Jinki’s Sacrifice (First Part)

image

Author: angangels aka Jung Byulgi
Main Cast: Lee Jinki, Song Cheonsa
Support Cast: Kim Jonghyun, Jinki’s mom, Cheonsa’s dad
Genre: romance, angst, family
Length: twoshoot
Poster credit: Tomoruka Misaki @ High School Graphics

—Happy reading and do leave comment please (^o^)—

“Cheonsa-ya. Jonghyun sudah menunggumu di bawah.”

“Aku tidak mau pergi dengannya, Oppa!”

Jinki tersenyum lembut, “Ayolah, saeng. Kita sudah bicarakan ini kan? Kau sudah setuju.”

“Oppa tapi kau tau aku hanya cinta pada-,”

“Tidak saeng. Jangan bahas itu lagi. Ayolah kita sudah sepakat kan? Kau tau pasti aku benci orang yang ingkar janji.”

“Jinki Hyung, aku izin membawa Cheonsa pergi.”

“Pergilah. Selamat bersenang-senang. Jika Cheonsa berulah turunkan saja dia di jalan.”

Jonghyun ikut tersenyum ketika Jinki tertawa.

“Saeng, jangan cemberut. Masa mau nge-date mukanya ditekuk gitu?” tegur Jinki.

“Aku benci padamu, Oppa.” ujar Cheonsa sambil menatap Jinki dingin.

Jinki tersenyum tulus ketika punggung Jonghyun dan Cheonsa semakin menjauh. Setelah yakin mereka tak mungkin berbalik melihatnya, cairan bening yang Jinki tahan mati-matian akhirnya turun.

“Oppa!”

Jinki tersentak ketika Cheonsa berbalik lalu memeluknya erat.

“Aku mencintaimu Oppa. Sampai kapanpun hanya kau namja yang aku cintai.”

Jonghyun hanya mampu menghela napas melihat adegan mengharukan itu. Jonghyun tau pasti perasaan kedua orang yang tengah berpelukan itu. Ia tau tapi tak bisa berbuat apa-apa. Justru mengencani Cheonsa adalah hal yang diperintahkan Jinki.

“Pergilah Cheonsa-ya. Berikan Jonghyun kesempatan untuk mendapatkan cintamu.”

Flashback

“Cheonsa-ya! Kim Jonghyun barusan tersenyum padamu!” pekik Byulgi semangat.

“Omo benarkah? Bagaimana ini? Kyaaaaaa!” ujar Cheonsa girang.

“Aku rasa dia juga menyukaimu. Ayo maju Cheonsa-ya! Sekarang bukan zamannya lagi yeoja diam menunggu didekati namja!” pancing Byulgi.

“Tapi Jonghyun sunbae banyak yang naksir. Minggu lalu saja Jinra yang cantik ditolaknya. Bagaimana aku yang biasa saja ini?”

“Jangan patah semangat! Jinra kan memang terlaru agresif. Lagipula dia tebal muka sih! Sudah jelas Jonghyun sunbae tidak pernah memberi sinyal bahwa ia senang di dekati Jinra. Tau rasa kan dia akhirnya ditolak!”

“Kau yang bilang Jonghyun sunbae tak suka yeoja agresif. Tapi kau menyuruhku mendekatinya. Kalau begitu aku juga agresif (-_-).” protes Cheonsa.

“Tapi ini dua hal yang berbeda! Jonghyun sunbae jelas-jelas memberi sinyal ia memberi perhatian lebih padamu! Dia sering tersenyum dan menyapamu ketika kalian berpapasan kan? Ku beritau ya, Jonghyun sunbae itu jaraaaaaang sekali menyapa yeoja duluan. Dan kau termasuk salah satu yeoja yang beruntung itu.”

“Benarkah?” kemudian wajah Cheonsa tiba-tiba memerah, “Omo Jonghyun sunbae akan lewat sini!!! Eotteokhae?”

Mati-matian Cheonsa menetralkan deguban jatungnya yang menggila ketika Jonghyun semakin mendekat.

“Annyeong, Cheonsa-ya.” sapa Jonghyun lengkap dengan senyum khasnya.

“A-anyeong Jonghyun Sunbae.”

~

One week later

From: Jonghyun sunbae

Cheonsa-ya, apa sore ini bisa temani aku ke toko buku? Ada buku yang ingin aku beli

To: Jonghyun sunbae

Ne aku bisa sunbae

“Wow! Ajakan kencan? Daebak! Kau tinggal tunggu hari untuk jadi yeojachingunya.” seru Byulgi.

“Ania Byulgi-ya. Ini bukan ajakan kencan. Dia hanya mengajakku ke toko buku.”

“Toko buku hanya alasan. Dia sebenarnya sedang mendekatimu!”

“Benarkah?”

~

Jantung Cheonsa hampir saja copot saking kagetnya ketika ia mendapati Jonghyun sudah berdiri di depan ruang kelasnya.

“Kajja, Cheonsa-ya.”

Wajah Cheonsa memerah ketika Jonghyun menarik tangannya pelan. Rasanya ia ingin teriak ketika kulit mereka akhirnya bersentuhan untuk pertama kalinya.

“Tidak apa kan kalau kita naik motor? Mobilku sedang di bengkel.”

“Gwaencaha Sunbae.”

Haruskah Cheonsa menunjukkan kesengannya? Dia merasa kejatuhan durian runtuh. Naik motor jelas akan membuat jaraknya dan Jonghyun lebih dekat dibanding naik mobil. Belum lagi jika Cheonsa nanti memegang pinggang Jonghyun. Astaga, mimpi apa Cheonsa semalam?

“Jangan panggil aku sunbae di luar lingkungan sekolah. Panggil aku ‘oppa’. Ok?”

Jika saja Jonghyun tidak menyuruhnya untuk cepat naik ke boncengan, mungkin Cheonsa sudah jatuh pingsan barusan.

~

Two week later

“Cheonsa-ya, menurutmu hadiah apa yang cocok kuberikan untuk seorang gadis?”

Deg. Hadiah untuk seorang gadis? Jadi Kim Jonghyun sudah mempunyai gadis yang ia taksir? Lalu kenapa ia mendekati Cheonsa?

~

“Ada apa telapon aku malam-malam? Hoam~ aku sudah mengantuk tau!” protes Byulgi.

“Jonghyun oppa sepertinya sudah naksir seseorang.”

“Yayaya. Aku tau dia naksir padamu.”

“Bukan aku yang ia taksir, tapi gadis lain!”

“Omo!” Byulgi kini sudah terbangun sepenuhnya, “Bagaimana bisa kau menyimpulkan semua itu? Bukankah hari ini kau ada kencan dengannya?”

“Kami tidak berkencan. Dia hanya mengajakku ke cafe. Disana dia menanyakan hadiah apa yang mestinya dia berikan pada seorang gadis padaku.”

“Kukira apa (-,-). Kau ini negative thinking sekali sih. Bisa saja kan dia sebenarnya ingin memberikan hadiah itu untukmu tapi berpura-pura.”

“Tapi ulang tahunku masih tiga bulan lagi. Aku juga sempat berpikir seperti itu. Bahkan aku sempat berpikir jangan-jangan dia akan memberikan hadiah itu saat dia menyatakan perasaannya padaku. Tapi tadi saat kita memilih hadiah, aku sudah coba memancing. Aku tunjuk beberapa benda yang aku suka. Aku sampai bilang ‘Oppa kalau aku suka boneka teddy itu’. Harusnya jika hadiah itu memang untukku Jonghyun oppa akan membelikan boneka itu kan? Tapi kau tau tidak apa tanggapannya tentang boneka yang kupilih itu?”

“Apa?” tanya Byulgi penasaran.

“Aku rasa gadis itu tidak akan menyukainya.”

“Omo.” pekik Byulgi prihatin.

“Thats why. Aku rasa Jonghyun Oppa tidak menyukaiku.”

“Cheonsa-ya, belum tentu. Kita lihat dulu hadiah itu dia berikan untuk siapa baru kau boleh menyerah ok?”

“Hhh baiklah.” jawab Cheonsa lemas. Sejak pulang dari cafe tadi Cheonsa sungguh tak punya semangat lagi.

~

“Hari ini Jonghyun oppa akan memberikan hadiah itu.”

“Kau tau dimana tempat Jonghyun akan menemui gadis itu?”

Cheonsa mengangguk pelan.

“Yasudah kita buntuti Jonghyun oppa sepulang sekolah!” ajak Byulgi.

~

16:00

“Noona, saengil chukae.”

Cheonsa sudah tidak kuat berdiri lagi. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Jonghyun menyerahkan hadiah itu pada seorang gadis.

“Wah. Aku tidak menyangka Jonghyun sunbae suka pada gadis yang lebih tua. Noona itu cantik pula. Pintar sekali dia menilai gadis.” Byulgi terus nyerocos sepenuhnya tak sadar perkataannya barusan melukai sahabatnya yang sudah terisak pelan.

“Kajja kita pulang, Byulgi-ya.”

~

Sepulang dari menguntit Jonghyun, Cheonsa berjalan sambil melamun. Beberapa kali dia hampir tertabrak kendaraan.

Gadis itu bahkan tak tau akan kemana. Ia hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah.

Selang setengah jam, Cheonsa menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah taman yang sangat sepi. Perlahan ia mendekati bangku panjang di taman itu.

Setelah ia duduk. Ponsel di sakunya bergetar.

Jonghyun sunbae calling

Kemudian gadis itu kembali terisak. Tak lama ia menangis histeris.

“Aggashi, gwaencanha?” tanya seorang namja yang menepuk pundaknya pelan. “Apa yang membuatmu menangis histeris seperti ini?”

Cheonsa mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Ditatapnya namja yang barusan menepuk pundaknya yang kini duduk disampingnya. Namja itu bermata sipit berbentuk bulan sabit. Giginya seperti gigi kelinci. Pippinya agak chubby. Satu kata yang melintas saat pertama Cheonsa melihatnya: imut.

“Oppa, maukah kau mendengar ceritaku?”

Cheonsa kemudian menceritakan kisahnya dengan Jonghyun dari awal sampai akhir. Sesekali gadis itu terisak saat bercerita. Cheonsa tau namja di depannya ini orang asing, tapi Cheonsa entah mengapa begitu mempercayai namja cute itu.

“Siapa namamu?”

“Song Cheonsa. Oppa?”

“Aku Lee Jinki.”

“Oppa, boleh aku memelukmu? Aku punya kebiasaan memeluk orang saat menangis.”

Namja bernama Jinki itu agak kaget namun kemudian mengangguk. Sesekali ia mengelus-elus pundak gadis itu untuk menenangkannya.

“Cheonsa-ya. Lihat ke atas! Matahari sebentar lagi terbenam.” seru Jinki semangat.

Cheonsa memandang sunset di hadapannya dengan tatapan takjub. “Indah sekali…”

Jinki mengangguk tanda setuju. Setelah matahari sepenuhnya tenggelam Jinki berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Cheonsa.

“Ayo kuantar pulang. Tak baik seorang gadis malam-malam berjalan sendirian.”

~

“Hahahaha Oppa lucu sekali. Perutku sakit mendengar lelucun Oppa.” seru Cheonsa sambil memegangi perutnya yang sakit.

“Begitulah. Orang-orang bahkan menjuluki aku sangtae. Sebenarnya aku agak sedih.”

“Oppa tidak boleh sedih! Oppa dikatakan sangtae karena Oppa orang yang menyenangkan. Ah rumahku sudah dekat tapi aku masih ingin mengobrol dengan Oppa.”

“Masih ada hari esok, Cheonsa-ya.”

“Jincha? Oppa mau menemui aku lagi lain kali?” tanya Cheonsa girang sambil membulatkan matanya yang berbinar.

“Tentu saja. Boleh aku minta nomormu?”

“Ne.” Cheonsa menerima sodoran ponsel Jinki lalu menekan beberapa tombol untuk memasukkan nomornya.

Drrrt

“Itu nomorku. Disimpan ya?” ujar Jinki. “Sudah malam aku harus pulang. Sampai bertemu lain kali, Cheonsa-ya.”

~

“Cheonsa-ya. Seharian kau tak mengangkat panggilan dariku. Pesan singkatku pun tak kau balas.” ujar Jonghyun ketika berpapasan dengan Cheonsa di gerbang sekolah.

“Aku tidak ada pulsa, Oppa.” bohongnya lancar.

“Kenapa tidak bilang? Lalu kenapa teleponku tak kau angkat?”

“Ponselku disilent seharian, Oppa. Aku lupa mengeluarkannya dari tas.” dustanya lagi.

“Mau pulang? Ayo aku antar. Mobilku sudah selesai diperbaiki. Aku sedang ingin makan sushi, mau menemaniku?”

“Maaf aku tidak bisa, Oppa.”

Jonghyun melongo ketika Cheonsa berjalan menjauhinya. Apakah barusan gadis itu menolak tawarannya? Ini pertama kalinya. Ada apa ini?

“Tunggu.” Jonghyun berlari mengejar Cheonsa yang sudah cukup jauh. “Kalau begitu lain kali saja makan sushinya. Aku antar pulang ya?”

“Tidak perlu Oppa. Aku mau ke suatu tempat dulu.” tolak Cheonsa.

“Yasudah tidak apa. Aku antar kau ke tempat itu. Kajja.”

“Aku tidak mau Oppa.” tolak Cheonsa tegas sambil melepaskan gengaman tangan Jonghyun.

Mendengar penolakan tegas gadis itu Jonghyun kontan membeku. Apa yang membuat gadis ini berubah tiba-tiba?

~

“Menangis lagi huh?”

Cheonsa mendongkak ketika mendengar suara Jinki. Dia sedang tidak berhalusinasi kan?

Gadis itu memang ke taman yang ia datangi kemarin untuk menangisi Jonghyun–lagi. Dia memang berharap bisa bertemu Jinki lagi di taman ini. Ia sengaja tak menghubungi namja itu. Dia ingin takdir yang mempertemukan mereka lagi.

“Jinki Oppa.”

“Aigo. Seka air matamu dengan sapu tanganku.”

“Bagaimana Oppa bisa tau aku disini?”

“Feelingku yang mengatakan hari ini kau akan menangis lagi disini. Radarku berbunyi barusan saat mendeteksi keberadaanmu.”

Cheonsa tertawa di tengah isakannya ketika melihat Jinki menirukan suara sirine ambulance.

“Mau aku peluk?”

“Bolehkah?”

Jinki mengangguk lalu menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. Gadis itu merasa tenang ketika berada dalam dekapan Jinki. Pelukan Jinki membuatnya nyaman.

“Masih sore. Mau berkencan denganku?”

~

“Aku mau es krim rasa coklat!” serunya semangat ketika Jinki menawarinya es krim.

“Baiklah Nona. Tunggu sebentar.”

Cheonsa terkikik geli ketika Jinki membungkukan badannya seperti seorang pelayan.

~

Cheonsa terkejut ketika Jinki membawa boneka yang besarnya setengah badannya.

“Untukmu. Jangan menangis lagi ya? Kau boleh memeluk boneka itu jika malam-malam kau menangis. Anggap saja boneka itu diriku.”

“Terima kasih Oppa. Aku suka bonekanya.”

~

One week later

“Oppa sudah punya pacar?”

Jinki menggeleng singkat, “Kenapa memangnya? Kau mau jadi pacarku?”

Blush. Wajah Cheonsa merona merah.

“Aku anggap jawabanmu iya. Mulai sekarang kau pacarku ok?”

Mungkin cara Jinki menyampaikan perasaannya tidaklah romantis. Tapi Cheonsa tidak peduli. Yang penting sekarang dia bisa memiliki namja yang selalu bisa membuatnya nyaman itu.

Semenjak Cheonsa mengenal Jinki, tak pernah sekalipun Cheonsa teringat Jonghyun. Gadis itu sudah sepenuhnya lupa pada Jonghyun. Hanya Jinki yang memenuhi pikirannya.

Cup

Cheonsa memalingkan wajahnya cepat setelah berhasil mengecup pipi Jinki. Sayangnya gadis itu tak bisa melihat senyum Jinki yang mengembang ketika pipinya dicium oleh gadis itu.

~

“Lusa weekend kan? Bagaimana kalau kita kencan di lotte world?”

“Ayo Oppa. Sudah lama aku tidak kesana. Kita kesana besok saja sepulang aku sekolah bagaimana?”

“Andwae. Kau kan pulang sore. Nanti yang ada kita tidak puas bermain karena keburu malam.”

“Aku bolos sekolah saja ya besok?”

“Kalau begitu orangtuamu akan membunuhku! Bersabarlah saja, Sayang.”

Cheonsa mengerucutkan bibirnya kecewa.

“Tak usah ber-aegyo. Jurusmu takkan mempan untuk membuatku merubah keputusan.”

Cheonsa makin merengut.

“Jangan cemberut, Sayang. Besok aku kan menjemputmu ke sekolah lalu kita beli es krim. Otte?”

“Jeongmalyeo?” pekik Cheonsa girang.

Benarkah Jinki akan menjemputnya besok ke sekolah? Kalau begitu ini akan menjadi pertama kalinya.

“Iya aku akan menjemputmu. Sekolahmu bubar jam berapa?”

~

“Ceria sekali kau. Ada apa?” tegur Byulgi.

“Bel pulang masih lama ya? Hari ini pacarku akan menjemput.”

“Jinki oppa menjemputmu? Wow! Chukae.”

Treeet treeet

Bel yang ditunggu Cheonsa akhirnya berdering. Dengan riang Cheonsa merapikan tasnya.

“Aku duluan ya, Byulgi. Bye!”

Byulgi melambaikan tangannya. Dia ikut senang jika sahabatnya itu sudah menemukan cintanya.

~

“Sudah menunggu lama, Oppa?”

“Anio. Baru sekitar dua menit. Ini untukmu.” Jinki menyodorkan setangkai mawar.

“Gomawo, Oppa.”

“Song Cheonsa!”

Jinki dan Cheonsa menoleh berbarengan ketika mendengar nama gadis itu dipanggil.

“Jonghyun Sunbae-“

Jinki mengumam pelan. Jadi namja ini yang namanya Jonghyun? Namja ini yang sudah membuat Cheonsa-nya menangis?

“Ayo aku antar pulang.” ajak Jonghyun sembari menarik lengan Cheonsa. Tak lupa ia berikan tatapan dingin pada namja yang baru saja memberi Cheonsa setangkai mawar merah.

“Jonghyun Sunbae lepaskan! Aku mau pulang dengan pacarku!”

“Pacar?” ulang Jonghyun memastikan.

“Lee Jinki.” ujar Jinki memperkenalkan diri, “Bisa tolong lepaskan pacarku?”

Jonghyun masih blank. Namja ini pacar Cheonsa? Sejak kapan?

“Cheonsa-ya. Bagaimana bisa kau lebih memilih namja ini sebagai pacarmu daripada aku?”

“Oppa tak pernah bilang kalau Oppa suka padaku.” kilah Cheonsa.

“Aku sudah memberimu banyak isyarat, Cheonsa-ya. Aku selalu menghubungimu. Aku selalu mengantarmu pulang. Aku selalu mengajakmu makan. Kurang jelas apa isyarat dariku?”

“Mana ku tau semua itu isyarat darimu! Sudahlah Oppa urusi saja noona cantik pacarmu yang tempo hari kau beri hadiah.”

“Maksudmu Sodam noona? Astaga, Song Cheonsa… Dia noona-ku. Kakak perempuan kandungku. Kim Sodam.”

Cheonsa membeku. Jadi gadis itu bukan pacar Jonghyun?

“Jadi kau mengira aku dan noonaku sepasang kekasih? Konyol sekali. Karena itu kau menghindariku? Mengabaikan pesan dan teleponku, menolak diantar pulang olehku. Karena Sodam noona?”

Cheonsa masih terdiam. Dia sungguh shock.

“Aku menyukaimu, Song Cheonsa. Minggu lalu kalau kau mau kuajak pergi ke restoran itali, aku pasti sudah mengungkapkan perasaanku padamu. Kembalilah padaku, Cheonsa-ya.”

Jinki perlahan meninggalkan Cheonsa dan Jonghyun. Kemudian dia menyalakan mesin mobilnya dan pergi menjauh.

“Jinki Oppa!” tak digubrisnya ketukan Cheonsa di kaca mobilnya. Tak dipedulikannya pula gadis itu yang berlari mengejar mobilnya sambil menangis.

Hati Jinki sakit. Ia terluka. Dia takut hanya dijadikan pelarian oleh gadis itu. Ia takut setelah mendengar penjelasan Jonghyun gadis itu lantas meninggalkannya dan memilih Jonghyun.

Jinki memgemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Berkali-kali dia memukul stir dengan emosi. Tak jarang dia membunyikan klakson mobilnya kencang ketika ada kendaraan lain yang menghalangi jalannya.

Drrt drrt

Cheonsa calling

Direjectnya panggilan dari gadis itu. Kemudian ia mematikan ponselnya dan melemparnya sembarangan ke jok belakang.

~

“Telepon yang anda tuju-“

Tangis Cheonsa makin menjadi ketika didapatinya ponsel Jinki tak bisa dihubunginya.

“Cheonsa-ya, sudahlah… Biarkan namja itu pergi. Sekarang ada aku.” kata Jonghyun sambil mengelus pundak Cheonsa pelan.

“Aku mencintainya. Aku amat mencintai Jinki oppa. Maafkan aku Jonghyun Sunbae. Aku sudah tak menyukaimu lagi. Aku memilih Jinki oppa. Maafkan aku.” ujar Cheonsa lirih sejalan dengan air matanya yang tak mau berhenti turun.

“Arraseo. Baiklah, ini semua salahku. Harusnya aku mengenalkanmu pada noonaku lebih cepat. Harusnya aku juga tidak mengulur waktu untuk menyatakan perasaanku padamu. Maafkan aku. Tapi bolehkan kali ini aku mengantarmu pulang? Aku janji ini yang terakhir.”

~

“Ya Tuhan, Song Cheonsa!” Byulgi begitu terkejut melihat Cheonsa yang berantakan. Rambutnya kusut, matanya sembap, mukanya merah karena terus menangis, kamarnya berantakan seperti kapal pecah, tisu bertebaran di lantai. Bahkan makanannya saja menganggur di meja tanpa tersentuh sedikitpun.

“Ya Tuhan aku bisa ikut gila jika seminggu lagi kau masih seperti ini. Ini sudah tiga hari kau absen dari sekolah. Apa kau terus menyiksa diri tiga hari belakangan? Untung aku datang menjengukmu-“

Cheonsa memeluk Byulgi erat dan kembali menangis di pundak sahabatnya itu.

“Jinki Oppa-“

“Ssssst. Jinki Oppa pasti takkan mau menemuimu lagi jika melihatmu kacau seperti ini.”

~

“Jinki Hyung, bisa kita bicara?”

Jinki terkejut ketika Jonghyun menemuinya di kampus. Berani sekali namja itu mendatanginya.

“Mau apa kau?” tanya Jinki sambil menatap Jonghyun dingin.

“Temui Cheonsa sekarang juga-“

“Untuk apa? Untuk melihat kalian yang ber-lovey dovey? Cih.” potong Jinki tak membiarkan Jonghyun menyelesaikan perkataannya.

“Cheonsa memilihmu Hyung!”

Gerakan Jinki yang tengah membuka pintu mobil terhenti. Cheonsa… memilihnya?

“Dia memilihmu, Hyung. Aku sudah terlambat. Dia sudah tak menyukaiku lagi.”

Jinki kini sepenuhnya menatap Jonghyun. Mendengar ucapan namja yang satu tahun lebih muda darinya itu.

“Temui Cheonsa, Hyung. Aku mohon. Dia hancur, Hyung. Dia absen sekolah tiga hari. Keadaannya juga parah. Dia tak mau makan, Hyung. Bayangkan! Karena kau tak mau mendengar penjelasannya dia sampai menyiksa diri seperti itu. Temui dia Hyung, hanya kau yang bisa mengembalikannya.”

~

“Cheonsa-ya…”

Jinki shock begitu mendapati keadaan gadis itu. Walau dia sudah mendengar seburuk apa keadaan gadisnya itu, tetap saja ia shock karena gadis itu sungguh dalam keadaan yang mengerikan.

“Jinki Oppa!”

Cheonsa langsung beranjak dari kasurnya dan berlari memeluk Jinki. Ketika Jinki balas memeluk, Cheonsa terisak di bahu Jinki.

“Oppa maafkan aku.” ucap Cheonsa lirih.

“Ssst~. Aku yang salah. Aku yang harus minta maaf padamu. Maafkan aku, Sayang.” seru Jinki pelan. Perlahan air matanya juga ikut turun.

~

“A,”

Cheonsa membuka mulutnya–menerima suapan Jinki.

“Enak?”

Cheonsa mengangguk.

“Kalau begitu habiskan ya?”

“Jika Oppa yang menyuapiku, sebanyak apapun makanannya aku akan habiskan.”

“Cih sedang merayuku ya?”

Jinki dan Cheonsa kemudian tertawa bersama.

“Cheonsa-ya, mau temui ibuku tidak hari ini?”

Cheonsa mengangguk semangat. “Aku mau Oppa. Menemui calon mertua!”

“Calon mertua? Siapa yang akan menikahimu? Aku tidak mau.”

“Hya Oppa!”

~

“Eomma, aku pulang!!!” seru Jinki sambil membuka pintu rumahnya.

“Jinki-ya, wasseo? Siapa gadis manis di sebelahmu itu?”

“Annyeong, Song Cheonsa imnida.” ujar Cheonsa memperkenalkan diri.

“Dia gadisku, Eomma.”

“Oh jadi ini gadis yang membuatmu tak nafsu makan seminggu kemarin? Aigoo, pantas saja. Apa kalian sudah baikkan?”

“Eomma jangan bocorkan rahasiaku (T_T).”

Cheonsa tersenyum kecil menahan tawanya. Jadi seminggu kemarin bukan hanya dia yang merasa kehilangan?

~

“Kudengar kau anak tunggal?” Cheonsa mengangguk, “Kalau begitu sama dengan Jinki.”

“Oh aku rasa aku harus memberitaumu. Aku single parent. Ayah Jinki meninggal lima tahun lalu. Kini kami di rumah hanya berdua, makanya rumah kami sepi.”

“Orang tuaku juga tinggal satu. Ibuku sudah meninggal dua tahun lalu,” Cheonsa terisak pelan mengingat ibunya.

Jinki mengelus pundaknya pelan–menenangkan yeojanya.

“Kalian banyak kesamaan. Sama-sama anak tunggal, juga hanya mempunyai satu orang tua. Mungkin kalian berjodoh?” seru ibu Jinki berusaha mencairkan suasana sedih itu.

“Tentu saja kami berjodoh!” seru Jinki semangat. Cheonsa hanya tersenyum anggun menanggapinya.

“Cheonsa-ya, aku menyukaimu. Semoga hubungan kalian bisa berlanjut sampai pernikahan ya? Aku ingin punya anak perempuan sejak dulu.”

Rona wajah Cheonsa merona merah.

“Mulai sekarang anggap aku ibumu dan panggil aku eomma. Arrachi?”

~

Two month later

Hari ini satnight. Seperti biasa Jinki menjemput Cheonsa untuk berkencan.

Tapi hari ini Cheonsa terlihat murung. Saat diajak makan saja dia menolak. Karena itu kini mereka berdua hanya duduk di taman.

Cheonsa menyandarkan kepalanya pada bahu Jinki. Pandangannya menerawang entah kemana.

“Apa sesuatu terjadi padamu, Sayang? Marhaebwa…”

“Appa bilang ia ingin menikah lagi.”

Jinki mengelus rambut gadisnya pelan. “Lalu?”

“Menurut Oppa aku harus bagaimana?”

“Teserah padamu, Sayang.”

“Aku tau Appa kesepian. Aku tau karena aku juga merasakannya. Tapi Oppa, rasanya aku belum siap menerima eomma baru. Aku belum ingin posisi eommaku diganti oleh orang lain.”

“Lalu kau akan melakukan apa?”

“Mungkin aku akan bertemu dengannya dulu. Bagaimanapun aku tidak bisa menolak permintaan appa untuk merestui pernikahannya.”

“Kau tidak takut jika eomma tirimu kelak akan jahat dan menyiksamu?” goda Jinki.

Cheonsa tersenyum dan mencubit pipi Jinki pelan. “Kau kira aku anak TK? Ibu tiri jahat hanya ada di TV. Lagipula bukan itu yang kutakutkan. Dan jika eomma tiriku benar-benar menyiksaku, tentu saja aku akan melarikan diri ke rumahmu.”

~

“Jinki-ya, wasseo?”

Jinki mengangguk. “Eomma belum tidur?”

“Eomma nenunggumu. Ada yang ingin eomma bicarakan.”

Jinki ikut duduk di samping eommanya. “Ada apa Eomma? Katakan saja.”

“Jinki-ya, bagaimana pendapatmu jika kau punya ayah baru?”

“Eomma ingin menikah lagi? Dengan siapa? Jadi selama ini diam-diam Eomma berkencan juga sepertiku? Kekekeke.”

“Kau tidak keberatan?”

“Tidak, Eomma. Aku tidak keberatan asal orang itu sungguhan sayang pada Eomma.”

Eomma Jinki kemudian memeluk anaknya.

“Aku akan ikut bahagia jika Eomma bahagia.”

Jinki tersenyum. Sepertinya dia benar-benar berjodoh dengan Cheonsa. Kesamaan mereka bertambah lagi. Sekarang orang tua mereka sama-sama akan menikah lagi. Mereka benar-benar berjodoh bukan?

~

“Cheonsa-ya, malam ini appa akan mengajak calon ibumu makan di restoran. Kau ikut ya? Aku ingin mengenalkanmu dengannya.”

Cheonsa mengangguk pelan. Dia mau tak mau harus mendukung ayahnya.

~

21:00

“Maaf terlambat.”

Cheonsa yang sedang memainkan kukunya langsung mendongkak ketika mendengar suara yang tidak asing.

“Eomma… Jinki Oppa…”

Tubuh Cheonsa membeku begitu melihat Jinki dan ibunya yang kini ada di hadapannya.

“Cheonsa-ya…” pekik Nyonya Lee kaget.

***TBC***

21 thoughts on “Jinki’s Sacrifice (First Part)

  1. Yah kok ga dilanjut ;_____________;
    Pengen Cheonsa nya sama Jinki aja
    Aaa~ unnie keren banget.
    Nyeritain tentang Flashback nya nyambung gitu ‘-‘
    top markotop deh /?

  2. Huwaaaa brpa lama aku g maen ksini yaa?? kkk
    Sepertinya banyak ff baru..๐Ÿ˜€

    Hmmm…jd Jinki dan cheonsa jd saudara tiri? klo bneran, orang tua mereka egois bgt. aplg nyonya Lee dia kn udh tau hubungan Jinki & cheonsa..masa g mau ngalah ama anak sendiri..

    Next partnya dtunggu byulgi-ya~ ^^

  3. Anyeoong~ ._.

    Aku mau komen ya ^^

    Lucu ffnyaa.. *ngangguk2* maunya cheonsa nya sama jinki ajaa u,u mereka udh lucu bgt kenapa di jadiin sodara thor kenapaaaa? *histeris* *lempar meja* *nyekek authornya*

    ………………………………………

    ….oke maafin aku._.

    Part 2 nya udah ada ya? Boleh minta ‘itu’ (?) nya ga?’-‘v aku minta via email boleh ga?

    Beneran ini aku sksd bgt sm authornya T.T

    Maafin akuu T^T dan Gomawo ^^

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s