Move On

image

Title:  move on

Author: angangels aka Jung Byulgi

Cast: Jung Byulgi (OC), Choi Minho, Lee Jinki

Genre: romance

Length: ficlet

Cover credit: Big thanks to QuinAegyoMin yang udah mau bikinin poster di ART factory

Inspired by Begin Again – Taylor Swift

Happy reading and do leave comment🙂

***

Took a deep breath in the
mirror
He didn’t like it when I wore
high heels, but I do
Turned the lock and put my
headphones on
He always said he didn’t get
this song but I do, I do

Aku menarik napas berat saat bercermin. Hhh, biasanya Minho tak pernah suka jika aku memakai high heels. Dia selalu mengomentari sampai detil terkecil tentang penampilanku. Minho bahkan selalu mengatur gaya berpakaianku.

Kami terlalu bertolak belakang. Minho tak suka dengan musik kesukaanku, begitu pun aku. Dan sayangnya, satu-satunya kesamaan dari kami adalah kami sama-sama keras kepala.

Walked in expecting you’d be
late
But you got here early
And you stand and wait
And I walk to you
You pulled my chair out and
helped me
And you don’t know how nice
that is
But I do

Kulirik jam di pergelangan tangan kananku. Jam setengah delapan malam. Masih setengah jam lagi menuju waktu bertemu dengan Jinki.

Biasanya jika ada janji bertemu denganku, Minho selalu terlambat. Lalu dengan mudahnya dia mencari seribu macam alasan keterlambatannya lalu menyuapku dengan membelikan bunga mawar favoritku. Dan aku tidak berharap banyak pada Jinki. Sepertinya ia juga akan datang terlambat.

***

Angel resto 20:45

Aku tau aku terlambat. Namun aku tetap santai berjalan menuju tempat janjian kami. Paling-paling Jinki juga terlambat seperti aku.

“Byulgi-ya, kau sudah datang?”

Setengah terkejut aku melihat Jinki sudah duduk menungguku.

“Jinki-ya, sudah menunggu lama?” tanyaku.

Ania. Aku terlalu bersemangat untuk bertemu denganmu hari ini, akhirnya aku datang kesini jam 7.”

Jinki menungguku dari satu jam empat puluh lima menit yang lalu? Dan aku dengan seenaknya sengaja datang terlambat.

Mianhae Jinki-ya.” sesalku.

Namja sipit itu tersenyum manis padaku, “Gwaencanha…

Ketika aku hendak duduk, namja itu dengan cekatannya menarik kursi untuk aku duduki. Such a well manered man. Aku tersentuh. Minho tak pernah memperlakukanku sebaik ini.

“Mau pesan apa?” tanya Jinki sambil tersenyum.

Sayang senyumnya tak semanis senyum Minho. Tanpa sadar aku mulai membandingkan Jinki dan Minho.

“Byulgi-ya?” panggilan Jinki menghentikan lamunanku tentang Minho.

“Samakan saja denganmu.” jawabku.

***

And you throw your head back
laughing like a little kid
I think it’s strange that you think
I’m funny ’cause he never did
I’ve been spending the last 8
months thinking all love ever
does
Is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I
watched it begin again

“Hahahaha, kau lucu sekali Byulgi-ya.

Aku baru saja berusaha membuat lelucon yang aku rasa tidak lucu. Sebenarnya, aku tak perlu berusaha membuat lelucon. Karena sedari tadi Jinki selalu membuat lelucon konyol yang membuatku tak berhenti tertawa.

Berbeda dengan saat aku bersama Minho. Saat bersama ice prince itu, kami selalu kaku. Seringkali aku berusaha mati-matian untuk mencairkan suasana dengan melemparkan lelucon yang menurutku konyol. Dan sayangnya sampai waktu terakhir kami bertemu, aku belum pernah membuat namja itu tertawa.

Jinki masih saja tertawa seperti anak kecil. Kulihat sekarang ia tengah menyeka setitik air matanya. Yaampun… apa leluconku sebegitu lucunya?

***

You said you never met one girl
Who has as many James Taylor
records as you
But I do
We tell stories and you don’t
know why I’m coming off a little
shy
But I do

Jincha? Kau punya koleksi selengkap itu? Woah daebak! Baru kali ini aku menemukan yeoja yang maniak pada musik jazz sepertimu. Bahkan koleksiku saja kalah banyak! ”

Aku tersenyum menanggapinya. Satu lagi kesamaanku dengan Jinki. Sama-sama penggila jazz. Mengapa begitu mudah menemukan berbagai kesamaanku dengan Jinki? Berbeda sekali dengan aku dan Minho. Mencari kesamaan kami tak ubahnya mencari jarum di tumpukan jerami.

“Byulgi-ya, kenapa melamun?”

Lagi-lagi aku memikirkan Minho ketika aku bersama Jinki. Hhh, Choi Minho… apa kau memelet aku? Mengapa sosokmu seakan menghantuiku terus menerus?

***

And we walk down the block to
my car
And I almost brought him up
But you start to talk about the
movies
That your family watches every
single Christmas
And I won’t talk about that
For the first time, what’s passed
is past

Sedari tadi aku gelisah di dalam mobil. Rasanya bibirku gatal ingin menceritakan tentang Minho pada Jinki. Akankah pria baik yang tengah menyetir ini marah jika aku berbicara tentang Minho?

“Min-”

“Kau tau? Aku dan keluargaku punya kebiasaan unik menonton film Titanic setiap tanggal 12 Maret.”

Belum sempat aku menyebut nama Minho, Jinki keburu memotong.

“Oh iya, tadi kau mau bilang apa? Maaf memotong.”

Aku menggeleng, “Ania. Sesuatu yang tak penting. Kenapa mesti film Titanic?

Untuk pertama kalinya, sesuatu tentang Minho tidak lagi penting saat aku bersama Jinki.

“Entahlah, aku juga tak tau.”

“Apakah tanggal 12 Maret hari yang spesial?”

Anio. Hanya saja tanggal 12 Maret itu bagus. Tanggal 12 bulan 3. 1 2 dan 3. Ya kan?”

Aku tertawa mendengar alasan yang konyol itu.

“Kalau begitu mengapa tidak diganti jadi tanggal 23 bulan April saja?”

Dan Jinki tertawa. Aku suka tawa Jinki. Tawanya selalu bisa menulariku. Tawanya lepas dan terkesan tanpa beban. Tawa Jinki tak ada bedanya dengan tawa anak kecil.

***

“Terima kasih sudah mau menerima tawaran dinner bersamaku.” ujar Jinki setelah membukakan pintu mobil untukku.

“Tidak Jinki-ya, aku yang harusnya berterima kasih. Karenamu, hariku jadi menyenangkan.”

Jinki mengusap belakang tengkuknya. Dia terlihat malu. Lucu sekali.

“Aku masuk ya? Terima kasih sudah mengantarku pulang.”

“Byul-a,

Baru saja aku mau melangkah masuk ke dalam rumahku, tangan Jinki meraih pergelangan tanganku.

Lalu aku berbalik menghadap namja sipit itu “Nde?

Sekali lagi, Jinki mengusap tengkuknya. “Bolehkah aku minta jawabanmu hari ini?”

Aku terdiam agak lama. Kata-kata Jinki barusan bagai bahasa yang tak aku mengerti.

Sebenarnya aku juga menyukai Jinki. Dia selalu bisa membuatku nyaman. Bersamanya membuatku tak takut dengan apapun yang akan terjadi. Jinki pula lah yang selalu ada di sisiku ketika Minho mencampakkanku demi yeoja lain.

Tapi aku masih mencintai Minho. Bahkan sering kali aku membandingkan Minho dengan Jinki. Dan sepertinya, cintaku pada Minho masih cukup besar.

“Jinki-a, aku juga menyukaimu. Hanya saja…”

Lihat, kurang baik apa namja yang berdiri di hadapanku ini? Bahkan ia tak buru-buru memotong perkataanku. Dia dengan sabarnya memilih untuk mendengarkan perkataanku sampai habis.

“Hanya saja…aku masih punya perasaan pada Minho. Aku hanya ingin jujur padamu dari awal, Jinki. Jujur aku juga mulai menyukaimu, tapi cintaku pada Minho masih tersisa sedikit.”

Lee Jinki kemudian menggengam kedua tanganku erat dan tersenyum, “Arraseo. Setidaknya aku punya kesempatan kan? Aku akan membantumu melupakan Minho. Aku akan mengganti kenangan pahitmu bersama Minho dengan kenangan indah bersamaku. Aku akan membantumu move on.

Aku tertegun mendengar jawaban Jinki. Bagaimana bisa aku mengabaikan perasaan Jinki selama ini?

Namja ini… Namja yang diam-diam selalu tersenyum pahit ketika melihat aku dan Minho tengah ber-lovey dovey. Namja yang selalu mengerti diriku lebih dari diriku sendiri. Namja ini juga yang selalu berkata ‘Jika suatu saat Minho kembali menyakitimu dan kau sudah tak lagi tahan, datanglah padaku. Bahuku selalu ada untuk kau jadikan sandaran.’

Bagaimana bisa namja ini menungguku begitu lama? Bagaimana bisa ia dengan sabarnya menunggu aku dan Minho berpisah dan bukannya mencoba menghancurkan hubungan aku dan Minho?

Bagaimana bisa aku terus memikirkan hubunganku yang kandas dengan Minho karena adanya orang ketiga sedangkan aku tak pernah sedikit pun memikirkan perasaan Jinki yang telah menungguku lama?

Dan bodohnya, aku baru menyadari kalau aku tak bahagia saat dengan Minho. Aku tak pernah bisa menjadi diriku sendiri karena Minho selalu mengatur apapun tentang aku. Setiap minggu, berbeda dengan pasangan lain yang satnight dengan romantis, satnight kami selalu berakhir bencana. Kami terlalu keras kepala. Minho tak pernah peduli dengan perasaanku dan lama-lama aku juga mulai tak peduli pada perasaan Minho.

Tak ada alasan lagi bagiku untuk terus berlarut-larut dengan bayangan Minho. Toh dengan Jinki, aku merasa bahagia. Bersamanya, aku tak merasa terbebani harus menjadi orang lain. Bersamanya, aku selalu menjadi diriku sendiri. Dan yang terpenting, namja ini selalu membuatku merasa nyaman.

Tanpa rasa malu, aku memeluk Jinki erat. Jinki terlihat terkejut namun akhirnya membalas pelukanku tak kalah erat.

Gomawo, Jinki-ya. Aku tau ucapan terima kasihku bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua yang telah kau lakukan padaku. Bantu aku untuk melupakan Minho, Jinki-ya. Aku janji ini tak akan lama. Aku yakin kehadiranmu akan mampu menghapus jejaknya di hatiku dengan cepat. I love you too, Lee Jinki.

Ceritaku dan Minho sudah berakhir. Semua kenangan yang telah aku lewati bersama Minho kini hanyalah masa lalu. What’s passed is past.

Selamat datang cinta baru, Lee Jinki.

***END***

Posted from WordPress for Android

6 thoughts on “Move On

  1. gi-ah ini songfic ya ?
    atau bukan ?
    btw aku suka ceritanya😀
    bahasanya ringan mudah dipahami tapi melibatkan konflik perasaan *?*
    mian ya baru mampir bca ffnya xD

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s