Byulgi’s Birthday

Halooooo hahaha sebelum memutuskan untuk baca FF ini, aku mau kasih warning ya. Postingan ini isinya 5 drables dan inti ceritanya sama…

Kalo gamau muntah jangan baca. Soalnya aku bakal nulis fic fluffy bareng SHINee yang ngerayain ultahku :3

So, tidak ada protes ya diending karena aku udah kasih warn. Gapapa ya sesekali aku membahagiakan diriku sendiri? Setaun sekali koook. Hehe.

Happy reading^^ (dan jangan timpuk birthday girl ya :P)

Story One

“Choi Minhooooooo aish! Kau dengar tidak sih?”

Dug dug dug

Minho masih saja asik mendribel bola basketnya. Selalu seperti ini! Baginya bola oranye bergaris hitam itu selalu jauh lebih menarik daripada aku.

Aku tau dia penggila sport. Tapi lama-lama aku jengah juga! Dia sudah sering membatalkan kencan karena dia ada latihan basket tiba-tiba.

Choi Minho itu pacarku. Tapi dia terlampau cuek. Dia kadang terlihat risih jika jalan berdua denganku. Pacar macam apa coba yang seperti itu? Bayangkan! Temanku saja meragukan kalau kami berdua ini sepasang kekasih. Katanya,aku malah terlihat seperti cinta bertepuk sebelah tangan pada Minho.

“Kodok jelek!!! Besok aku ulang tahun! Kenapa kau terlihat tidak perduli sih!”

Dug dug dug

“HYA CHOI MINHO! DENGARKAN AKU! AKU SEDANG BICARA!”

Dug dug dug

“KITA PUTUS SAJA! AKU JENGAH PUNYA PACAR SEPERTIMU! AKU MEMBENCIMU KODOK JELEK!”

Dug dug dug

Sial. Dia tetap tidak perduli. Ya sudahlah. Aku sudah jengah juga dengannya. Dua tahun hubungan kami terus terasa datar. Dalam hubungan ini selalu aku yang berkorban. Aku yang selalu menunjukkan rasa cintaku, aku yang selalu berinisiatif untuk mengajak kencan. Ya Tuhan… Dimana harga diriku? Sebagai wanita harusnya aku yang diperlakukan bak putri kan? Aku menyerah pada mahluk cuek bermarga Choi itu. Toh sepertinya dia juga tidak mencintaiku. Mungkin dia juga menerima cintaku karena terpaksa dan kasihan padaku yang selalu mengejarnya. Iya kau benar, dulu akulah yang menyatakan perasaanku duluan. Bukan kodok jelek itu.

“KITA PUTUS SAJA! AKU JENGAH PUNYA PACAR SEPERTIMU! AKU MEMBENCIMU KODOK JELEK!”

Setelah mengatakan hal itu, gadis itu pergi meninggalkanku. Putus, katanya? Enak saja!

Setelah dua tahun terus menempeliku walau aku selalu cuek, dia mau minta putus?

Setelah membuatku terbiasa dengan kehadirannya, dia mau minta putus?

Tidak semudah itu, nona Jung. Kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuat Choi Minho yang cuek akhirnya menambatkan hati pada seorang gadis. Ya, kau harus bertanggung jawab!

“Huweeeeeeeeee bisa bayangkan kan sedihnya aku? Besok aku ulang tahun dan kodok jelek itu tidak bilang apapun. Tidak mengajakku kencan atau apa. Pacar macam apa dia? Hiks.” curhatku pada Minjung.

“Sabar, Byulgi-ya. Kau tau kan Minho memang cuek.”

“Tapi ini sudah keterlaluan! Harga diriku sudah hilang entah kemana gara-gara dia, tapi dia tidak ada balas budinya! Aku sudah tidak kuat.”

“Cup cup, Byulgi-ya. Kau serius minta putus padanya tadi sore?”

“Iya. Dan ia tidak merespon.”

“Ya sudah. Kita cari pacar lagi ya nanti? Yang seratus kali lebih tampan dari Minho, yang seribu kali lebih baik dari Minho, ne?”

“Tapi aku hanya cinta pada kodok jelek itu, Minjung-a. Huweeee,”

“Cup cup. Kau harus belajar melepasnya. Kau capek kan terus memberi tapi tidak sedikitpun menerima? Pacaran itu hubungan timbal balik, Byulgi-ya. Saling memberi dan menerima. Tidak melulu memberi tanpa menerima.”

“Hiks hiks, tapi aku masih sangat mencintai Minho. Dia namja yang baik…”

“Apanya yang baik? Menelantarkan pacar kau bilang baik?”

“Tapi tetap saja aku masih cinta huweeee…”

“Aish kau ini!”

The next day

“Byulgi-ya ayo kita hang out! Kita cari namja tampan di mall!”

“Aku tidak mau…”

“Ya Tuhan. Lupakan Choi Minho-mu itu. Kau sendiri kan yang sudah minta putus? Hari ini kau ulang tahun dia pun tidak mengubungimu kan? Untuk apa kau berlarut-larut dalam kesedihan di hari ulang tahunmu hanya karena lelaki itu?”

“Pokonya aku tidak mau pergi! Aku perlu waktu untuk melupakan Minho. Aku tidak bisa langsung mencari gantinya begitu saja.”

“Ck. Ya sudah terserah padamu saja.”

Ding dong

“Eommaaaa buka pintunya! Ada tamu!”

Ya Tuhan… Jung Byulgi. Suaranya kencang sekali. Teriakannya dari lantai dua saja bisa terdengar olehku yang ada di depan pintu rumahnya.

“Oh, Minho-ya?”

“Ne eomeonim, selamat malam. Apa Byulgi ada di dalam?”

“Ada. Silahkan masuk.”

“Byulgi-ya, Minho datang!” teriak ibuku.

“Bilang saja aku tidak ada dif rumah.” teriakku dari dalam kamar.

Cklek.

“Terlambat nona Jung. Aku sudah di atas.” seru Minho sambil menutup kembali pintu kamarku.

Sial! Aku lupa mengunci pintu!

“Mau apa kau kemari?” tanyaku galak.

“Tentu saja untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada gadisku. Selamat ulang tahun, Byulgi-ku sayang…” serunya sambil menyodorkan sebuket bunga padaku.

“Tch. Dwaesseo. Kita sudah putus tuan Choi!”

“Aku kan belum bilang iya. Berarti kita belum putus.”

“Bagiku kita sudah putus!”

“Hya Jung Byulgi! Neo! Jinjja! Hargai sedikit usahaku! Kau tidak lihat apa aku sudah bersusah payah berdandan rapi sampai memakai suit seperti ini? Kau tidak lihat aku sudah membawa bunga untukmu? Kau tau kan aku tidak suka hal konyol macam ini? Maumu apa sih? Aku sudah berusaha jadi romantic guy malam ini! Aku sampai bertanya pada Donghae hyung bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu terkesan! Ini bukan gayaku!”

Aku masih membisu. Pandanganku mulai mengabur tertutupi air mata yang kutahan mati-matian agar tidak turun.

“Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini! Setelah kau membuatku terbiasa dengan kehadiramu, kau mau aku melepasmu? Kau harus bertanggung jawab! Kau kini sudah jadi bagian hidupku!”

Tes tes

Air mataku akhirnya tumpah juga.

“Aku membencimu, Choi Minho.”

Minho tersenyum seraya memelukku. Amarahnya sudah tidak lagi tampak.

“Jangan minta putus, sayang. Aku mungkin bukan tipe namja yang romantis. Aku mungkin bukan pacar yang baik. Tapi aku memang seperti ini. Aku memang cuek. Aku mohon mengertilah aku. Aku juga mencintaimu, tapi aku bukan tipe namja yang bisa menunjukkan rasa cintanya secara terang-terangan.”

Pelukkannya mengerat. Tangisku makin menjadi. Suitnya kini basah oleh air mataku.

“Maafkan aku, Minho-ya.”

“Aku yang harusnya meminta maaf. Semuanya salahku. Terimakasih juga untuk segalanya. Selamat Jung Byulgi, kau berhasil membuat seorang Choi Minho bergantung padamu. And… Happy birthday, sayang.”

—end of story one—

Story Two

“Aku tidak bisa ikut, Junghee-ya. Besok Jinki belum pulang dari tugas dinasnya.”

“Hya Jung Byulgi! Pesta perayaan ulang tahunmu sudah siap 100%. Kau hanya tinggal datang. Kau tega menghancurkannya?”

“Maafkan aku. Aku tidak bisa keluar jika Jinki tidak ada di rumah.”

“Tch, kau ingin berlagak seperti istri yang baik huh? Izin dari Jinki biar aku yang urus. Aku akan meneleponnya nanti.”

“Jang-”

Bip.

Aish! Kenapa teleponnya di tutup!

Drrt drrt

Jinki calling

“Yeobsaeyo, Oppa.”

“Byulgi-ya, barusan Junghee meneleponku. Katanya besok kau ulang tahun ya?”

“Ne, Oppa.”

“Selamat ulang tahun kalau begitu, tidak apa kan aku mengucapkannya duluan? Maaf aku belum bisa pulang besok.”

“Gwaencanha, Oppa.”

“Oh tentang pesta ulang tahun, kau aku izinkan pergi. Jangan kecewakan teman-temanmu yang sudah susah payah membuatkanmu pesta.”

“Arraseo, Oppa.”

“Sudah dulu ya? Aku sedang sibuk.”

Tut.

Selalu seperti ini. Suamiku sibuk dengan pekerjaannya.

Kami pengantin baru. Kami menikah tiga bulan lalu karena perjodohan. Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Tapi sayangnya Jinki oppa tidak mencintaiku–kuharap belum, bukannya tidak. Ia pasrah menerima pertunangan ini karena ia adalah anak penurut.

Tidak. Bukan berarti Jinki oppa tidak mencintaiku karena dia sudah mencintai gadis lain. Ia memang masih single saat bertunangan denganku. Kelihatannya sih ia terlampau sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai ia tidak punya waktu untuk berkencan ataupun sekedar melirik gadis-gadis. Iya, Jinki adalah work a hollic.

The next day

“Happy birthday, Jung Byulgi!!!” aku terkejut ketika mendengar terompet ditiup oleh Junghee.

“Hya! Ini masih pagi, babbo! Aku masih mengantuk.”

“Mana boleh birthday lady bermalas-malasan! Ayo cepat bangun! Kita ke salon!”

“Salon? Shireo! Aku tidak mau!”

“Tidak ada penolakan, birthday lady. Salon merupakan awal dari rangkaian pesta ulang tahunmu. Ayo pergiiii!”

Kemudian aku hanya bisa pasrah ketika tanganku ditarik paksa oleh Junghee ke kamar mandi.

“Gweboonnie, ini Byulgi. Gadis yang aku ceritakan kemarin.”

“Oh halo, Byulgi!”

“Annyeong, Gweboon.”

“Neomu yeppeo. Wajahmu sudah cantik tanpa make up. Cantikmu alami. Tapi sepertinya kau belum pernah ke salon ya?” tanya Gweboon masih sambil mengoleskan entah apa ke wajahku.

“Bagaimana kau tau?”

“Ekspresimu, sayang. Kau begitu terlihat ketakutan ketika alat make up menyapa wajahmu. Tenang saja, Byulgi-ya. Alat make up tidak akan membunuhmu.”

“Yeah kau benar. Aku memang tidak pernah ke salon.”

“Daebak, lalu bagaimana jika kau ingin memotong rambut?”

“Aku minta ibuku untuk memotongnya.”

“Pantas saja rambutmu hanya lurus begini. Rambut itu perlu ada modelnya, Byul-a.”

“Begitukah? Haha,”

“Satu lagi. Walau kau sudah cantik alami. Make up is a must. Make up itu penting untuk perempuan. Nanti aku akan suruh pegawaiku untuk memberikanmu satu set make up dasar. Ok?”

“Eo. Terima kasih, Gweboon-a.”

“KIM JUNGHEEEEEE! KAU MAU MATI?”

“Ada apa sih, Byulgi-ya?”

“Apa-apaan ini! Kenapa gaunnya terbuka seperti ini? Kau pikir aku sl*t huh? Aku tidak mau pakai!”

“Ish kau sungguh merepotkan. Aku tidak mau tau kau harus pakai gaun itu. Kita tidak punya banyak waktu. Pestamu akan mulai satu jam lagi. Cepat ganti dan jangan banyak protes!”

“Selamat ulang tahun ya, Byulgi-ya.”

“Iya. Terima kasih.”

“Saengil chukae.”

“Ne, gomawoyeo.”

Aku pegal terus menjabati tangan orang-orang. Aku mau duduk!

21:00

Jam baru menunjukan pukul sembilan malam. Tapi aku sudah tidak betah di pestaku sendiri. Tidak. Pesta ini sama sekali tidak boring. Pesta ini hebat. Tapi bukan ini yang aku inginkan untuk ulang tahunku. Aku ingin merayakan ulang tahunku bersama Jinki oppa.

“Junghee-ya, aku ke toilet sebentar ya?”

“Baiklah. Awas jangan coba-coba kabur! Aku akan mengantarmu pulang.”

Cklek.

Kunyalakan lampu rumah kami. Rumah ini terasa kosong. Seperti ini kah perasaan Byulgi saat aku tinggal sendirian di rumah?

Baru jam sembilan. Mungkin dia sedang asyik berpesta bersama teman-temannya. Ya, seharusnya ia tidak menyiksa diri dengan terus berada di rumah ketika aku tinggalkan ke luar kota.

Aku kabur dari pestaku. Maafkan aku Junghee-ya. Aku tidak betah. Lebih baik aku pulang ke rumah.

High heels benar-benar hal yang buruk. Karenanya aku kesulitan berjalan. Seakan tak cukup, sudah jauh aku berjalan, tak ada satu taksipun yang lewat.

“Byulgi-ya.”

Aku menolehkan kepalaku kearah sumber suara yang memanggil namaku. Suaranya seperti…

“Jinki Oppa?”

Suamiku tersenyum lalu berjalan mendekat.

“Kenapa kau disini? Kau kabur ya dari pestamu?”

Aku menunduk malu, “Aku tidak nyaman disana, Oppa.”

“Arrayeo. Aku tau akan seperti ini jadinya.”

Jinki oppa membuka jasnya lalu memakaikannya padaku.

“Udara malam dingin. Kau bisa sakit.”

“Gomawo, Oppa.”

“Ayo kita pulang.”

Aku mengangguk ketika Jinki oppa menuntunku berjalan perlahan.

“Lain kali jangan pakai high heels kalau ujungnya menyulitkanmu seperti ini.”

“Junghee yang menyuruhku.”

“Arraseo. Aku tau Junghee pasti memaksamu untuk ke salon, mengenakan gaun seperti ini juga memakai high heels.”

“Byulgi-ya, kita sudah sampai.”

“Eoh? Maafkan aku Oppa. Aku ketiduran.”

“Gwaencanha, maafkan aku membangunkanmu. Kakimu masih sakit?”

“Sedikit.”

Jinki oppa turun dari mobil dan membukakan pintu untukku setelahnya ia berjongkok. Menawarkan piggy ride back.

“Oppa tidak usah. Aku bisa jalan pelan-pelan.”

“Gwaencanha. Ayo naik ke punggungku.”

Aku akhirnya menurut dan naik ke punggungnya.

“Aku pasti berat ya, Oppa?”

“Tidak. Aku rasa kau malah perlu banyak makan. Kau ringan sekali. Jangan-jangan jadwal makanmu berantakan ya selama aku tidak di rumah?”

“Kau sebaiknya mandi dulu, Byulgi-ya. Bersihkan make up mu. Kau pasti merasa tidak nyaman ya? Lain kali jangan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman ya? Kau tidak perlu make up untuk terlihat cantik. Jangan memaksakan diri jika kau memang tidak suka.”

“Gomawo, oppa. Aku mandi dulu.”

Baru saja aku mencoba berdiri, kakiku terasa begitu sakit saat digerakkan.

“Omo, hati-hati sayang. Tunggu disini. Kau tidak perlu mandi. Ganti saja bajumu. Aku keluar dulu ya?”

Jinki oppa kembali masuk ke kamarku setelah aku selesai berganti baju. Jinki oppa membawa handuk kecil dan sebasom kecil air.

“Sini, berbaring di pangkuanku. Aku bersihkan wajahmu.”

“Oppa-” omonganku terhenti saat Jinki oppa merebahkan tubuhku di pangkuannya.

“Benar tidak ya, kalau membersihkan make up itu pakai air? Ah aku tidak mengerti hal semacam ini,”

“Kalau kata Gweboon sih, ada cairan khusus untuk membersihkan make up. Tapi aku lupa namanya.”

“Tutup matamu, aku takut matamu terkena make up yang luntur.”

Aku menurut dan memejamkan mataku. Setelah mataku terpejam seperti ini, sentuhan lembut tangan suamiku makin terasa.

Tes. Tes.

Air mataku mengalir perlahan.

“Aigooo, sepertinya air ini menetes ke dekat matamu, maaf.” ujar suamiku yang sepertinya tidak sadar kalau air itu keluar dari mataku.

“Byulgi-ya…”

“Hm?”

“Saengil chukkae.”

Cup

Aku merasa pipiku dikecup.

“Terima kasih, Oppa.”

“Maafkan aku yang selalu meninggalkanmu. Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Gwaencanha, Oppa. Aku mengerti.”

“Byulgi-ya, maafkan aku yang tidak mengerti caranya memperlakukan seorang istri. Maafkan aku yang membuatmu canggung. Aku tidak punya pengalaman dating sebelumnya. Jadi, maukah kau bersabar sedikit lagi untuk menungguku? Aku akan belajar jadi suami yang baik untukmu.”

“Ne, Oppa. Aku akan sabar menanti. Terima kasih, Oppa. Aku mencintaimu.”

“Na ddo, chagiya. Mulai sekarang, panggil aku yeobo.”

—end of story two—

Story Three

“Oh My God! Oh My God! Siapa namja tampan itu? Anak baru?”

“Dia Lee Taemin.”

“Lee Taemin? Taemin yang-. Maldo andwae mana mungkin Taemin yang seperti wanita bisa berubah semanly itu. Apa dia operasi plastik?”

“Tidak. Taemin hanya di make over. Ya Tuhan… Ternyata Taemin tampan juga ya.”

“Iya. Pacarku saja kalah tampan. Aku harus minta maaf pada Taemin dan mulai mendekatinya.”

“Taem-”

“Eo benarkah? Hahahaha,”

Langkahku terhenti tepat di depan kelas Taemin. Kuurungkan niatku untuk menemuinya ketika aku melihatnya tengah asyik berbincang akrab di tengah banyak gadis.

Taemin… Terlihat senang dengan kepopulerannya sekarang.

Flashback

“Hya Lee Taemin, kau ini namja atau yeoja sih? Atau jangan-jangan kau makhluk transgender? Hahahaha.”

Ejekan demi ejekan selalu dilontarkan pada Taemin. Semua orang senang sekali mengolok-olok gaya Taemin yang kurang manly. Untungnya Taemin tipe orang penyabar. Semua cemoohan ia tanggapi dengan sebuah senyuman tulus.

Walau Taemin tidak melawan saat dicemooh, aku yang justru kesal. Tak jarang aku melawan orang-orang yang mengolok-olok Taemin. Kesal karena pembelaanku untuk Taemin terlihat sia-sia, aku memutuskan untuk mengubah penampilan Taemin.

Awalnya namja itu menolak. Tapi bukan Jung Byulgi namanya kalau tidak bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain. Akhirnya Taemin pun pasrah.

See? Sekarang namja itu terlihat sangat manly dan tampan. Well, aku sudah tau sejak awal kalau Taemin itu sebenarnya tampan, hanya saja ketampanannya masih kurang di explore. Makanya tidak sulit bagiku untuk mengubah penampilannya agar ketampanannya terpancar dan tak lagi tertutupi.

Lihat kan? Kini semua yang mengolok-olok Taemin berubah memujanya. Aku hebat bukan?

Aku ikut senang jika Taemin bahagia. Aku senang orang-orang tidak lagi memandangnya dengan sebelah mata. Aku senang dia jadi namja populer diantara para gadis.

Tapi sejujurnya aku punya sedikit rasa sedih. Karena kepopulerannya, Taemin tak lagi punya waktu untukku. Kini ia punya banyak teman. Padahal dulu, akulah satu-satunya yang selalu ada di sisinya.

Baiklah Lee Taemin, selamat ya sudah berhasil menjadi namja populer. Aku harap kau senang. Perlahan tapi pasti, aku berbalik dan melangkahkan kakiku menjauhi kelas Taemin.

Aku melihat Byulgi noona melangkahkan kakinya menjauh dari kelasku. Tsk, kenapa ia tidak masuk dan ikut bergabung saja sih?

“Sorry girls, ada sesuatu yang harus aku urus. Lain kali kita mengobrol lagi ya?”

“Tapi Taem-”

“Im so sorry.”

“Kau mau kemana?”

“Ada urusan penting yang perlu aku urus. Dan ini menyangkut hidup matiku.”

“Byulgi Noona!”

“Taemin? Bukankah kau-”

“Antarkan aku pulang yuk!”

“Tapi Taem-”

“Tidak ada tapi-tapian Noona. Kajja!” serunya sambil menarik lenganku paksa.

“Sudah lama ya kita tidak jalan bersama…”

Itu karena kau sekarang selalu sibuk dikelilingi gadis-gadis. Ujarku dalam hati.

“Ya begitulah. Bagaimana rasanya jadi populer?”

“Hm, menyenangkan sih. Terima kasih ya Noona. Berkatmu orang tidak pernah mencemoohku lagi.”

“Eo, cheonma. Aku ikut senang jika kau bahagia.”

“Awas Noona!”

Pergelangan tanganku ditarik Taemin pelan.

“Lampunya sudah hijau Noona! Kau mau ditabrak? Apa kau tidak lihat rambu?”

“Eo-”

“Sedang memikirkan sesuatu?”

“Ti-tidak,”

“Geotjimal. Aku tau Noona sedang memikirkan sesuatu. Marhaebwa…”

“Shireo.”

“Wae? Kita kan teman curhat!”

“Tch. Kau yang selalu curhat padaku, aku tidak pernah.”

“Makanya! Sekarang kita gantian!”

“Nan shireo!”

“Hya, Noona. Neo, jincha!”

“Kyaaaa Lee Taemin! Lepaskan! Geli sekali! Geumanhae…”

“Shireo! Aku takkan berhenti sampai Noona mau cerita padaku.”

“Kau tau tidak? Kemarin sore aku berjalan-jalan di sekitar pusat kota. Dan aku melihat Lee Taemin jalan dengan Jung Byulgi!”

“Jung Byulgi? Maksudmu gadis kutu buku yang nerd itu? Iuh. Are you kidding me?”

“Serius! Aku juga kaget! Tidak seharusnya Taemin yang tampan jalan dengan gadis nerd seperti itu.”

Brak!

“Sekali lagi kau berani mengatai Byulgi nerd, aku tak akan segan-segan menghajarmu,” geram Taemin dengan wajah merah padam karena menahan marah.

“T-T-Taemin… S-sejak kapan kau ada disini?”

“Apa menurutmu itu penting? Sekali lagi kudengar kau menjelekan Byulgi, hidupmu takkan kubuat tenang.”

“Taemin-a! Geumanhae!”

“Byulgi No-”

Aku menyeret Taemin keluar dari kelasnya.

“A-a-aw! Pelan sedikit Noona!”

“Tsk. Gayamu saat menggebrak meja saja yang terlihat kuat dan keren. Ketika tanganmu berdarah dan diobati, kau merengek seperti perempuan!”

“Habisnya aku tidak suka mendengar mereka mengejekmu. Aku sakit hati.”

“Biarkan saja, Minnie.”

“Mana bisa aku membiarkan mereka mengejek Noona kesayanganku? Apa mereka mau mati?”

“Jangan berlebihan Minnie, aku rasa mereka ada benarnya juga. Aku tidak pantas berada di dekatmu.”

“MWO?”

“Kau kan sekarang sudah jadi idola sekolah, sedangkan aku-”

“Hya Noona!”

“Apa?”

“Lihat mataku.”

“Aku tidak mau.”

“Aish!” Taemin kemudian menatapku seraya menggenggam tanganku erat.

“Hya lepaskan tanganmu. Apa maksudnya pegang-pegang?”

“Jung Byulgi… Aku menyukaimu.”

“Pffft. Kau lucu sekali Lee Taemin. Sudah ah main-mainnya! Aku mau pulang-” aku menarik tanganku dari genggaman Taemin. Tapi ia semakin mengeratkan genggamannya. “Taeminnie, tolong lepas tanganku.”

“Noona, saranghae.”

“Minnie, aku sedang tidak mood bercanda.”

“Lihat mataku. Apa kau melihat kebohongan?”

“Ya. Aku melihat kebohongan. Sudah ya mainnya. Aku mau pulang.”

Taemin akhirnya melepas genggaman tangannya, saat aku hendak berdiri ia menahan bahuku. Setelahnya ia memelukku.

“Minnie-”

“Aku menyukaimu, Noona. Kenapa kau tidak percaya?”

“Kita berbeda Lee Taemin. Aku hanya nerd dan kau-”

“Tanpamu tak kan ada Lee Taemin si idola sekolah. Aku mau kembali ke penampilanku yang dulu asal Noona mau terus bersamaku. Tidak ada gunanya jadi populer diantara gadis-gadis jika Noona malah menjauh dariku.”

“Minnie-”

“Terima cintaku Noona. Ku mohon.”

“Tch. Menyedihkan sekali dirimu. Masa’ namja keren mengemis cinta sih?”

“Aku tidak peduli.”

“Baiklah, karena kau memaksa.”

“Andwae. Tanpa aku paksapun harusnya Noona mau jadi pacarku.”

“Tsk.”

“Noona,”

“Hm?”

“Saengil chukkae.”

“Kau ingat?”

“Tentu saja! Mana boleh aku lupa bday yeojaku sendiri?”

“Tsk.”

“Noona, aku punya coklat. Mau?”

Dan sore itu aku menghabiskan waktu memakan coklat di ayunan belakan sekolah sampai petang. Terima kasih, Lee Taemin. Nae namja.

—end of story three—

Story Four

“SHINee keluar lewat gerbang darurat!”

Buru-buru kami pindah menuju gerbang darurat. Kami tidak boleh lengah sedikitpun.

Oh, aku belum memperkenalkan diri ya? Annyeong, namaku Jung Byulgi. Dan aku adalah pemilik fansite baru. Hari ini aku debut untuk pertama kalinya untuk mengambil gambar. Kau mau tau siapa yang aku stalk? Key SHINee.

Jpret! Jpret! Jpret!

Ribuan kamera mulai membidik gambar member SHINee yang baru keluar dari gimpo airport.

Aku memotret Key sambil mendengus sebal. Namja itu pasti tengah kelelahan. I blame you SM! Telah membuat SHINee sibuk dan tak memberinya istirahat. Kau pikir tidak cape apa, bulak-balik Jepang-Korea?

Kesal. Aku tidak jadi memotret Key. Sudah ah. Aku tidak mood. Aku tidak jadi buat fansite.

Drrt drrt

Key calling

“Halo, sweetie. Kenapa pulang huh? Aku rasa kau belum cukup banyak mengambil fotoku.”

“Berisik! Aku sedang unmood!”

“Sudah kubilang jangan aneh-aneh. Untuk apa sih kau ikut-ikutan membuat fansite untukku? Sungguh tidak ada kerjaan.”

“Shut up Key!”

“O ow. Gadisku sedang pms rupanya.”

“Key. Kau besok bisa ke rumahku tidak?”

“Besok? Maaf sweetie. Besok aku harus ke Jep-”

Bip

Aku tau akan seperti ini. Tahun lalu juga Key tidak ada di sampingku saat aku ulang tahun. Kenapa pacarku harus berprofesi sebagai artis sih? Aish!

“Byulgi?”

“Iya Jinki Hyung.”

“Pasti dia marah ya?”

“Begitulah.”

“Tadi yang di airport betul dirinya?”

“Iya Hyung. Dia bilang dia mau membuat fansite.”

“Pacarmu lucu sekali ya.”

“Yeah. Tapi kalau sudah marah, rrr singa juga kalah galak Hyung!”

“Ckck. Kalian cocok sekali. Besok bukannya dia ulang tahun?”

“Nah itu Hyung! Dia marah karena besok aku tidak bisa menemuinya.”

“Oh. Besok kan kita berangkat sore. Siangnya kau bisa menemuinya kan?”

“Tapi besok kita ada latihan,”

“Sudah bolos saja. Biar aku yang urus. Aku akan mengarang alasan bagus pada manager hyung,”

“Sugguh?”

“Iya Key…”

“Gomawo Hyung. Byulgi pasti senang sekali.”

“Sayang, ada Kibum di bawah.”

Key? Eommaku pasti bercanda.

Tok tok

“Byulgi-ya, aku datang. Bolehkah aku masuk?”

“Kibum?”

“Yes baby. You’re one and only lovely Kibum.”

“Masuk saja, tidak dikunci.”

Kriet

“Annyeong, my baby girl… How you doing hm?”

“Bogoshipeo Kibum-a!”

Aku memeluk Kibum erat.

“Aigo aigo… Pasti kau sangaaaaaaaaaaaat merindukanku ya?”

“Kibum-a, katanya kau mau ke Jepang?”

“Tidak sebelum aku mengucapkan happy birthday padamu, honey. Saengil chukae jagiya…”

“Gomawo, Kibum-a.”

“Bday giftnya menyusul ya sayang?”

“Gwaencanha yeobo. Bisa bertemu denganmu di ulang tahunku saja, aku sudah sangat bersyukur.”

“How sweeeeeet, sweetie.”

“Ish! Aku serius Kibum-a!”

“Ne, arraseo princess.” Kibum melirik jam dinding di kamarku, “O ow. Sorry sweety, aku sudah harus kembali. Pesawatku berangkat satu jam lagi.”

“Kibum-a, tidak bisakah jika tidak pergi? Aku masih kangeeeeeeen.”

“Maaf. Aku juga masih kangen kok.”

“Kibum-a, tidak bisa ya berhenti jadi artis?”

“Aku kan sudah terikat kontrak dengan SM, sayang…”

“Bertemu denganmu saja sudah susah, sekalinya bertemu tidak pernah lebih dari satu jam. Sedih sekali ya nasibku.”

“Jangan begitu, dear. Aku juga maunya menghabiskan waktu denganmu sepanjang hidupku.”

“Cih. Gombal. Ya sudah sana pergi!”

“Mengusir?”

“Iya!”

“Jangan gitu dong, putri cantik. Pangerannya dimaafin ya?”

“Iya!”

“Iya-nya jangan judes gitu dooong sweetie~. Aku janji jika aku sudah tidak jadi idol lagi,  waktuku hanya untukmu.”

“Yaksok?”

“I’ll promise you baby.”

“Ya sudah, hati-hati ya Kibum-a.”

—end of story four—

Story Five

00:00

“Saengil chukae, gadis cantik…”

“Jjong?” tanyaku unsure. Untuk apa Jonghyun ada di kamarku sepagi ini? Tunggu… Bukankah Jonghyun sudah-

“Iya sayang. Ini aku. Kim Jonghyun. Pacarmu yang paling tampan.”

Aku kucek mataku perlahan. Siapa tau aku hanya berhalusinasi.

“Ini aku sungguhan sayang.”

“Tapi ini masih terlalu pagi, Jjong.”

“So what? Aku kan ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan happy bday pada pacarku.”

“Jjong-”

“Ya ya ya. Aku tau aku namja yang so sweet dan romantis.”

“Hoam,” aku menguap kecil.

“Masih mengantuk? Kau boleh tidur lagi.”

“Kalau aku tidur kau bagaimana?”

“Aku juga akan tidur.”

“MWO?”

“Aish gadis yadong! Aku akan tidur di kursi sebelah kasurmu.”

“Oh syukurlah. Aku kira-”

“Tuh kan yadong.”

“Aku tidak yadong Jjong!”

“Pffft masa’ ?”

“Ish!”

“Arasseo. Arasseo.”

07:00

Aku terbangun ketika cahaya matahari menyilaukan mataku. Tanganku terasa sulit digerakkan. Aku tersenyum ketika melihat Jonghyun tertidur di bangku sambil menggengam tanganku. Seketika itu juga kehangatan dari tangan Jonghyun mengaliri tubuhku. Tch, kenapa Jonghyun terlihat seperti menunggui pasien rumah sakit?

“Kau sudah bangun, Byulgi-ya?”

“Maaf membangunkanku, Jjong.”

“Gwaencanha… Ayo kita buat sarapan.”

“Aigo aigo. Kau hanya punya roti?”

“Kau bisa mengharapkan apa sih pada mahasiswa yang nge-kost?”

“Uuuu. Kasihan sekali nasib gadisku. Well, karena hari ini ulang tahunmu, aku akan membuatkanmu sarapan. Ini akan sangaaaaaaaat spesial.”

“Tapi aku mau membantu-”

“No no no. Kau hanya tinggal duduk manis menunggu sarapanmu, princess.”

“Sarapannya sudah siap!”

“Wuaaaaaah.” aku amazed melihat rotiku yang terlihat sangat menggiurkan.

“Feels like someone drooling there…”

“Bagaimana bisa kau membuat roti jadi makanan yang sangat menarik seperti ini?”

“Rahasia, sayang. Tugasmu hanya tinggal menikmati. Jika kau ingin sarapan seperti ini lagi, you can call me anytime.”

“Tsk.”

Jonghyun tersenyum sambil memotong rotinya.

“A,”

“Huh?”

“Buka mulutmu. Aku suapi.”

“Memangnya aku anak ke-” Jonghyun menyendokkan sepotong roti saat aku protes, “Hya Kim Jonghyun!”

“Jangan banyak protes. Hari ini bday girl harus diperlakukan spesial.”

12:30

“Mengantuk huh?”

“Sedikit, hoam,”

“Menyandar sini pada bahuku.”

Aku menurut dan menyandarkan kepalaku. Saat ini kami tengah menonton TV di sofa ruang tengah.

“Mau aku nyanyikan lagu pengantar tidur?”

Aku menganggukan kepalaku semangat.

Jonghyun menarik napasnya perlahan. Tak lama ia mulai bernyanyi.

“Niga itda eobseunikka sumeul swil su eobseo.
Gyeote eobseunikka meomul sudo eobseo.
Naneun jugeoganeunde neoneun
jigeum eomneunde eomneunde
eomneunde.
Niga itda eobseunikka useul suga
eobseo.
Gyeote eobseunikka manggajyeoman ganeun nae moseubi
Neomu sirheo nan nan ije gidael got jocha eobseo,”

(Trans: I can’t breath now that you’re no longer here
I can’t even stay because you aren’t with me. I am slowly dying but you’re not here.
Anymore anymore anymore.
I can’t smile because you’re no
longer here
Because you’re not here
I hate seeing myself break down
I have nowhere to depend on now)

“Jjongie. Kok lagunya sedih begitu? Aku tidak suka ah!”

“Kau maunya lagu apa sweetie?”

“Yang bahagia! Yang liriknya menggambarkan kalau aku dan kau takkan pernah terpisah dan akan selalu hidup bahagia selamanya.”

“Sayang, di dunia ini tidak ada yang abadi. Kau harus merelakan kepergianku.”

Kriiiiing! Kriiiiiing!

Aku terbangun saat alarmku berbunyi nyaring.

Aku tersenyum miris. Jadi yang barusan hanya mimpi?

Drrrt drrrt

Sodam eonni calling

“Yeobsaeyo?”

“Yeobsaeyo, Byulgi-ya. Hari ini jadi ikut ke makam Jonghyun?”

“Iya Eonni. Aku ikut.”

“Aku akan jemput setengah jam lagi ya,”

“Ne Eonni. Kutunggu.”

Iya. Kau tidak salah. Hari ini tepat setahun peringatan meninggalnya Jonghyun. Miris sekali ya? Ketika ulang tahunmu bertepatan dengan peringatan kepergian kekasihmu.

Jonghyun meninggal tahun lalu saat on the way menuju rumahku. Sedih rasanya jika mengingat tujuan Jonghyun saat itu adalah untuk membuat kejutan ulang tahun untukku.

I can’t breath now that you’re not
longer here.

I am slowly dying but you’re not
here.

I can’t smile because you’re no longer here.

I have nowhere to depend on now.

Ya Kim Jonghyun. Tanpamu aku tidak lagi bisa melakukan apapun. Tanpamu aku tidak punya lagi sandaran hidup.

—end of story five—

Huehehehe gaje semua ya? Aku tau kok :3 *kalo lu tau kenapa masi di publish gi?*

Which one yang menurut kalian “mending”? Haha aku tau kok ini parah semua. Tapi mungkin aja kan ada yang mending? Hahaha #ngarep

Lastly, saengil chukkae Jung Byulgi! *nyelamatin diri sendiri LOL*

4 thoughts on “Byulgi’s Birthday

  1. Saengil chukae byulgi onnie. Semoga semua cita”nya tercapai tambah cantik, tambah pinter, semuannyyaa dehh
    mungkin aku yang terlalu cengeng + lebay kali ya.. Pas baa yang bagian Jjong opa aku nagis betulan masa😥 tapi semua ceritanya bagus… Sekali lagi saengil chukae onnie ^.^
    keep writing ya..

  2. byulgi unni ultah, happy b’day unn *telat lu .-.
    yang paling mending ya, eung aku suka yang jjong gegara sad ending*agak beda dan gak ketebak di awal.
    miris ya, demi apa story nya Jjong malah dibikin sad end

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s