Saturday Night (Part 5)

image

Author: angangels aka Jung Byulgi
Cast: You, Kim Jonghyun
Genre: fluff-romance, friendship
Length: Chaptered

—Happy reading and do leave comment please ~(^o^)~—
The next Saturday…

“___! Kajja kita pulang. Nanti malam sebaiknya kita melakukan apa ya di rumahmu?”

“Kau mau ke rumahku?”

“Tentu saja! Selama aku belum punya pacar aku akan selalu ke rumahmu tiap satnight!”

“___, hari ini jadi kan?” tanya Minho yang tidak sengaja berpapasan denganmu.

“Ne.”

“Jam berapa aku bisa ke rumahmu? Bagaimana kalau jam tujuh?”

“Omo omo omo! Ini apa-apaan? Siapa yang mengizinkanmu berkunjung ke rumah sahabatku, Minho-ssi?” tanya Jonghyun.

“Jjong-a. Aku ada tugas kampus yang harus dikerjakan bersama Minho.” jawabmu mencoba menjelaskan.

“Apa kau bilang? Apa kalian akan mengerjakan tugas itu hanya berdua saja?”

“Iya Jonghyun-ssi. Ini tugas berpasangan. Tentu saja hanya kami berdua.” jawab Minho enteng.

“Andwae! Pokoknya nanti malam kau tidak boleh datang ke rumahnya, Minho-sshi!” seru Jonghyun.

“Aish Jjong! Apa-apaan sih? Minho-sshi, aku tunggu di rumah jam tujuh. Jangan lupa bawa bahan yang sudah kita bagi ok?”

***

“Mwoya?”

“Kau yang apa-apaan Tuan Kim! Jika Minho tidak datang nanti malam, kau tega melihatku mengerjakan tugas itu sendirian?”

“Aku bisa membantumu.”

“Mahasiswa bisnis mengerti apa soal teknik uh? Dwaesseo. Dan karena nanti malam aku akan sibuk dengan tugasku, sebaiknya kau tidak perlu datang ke rumahku ok? Aku tidak bisa menemanimu malam ini.”

“Mwo? Maksudmu aku harus membiarkanmu berduaan dengan Minho? Andwae! Kau tau kan Minho masih mengejarmu hingga saat ini? Kau juga pasti tau kalau Minho tak kan berhenti mengejar seorang gadis jika gadis itu belum jadi miliknya. Andwae!”

“Cih. Seperti kau tidak saja. Kau juga sama dengannya jika sudah menyangkut wanita. Lupa huh?”

“Tapi- aish kenapa kau mau sih mengerjakan tugas bersamanya? Kau bisa cari partner lain kan?”

“Kalau memang bisa aku juga tak kan memilih Minho. Semuanya dikocok, Jjong-a. Mana mungkin aku berani minta ganti partner pada Mr. Yoon. Cepat buka kunci pintu mobilmu. Aku mau keluar.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Apalagi sih? Ya Tuhan. Kau pacarku juga bukan, kenapa banyak mengatur sih?”

“Aku kan sahabatmu! Aku tidak mau sahabatku jatuh pada lelaki yang salah!”

“Tapi kalau begini kau lebih terlihat seperti pacar yang tengah cemburu. Kau yang bilang agar aku mulai membuka diri pada lelaki, tapi sekarang siapa huh yang menghalang-halangi?”

“Tapi lihat-lihat juga kalau mau membuka hati. Jangan pada lelaki seperti Minho.”

“Aish arraseo arraseo. Aku tidak akan terbujuk rayuan Minho. Jika dia macam-macam aku akan mengusirnya dari rumahku. Puas?”

Jonghyun tersenyum lebar sambil mengelus rambutmu pelan, “Itu baru benar!”

“Lagian siapa juga yang akan mesra-mesraan? Aku kan harus mengerjakan tugas.” dengusmu sebal.

***

19:00 KST

“Hyung, tumben ada di rumah! Tidak keluar?” tanya Taemin heran begitu melihat kakaknya tengah menonton TV sambil berbaring di sofa di malam minggu. Well, biasanya namja satu itu pantang ada di rumah saat satnight–kecuali minggu lalu saat ___ berkunjung tentunya.

“Kenapa memang?” respon Jonghyun setengah tidak peduli.

“Marahan dengan ___ Noona?”

“Tidak.”

“Terus kok Hyung gak ngapel? Noona juga tidak kemari.”

“Bawel!”

Jonghyun melempar boneka piglet ke pangkuan Taemin.

Sebenarnya Jonghyun tengah mengalihkan pikirannya dari gadis yang namanya terus Taemin sebut tadi.

Banyak yang dipikirkan Jonghyun. Bagaimana jika Minho curi-curi kesempatan untuk melakukan skinship dengan ___, bagaimana jika Minho mengutarakan perasaannya lalu ___ menerimanya. Bagaimana kalau-

“Arghhhhh! Nan micheoseo! Aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi!”

***

“Annyeonghaseyo Eomeonin…” sapa Jonghyun lengkap dengan cengiran begitu ibumu membukakan pintu.

“Oh Jonghyun-a. Aku baru saja ingin menayakan pada anakku kenapa kau tidak kemari.”

“Ah, ye. Apa ___ ada di dalam?”

“Ada. Ia sedang mengerjakan tugas bersama seorang namja di kamarnya.”

“APA? DI KAMARNYA?”

Ibumu terkejut dengan suara Jonghyun yang tiba-tiba meninggi.

“Omo omo Eomeonim maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Aku kaget barusan. Hehe. Bolehkah aku ke kamar ___?”

“Ya ya silahkan,” jawab ibumu–masih sambil memegangi dadanya pasca terkejut tadi.

***

Bukannya langsung masuk, aku memilih untuk mengintip dari celah sempit kamar ___.

“Eotte?”

“Aku rasa harusnya ada yang ditambahkan di sebelah sini, Minho-ya.”

Minho-ya? Minho-YA? MINHO-YA? Apa aku barusan salah dengar? Mengapa dia menyebut nama Minho dengan mesra seperti itu? ANDWAE!

“Oh begitukah?” respon Minho “Any way, kau dengan Jonghyun… Pacaran?”

“Pfffft-”

“Waeyo? Kenapa kau malah tertawa?”

“Anio. Kami tidak pacaran. Kami cuma sahabat. Lagian mana mau Jonghyun padaku.”

“Kenapa tidak mau? Kau cantik kok. Sangat, malah. Aku saja suka padamu.”

HYAK CHOI MINHO! NEO!!! BERANINYA KAU!!!

“Minho-ya, dimakan dulu kuenya.”

“Ne.”

Selama mereka berdua sibuk makan aku menatap sedih. Aku juga lapar (T____T). Kuelus perutku berharap kali ini ia mau berkompromi untuk tidak berbunyi dan menyebabkan kedua mahluk itu menyadari keberadaanku.

“Ini sudah cukup malam. Kau masih makan?”

“Kenapa memangnya?”

Aaaaargh ___ ppabo! Jangan menatap Minho sambil menggigit sendok seperti itu! Jangan bertindak cute di depan Minho!

“Yah kukira kau sama dengan gadis lain.”

“Memangnya gadis lain kenapa?”

“Aigo kau benar-benar lucu…” What the.. Choi Minho! Beraninya kau mengelus rambut sahabatku seperti itu! Jauhkan tanganmu kodok jelek! “Para gadis zaman sekarang kan gila diet. Biasanya mereka tidak makan setelah jam tujuh.”

“Oh itu. Aku tidak tertarik untuk diet.”

“Tunggu, ada sesuatu di pinggir bibirmu-”

“ANDWAEEEEEEEE!”

“Jjong-a!”

“Kim Jonghyun?”

Aduh bodoh sekali aku. Sekarang aku ketauan deh. Ya sudah. Terlanjur. Sudah kepalang basah.

“Jauhkan tanganmu dari ___!” seruku lantang.

“Wae? Memangnya kenapa?” tantang Minho.

“Pokoknya tidak boleh!”

“Cis. Memang kau siapanya? Kau tidak punya hak, tuan!”

“Jonghyun-a, jangan buat Minho salah paham. Jangan buat dia berpikir kalau kau sedang cemburu.”

“Mwo? Aku? Cemburu?”

***

Jangan buat dia berpikir kalau kau sedang cemburu.

Benarkah, aku sedang cemburu? Tapi kenapa aku harus cemburu?

Sudah jam sebelas malam dan aku masih saja berguling-guling di kasur karena tak kunjung mengantuk. Aku akhirnya menatap langit-langit kamarku.

Eh!!! Kenapa langit-langit kamarku malah menampilkan Minho dan ___ yang sedang tertawa bersama. Andwae!

Aduh aku ini kenapa?

***

“DAMN, DAMN, DAMN. WHAT I’D DO TO HAVE YOU HERE, HERE, HERE. I WISH YOU WERE HERE. DAMN, DAMN, DAMN, WHAT I’D DO TO HAVE YOU NEAR, NEAR, NEAR. I WISH YOU WERE-”

Buk

“BERISIK HYUNG! GAK USAH TERIAK NYANYINYA BISA GA? AKU TAU SUARA HYUNG BAGUS!”

“Aish bocah tengik! Aku lagi galau nih! Jangan ganggu!”

“Galau sih galau, Hyung. Tapi gak teriak-teriak gitu juga. Aku keganggu!”

“I Don’t Care eh eh eh eh eh,” jawabku sambil menyanyikan lirik lagu I Don’t Care milik 2NE1 itu.

“HYAK HYUNG! NEO! AISH JEONGMAL!” jerit Taemin frustasi. Dibantingnya pintu kamarku dengan kasar.

Bosan dengan ipodku, aku memutuskan untuk bermain gitar.

***

Tugasku dengan Minho sudah selesai dari satu jam lalu. Kini aku tengah merebahkan badanku di kasur. Jonghyun… Kok tidak menelepon ya?

Mwoya. Kan tadi aku sendiri yang mengusirnya agar aku dan Minho bisa fokus mengerjakan tugas. Mana mungkin dia mau menghubungiku. Dia mungkin sedang marah.

Aku menarik laci lalu mengambil selembar foto. Fotoku bersama Jonghyun yang diambil oleh Taemin minggu lalu. Tadinya foto ini kujadikan wallpaperku. Tapi aku takut Jonghyun melihatnya. Aku belum mau dia tau kalau aku menyukainya. Aku takut sikapnya akan berubah kalau dia tau perasaanku yang sesungguhnya.

Senyumku mengembang melihat wajah konyol kami di foto. Seketika itu juga memori minggu lalu saat aku berkunjung kerumahnya berputar di kepalaku. Ibu dan adiknya yang ramah. Dan… Tentang perkataan Taemin kala itu. Tentang aku, gadis pertama yang Jonghyun bawa ke rumahnya.

Ku cek ponselku siapa tau ada pesan baru.

Tidak ada pesan baru.

Dua menit kemudian aku kembali mengecek ponsel. Bahkan ponselku yang selalu aku silent sekarang aku ubah agar menjadi berisik jika berbunyi.

Tetap tidak ada pesan baru.

Aish mwoya? Kenapa aku sedari tadi terus mengecek ponsel? Memangnya kenapa kalau Jjong tidak menghubungiku? Mungkin dia sudah punya gandengan baru.
Kesal, kulempar ponselku ke kasur.

Harusnya aku senang kalau Jjong benar-benar sudah punya kekasih lagi. Dengan begitu aku tidak perlu menemaninya lagi tiap satnight. Dia akan berhenti mengganguku. Ini hebat bukan?

Tes tes

Air mataku tumpah begitu saja. Aku terisak pelan tanpa suara. Aku merindukan Jonghyun.

Ini yang aku takutkan. Aku terbawa suasana. Tidak seharusnya aku berharap Jjong akan terus menghabiskan satnight denganku. Cepat atau lambat hal seperti ini akan datang. Ketika Jjong mendapat gadis baru lalu meninggalkanku.

Kuusap air mataku dengan punggung tanganku kasar. Aku tidak boleh menangis! Salahku terlalu terlarut dengan permainannya. Seharusnya dari awal aku menolak gagasan konyol tentang satnightnya itu.

Sudah jam sepuluh. Sebaiknya aku tidur. Sebelum hal konyol itu terjadi, aku selalu sudah terlelap di jam seperti ini.

Ya. Aku tinggal kembali melakukan rutinitasku ketika Jjong belum mengutarakan hal absurd itu. As simple as that. Aku harus menganggap tiga minggu itu tidak pernah ada. Semuanya hanya imajinasiku. Dengan itu aku semuanya akan beres.

Kuhampiri kasurku lalu berbaring setelah sebelumnya menarik selimut. Kupejamkan mataku perlahan.

***

“Aish kenapa aku salah salah terus sih memainkan gitar! Ish!”

Tanpa sengaja aku melirik jam dinding. Sudah jam dua belas. Sedang apa ya gadis itu?

Aku tanpa sadar tersenyum. Pasti ia tengah tertidur. Dasar bayi besar! Seketika itu juga kelebatan sosoknya yang tertidur menghampiri benakku. Setelahnya sesuatu terasa berdesir di hatiku. Aku… Merindukannya.

“LUCKY IM IN LOVE WITH MY BESTFRIEND~ LUCKY TO HAVE BEEN WHERE I HAVE BEEN,”

Tok tok.

Ku ketuk dinding kamarku yang tepat bersebelahan dengan kamar Taemin.

“NGAPAIN SIH HYUNG, NGETOK-NGETOK SEGALA???” teriaknya kesal dari kamarnya. Lucky-nya Jason Mraz masih saja mengalun indah.

“Pelankan sedikit lagunya Taem…”

“SHIREO! Hyung saja menyanyi jerit-jerit tadi,”

“Kalau begitu ganti lagunya,”

“Memangnya kenapa lagu ini? Aku sedang suka lagu ini Hyung!”

“Lagu itu sudah ketinggalan zaman, ppabo. Ganti!”

Aku bohong. Sebenarnya aku pribadi masih menyukai lagu itu. Tapi kau tau kan liriknya seperti apa? Dan aku merasa tersindir! Itu poinnya!

Tak sengaja ponselku yang tergeletak manis di meja terjangkau pandanganku. Apa aku telepon dia saja ya?

***

Ya Tuhan ada apa sih denganku? Kenapa aku mendadak insomnia seperti ini? Ah dasar dino jelek! Pasti gara-gara dia sering menggangguku makanya jam tidurku jadi kacau.

Kenapa aku tiba-tiba rindu padanya ya? Well aku kan memang suka padanya. Sesekali tentu aku pernah merindukannya. Tapi gara-gara akhir-akhir ini kami rutin sekali bertemu… Jadi ada semacam keharusan bagiku untuk melihat siluetnya atau minimal mendengar suaranya setiap hari. AKH SEMUA INI GARA-GARA DINO PURBA ITU!

Drrrt drrrt

Segera kuambil ponselku. Berharap Jonghyun menghubungiku.

From: Minho

Sleep tight. Terima kasih sudah membantuku mengerjakan tugas.

Ah… Kenapa bukan Jonghyun yang mengirimiku pesan?

Haruskah aku… Meneleponnya?

Andwae! Aku tidak boleh meneleponnya! Nanti aku harus bilang apa jika ia tanya mengapa aku telepon? Shireo!

***

Telepon.

Tidak.

Telepon.

Tidak.

Telepon.

Tidak.

Tele-

Aish kenapa jadi begini? Tinggal telepon apa susahnya? Aku juga biasanya sering meneleponnya kan?

Tapi kali ini kan…

Tunggu… Memangnya kali ini aku kenapa?  Omo omo!

Jangan jangan-

Aku suka padanya?

Thats why aku cemburu. Aku gelisah karena tidak mendengar suaranya. Karena itu aku uring-uringan?

Baiklah. Aku harus menjauh darinya seminggu ke depan. Jika aku tidak kuat… Berarti ada sesuatu. Semuanya harus jelas. Aku harus tau aku menggapnya sebagai sahabat atau yang lainnya.

Kim Jonghyun! Kenapa kau mendadak cupu. Biasanya kau kan expert dalam urusan percintaan. Masa’ kali ini mengartikan perasaanmu saja kau tidak mampu!

Masa’ bodo. Masa’ bodo.

Aku mau tidur saja.

Kumatikan ponselku dan kujauhkan dari jangkauanku–mengantisipasi agar aku tidak tergoda untuk menghubungi gadis itu.

“Selamat malam, ___.”

***TBC***

Tuh bagi yang nanya Jjongnya udah naksir atau belum. Kejawab kan? Part depan Jjongnya beneran sadar dan mulai ngejar itu cewe😄 (((bocorin aja terus, gi. Bocorin)))

C U @next chap ;9

17 thoughts on “Saturday Night (Part 5)

  1. onnie, aku boleh nanya gak? ini sampe berapa part? sekarang boneka kucingku gak beraturan lagi bentuknya gara-gara nemenin aku baca. keep writing ya😉

  2. yeyeye sudah terbit
    ah masih blm ending rupanya, tapi lumayan lah bocorannya xD
    jalan ceritanya mirip real life ya kalo di raba-raba *seketika galau

    • Masa iya? Real lifenya kamu kah? Wkwk. Ending sekitar 3 atau 4 chap lagi supaya ga terkesan buru-buru :3 #padahal emang karena seneng ngetik cerita ini

      • ah tepatnya real life temenku. aku sih masih polos kek onew *slapped

        haha iyadeh aku sabar kok, kalo unni seneng ngetik kan ceritanya malah bagus ._.

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s