dari arah berlawan ada sebuah mobil yang menerjang mobil yang kami tumpangi.

 

Brakk!!

Op..paa..!Ka..uu tak apa kan op..pa?” ucapku sambil terbata-bata. Lambat laun kulihat pandanganku mulai hitam.

 

-Flashback End-

 

 

Ya itulah saat terakhir aku bisa melihatnya. Satu minggu setelah kejadian itu oppa harus menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan aku yang masih terlelap dalam dunia ku. Aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal lagi padanya untuk yang kedua kalinya. Seperti saat oppa pergi ke Daegu dulu. Oppa, apa kau lihat dari sana? Hatiku terlalu sakit untuk mengingat itu oppa. Kenapa kau tega? Aku masih belum menyampaikan apa-apa padamu. Aku juga masih belum tahu perasaanmu sebenarnya. Oppa, tak bisakah kau kembali? Kembalilah sampai aku tahu kenapa aku masih bertahan mencintaimu tanpa alasan yang jelas.

 

“Lena-a, biarkanlah dia tenang. Dia takkan tenang kalau terus melihatmu yang masih saja menangis semenjak ia tinggal. Meski dia tidak ada kau masih mengenangnya dalam hatimu itu. biarkan dia bercahaya dalam hatimu. Menerangi hatimu yang gelap saat ini Lena. Dan satu lagi Lena, tak ada alasan bagi seseorang untuk mencintai lawan jenisnya. Seperti kau yang terus bertahan mencintai Kibum”, jelas Changmin oppa.

 

“Aku tahu itu oppa. Tapi aku masih tidak bisa,” bantah ku lagi.

“Bukannya tidak bisa. Hanya kau belum mampu mencobanya,” jelasnya lagi.

 

Kibum oppa apa aku bisa? Setelah kau pergi, apa aku masih bisa? Baiklah. Asal kau masih bisa tersenyum di sana aku akan coba itu. Tapi aku tak yakin aku bisa menjalaninya. Karena aku mengawali kisah ini tanpa sebuah alasan yang jelas dan aku pun tak tahu harus mengakhirinya dengan kisah yang seperti apa. Kuharap kau masih mau menjadi penerang dari hatiku yang belum sempat aku berikan padamu.

 

Selamat tinggal oppa…

 

-End-

 

 

Gejekah? I think yes. Jadi ku pinta kritik dan sarannya. Maaf kalau gak beres ini cerita.

Selamat membaca.

5 thoughts on “FF Freelance: One Year Loving You Without Reason

  1. eonnnnni… ajeng is back😄

    *back sound: ajeng’ s back…ajeng’s back…back…back…back…back#nyanyi bareng minho

    sediiiiiiih ToT #elap ingus
    kalo yg kaya gini jgn lupa nulis ‘angst’ sbg genre🙂

    tapi aku masih bingung loh, perasaan key ke lena itu kaya gimana? tapi kayaknya sih suka ya? secara sebelum kecelakaan key ngasih cincin. Bisa aja maksudnya ngajak tunangan… #sok tau

    eon, kayanya aku salah nge-publish deeeh. Harusnya ini dulu kan? Baru deh yg 3 wishes… Mian ya eon *deep bow

    guuuuuuuuuud joooooob amkin eon *minjem jmpl kaki (?) key*

    • iya aku lupa kasih angst.
      maklum pas bikin ini aku masih belajar bikin ff.
      makasih buat kritiknya and publishnya.

      gakpapa soal salah publish. gomawo banget.
      perasaan key ya?
      aku juga bingung pas bikin.
      si key galau noh.
      hehehe..

  2. kren, sadx dpet bget, awalx aq kra happy end trxta gak*mkaxbcagenrex* tpi critax bgus bget deh aplgi kbtlan td aq lg dngerin lgux christina perri-a thousand years yg so sweet+sad gtu*mnurutaq* trus pas bnget ama ff ni*promosi+soktau* pkokx daebak+gud job deh thor, Fighting!🙂

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s