Saturday Night (Part 6)

image

Author: angangels aka Jung Byulgi
Cast: You, Kim Jonghyun
Genre: fluff-romance, friendship
Length: Chaptered

—Happy reading and do leave comment please ~(^o^)~—

The next Saturday…

“___, akhir-akhir ini kulihat kau dekat ya dengan Jonghyun.” tanya temanku.

“Ah begitukah? Kami kan memang bersahabat, wajar kan kalau kami terlihat dekat?”

“Bukan itu maksudku. Yeah, aku tau kau memang cukup dekat dengannya. Tapi… Kulihat akhir-akhir ini kalian bukan hanya dekat, tapi mesra.”

“Mesra? Pffft. Dalam kamusku dan Jonghyun, tidak ada yang namanya mesra-mesraan. Got it? Mungkin karena sekarang Jonghyun sedang tidak punya pacar, makanya kami terlihat sangat dekat.”

“That’s my point! Sudah cukup lama kan Jonghyun menjomblo karenamu?”

“Pffft! Kau kenapa lucu sekali sih? Aku harus menjelaskan sesuatu padamu. Jonghyun menjomblo tidak ada hubungannya denganku. Dia hanya bosan bermain dengan banyak wanita. Lihat saja nanti, satu atau dua minggu lagi juga Jonghyun pasti sudah kembali menggandeng seorang gadis.”

“Panjang umur sekali namja itu. Jonghyun sedang jalan kemari tuh!”

“Halo, dear…”

“Aku bukan rusa!”

“Ku bilang D-E-A-R. Bukan D-E-E-R. Aku tau kau mengerti maksudku. Bagaimana tugasmu semalam?”

“Semuanya beres.”

“Ah. Hampir saja aku lupa. Aku kemari untuk memberitaumu sesuatu. Aku akan pergi seminggu penuh ke Incheon. Aku punya tugas disana-”

“Lalu? Kenapa kau lapor padaku? Memangnya aku ibumu?”

“Aigooo dasar gadis jutek! Terserah kau lah. Yang jelas kita tidak akan bertemu seminggu ke depan.”

“Oh. Ya sudah. Hati-hati.”

“Hanya hati-hati?”

“Kau maunya apa?”

“Baiklah. Sampai jumpa.”

***

Three days later…

Ternyata manusia purba itu sungguhan pergi ke luar kota. Setelah ku cari tau, ternyata mahasiswa jurusannya memang sedang ada praktek lapangan di Incheon.

Sebenarnya semenjak kepergian Jonghyun, aku sedikit merasa ada yang kurang dariku. Hhh ini semua pasti gara-gara tiga minggu ini dia terus menempeliku bagai kembar siam. Sejak dia pergi, tidak satupun kabar kuterima darinya. Tidak ada telepon maupun pesan yang ia kirim.

Baguslah. Dengan ini aku bisa berusaha kembali menetralkan perasaanku padanya.

***

“Hey, Jonghyun! Kenapa melamun?”

“Siapa yang melamun? Aku tidak melamun!”

“Yeah terserah. Ikut denganku yuk!”

“Ke?”

“Hunting gadis-gadis cantiklah! Apa lagi memangnya huh? Hahaha. Jam segini katanya ada banyak gadis cantik yang sedang duduk-duduk di cafe.”

“I’m not interested.”

“Omo!” Kibum meletakkan punggung tangannya ke dahiku, “sejak kapan kau mulai kehilangan ketertarikan akan gadis-gadis?”

“Bukannya begitu. Aku hanya sedang tidak mood.”

“Wuah! Ini berita hebat! Jadi… Bisa kau beritau apa alasan keren dibalik hilangnya moodmu dalam hunting gadis-gadis huh?”

“Key, pergilah. Aku sedang unmood…”

“Okay okay. Tch. Kenapa kau berubah jadi mahluk perasa begini? Kau seperti yeoja saja yang mengedepankan perasaan. Apa kau sedang period huh?”

***

The next day

Tik. Tik. Tik. Tik

“Jarum jam tidak akan berhenti berdetak kecuali baterainya habis. Kau sungguh tidak ada kerjaan memperhatikan jarum jam sejak tadi.”

“Kita sudah berapa hari sih disini?”

“Empat, Kim Jonghyun. Masa’ hal semacam itu saja kau tak tau?”

“Baru empat hari? Berarti kita masih harus disini tiga hari lagi ya? Aku kira besok kita sudah akan kembali ke Seoul.”

“Homesick huh?”

“Mungkin…”

Berarti sudah empat hari aku lost contact dengannya. Baru empat hari tepatnya. Baru empat hari tapi rasanya seperti setahun.

“Kau mau ikut tidak?”

“Kemana?”

“Di tengah kota ada club. Kudengar gadisnya sexy-sexy. Kajja, daripada kau melamun. Lebih asyik kalau hang out dengan gadis-gadis kan?”

“Baiklah.”

***

“Key!”

“Oh halo sweetie, how u doin?”

“I’m fine. Siapa namja ini?”

“Namanya Jonghyun. Ah ya. Bisa kenalkan Jonghyun pada teman-temanmu? Sepertinya temanku ini perlu hiburan.”

“Oh begitukah? Ayo ikut aku, Jonghyun. Kau tunggu disini ya Key? I’ll be right back.”

***

“Girls, ada yang ingin bertemu kalian. Kenalkan namanya Jonghyun.”

“Halo Jonghyun.”

“Hai,” jawabku sambil tersenyum. Errr kenapa aku jadi hilang minat bersenang-senang seperti ini? Padahal mereka cukup cantik. Yeah walau agak sedikit terlalu sexy.

“Jonghyun, kau bisa duduk disana. Aku mau kembali menemui Key. Have fun. Aku jamin kau akan bersenang-senang dengan temanku. Have fun.”

“Okay. Thanks.”

***

One hour later

“Wow. Kau serius bisa main bass?”

“Yeah pada dasarnya aku bisa memainkan semua alat musik,”

“Oh really? Cool! Aku suka namja yang jago main alat musik.”

“Begitukah? Ohaha.”

“Jonghyun-a, is something wrong with you? You look a little bit uneasy. Apa ada sesuatu yang kau pikirkan? Kau terlihat gelisah.”

Apa kegelisahanku begitu terlihat jelas? Sejujurnya aku merasa tidak nyaman sedari tadi. Tidak biasanya aku merasa seperti ini. Dulu berada di tengah yeoja dan flirtling dengan mereka adalah kegemaranku. Tapi entah mengapa aku malah sedikit risih. Oh God, seriously… What’s wrong with me?

“Um sorry, girls. Sepertinya aku sedang kurang enak badan. Bisa katakan kalau aku pulang duluan pada Key nanti?”

“Oh sure. Take care, Jonghyun-a. Call us later whenever you want.”

“Yeah thank you. Terima kasih sudah mau menemaniku.”

***

Sejam kemudian aku sudah sampai di hotel. Aku merebahkan tubuhku di kasur, tapi sayangnya aku tidak kunjung terlelap.

Aku merindukannya. Dan naasnya rasa rinduku bertambah tiap detiknya. Gadis itu sungguh…

Dengannya aku tidak lagi tertarik untuk melirik gadis lain. Tanpanya semua yang kulakukan terasa tidak benar. Tanpanya seperti ada sebagian diriku yang hilang.

Rasa rinduku sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku sudah tidak sanggup menahannya. Peduli apa tentang menguji perasaanku. Aku tidak tahan lagi jika lima menit kedepan aku tidak juga mendengar suaranya.

Kini aku tau. Semua ini karena aku mencintainya. Ya, aku mencintainya.

Tergesa kudial ponselnya. Jatungku berdegup kencang seiring nada sambung yang terdengar. Tolong angkat teleponku, sayang. Aku mohon.

“Yeobsaeyo?”

Kelegaan mengisi relung hatiku ketika akhirnya mendengar suaranya. Aku tersenyum gembira.

“Yeobsaeyo? Jonghyun-a?”

“Halo ___. Kau belum tidur? Ini sudah larut.”

“Sebenarnya aku sudah tidur. Tapi aku terbangun karena dering ponselku.”

“Kalau begitu maaf, sleeping beauty.”

“Rrr, ada apa kau telepon malam-malam?”

“Aku hanya ingin mendengar suaramu,” ujarku tulus.

“Tch. Aku tidak akan termakan rayuan gombalmu Jjong.”

“Aku serius.”

“Yeah, seperti aku peduli saja. Bagaimana praktek lapanganmu?”

“Semuanya cukup lancar. Kami baru akan pulang tiga hari lagi.”

“Ah iya. Kau seminggu ya disana? Masih cukup lama berarti ya. Tiga hari lagi.”

“Kau… Kau merindukanku tidak?”

“Huh?”

“Aku tanya. Apa kau merindukanku.”

“Hm… Well, sedikit.”

Senyumku mengembang. Rasanya ada ribuan kupu-kupu di perutku. Aku ingin menjerit kesenangan.

“Jjong? Kau masih disitu?”

“Uh oh ya. Boleh aku minta satu hal?”

“Apa? Kalau aneh-aneh aku tidak mau.”

“Bilang selamat tidur padaku. Panggil aku Jjongie.”

“Baiklah. Jaljayo, Jonghyunnie.”

“You too. Good night. Sleep tight my princess.”

***

“Mau kemana kau Jjong?”

“Aku mau kembali ke Seoul, Key.”

“Kau gila? Tugas kita belum selesai.”

“Aku punya urusan penting.”

“Tapi ini tengah malam Jjong! Tunggu pagi tidak bisa kah? Bahaya kalau kau mengendarai mobil sendirian tengah malam seperti ini.”

Fck. Aku ingin segera bertemu dengannya.

“Tunggu esok pagi, Jjong. Sepenting apapun urusanmu jangan nekat. Kau bisa pergi pagi sekali nanti. Aku akan urus semua tugasmu disini. Sebaiknya kau tidur dulu.”

“Baiklah Key. Thanks s lot. You’re my best friend.”

“Yeah aku tau semua ini pasti tentang ___ kan? Tch. Unbelieveable. Kau berhenti jadi player hanya karena gadis itu?”

“Dari mana kau tau?”

“I’m your best friend. Aku memperhatikanmu, dummy! Tunggu besok tiba. Kau bisa pulang dengan tenang. Kau tidak usah kembali kesini. Aku bersedia mengerjakan pekerjaan double untuk menggantikan tugasmu.”

“You’re such an angel Key!”

“Yeah i know…”

***

Akhirnya pagi juga. Semalaman aku tidak tidur dan terus melirik jam dinding.

“Key. Aku pergi.”

“Oh God! Apa yang terjadi dengan matamu?”

“Tidak penting. Aku pergi. Bye.”

***

Kalau hitunganku benar, maka aku akan sampai di kampus tepat sepuluh menit sebelum kelas pertama ___ dimulai. Semoga aku tidak terjebak macet.

Tin tin

Klaksonku terus berbunyi nyaring berharap kendaraan di depanku mau minggir dan memberikan aku jalan. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Gadis yang sanggup memutar balikkan hidupku.

***

“___!”

“Kim Jonghyun?” mataku membulat sempurna ketika melihat kedatangan Jonghyun.

Greb

“Aku merindukanmu. Sangat.”

Aku masih terkejut ketika Jonghyun tiba-tiba menarik tanganku dan memeluk tubuhku erat. Tubuhku mendadak beku.

“Aku merindukanmu. Sangat rindu.” ujarnya lirih berbisik di telingaku. Tangannya mengelus rambutku pelan.

“Jjong lepaskan-”

“Shireo. Aku bilang aku rindu padamu.”

Kuseka setitik air mataku yang turun. Jonghyun tidak boleh tau aku menangis.

“Rrr, okay. Aku percaya kau rindu padaku. Tapi kita sekarang sedang jadi tontonan orang, Jjong. Lepas-”

“Aku tidak peduli. Biarkan saja orang-orang itu. Aku tidak akan pernah melepasmu lagi.”

***TBC***

9 thoughts on “Saturday Night (Part 6)

  1. hahah biasanya author gasuka ngasih bocoran begitu xD
    dialognya mendominasi, berasa makin ringan aja bacanya. okedeh konfliknya ye ditunggu ._.

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s