I Don’t Like Her (third chapter)

wpid-i-dont-like-her2.jpg

Title: I Don’t Like Her ( Chapter Tiga )

Author: Angangels aka Jung Byulgi

Cast: Lee Jieun (IU), Kim Jonghyun, Shin Sekyung, Nickhun

Genre: Romance, Sad, Angst

Length: chaptered

Cover credit: thanks to QuinAegyoMin yang udah mau bikinin cover FF ku di ART Factory 

Happy reading and do leave comment guys…

***


06.15

Jieun terbangun dari tidurnya. Gadis itu untuk pertama kali dalam tiga bulan terakhir ini bangun tanpa bantuan Jonghyun. Bukankah hari ini giliran dirinya yang akan dijemput Jonghyun?

Kemudian gadis itu mengecek ponsel berwarna putih miliknya. Aneh… tak ada missed call, bahkan tak ada satupun pesan masuk dari Jonghyun. Kemarin saja saat Jonghyun tak bisa menjemputnya karena menjemput Sekyung, namja itu masih membangunkannya lewat telepon. Namja itu bahkan berkali-kali menelepon Jieun. Pertama saat membangunkannya, lalu dua menit kemudian mengecek apa yeoja itu benar-benar bangun atau tidak. Seakan tak cukup, lima menit kemudian namja itu bertanya apakah dirinya sudah selesai mandi.

Itulah mengapa gadis itu –sedikit— rela ‘berbagi’ Jonghyun dengan Sekyung. Toh saat bersama Sekyung pun namja itu masih selalu kontak dengannya. Maka dari itu Jieun tidak protes Jonghyun menjemput Sekyung, karena Jonghyun juga akan menanyakan semua hal seakan namja itu sedang berada di samping Jieun lewat telepon.

Tapi Jonghyun sekarang ada dimana?

Jieun mencoba percaya pada Jonghyun karena sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja walau sedikit terganggu dengan kehadiran Sekyung. Dan Jieun mengerti posisi Jonghyun. Jieun tau pasti bahwa Jonghyun tak akan mungkin tega meninggalkan Sekyung ketika Sekyung tengah terpuruk. Bagaimana pun Jonghyun pernah sangat mencintai gadis itu.

Atau mungkin selama ini diam-diam Jonghyun masih memeluk Sekyung dalam hatinya dan belum benar-benar sanggup melepas Sekyung sepenuhnya? Dan Jonghyun diam-diam senang juga ketika Sekyung kembali kepelukannya ketika gadis itu dicampakan Khun? Entahlah. Hati orang siapa yang tau.

***

Drrt… drrt…

Ponsel Jonghyun bergetar saat ia akan berangkat menuju rumah Jieun. Diangkatnya telepon yang ternyata dari Sekyung itu.

Yeobsaeyo, Kyungie?”

“Jjong-a, bisakah kau ke rumahku sekarang juga?”

Mianhae, aku hari ini harus menjemput Jieun.”

Jebal, Jjong-a… Nickhun-” suara yeoja di seberang sana berubah seperti seseorang yang tengah menahan tangis.

“Kenapa Nickhun? Wae?” tanya Jonghyun panik.

Tut tut tut.

“Aish, kenapa teleponnya dimatikan!” gerutu Jonghyun. Namja itu kemudian mencoba menelepon Sekyung.

Sekali, dua kali… bahkan telepon ketiga Jonghyun tak diangkat.

Jincha! Ada apa sebenarnya?”

Tanpa pikir panjang Jonghyun langsung melajukan motornya ke rumah Sekyung.

Entah karena panik atau faktor lain… yang jelas namja itu lupa sama sekali tentang kewajibannya hari ini untuk menjemput kekasihnya—that’s why there’s no message or call from him.

***

“Kyungie, waeyo?” tanya Jonghyun setelah sampai di rumah Sekyung.

Anio. Aku hanya ingin berangkat diantar olehmu…” jawab Sekyung tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Neo, jincha…” Jonghyun mengatur napasnya pasca berlari untuk masuk ke dalam rumah gadis ini. “Aku kira sesuatu terjadi padamu.”

Waeyo? Apa tindakanku salah?” tanya Sekyung innocent.

Jonghyun hanya menggeleng-geleng pasrah melihat kelakuan bocah mantan kekasihnya itu.

Kajja kita berangkat!” ajak Sekyung sambil melangkah pergi.

Tunggu… rasanya ada yang namja itu lupakan. Tapi apa?

“Jjong-a, kajja!

Jonghyun pun mengikuti Sekyung keluar setelah gadis itu menarik lengannya.

Kau melupakan yeojachingu-mu, Kim Jonghyun.

***

12:15

Jieun sedari tadi tak berhenti menatap Jonghyun yang sedang asyik dengan ponselnya. Namja itu—seperti biasa— selalu mendadak memiliki alam sendiri ketika menyangkut tentang Sekyung. Lihat saja sekarang, saat Jieun sudah menghabiskan pastanya, bahkan Jonghyun belum menyentuh makanannya. Sedari tadi Jonghyun asik bertukar pesan dengan Sekyung.

“Jjong-a, pesananmu sudah dingin.” Tegur Jieun pelan.

Eo Jincha? Aigo, gara-gara Sekyung aku jadi keasyikan bermain ponsel.” Jawab Jonghyun sambil—akhirnya— meletakan ponselnya di meja. “Kau tau, Jieun-a? setiap hari ada saja kelakuan konyol yang dilakukan Sekyung.”

Again, Sekyung and Sekyung.

Tak cukupkah namja itu mengabaikannya sedari tadi? Masih perlu ya menyakitinya dengan membicarakan gadis itu di depan dirinya? Tanpa sadar Jieun menghela napas panjang.

Drrt… drrt…

Yeobsaeyeo Kyungie?”

Ingin rasanya jieun berteriak frustasi. Ternyata berkirim pesan selama berjam-jam saja bagi kedua insan itu tidaklah cukup.

***

Ne, ne… Annyeong.

Seperti biasa, senyum Jonghyun akan berkembang setelah selesai bercakap-cakap dengan Sekyung di telepon.

Mianhae Jieun-a, ada hal yang sangat urgent. Aku harus menjemput Sekyung. Maaf tak bisa mengantarmu sore nanti.”

Entah ini senyum getir keberapa yang telah Jieun tunjukkan semenjak kedatangan Sekyung di antara hubungannya dengan Jonghyun. Jieun sudah tak dapat lagi ber-positif thinking pada gadis bermarga Shin itu. Jieun amat merasa tak suka pada gadis itu walau ia belum pernah bertemu dengannya.

“Aku pergi, Jieun-a,

Setelah kepergian Jonghyun, bersamaan dengan itu pula cairan bening turun dari kedua mata indahnya.

“Mana hak spesialku Kim Jonghyun? Mengapa gadis itu terlalu serakah? Tak cukupkah ia mengambil jatah diantar pagi olehmu? Kini hak spesialku akan direbutnya juga? Lama-lama aku bisa tak tahan, Jjongie…”

***

“Jjong, pinjam ponselmu…” rengek Sekyung manja.

“Untuk apa? Ponselku lowbatt,” ujar Jonghyun sambil memberikan ponselnya.

Sekyung kemudian mencibir dalam hati ketika melihat wallpaper ponsel namja itu. Fotonya bersama seorang gadis. ‘Ini kah kekasihnya sekarang? Cih aku bahkan lebih cantik.’ Pikirnya dalam hati.

Tanpa seizing Jonghyun, gadis itu membuka galeri ponsel namja itu. Cukup banyak foto Jonghyun bersama gadis di foto tadi. Kemudian tanpa rasa bersalah, dihapusnya satu folder berisi foto Jonghyun dan kekasihnya itu.

Diubahnya wallpaper Jonghyun menjadi foto Jonghyun dengan dirinya. Untungnya, ponsel Jonghyun langsung mati dan namja itu tentu saja takkan menyadari perubahan wallpaper ponselnya.

Omo mian, ponselmu mati. By the way, malam ini kau kencan dengan kekasihmu dimana?” tanya Sekyung sok perhatian.

“Aku hanya akan datang ke rumahnya. Malam ini kami takkan kemana-mana.”

‘Bagus, semoga yeoja itu melihat Wallpaper Jonghyun yang baru’ pikir Sekyung.

Gadis itu kemudian tertawa dalam hati, mengingat tadi siang ia juga sempat menyimpan foto dirinya di tas Jonghyun secara diam-diam.

“Oh ya, siapa nama pacarmu?”

“Jieun… Lee Jieun.”

‘Lee Jieun, siapkan hatimu malam ini saat bertemu Jonghyun’

***

20:30

“Jieun-a! ada Jonghyun di bawah…” lapor nyonya Lee pada Jieun.

Jieun kemudian bangun dari tempat tidurnya. Barusan gadis itu hampir terlelap karena ia yakin Jonghyun tak akan datang. Pasalnya, Jonghyun saja tidak mengabarinya akan datang. Malah ponsel Jonghyun tak bisa dihubungi sejak sore tadi.

“Jieun-a, kau sedang bertengkar dengan Jonghyun?” tanya nyonya Lee.

Anio,

Jeongmalyeo? Tapi mengapa sudah sebulan ini Jonghyun tak datang mengantar-jemputmu?”

“Jonghyun pindah kuliah, Eomma.” Jawab Jieun asal karena kesal eomma-nya mengingatkan bahwa hubungannya dengan Jonghyun memburuk akhir-akhir ini.

***

Sekali lagi, Jieun merasa hubungannya dengan Jonghyun semakin hambar. Bagaimana tidak? Setiap pagi Jonghyun tak pernah lagi menjemput dirinya. Jangan tanya apa Jonghyun mengantar dirinya pulang kuliah sore hari. Gadis bernama Shin Sekyung telah merebut sepenuhnya hak spesial Jieun.

Seakan tak cukup, Jonghyun juga tak pernah lagi menghubungi Jieun. Kecuali pagi tadi saat Jonghyun bilang ia akan datang ke rumahnya dalam rangka satnight.

Jika di luar sana banyak hubungan sepasang namja-yeoja yang sangat dekat namun tak memiliki status—HTS—, Jieun rasa hubungan Jonghyun dengan dirinya adalah kebalikannya. Status mereka memang masih pacaran, namun hati namja itu telah berpaling sepenuhnya pada Sekyung.

Malam ini, di teras rumah Jieun kedua insan yang katanya sepasang kekasih itu sedang duduk. Keduanya diam, tak ada yang berinisiatif membuka pembicaraan.

Selang beberapa menit, Jieun jengah juga melihat Jonghyun yang diam saja sambil memandang lurus entah kemana. Mungkin sedang memikirkan Sekyung?

“Kim Jonghyun..”

***

“Kim Jonghyun..”

Aku tersentak ketika Jieun memanggil nama lengkapku. Ada nada menyakitkan yang ku tangkap dari caranya menyebut nama lengkapku. Dan Jieun hanya memanggil nama lengkapku ketika ia marah padaku—dan itu sangat jarang sekali.

Aku memandang Jieun yang menatap lurus ke pagar rumahnya. Ia bahkan menolak untuk menatap mataku.

“Aku rasa sebaiknya kita putus…”

Deg!

Putus? Tapi kenapa?

“Jieun-a, wae irae? Apa aku telah berbuat salah padamu?” tanyaku.

“Kau masih bisa bertanya apa salahmu padaku? Hahaha… Anio, kau tak memiliki salah sedikitpun padaku.” Jawab Jieun sambil tertawa dibuat-buat. Tapi aku dapat melihat dengan jelas setitik cairan bening yang turun dari mata indahnya.

“Jieun-a, be honest with me…

“Aku tau kau sebentar lagi kau akan minta putus, Jonghyun. Sebelum itu terjadi, aku memilih untuk melepasmu terlebih dahulu.”

Tak pernah aku mendengar nada bicara Jieun yang sangat sarat akan luka saat dia memanggil namaku tadi. Ditambah air matanya yang sudah semakin deras.

“Siapa yang akan minta putus darimu, Sayang?”

“Sayang? Hhh, sudah lama aku tak mendengar kau memanggilku dengan panggilan itu.”

Jieun benar. Sudah lama aku tak memanggilnya dengan sebutan kesukaannya itu. Akhir-akhir ini kami bertemu pun jarang, sekalinya bertemu aku tanpa sadar selalu memanggil namanya saja. Apa itu yang sudah membuatnya terluka?

“Jieun-a, ada apa denganmu?” tanyaku sambil berlutut di depan kursinya. Ku genggam tangannya namun ia melepaskan gengamanku. Tak mau kalah, ku genggam tangannya dengan keras agar ia tak bisa lagi menghempaskannya.

Dengan jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. Matanya masih menolak untuk menatapku.

“Aku lelah terus seperti ini, Oppa…

Kali ini Jieun terisak, ia tak lagi menahan tangisnya di depanku. Jika sedari tadi ia terus berkata dengan nada yang dingin, kini nada bicaranya melunak dan penuh kesedihan. Ku peluk Jieun untuk menenangkannya.

“Aku sudah tak tahan lagi dengan hubungan kita Oppa, hiks. Jebal geumanhae…

Belum satu menit, bahuku sudah basah dengan air matanya. Kau kenapa Lee Jieun?

“Putuslah denganku. Aku melepasmu, Oppa. Kembalilah pada Sekyung.”

Jadi, semua ini gara-gara Sekyung? Tapi kenapa Jieun baru mengatakannya sekarang? Sebelumnya Jieun tak pernah terlihat keberatan dengan kehadiran Sekyung di antara kami berdua. Ia juga bilang tak keberatan aku meninggalkannya untuk menemui Sekyung.

“Sekyung dan aku hanya sahabat, Jieun-a…”

“Sahabat? Kau sungguh naïf, Oppa. orang buta pun  bisa melihat hubungan kalian yang lebih dari sekedar sahabat. Orang macam apa yang meninggalkan kekasihnya di café dan memilih untuk menjemput ‘sahabat’nya yang bahkan sebenarnya bisa pulang sendiri menggunakan taxi.”

“Jieun-a, Mianhae…”sesalku.

Ania, kau tak salah Oppa. Hanya saja hatiku ternyata tak sekuat apa yang aku kira. Aku kira aku akan tahan walau kau selalu memprioritaskan Sekyung daripada aku. Tapi nyatanya, hhh~”

Tik. Tangis Jieun yang beru saja berhenti kembali tumpah. Apa aku telah sebegitunya menyakitimu, Jieun-a?

“Awalnya aku masih tak keberatan ketika kau membagi waktu pagimu untuk menjemput aku dan Sekyung. Aku tak keberatan walau rasanya seperti kau tengah berselingkuh di depanku, Oppa. Tapi, baru seminggu, kau bahkan tak pernah menepati jadwal yang kau buat sendiri. Dalam seminggu kau hanya menjemputku dua kali, Oppa.

Aku diam mematung. Ya, aku telah menyakitinya.

“Jika itu saja yang terjadi, aku masih bisa tahan, Oppa. Sekarang kau lihat sendiri, sudah sebulan kau tak pernah menjemputku, Oppa. Hatiku bertambah sakit ketika setiap pagi ketika aku tengah sarapan, eomma selalu menanyakanmu yang tak pernah lagi menjemputku untuk kuliah. Bisa kau rasakan bagaimana perasaanku, Oppa?

“Dulu kau bilang kau menjemput Sekyung karena ia tengah down, tapi apa setelah dua bulan lebih ia masih down juga, Oppa?

“Seakan itu semua tak cukup, Oppa pun sudah tak pernah mengantarku pulang lagi. Katamu itu hak spesial yang hanya kau berikan hanya untukku. Tapi sekarang apa Oppa? Sekyung lah yang setiap hari diantar-jemput olehmu. Hhh, bolehkah aku menukar paman Jang denganmu Oppa? aku ingin kembali diantar-jemput olehmu. Dulu kau bilang aku punya paman Jang yang mengantar jemputku makanya kau memilih mengantar-jemput Sekyung. Hhh, haruskah aku memecat supir Jang agar kau kembali mengantar jemputku Oppa?

“Sudah jarang bertemu, ketika kita bertemu Oppa malah mengacuhkanku. Kau selalu sibuk berhubungan dengan Sekyung lewat ponsel. Ketika kita makan bersama di kantin, kau hanya duduk menemaniku saja. Dulu kita selalu mengobrol, Oppa. Tapi sekarang apa? Kau terlalu sibuk dengan Sekyung…”

“Aku kira hatiku akan kuat, Oppa. Tapi nyatanya aku juga yeoja. Lama kelamaan aku juga tak kuat terus seperti ini. Aku mohon hentikan semua ini Oppa. Aku lelah…”

“Tapi aku masih mencintaimu, Jieun.”

“Tidak, Oppa. Dari awal memang hanya Sekyung yang kau cintai. Aku hanyalah pelarianmu.”

“Kau bukan pelarianku, Jieun…”

“Aku bisa merasakannya, Oppa. Mungkin kau dulu menerima cintaku karena kasihan padaku, gadis bodoh yang selama dua tahun selalu mengemis cintamu.”

“Tidak Jieun-a, aku sungguh mencintaimu.”

“Mungkin benar Oppa memiliki sedikit cinta untukku. Tapi yang jelas cintamu pada Sekyung jauh lebih besar, Oppa. Sadarilah, kau selalu mengutamakan Sekyung dibanding aku. Kau tidak tega meninggalkan Sekyung sendirian di café tapi kau tega meninggalkanku, Oppa. Kau tidak tega melihat Sekyung pulang-pergi naik taksi tapi kau tega melihatku diantar paman Jang. Hhh, hatiku sakit Oppa.

Tanpa sadar air mataku ikut turun. Kau nappeun namja, Kim Jonghyun.

“Maaf kalau kau sudah menderita banyak karenaku. Jujur aku tak sadar kalau kau terluka karenaku selama ini. Kenapa selama ini kau tak pernah mengeluh padaku, Jieun-a? mengapa kau memendam perasaanmu sendirian saja?”

“Awalnya aku kira aku akan kuat, Oppa. Tapi nyatanya aku hanya yeoja biasa. Maafkan diriku yang terlalu rapuh, Oppa.

Jieun kemudian memegang kedua pundakku sambil tersenyum, “Kita perlu waktu, Oppa. Kita harus terpisah dulu sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini atau menghentikannya.”

“Tapi…”

Oppa pulanglah. Aku mohon.”

***

“Jieun-a, apa ponselmu kau tinggal diluar? Bibi Jung menemukan ponsel tergeletak di teras.”

Anio Eomma. Ponselku  ada di kamar.”

“Lalu itu ponsel siapa?”

Karena penasaran aku pun mengambil ponsel di bibi Jung.

“Bibi Jung, kudengar bibi menemuka ponsel di teras?”

“Iya nona Jieun, apa itu ponsel nona Jieun?”

Anio,” aku menggeleng, “Tapi aku ingin mengecek ponsel milik siapa itu.”

Bibi Jung kemudian menyerahkan ponsel itu padaku.

“Tadi ponselnya mati, Nona. Berhubung charger ponselnya sama seperti milikku akhirnya aku charge. Siapa tau pemilik ponsel itu akan menghubungi nomernya.”

Ini ponsel Jonghyun. Ternyata ponselnya tertinggal. Mungkin ia tak menyadari ponselnya jatuh dari kantungnya.

Kuusap layar ponselnya—membuka kunci ponsel.

Deg!

Airmataku turun lagi.

Jonghyun… sebegitu sukanya kah kau pada gadis itu? Walpapermu sampai menunjukkan foto mesra kalian.

***

Drrt drrt

Ponselku bergetar di meja riasku. Tapi aku mengabaikannya karena malas. Aku sedang tidak ingin diganggu.

Drrt drrt drrt drrt.

Ini pasti telepon. Akhirnya aku bangun dari posisi tidurku dan mengangkat panggilan itu.

Yeobsaeyo?

“Jieun. Apa ponselku tertinggal di rumahmu?”

Aku menghela napas kecil. Kujauhkan ponselku dari telingaku sebentar—melihat nomor peneleponku.

Ah, bodoh  sekali kau Jieun! Mengapa tadi kau main angkat saja? Kalau aku tau nomer rumah Jonghyun yang menenleponku, aku pasti tak akan mengangkatnya.

“Jieun?”

Ne, Oppa.

“Bolehkah aku mengambilnya malam ini juga?”

“Tapi ini sudah malam, Oppa.

Oh aku lupa! Pasti Jonghyun tak ingin lost contact dengan Sekyung walau hanya semalam. Bagaimana bisa aku lupa hal ini setelah melihat ribuan SMS dari Sekyung di inbox Jonghyun. Belum lagi jumlah panggilan dari Sekyung pada ponselnya.

“Ya sudah aku tunggu.”

Kumatikan ponselku begitu saja tanpa menunggu jawaban Jonghyun.

***

Tin tin

Kubuka tirai kamarku. Benar feelingku. Itu mobil Jonghyun.

Dengan langkah malas aku menuruni tangga.

“Siapa yang datang Jieun?”

“Jonghyun, Eomma.  Ponsel yang tertinggal itu ponselnya.”

***

“Kau sudah tidur?”

Aku menggeleng.

Sekali lagi kami duduk di teras rumahku tanpa saling bicara.

“Ini ponselmu.”

Jonghyun meraih ponselnya dari genggaman tanganku.

Ia membuka kunci ponselnya, “Kukira ponselku low-”

Perkataannya terputus ketika ia melihat tampilan wallpapernya. Cih, tak usah berpura-pura kaget, Tuan Jonghyun.

***

Sejak kapan wallpaper ponselku berganti?

Tunggu…

“Kau mengganti wallpaperku?”

Jieun mencibir kearahku.

“Aku tidak serajin itu, asal kau tau. Tuan Jonghyun sudahlah, hentikan semuanya sekarang juga.”

Ah iya! Aku baru ingat Sekyung sempat meminjam ponselku tadi. Tapi masa iya dia meminjam ponselku untuk mengganti wallpaperku? Apa tujuannya?

“Jieun-a, aku bisa jelaskan.”

“Tak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Oppa. Ini sudah malam, aku mau tidur.”

Kutahan pergelangan tangannya sebelum ia berbalik untuk menutup pintu rumahnya.

“Lepaskan Oppa!

Aku mengenggam tangannya makin erat karena ia terus meronta. Kutarik lengannya sampai ia masuk mobilku.

“Mau kemana Oppa? Ini sudah malam!”

Kukunci pintu penumpang tempat Jieun duduk lalu aku berjalan cepat ke kursi kemudi.

Oppa buka pintunya sekarang juga. Aku ingin tidur!”

Aku pura-pura tak mendengar penolakannya. Kunyalakan mesin mobilku.

***

“Jieun-a, aku mohon jangan begini…”

Sedari tadi aku memandang keluar dari jendela sebelahku. Aku membisu setiap Jonghyun mengajakku bicara.

“Aku bisa jelaskan semuanya.”

Kunyalakan radio di mobilnya dengan volume keras.

“Lee Jieun, kau benar-benar menguji kesabaranku rupanya…”

“SIAPA YANG MENGUJI KESABARAN SEBENARNYA HAH? TIDAKKAH KAU SADAR DIRIMU YANG TELAH MEMBUAT KESABARANKU HILANG??? KAU SERAKAH JONGHYUN! KAU BERSELINGKUH DENGAN SEKYUNG DI DEPAN MATAKU TAPI KAU JUGA TAK MAU MELEPASKU. KAU PIKIR AKU MAHLUK TAK PUNYA HATI HAH? AKU LELAH! HATIKU SAKIT! HATIKU BAGAI DITIKAM PISAU BERKARAT TIAP KALI MELIHATMU TERSENYUM SENANG MENGANGKAT TELEPON DARI SEKYUNG! HATIKU SAKIT SAAT KAU MENGABAIKANKU KARENA KAU ASIK BERTUKAR PESAN DENGAN  SEKYUNG! HATIKU SAKIT SAAT KAU LEBIH MEMILIH DIA DARIPADA AKU DALAM SEMUA HAL!”

“Jieun-a…”

“Setelah kau datang dan memintaku melanjutkan hubungan kita sore tadi aku jujur saja telah memutuskan untuk mempertahankan hubungan kita, Oppa. Aku memutuskan untuk bersabar sedikit lagi. Tapi apa yang aku dapat? Wallpaper ponselmu sudah menghancurkan harapanku untuk kembali berhubungan denganmu!”

“Kau masih sangat mencintainya, Jonghyun. Akui saja dan lepaskan aku detik ini juga.”

“Jieun-a,

Aku buka kunci mobil Jonghyun dan keluar begitu saja.

“Jieun-a, mianhae. Aku tau aku salah-”

Sekali lagi ia tahan pergelangan tanganku.

Ku stop taksi dengan sebelah tanganku yang bebas.

“Jieun-a, kajima. Kita bisa selesaikan semua baik-baik.”

Kuhempaskan tangannya kasar, “Hubungan kita selesai sampai disini, Jonghyun.”

“Jieun-a. Jangan begini jebal. Aku masih menyayangimu.”

“KALAU BEGITU TINGGALKAN SEKYUNG!”

“Jieun-a… Kau tau kan aku tak mungkin meninggalkannya?”

“Kalau begitu putuskan aku!”

“Jieun-a. kau tau pasti aku tak akan bisa memilih salah satu dari kalian,”

“Choose me or lose me. I’m not a back up plan and definitely not a second fucking choice.”

Lima menit Jonghyun terdiam. Sampai akhirnya ia kembali berujar.

“Kalau begitu maafkan aku Jieun-a. Aku tak bisa meninggalkan Sekyung. Aku melepasmu. Maaafkan aku, Jieun-a. kau sendiri yang membuatku memutuskan ini. Maafkan aku,”

Aku tersenyum miris. Sudah kuduga akhirnya akan seperti ini. Hhh. Tak apa. setidaknya dia sudah melepasku. Aku tak lagi terikat.

“Jika kau memutuskan untuk kembali pada Sekyung, kembalilah. Aku tak akan menahanmu. Tapi tolong pikirkan baik-baik, Oppa. Sekyung yang dulu membuangmu. Sekyung yang hanya mencarimu ketika ia butuh. Sekyung yang jelas-jelas sudah memanfaatkanmu untuk dijadikan pelarian… Dan, bukan tak mungkin kali ini Sekyung juga akan melakukan hal itu lagi, Oppa. Dia sedang memanfaatkanmu.”

“Tidak Jieun-a. Aku yakin kali ini Sekyung tidak mempermainkanku. Aku yakin dia serius. Aku rasa dia sudah menyadari bahwa akulah tempatnya kembali.”

Aku lagi-lagi menyunggingkan senyum miris. “Terserah, jika kau sebegitu yakinnya, Oppa. Aku mendukungmu. Yang penting aku sudah memperingatkanmu, Oppa. Dan…”

“Dan? Dan apa Jieun?”

“Jika Oppa sudah memutuskan untuk memilih gadis itu dan meninggalkanku, aku takkan pernah menerimamu kembali Oppa. Sekali kau meninggalkanku, aku takkan menerimamu lagi.”

***

“Jika Oppa sudah memutuskan untuk memilih gadis itu dan meninggalkanku, aku takkan pernah menerimamu kembali Oppa. Sekali kau meninggalkanku, aku takkan menerimamu lagi.”

Deg.

Kenapa aku jadi ragu?

Tapi aku mengerti. Aku tidak boleh seenaknya pada Jieun. Dia bukan seseorang yang bisa dibuang lalu dipungut lagi.

Tapi bagaimana jika perkataan Jieun benar? Sekyung hanya memanfaatkanku dan akan mencampakanku lagi setelah dia kembali mendapatkan apa yang ia mau?

Tidak Jjong. Sekyung tidak akan mencampakanmu kali ini. Aku harus yakin.

“Baiklah. Aku melepasmu, Lee Jieun. Hiduplah dengan baik. Maafkan aku yang tak bisa menjadi namja yang baik untukmu. Aku harap hubungan kita tetap bisa baik. Aku menyayangimu, Jieun-a.”

***

TBC

Buat yang nungguin, maaf ya lama T___T. Tanganku gabisa diajak ngetik nih. Mungkin udah mulai jenuh nulis fanfict. Doain aja semoga ini cuma WB biasa. Takutnya aku beneran udah bosen jadi author😥

Panjang kan ya chapter ini? Saran ditunggu ya.

Oh iya jadi ceritanya aku awalnya gaakan post chapter tiga ini sebelum FFnya beres kutulis. Tapi aku males banget ngetik (sakali banget), jadinya aku post aja deh seadanya yang udah aku ketik dari lama. Abisnya gaenak juga kalo ada yang nungguin. Udah lama banget. Ada satu chap lagi yang udah beres aku ketik. Setelah itu gatau deh sanggup beresin ff ini apa engga. Dan aku nyadar ini cerita makin gaje dan sinetron banget (T_____T) *geret aspal

9 thoughts on “I Don’t Like Her (third chapter)

  1. Seneng banget tau FF ini udah muncul ~(^o^~) (~^o^)~
    Kayaknya disini Jieun nya emosi banget ya -____-
    Jjong jahat parah ih ;______;
    Awas aja dia balik lagi ke kembaran aku /? /plak/

    Jangan jangan Jjong balik lagi ke Jieun…
    ah sudahlah, FF ini tidak diragukan…
    Keren banget, bukan banget lagi deng…
    KEWREN BANGEUDD!!!!

    Aku tidak menemukan typo dimana mana
    kemana si typo ‘-‘?

    Udahlah ngebacot nya/? ini FF keren bgt ;____; next chapter nya segera ya kkk~

    • Ah kamu terlalu memuji. Ini gaada keren2nya. Sinetron mendayu-dayu gini juga wkwk😄

      Lihat saja ya apa yang akan terjadi di chap selanjutnya ;P

      Ini tinggal 2 chap lagi kok. Seburuk-buruknya end di part 6 lah. Makasih ya udah mau nunggu /teary eyes (T_T)

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s