If I Were Her…

image

Title: if i were her
Cast: Minho, Krystal, You
Genre: read till finish and you’ll know ;p
Length: oneshot
Rating: PG – 15
Poster credit: Bibib eonni @ART Factory
A.N: waaaaaaa aku mentok ngelanjutin FF2 chap-ku :c hiks. Sebagai pelepas stress aku bikin oneshot nih… Oh iya aku juga nyoba genre baru nih hihi. Pertama kalinya coba pake genre ini. Semoga ga fail🙂
Mau tau genrenya? Baca aja ampe abis *plak maunya

As always… Happy reading and do leave comment guys ^^

***

Oppa!” teriak Krystal manja pada Minho.

Reaksi Minho pun sama menyebalkannya. Minho mengacak rambut Krystal di depan mataku. Hhh…

Sekali lagi, aku harus melihat mereka bermesraan tanpa sedikitpun mempedulikanku.

***

“Sayang, maafkan oppa. Tadi aku mengantar Taemin dulu, makanya oppa terlambat…”

Minho sampai berlutut di hadapan Krystal dan memberikannya sebuket mawar merah untuk menunjukkan rasa penyesalannya. Namun gadis yang kelewat sensitif itu tetap tak bergeming. Hatinya tak luluh sedikitpun melihat namjachingu-nya sebegitu menyesalnya.

Tak lama Krystal kemudian mengambil mawar pemberian Minho. Sontak senyum di bibir Minho merekah.

Namun, dengan dinginnya Krystal menjatuhkan bunga mawar segar itu ke tanah. Seakan tak cukup, gadis itu menginjak mawar tak berdosa yang kini sudah hancur tak berbentuk.

“Aku paling benci menunggu, Oppa. Kau harus tau itu!”

Anehnya, Minho tak sedikitpun terlihat tersinggung dengan tindakan –yang sebenaranya bisa dikategorikan penghinaan– yeoja-nya yang kelewat batas.

Mianhae, Soojung-ah. Aku tak akan mengulanginya lagi…” ucap Minho lirih dan tersirat penuh akan penyesalan.

Ingin rasanya aku memeluk Minho detik ini juga. Minho–namja paling dingin yang pernah kutemui di dunia ini, yang selalu menolak terang-terangan usahaku untuk mendekatinya– bahkan bisa terlihat begitu lemah ketika berhadapan dengan Jung Soojung.

Minho-ya, andaikan saja aku yang berada di posisi Krystal sekarang, aku tak kan marah kau telat menjemputku. Apalagi alasanmu jelas. Dan aku tak akan setega itu menginjak mawar berharga yang kau belikan sepenuh hati itu, Minho-ya.

Andaikan saja aku adalah Krystal…

***

Chagiya~

Aku mendengar suara namja memanggil Krystal. Krystal kemudian menghampiri namja itu dengan senyum merekah. Tunggu… Namja itu bukan Minho. Lalu, dia siapa?

“Aku merindukanmu, Jjongie Oppa…

Na ddo.” jawab namja itu sambil mencium kening Krystal mesra. “Sayang, kau mau kemana satnight kali ini hm?”

“Minho sudah mengajakku ke Lotte world duluan, Oppa. Bagaimana jika kita kencan malamnya saja di cafe?”

“Kapan kau akan memutuskan Minho, Soojung-a? Apa untungnya berpacaran dengannya? Apa lebihnya Minho dibanding aku hm?”

“Sabar sedikit lagi, Oppa. Aku banyak mendapat keuntungan ketika berpacaran dengan Minho. Namja itu terlalu naif dan mudah dimanfaatkan, Oppa. Sebentar lagi, aku akan bilang pada Minho bahwa aku tak sedikitpun mencintainya.”

Tes…tes…tes…

Tanpa sadar pasukan cairan bening turun dari kelenjar air mataku. Hatiku begitu sakit ketika mengetahui Minho hanya dimanfaatkan oleh Krystal. Ditambah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Krystal berselingkuh dengan namja lain di belakang Minho.

Jung Soojung, mengapa kau begitu tak mengerti apa arti dari bersyukur?

Tak bersyukurkah kau Soojung, bisa dicintai setengah mati oleh Choi Minho? Coba bandingkan denganku yang tetap saja bertepuk sebelah tangan walau sudah mati-matian mencintai Minho. Dan sekarang apa? Kau menyia-nyiakan begitu saja cinta Minho? Tak lupa kau bahkan merusak kepercayaan yang telah diberikan Minho padamu…

Andai aku berada di posisimu, Soojung-ah… Aku tak akan pernah merusak kepercayaan penuh yang diberikan Minho, apalagi selingkuh di belakangnya. Tak akan pernah sedikitpun terbersit niat di benakku untuk menyakiti Minho.

Tuhan, biarkanlah aku menjadi Jung Soojung sesaat dan melakukan apa yang sangat ingin aku lakukan pada Minho. Biarkan aku merasakan sebentar saja rasanya menjadi yeojachingu Choi Minho. Andai itu terjadi, aku pasti tak kan menyia-nyiakannya.

***

Kriiing… Kriiing…

Aku terbangun dari tidurku. Kulirik jam yang sukses membangunkanku dari mimpi indahku. Tunggu… Kamar siapa ini?

Merasa asing, buru-buru aku bangkit dari tempat tidurku. Tak sengaja aku melihat cermin dan…

“AAAAAAAAAAAAAA!!!” aku berteriak saking shock-nya. Mengapa wajah Krystal yang tampak di cermin?

HYA JUNG SOOJUNG! INI MASIH PAGI MENGAPA KAU BERTERIAK-TERIAK?” teriak seorang gadis yang lebih tua dariku tepat di depan pintu kamar.

Nuguseyo?” tanyaku bingung, merasa tak familiar dengan wajahnya.

Bruk!

Satu bantal melayang tepat di depan wajahku. Ani, maksudku wajah Krystal. Eh, ini apa yang terjadi sih? Jelas-jelas aku bisa melihat di kaca wajah Krystal yang barusan dilempar bantal, tapi mengapa aku yang merasa sakit? Apa aku berada dalam tubuh Krystal sekarang?

“Berhenti menjadi drama queen yang berlagak amnesia. Cepat mandi, sebentar lagi Minho akan menjemputmu.”

Aku membulatkan mataku tak percaya. “M-M-Minho? Menjemputku? Sungguh? Maldo andwae…

Bruk!

Sekali lagi gadis itu melempar bantal padaku. Aish, apa salahku?

“Bodoh! Minho kan memang setiap hari menjemputmu! Berhenti bertanya pertanyaan aneh-aneh atau aku akan terus memukulimu dengan bantal.”

***

06:15

“Soojung-a, kau sudah siap?” tanya Minho lengkap dengan senyum manis yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku masih membeku di tempat akibat senyuman Minho. Jadi, setiap hari Krystal selalu mendapat senyum manis Minho ini? Beruntungnya gadis itu…

“Sayang, kau kenapa? Wajahmu memerah…” Minho kemudian mendekat dan meletakkan punggung tangannya pada dahiku. “Badanmu dingin, Soojung-a. Apa kau demam?”

Refleks aku menggeleng kuat-kuat. “Kajja kita berangkat, Minho-ya.

***

“M-Minho…”

“Hm?” jawab Minho sambil memasang helmnya.

“B-bolehkah aku memegang pinggangmu nanti? Aku agak sedikit takut terjatuh…”

Minho kemudian menatap aku yang belum naik motor besarnya. Aku mendadak salah tingkah ditatap Minho sedekat ini.

“Hari ini kau aneh, Soojung-a… Biasanya ku suruh pun kau tak pernah mau berpegangan pada pinggangku. Sekarang kau malah memintanya… Sungguh aku senang sekali. Peganglah pinggangku seerat yang kau mampu, Soojung-a.

***

Sepanjang perjalanan aku memegang pinggang Minho erat sekali. Bahkan jarak antara aku dan Minho hampir nihil. Tubuh kami bagai merekat erat. Sesekali Minho menurunkan sebelah tangannya hanya untuk sekedar mengelus kedua tangganku yang melingkari pinggangnya erat.

Seperti inikah kesenangan yang dirasakan Krystal setiap harinya? Sungguh beruntung dirinya bisa berada sedekat ini dengan Minho setiap harinya…

Di jalan Minho kerap kali mengajakku mengobrol. Ia bahkan sempat-sempatnya melontarkan beberapa lelucon konyol yang membuatku terbahak. Tanpa sadar, aku meletakkan daguku pada bahu kiri Minho.

Dari reaksi yang diberikan tubuh Minho, aku tahu dia agak terkejut dengan tindakanku. Aku kira ia akan menggerakan bahunya dan menyingkirkan daguku, namun diluar dugaanku Minho malah mengelus-elus helmku dengan sebelah tangannya juga sesekali mendekatkan kepalanya pada pipiku.

***

“Sudah sampai, Sayang.” tegur Minho ketika lenganku masih saja melingkari pinggangnya.

Refleks aku melepaskan peganganku pada pinggangnya, kemudian buru-buru aku turun dari motor Minho.

Omo mianhae, Minho-ah…” sesalku sambil menundukkan wajahku malu.

Minho tesenyum manis–lagi– padaku, “Gwaencanha, Soojung-a

Deg!

Baru setengah jam aku menjadi Krystal, aku sudah lupa diri. Sungguh bodoh diriku yang menganggap semua perlakuan Minho padaku barusan adalah untukku.

‘Sadarlah! Minho memperlakukanmu seperti ini karena ia berpikir kau ini Krystal. Mana mau Minho bersikap semanis ini jika tau kau bukan Krystal?’ pikirku dalam hati.

Kemudian aku tersenyum pahit dan berusaha membuka helm yang tengah ku gunakan.

“Sini kubantu, Soojung-a… Pengaitnya memang agak susah dibuka.”

Minho menarikku mendekat. Wajahku spontan memerah melihat wajah Minho sedekat ini. Aku berusaha mengalihkan pandanganku. Kemana saja asal bukan wajah Minho. Tapi percuma, wajah Minho sungguh dekat sampai-sampai menghalangi pandanganku dari objek lain.

“Kau manis sekali, hari ini Soojung-a. Kau tak pernah se-nervous ini saat berada dekat denganku.” ucap Minho ketika berhasil membuka kaitan helm ku.

Aku masih mematung di tempatku. Sekali lagi Minho tersenyum, dan dia mengecup pipi kanan ku.

“Aku suka sikapmu hari ini. Ku mohon jangan berubah, Soojung-a. Hari ini aku akan lakukan apapun yang kau inginkan.”

“Kalau begitu bolehkah aku meminta satu hal?”

“Tentu saja, Soojung-a. Jangankan hanya satu… Seribu pun akan kulakukan jika ku sanggup.”

“Tolong, untuk hari ini saja… Jangan panggil namaku.”

Aku merutuki kebodohanku sendiri. Nekat sekali aku meminta hal itu! Tapi tak bisa dipungkiri hatiku sangat sakit ketika Minho menyebut nama Krystal setelah melakukan hal manis padaku. Rasanya seperti baru saja hatiku diterbangkan setinggi langit, namun detik berikutnya Minho juga yang menghempaskannya ke tanah. Tak bisakah sekali saja aku menikmati semua perlakuan manis Minho tanpa mesti mengingat bahwa sebenarnya Minho melakukan semua ini untuk Krystal?–bukan untukku–.

“Baiklah, Sayang. Aku tak akan menyebut-nyebut namamu seharian ini. Kajja, ku antar kau ke kelasmu.”

***

Sepanjang perjalanan menuju kelasku, kami bergandengan tangan. Senyum Minho juga selalu mengembang.

“Krystal-a, annyeong!” sapa beberapa siswa ketika aku datang.

A-anyeong…” jawabku ragu.

Satu lagi keuntungan yang aku dapat dengan menjadi Krystal, semua siswa akan menyapaku. Bagaimana tidak? Krystal merupakan gadis terkenal yang paling cantik di sekolah ini.

Dulu, mana pernah ada orang yang mau menyapa nerd macam aku. Tanpa sadar aku menghela napas pelan.

“Sudah sampai, Sayang. Belajar yang semangat ya… Nanti istirahat aku akan mengajakmu makan di kantin.”

***

Kajja kita makan siang!” ajak Minho setibanya ia di di kelasku.

“Sebentar, Oppa. Aku mau menyelesaikan dua soal terakhir lagi.”

Minho tiba-tiba menyentuh keningku. “Kau tidak sakit kan, Sayang? Biasanya juga kau tak peduli dengan pelajaran. Biasanya kau selalu memintaku mengerjakan pekerjaan rumahmu.”

“Manusia boleh berubah kan?” kilahku. “Kajja, aku sudah selesai.”

Kami pun pergi menuju kantin.

***

“Mau pesan apa?” tanya Minho.

“Samakan saja denganmu, Oppa.

Tak lama makanan yang dipesan Minho datang.

Minho terlihat lapar sekali, buktinya Minho begitu tergesa-gesa saat makan.

“Waktu istirahat masih lama, Oppa. Pelan-pelan saja, nanti kau malah tersedak…” ujarku sambil mengelap pinggiran bibir Minho yang belepotan karena makanannya.

Tiba-tiba Minho menatap mataku lekat. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Tak lama bibirnya mengecup pelan bibirku.

Itu hanya kecupan singkat. Aku bahkan tak sempat membalasnya. Tapi efeknya sungguh dahsyat bagiku. Aku masih mematung diperlakukan seperti itu oleh Minho.

Mianhae, harusnya aku bisa menahan diri untuk tidak menciummu di depan umum. Tapi aku tak kuat, Sayang. Kau tak pernah seperhatian tadi padaku sebelumnya.”

***

17:00

Aku melirik jam dipergelangan tangan kananku. Sudah jam lima sore, berarti sudah 12 jam aku berada di raga Krystal.

Berarti waktuku tinggal sebentar lagi, feeling-ku mengatakan bahwa beberapa menit lagi aku akan kembali ke alamku.

“Sayang, mengapa melamun?” tanya Minho.

Aku menggeleng kemudian menyandarkan kepalaku pada bahu Minho.

Kini kami tengah duduk di sebuah taman berumput hijau luas yang berada di dekat rumahku. Kami akan melihat matahari terbenam bersama.

“Aku punya sesuatu untukmu. Tapi tutup matamu terlebih dulu. Dan jangan coba-coba membuka mata sebelum ku suruh apalagi mencoba mengintip!” ancam Minho.

Aku tersenyum kemudian menutup mataku. Aku bisa mendengar langkah kaki Minho yang pergi menjauhiku.

“Nah… Sekarang kau boleh membuka matamu.”

Perlahan ku buka mataku dan melihat sebuket bunga dihadapanku. Bunga ini… Bunga yang persis diberikan Minho pada Krystal waktu itu.

“Minho Oppa, bolehkah aku memelukmu?”

Minho mengangguk dan membawaku dalam dekapannya. Hangat, dan nyaman. Aku merasa apapun akan bisa kuhadapi asal aku terus berada di dalam dekapan Minho seperti ini.

Tes…tes…

Tanpa dikomando, air mataku jatuh keluar. Minho sepertinya menyadari bahunya yang mulai basah.

“Sayang, kau kenapa?

“Tidak, Minho Oppa. Jangan renggangkan pelukanmu sedikitpun, aku mohon. Biarkan aku memelukmu beberapa menit lagi.”

Minho mengangguk dan mengelus-elus rambutku mencoba menenangkan.

Dan aku masih menangis. Aku senang dan sedih disaat yang bersamaan. Aku senang akhirnya aku bisa memeluk namja dingin yang selalu menolakku ini. Tapi aku juga sedih karena waktuku bersama Minho tinggal sedikit lagi. Tangisku semakin deras ketika menyadari aku tak akan bisa memeluk Minho lagi.

“Minho Oppa, saranghae. Jeongmal saranghaeyo. Niga chutago. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih sudah mau menghabiskan waktumu seharian ini denganku.”

Minho mengangguk dan melepaskan pelukannya. “Aku lebih mencintaimu, Sayang. Saranghaeyo.

Minho kemudian mengelap air mataku dengan tangannya perlahan.

“Minho Oppa, bolehkah aku memelukmu sekali lagi? Aku janji ini yang terakhir…”

Minho mengangguk sekali lagi dan memelukku erat seperti tadi.

Ini waktunya aku kembali. Perlahan mataku tertutup dan pelan-pelan rohku keluar dari tubuh Krystal.

“Soojung-a?” tanya Minho khawatir ketika ia tak mendengar suara Krystal.

Aku kini sudah sepenuhnya keluar dari tubuh Krystal dan kembali menjadi roh.

“Minho Oppa, terima kasih untuk hari ini.” bisikku sambil mengecup pipi Minho pelan.

Tapi tentu saja Minho tak akan merasakannya karena aku mahluk tembus pandang.

“Soojung-a, ireona!

Terima kasih juga Krystal, karena telah meminjamkan ragamu padaku. Aku mohon jangan sia-siakan Minho lagi, Soojung-a.

Karena aku sudah merasa puas melewatkan seharian yang indah bersama Minho, kini aku harus kembali ke alamku. Aku tak akan lagi datang untuk melihat mereka berdua di dunia.

***

Flashback

“Minho, aku benci padamu! Mengapa kau menolong nerd itu tadi hah? Tak taukah kau kalau dia menyukaimu? Kau pilih dia atau aku?”

“Aku hanya membantunya sedikit, Soojung-a. Aku tak sedikit pun memiliki perasaan pada gadis itu.”

Tanpa sadar air mataku turun mendengar perkataan Minho. Benar, namja itu memang hanya mencintai Soojung seorang.

“Soojung-a…” teriak Minho sambil mengejar Krystal yang berlari meninggalkan kami.

Oh tidak, ada truk besar yang akan menabrak Krystal. Buru-buru aku berlari dan menarik tangan Krystal menjauh.

***

Cit…Bruk!

Tubuh seorang yeoja yang menolong Krystal tertabrak truk karena ia tak mampu menolong dirinya sendiri.

Minho yang begitu dibutakan dengan cintanya pada Krystal, bukannya menolong gadis malang yang jelas-jelas celaka karena menolong yeojanya, malah menolong Krystal yang hanya lecet sedikit di bagian sikunya.

“Kau tak apa-apa kan, Soojung-a?” tanyanya khawatir.

Dari sebrang jalan, gadis malang itu melihat semuanya. Air matanya turun sekali lagi, kali ini ditambah senyum penuh kegetiran. Perlahan matanya menutup, diiringi nyawanya yang juga meninggalkan raganya. Tanpa sempat dibawa ke rumah sakit, gadis malang itu keburu meninggal di tempat karena kehabisan darah.

END

Posted from WordPress for Android

4 thoughts on “If I Were Her…

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s