When Nickhun Really Got Married (Part 3)

image

Title: When Nickhun Really Got Married (Part 3)
Author: angangels
Main Cast: Nickhun Buck Horvejkul, Jung Byulgi (OC/You)
Support Cast: Victoria Song, 2PM members
Length: Chaptered
Rating: PG-15

Happy reading and do leave comment please😀

***
“See you later, Byulgi-ya…” ujar teman kampusku.

“Ne. Bye…”

Drrrrt drrrrrt

Khunnie calling

“Halo?”

“Hey, sweetie. Sudah mau pulang ya?”

“Iya. Kelas terakhirku sudah berakhir. Wae?”

“Temui aku di dorm jam empat sore ya.”

“Ada apa? Biasanya juga kau yang mendatangiku di apartemenku.”

“Aku tunggu. Jam empat tepat.”

“Eh-”

Bip

Mau apa sih ulzzang 2PM itu?

“Noona!”

“Wooyoung-a, kau lihat Khun? Tadi di telepon ia menyuruhku ke dorm kalian. Tapi kok dia malah tidak ada disini?”

“Khun hyung tidak ada di sini Noona. Tapi tadi hyung bilang aku harus mengantarkanmu ke suatu tempat.”

“Eh eh? Kok tanganku ditarik paksa seperti ini sih? Woo lepaskan. Aku bisa jalan sendiri.”

“Khun hyung menyuruh kita hadir tepat waktu Noona! Waktu kita tidak banyak!”

“Tapi kita mau kemana?”

“Sudah ikuti saja aku.”

“Untuk apa kau membawaku ke restoran mewah ini?”

“Tugasku selesai. Silahkan turun Noona. Khun hyung menunggumu di dalam.”

Aku pun turun ketika Woo membukakan pintu mobilnya. Petugas restoran yang berpakaian rapi menyambutku dengan senyum ramahnya. Detik berikutnya aku tersadar kalau aku tengah menginjak red carpet. Aduh, ini apa-apaan sih!

Aku malu sekali ke tempat se high class ini tanpa persiapan apapun. Aku tidak ke salon, juga tidak memakai pakaian yang pantas. Kenapa Woo tidak bilang kalau Khun menungguku di tempat seperti ini? Kalau dia bilang kan setidaknya aku tidak akan memakai kaus oblong, jeans dan sepatu kets.

“Nona Horvejkul? Silahkan ikuti aku, Nona…”

“Eh? Ne ne ne.”

Nona Horvejkul? Mwoya?

“Tuan Horvejkul, Nona sudah datang,”

Khun membalikan badannya ketika mendengar suara pelayan.

“Halo sayang…”

“Kau sungguh-” aku menahan protesku ketika sadar pelayan tadi masih di sini. Seakan mengerti, pelayan itu kemudian pamit pergi.

“Tahan dulu marahnya, cantik. Duduk dulu…”

“Apa maksudmu menyuruh Woo membawa aku kemari? Kenapa kau tidak bilang di telepon kalau kau mau mengajakku ke tempat seperti ini?”

“Kalau begitu tidak jadi kejutan dong…”

“Masalahnya bukan pada terkejut atau tidaknya aku. Kau sudah membuat aku malu, Khunnie!”

“Malu kenapa?”

“Kau membawaku ke tempat seperti ini… Bahkan pelayanmu menyambutku dengan red carpet. Kau pikir aku artis huh? Dan lihat dirimu! Kau mengenakan pakaian yang pantas. Sedangkan aku? Aku hanya menge-”

“Jadi hanya karena itu kau malu?”

“Ini bukan hanya Khunnie!”

“Masalah kecil seperti ini tidak sepantasnya kita perdebatkan. Aku memang sengaja tidak memberitaumu agar semuanya berjalan seperti rencanaku,”

“Apa membuatku terlihat seperti seorang beggar yang tengah berhadapan dengan Thai Prince juga bagian dari rencanamu?”

“Aku ingin melamarmu! Kenapa jadi begini sih! Kenapa kau malah mempermasalahkan pakaianmu? Justru itu yang aku mau. Aku mau melamarmu dengan keadaan seperti itu! Karena aku suka pada sosokmu yang sederhana.”

“M-m-melamarku kau bilang?”

Nickhun tak menjawab, sebagai gantinya ia beranjak menuju piano yang tersedia di restoran ini. Ditariknya lenganku pelan. Kemudian ia mendudukanku tepat di sebelahnya. Oh please don’t, Khun… Aku tidak bisa menolak pesona pria yang memainkan piano.

“Jung Byulgi, sudah cukup lama kita dating. Enam tahun? Tentu itu sudah cukup untuk saling mengenal. Kau yang sudah berada di sisiku bahkan saat aku masih jadi trainee–saat aku bukan siapa-siapa. Terima kasih untuk enam tahun ini…”

Aku hanya terdiam ketika Khun menatap mataku dalam.

“Terima kasih sudah mau terus bersamaku enam tahun ini. Aku tau aku bukan namja yang baik. Aku tidak bisa memperlakukan pacarku seperti namja lain yang memperlakukan pacarnya. Dating denganku membuat satnight-mu kelabu. Disaat pasangan lain menghabiskan satnightnya dengan romantis, kau hanya bisa melihatku lewat layar televisi.”

Tes.

Air mataku turun perlahan. Dengan cekatan Khun menghapus lembut airmataku dengan tangannya.

“Aku seringkali tak ada di sisimu ketika kau membutuhkanku, padahal kau selalu ada saat aku membutuhkanku. Maafkan aku, aku memang pacar yang tidak tau diri.”

Tangisku sudah tak terbendung. Aku menangis di pundaknya seraya memeluknya dari samping.

“Aku beruntung bisa menjalin kasih denganmu. Kau adalah gadis yang penyabar juga pengertian. Kau bahkan tak pernah mengeluh ketika aku seringkali tak sengaja meneriakimu–padahal kau tidak bersalah. Kau tidak pernah ikut terbawa emosi ketika aku meneriakimu sebagai pelampiasan karena masalah pekerjaanku. Maafkan aku, sayang. Betapa tidak tau malunya aku, sudah jarang bertemu, sekalinya bertemu aku malah sering melampiaskan kekesalanku padamu, padahal kau tidak tau apa-apa,”

Bahuku terguncang karena tangis. Ya Tuhan, mengapa aku cengeng sekali?

“Bersamamu, apapun sanggup aku hadapi. Tanpamu, apa yang kulakuan tak pernah benar. Kau sosok gadis sempurna, sayang. Kau harus tau betapa envy-nya Taecyeon pada hubungan kita. Ia iri karena hubungan kita yang awet. Ia iri, aku bisa mendapat pacar sepertimu, yang sangat pengertian dan penyabar–yang bahkan tak pernah marah karena aku banyak dipairing dengan gadis lain.”

Khun mengangkat wajahku pelan, dihapusnya air mataku perlahan dengan kedua tangannya.

“Tatap mataku, sayang…” Khun kemudian menghela napas panjang, “Aku mungkin bukan pria yang romantis–yang bisa mengarang rangkaian kata yang bisa melelehkan hatimu. Tapi aku harap kau bisa merasakan ketulusan lewat tindakanku.”

Nickhun menatap ke dalam mataku. Aku pun terhanyut dalam kedua mata indahnya.

“Aku seringkali berkata aku ingin menikahimu, tapi kali ini aku akan mengatakannya dengan serius. Would you marry me, Jung Byulgi?”

~

“…Would you marry me, Jung Byulgi?”

“Khun-”

Tidak, sayang. Jangan tolak aku. Mengapa kau masih saja ragu?

Kualihkan tanganku menuju piano. Kemudian aku mulai menekan tutsnya perlahan.

“Lagu ini, untukmu…”

Close my eyes and let the world go by
I feel the rain drops on my mind
And when the time gets hard with no where left to hide
Just wanna drop down and cry

Aku ingat pertama kali kita bertemu. Hari Sabtu, 20 Mei 2007.

Saat itu aku tak sengaja menabrakmu yang tengah jalan terburu-buru. Masih tergambar jelas wajah kesalmu kala itu saat aku tabrak. Aku tak henti-hentinya minta maaf. Kau akhirnya memaafkanku walau sambil menggerutu.

Dan kala itu, entah feeling darimana, aku sungguh yakin kalau kita suatu saat akan bersama. Kita akan berjodoh.

Then you came and change my life
Being the bestest friend of mine
Oh i can’t ask for more
So let them bring it on

Hari-hari trainingku mulai terasa berat. Tak ada teman berbagi, karena perbedaan bahasa yang menyolok. Aku tak bisa berbaur karena aku tidak dapat berkomunikasi. Aku semakin merasa terpuruk.

Saat itu awal Juni, tepatnya tanggal 3. Kita kembali bertemu. Aku menyapamu dengan riang. Tapi sepertinya kau tak ingat padaku.

Kemudian aku tau kalau kau pandai berbahasa Inggris. Seketika itu juga aku bagai melihat secercah harapan di tengah keputusasaanku.

Aku memintamu untuk memberiku private bahasa Korea. Kuceritakan padamu kalau aku adalah foreigner trainee di JYP. Sayangnya, kala itu kau menolak untuk mengajariku.

Tak mau menyia-nyiakan satu-satunya harapanku, aku terus memaksamu. Hingga akhirnya kau menyanggupi.

Kau mengajariku dengan sabar. Bahkan kau membuat suasana belajar jadi fun. Kau sampai terpikir untuk mengajariku lewat lirik lagu, drama dan novel romantis. Ingat lagu pertama yang kau ajarkan padaku? Three bears…

Hanya dengan bersamamu, aku tak akan butuh apapun lagi. Hanya jika denganmu, aku mampu menghadapi apapun.

Let it rain… Let it rain
Oh i ain’t scared no more
Let it rain… Let it rain
I know i got you by my side

Asal denganmu, aku tak lagi ketakutan.

Sebaliknya, hanya satu yang aku takuti, kehilanganmu.

Maka dari itu, sayang. Tetaplah berada di sisiku.

Then you came and change my life
Being the guardian angel of mine
Wrap your wings to protect me
Without you i can’t make it through the rain

Masih segar diingatanku tentang kecelakaan itu. Aku yang kalut, langsung menemuimu tanpa banyak berpikir. Kala itu kau tidak banyak bertanya. Kau hanya memelukku erat dan membiarkanku menangis dalam pelukan hangatmu.

Esoknya, aku mendapati kau tengah menangis saat melihat berita itu di laptopmu. Kau menangis membaca komentar bernada benci yang ditunjukkan padaku.

Kesal, kau membalas seluruh komentar negatif itu dengan pembelaanmu terhadapku. Setelahnya, kau mematikan TV, membuang koran pagi, mematikan sambungan internet di rumahmu, menyembunyikan laptopmu juga menyita ponselku. Kau tak ingin aku melihat komentar bernada negatif itu. Tapi tau kah kau, kalau melihatmu terluka karena melindungiku membuat hatiku ribuan kali lebih sakit?

Like an angel..
Like my mother…
Like the bestest friend of mine
So why…
Let it rain.

Kau adalah hadiah yang Tuhan berikan padaku. Kau lebih dari sahabat terbaik. Kau adalah rumah tempatku berlindung.

“Khunnie, I Do.”

Kutarik tubuh kecilnya kedalam dekapanku. Tangisku yang jarang kuperlihatkan turun tanpa bisa ku tahan. Terima kasih, Jung Byulgi. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik.

***TBC***

Warning (?), part ini part terakhir Byulgi bahagia yak. Part depan angsty. Penderitaan Byulgi akan di mulai sebentar lagi. Beware!

Your comment please?

6 thoughts on “When Nickhun Really Got Married (Part 3)

  1. So sweeet bangeeet…I do khunnie *berasa jd byulgi* #abaikan..hhehe
    Waah ada apa ma hub mrk selanjutnya ??aduh jd takut mau baca part selanjutnya.tp penasaraan…lanjuuut…

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s