Uncaring Boyfriend Vs Caring Playboy (Part 1)

image

Title: Uncaring Boyfriend Vs Caring Playboy

Length: Twoshoot atau trilogy (liat ntar ;p)

Author: Jung Byulgi

Cast: Choi Minho, Song Jihyun (Oc/You), Kim Jonghyun

Genre: Baca dulu ajah

Poster Credit: @LALLAKYU

Rating: PG-15 (ada yang agak ‘gak bener’ di akhir part 1 soalnya)

***

HAPPY READING AND DO LEAVE COMMENT, PLEASE (^o^)9

***

“SAENGIL CHUKAE NAE SARANGEUN CHINGU, SONG JIHYUN!!!”

“Tidak usah berteriak di telepon, nona Jung! But, thanks ucapannya.”

“Tsk. Hargai sedikit usahaku yang sudah mau menelepon dan mengucapkan selamat ulang tahun. Aku sengaja menjadi yang terakhir. Keren kan?”

“Aku kira kau lupa. Terima kasih.”

“Wish you all the best, dear. Bagaimana rasanya bertambah tua?”

“Ck aku bahkan masih 18. Biasa saja.”

“Apa Minho-”

“Belum. Ah tepatnya dia tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Since sekarang sudah jam 00:02. My birthday is over.”

“Mianhae, Jihyun-a. Aku tidak tau pacarmu itu belum menghubungimu.”

“It’s okay. Minho kan memang pacar yang cuek. Aku sudah terbiasa diabaikan. ”

“Tapi kali ini kan ulang tahunmu-”

“Sudahlah. Apa perlu diperjelas? Aku tau. So pathetic right?”

“Mood-mu sedang tidak baik, sepertinya. Kita bertemu besok ya di kampus. Sekali lagi. Happy birthday.”

“Thanks.”

Bip.

***

“Minho-ya!”

“Oh, Jihyun-a. Kau ada kelas pagi?”

“Hya Minho Choi. Pacar macam apa kau ini? Jadwal kuliahku saja kau tidak tau?”

“Arra. Aku tau. Tapi aku tidak mengingatnya. Ah kelasku dimulai lima menit lagi. Khalke! Aku tidak mau membuat masalah dengan Prof. Yoon.”

Minho melangkah menjauhi pacarnya tanpa rasa bersalah.

“Minho-ya. Tunggu!”

“Ada apa huh? Jika tidak penting bisa di-pending nanti kan? Kita bertemu di kantin siang nanti.”

“Aku hanya ingin tanya satu hal.”

“Apa? Ppali…”

“Kemarin. Tanggal berapa?”

“12 Juli Song Jihyun. Kau mencegahku hanya karena pertanyaan konyol macam ini? Bukankah di ponselmu ada fitur kalender?”

“Arraseo. Maaf menganggumu.”

***

“Jihyun-a. Belum pulang? Apa kau masih ada kelas?”

“Ania, Byul-a. Aku menunggu Minho.”

“Minho? Rasanya tadi aku lihat Minho dan teman-temannya sudah keluar dari kampus.”

“Ah benarkah? Mungkin dia ada urusan. Mungkin dia akan menjemputku setelah urusannya itu selesai.”

“Tidak mau pulang denganku? Aku dijemput oppa-ku. Rumah kita searah.”

“Gwencanha. Terima kasih tawarannya. Aku menunggu Minho saja. Kasihan kan nanti kalau dia kemari dan aku sudah pulang?”

“Yakin tidak mau ikut bersamaku?”

“No. thanks.”

“Kalau begitu aku duluan. Bye!”

Jihyun membalas lambaian tangan Byulgi. Sudah setengah jam ia menunggu tapi Minho tidak juga menunjukkan batang hidungnya.

Kesal menunggu. Di-dialnya nomer Minho.

“Yeobseyo?”

“Minho-ya. Eoddiseo?”

“Aku sedang ada di lapangan. Aku ada pertandingan. Lima menit lagi akan dimulai. I’ll call you later, kay? Bye.”

“Tapi-”

Bip.

Jihyun mendesah pelan. “Tapi kau sudah berjanji akan mengantarku pulang hari ini.”

***

Jihyun terpaksa berhenti di halte terdekat ketika hujan menguyur Seoul. Hari ini ia lupa membawa payung. Diikatnya rambut setengah basahnya yang tadinya tergerai. Matanya menjelajah di sekitar halte. Cukup banyak orang yang berteduh karena senasib dengannya—terjebak hujan.

“Halo…”

Jihyun menolehkan kepalanya ke belakang—mencari sumber suara tersebut.

“Hai!”

Jihyun menggernyitkan dahinya bingung. Merasa tak pernah mengenal pria di belakangnya yang dengan tiba-tiba menyapanya—bahkan sampai dua kali.

“Namaku Jonghyun. Boleh aku tau namamu?”

Kerutan di dahi Jihyun bertambah. Wow. Orang asing itu bahkan memperkenalkan diri.

“Tidak mau berkenalan denganku? Gadis zaman sekarang memang susah diajak berkenalan ya? Mentang-mentang cantik. Padahal kan aku hanya ingin berteman…”

“Maaf, Jonghyun-sshi. Tapi jika kau tiba-tiba menyapa dan mengajak berkenalan dengan seperti itu, akan banyak gadis yang kebingungan—seperti aku. Caramu agak menyeramkan.”

“Ah benarkah? Kalau begitu mau ajari aku bagaimana cara berkenalan dengan para gadis?”

“Maaf, Jonghyun-sshi. Aku tidak bisa.”

“Haha baiklah. Jadi siapa namamu?”

“…”

“Ck. Apa memberitau namamu padaku akan membuatmu dalam bahaya?”

“Kau. Menyeramkan.”

“Apakah aku terlihat seperti hantu? Memangnya ada ya hantu yang tampan seperti aku?”

“Pffft…”

“Kenapa tertawa?”

“Baru kali ini aku berhadapan langsung dengan orang yang tanpa beban mengatakan bahwa dirinya tampan.”

“Wae? Apa aku jelek?”

“Tidak sih-”

“That’s all. Tidak jelek berarti tampan. Kkeut.”

“Percaya diri sekali. Apa katamu lah.”

“Jadi namamu siapa?”

“Jihyun.”

“Jihyunnie? Namamu cute sekali! Tidakkah kita keren? Jonghyunnie – Jihyunnie.”

Jihyun mematung sesaat. Jihyunnie? Minho saja yang sudah setahun jadi pacarnya tidak pernah memanggil namanya seperti itu. Tidakkah panggilan ‘Jihyunnie’ terlalu akrab jika dipakai oleh Jonghyun yang bahkan baru ditemuinya lima menit lalu?

“Kenapa melamun?”

Jihyun tersadar dari lamunannya ketika tangan Jonghyun bergerak-gerak di depan wajahnya.

“Uh oh maaf.”

“It’s okay. Oh iya kau darimana?”

“Aku baru pulang kuliah.”

“Mau ke?”

“Tentu saja pulang.”

“Jihyunnie… Kau tidak mau bertanya balik padaku?”

“Huh?”

“Iya. Jadi harusnya ketika kau mejawab tadi, kau harus menambahkan ’kalau Jonghyunnie darimana? Mau kemana?’ seperti itu…”

“Tapi aku tidak penasaran sih. Tepatnya tidak peduli.”

“Ya ampun! Tidakkah kau tau apa artinya basa-basi? Ya Tuhan…”

“Baiklah. Kalau Jonghyun-sshi darimana? Mau kemana?”

“Aku tidak mau menjawab ah. Habisnya pertanyaan itu bukan inisiatifmu.”

“Aigo. Namja macam apa kau ini? Perajuk? Seperti bocah lima tahun saja. I don’t care though.”

“Baiklah baiklah. Aku akan menjawab. Aku sedang menunggu gadis yang dikirim Tuhan untuk menemani sisa hidupku.”

“Jonghyun-sshi… Apa kau punya penyakit mematikan? Kau bilang ‘sisa hidup’. Apa kau akan meninggal sebentar lagi?”

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAA! AKU SEHAT! Kau mendoakanku agar cepat mati?”

“Bukan begitu. Habisnya kau bilang sisa hidup. Aku pikir hidupmu takkan lama lagi (-,-)”

“Kau pasti tidak pernah digombali namja ya? Maksudku… Aku menunggu gadis yang akan menemani hidupku sampai aku jadi tua kelak. Gadis yang akan menjadi teman hidupku selamanya. Aku romantis bukan?”

Digombali namja? Mana pernah Choi Minho sang ice prince melontarkan kata-kata rayuan manis pada Jihyun.

“Tuh kan. Melamun lagi.”

“Sorry.”

“Jihyunnie. Hujan sudah reda. Mau aku antar pulang?”

“Aku tidak mau kebasahan. Aku mudah sakit. Kau duluan saja, Jonghyun-sshi. Aku akan tunggu sampai hujannya benar-benar berhenti.”

“Aku bawa payung kok.”

“Bukankah payungmu hanya satu?”

“Tapi payungku cukup untuk kita berdua.”

“Maksudmu kita satu payung. Berdua?”

“Memangnya kenapa?  O.o”

“Ani-”

“Kajja! Hujan seperti ini akan awet. Sampai malam pun tidak akan berhenti.”

Jonghyun menarik lengan Jihyun pelan. Gadis itu tidak bisa melawan karena cengkraman namja itu cukup kuat.

***

“Mendekatlah. Jika kau terus menjaga jarak, bahumu akan kebasahan.”

Jihyun tidak juga mendekat. Dengan perlahan Jonghyun merangkul bahu gadis itu agar mendekat.

“Kau sendiri yang bilang kau mudah sakit kan?”

“…”

“Sekali lagi kau melamun. Aku berikan kau gelas cantik, Jihyunnie.”

Jihyun hanya tersenyum kecil. Pikirannya melayang jauh. Jaraknya dengan Jonghyun sangatlah dekat. Hangatnya tangan Jonghyun yang menyentuh bahunya terus mengedarkan kehangatan pada seluruh tubuhnya. Berada dalam payung yang sama dengan seorang namja adalah impian konyolnya. And secretly she wish Jonghyun was Minho. Kemudian gadis itu menertawakan pikirannya dengan miris, Minho mana pernah mau melakukan hal romantis—yang menurutnya sangat konyol–semacam ini.

“Tuh kan. Sekali lagi ku pergoki kau melamun, pipimu akan kucium.”

“Apa kau bilang?”

“Galak sekali sih kau. Aku kan hanya bercanda. Segitunya tidak mau kucium? Makanya jangan melamun.”

***

“Rumahku pagar putih yang di depan itu.”

“Yah. Kita sudah sampai?”

“Wae?”

“Aku masih ingin mengobrol denganmu. Boleh aku minta nomor ponselmu?”

“Itu-”

“Arraseo. Kau pasti tidak mau memberikannya kan? Kita bertaruh. Jika lain kali kita bertemu lagi, kau harus memberikan nomor ponselku padaku. Eotte?”

“Geurae. Ayo bertaruh.”

“Tapi kau jangan pura-pura tak melihatku jika kita bertemu lagi. Ok?”

“Baiklah. Terima kasih sudah mengantar.”

“Sama-sama. Aku juga senang bisa mengantarmu, gadis cantik.”

“Tsk. Rayuan kacangan. Bye!”

“Jihyunnie chankaman!”

“Apa lagi?”

“Jangan lupa minum obat sebelum tidur. Ah ya sebaiknya mandi air hangat dulu agar kau tidak sakit. Bye!”

***

Jangan lupa minum obat sebelum tidur. Ah ya sebaiknya mandi air hangat dulu agar kau tidak sakit. Bye!

Perlahan tapi pasti, senyum bahagia terukir di wajah Jihyun. Ini adalah pertama kalinya ia diperhatikan oleh namja. Minho? Mana pernah ia seperhatian ini. Sesekali mengucapkan selamat tidur lewat pesan singkat saja tak pernah dilakukannya.

Teringat Minho, Jihyun mengecek ponsel yang ia kantongi.

“Hhhh aku sudah tau akan seperti ini.”

Dimatikannya ponsel putih itu ketika tak didapatinya satu pesan ataupun telepon dari Minho. Jika tak dimatikan, ia akan ribuan kali mengecek ponsel—memastikan ada tidaknya pesan atau telepon dari namjanya. Tapi ia tak mau kecewa lagi. Minho sudah sering melanggar janji. Dan ia tau kali ini juga takkan ada pengecualian.

***

“Yeobseyo, Jihyun-a…”

“Minho?”

“Iya. Ini aku. Kita berkencan sore ini. Ku jemput di rumahmu tepat pukul 5 sore. Oke?”

“K-k-kencan?”

“Iya, sudah lama kan kita tidak kencan? Kau boleh pilih tempatnya.”

“Sungguh?”

“Iya. Sudah ya. See you later.”

Bip

Jihyun masih mematung di tempat tidurnya. Apa barusan ia bermimpi? Minho mengajaknya berkencan? Seketika itu juga rasa bahagia membuncah di dadanya.

Setelah yakin semuanya bukan mimpi, gadis itu bergegas membuka lemari pakaiannya.

***

Gadis manis bernama Song Jihyun itu tengah termenung di depan meja riasnya. ia sedang berdebat dengan pikirannya sendiri. Gadis itu ragu setelah melihat pantulan wajah bermake up-nya dihadapannya.

sebenarnya, Jihyun terlihat amat cantik. Tapi ia terlalu takut dengan pendapat Minho. Selama ini ia tak pernah berdandandan. Ia takut Minho tidak menyukai wajah bermake upnya. Tapi bagaimanapun ia ingin sekali saja, bisa membuat Minho terkesan.

Setelah memikirkan semuanya matang-matang, dihapusnya semua riasan wajah yang menempel pada wajahnya. saat menghapus make up, ada sedikir rasa sedih yang menghinggapinya. Bagaimanapun diajak kencan Minho adalah hal yang jarang terjadi. Dan pada kesempatan langka ini, Jihyun tidak jadi mengesankan Minho.

Make up sudah sepenuhnya hilang. Sebagai ganti ia mengoleskan bedak bayi pada wajahnya. Tak lupa cologne beraroma buah juga ia kenakan. Ya, Song Jihyun memang selalu seperti itu.

Drrt drrt

Ponsel gadis itu bergetar. Ada panggilan masuk dari namjanya. Senyum lebarnya merekah indah.

“Yeobsaeyo, Minho-ya. Apa kau sudah sampai di depan rumahku?”

“Itu… Jihyun-a, mianhae. Sepertinya kencan kita harus dibatalkan.”

“K-kenapa memangnya?” tanya Jihyun perlahan. Air matanya sudah mengalir turun.

“Aku ada pertandingan mendadak. Ini sangat urgent. Aku sudah menolak untuk ikut, Jihyun-a. Percayalah. Tapi mereka tetap memaksa. Maafkan aku. Kau tau kan betapa pentingnya posisiku dalam tim?”

“Arraseo. Selamat bertanding, Minho-ya. semoga timmu menang.”

“Maaf ya Jihyun. Nanti malam aku akan ke rumahmu sebagai gantinya. Sekali lagi maaf.”

“Gwencanha.”

Bip.

Berapa kali lagi Minho akan terus begini?

***

Jihyun memutuskan untuk mendatangi café ketika gerimis turun. Ia baru saja berjalan-jalan sendirian untuk menghilangkan rasa sedihnya. Setelah masuk café, dipilihnya bangku yang terletak di dekat jendela. Dari sini ia bisa melihat gerimis dan beberapa orang yang berlalu lalang.

Ketika teringat kencannya yang batal, ia menyandarkan dagunya di meja sambil meniup poninya pelan. Rasa sedihnya kembali menyeruak. Air mata yang kembali turun ia tutupi dengan kedua tangannya yang bersedekap di atas meja.

“Sudah kubilang kita berjodoh. Kau sendirian kan? Berarti aku boleh duduk disini kan?”

Jihyun mendongkakan kepalanya sebentar ketika merasa disapa seseorang. Seketika itu juga ia melihat Jonghyun dengan senyum khasnya, “Terserah.”

“Aigo… Kenapa kau terlihat sangat tidak bersemangat? Aku pesankan hot chocolate ya? Di café ini hot chocolate-lah yang paling enak.”

“Aku sedang tidak mood.”

“Justru itu. Tidak pernah kah kau dengar kalau coklat itu bisa mengembalikan moodmu?”

“Terserah.”

“Kita bertemu lagi. Berikan aku ponselmu!”

“Aku tidak bawa ponsel.”

Liar. Sini berikan. Aku bukan penjahat. Aku tidak akan menerormu dengan sms semacam mama minta pulsa kok.”

“Aku tidak mau. Kita tidak cukup dekat. Bertemu pun baru dua kali. Aku tidak suka memberikan nomor ponsel pada orang asing.”

“Tapi kau sudah berjanji padaku. Melanggar janji itu tidak baik.”

“Jonghyun-sshi. Bisakah tinggalkan aku sendiri? Aku sedang bersedih.”

“Arra. Aku tau kau sedang sedih,” dengan cekatan ibu jari Jonghyun mengelap air mata Jihyun yang belum sepenuhnya mengering. Jihyun membeku sampai lupa untuk menyingkirkan tangan Jonghyun dari wajahnya. “Maka dari itu aku disini. Aku akan buat kau melupakan kesedihanmu.”

“…”

“Kita buat perjanjian. Jika aku bisa mengembalikan senyummu, kau harus berikan nomor ponselmu sebagai imbalan. Setuju?”

***

“Untuk apa membawaku kemari? Bukankah kita sudah cukup tua untuk bermain di taman kanak-kanak?”

“Tidak ada yang terlalu tua untuk bersenang-senang. Tempat ini tempat dimana aku bersekolah dulu. Ayo naik ayunan itu. Aku akan mendorongnya untukmu.”

Jihyun akhirnya mengikuti Jonghyun yang sudah berlari girang bak anak kecil yang diajak ke universal studio oleh orang tuanya.

***

“Pegangan yang erat! Aku akan mendorongmu sampai ayunanmu setinggi mungkin! Na.. Dul.. Set!”

“KYAAAAAAAA JONGHYUN-A!!!”

“Lagi ya? Kali ini akan lebih tinggi.”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Senyum Jihyun perlahan mulai tampak. Kesedihannya karena batal kencan dengan Minho sedikit berkurang setelah bersenang-senang di sebuah taman kanak-kanak.

Jihyun melirik Jonghyun yang tepat berada di ayunan sebelahnya. “Mau gantian? Aku mau kok mendorong ayunanmu.”

Jonghyun malah tertawa dan bangkit dari ayunannya. Diusapnya kepala Jihyun gemas, “Tidak perlu, Jihyunnie. Seorang pangeran hanya perlu melayani putrinya tanpa minta dibalas. Kau mau ice cream?”

***

Setelah kepergian Jonghyun, Jihyun hanya tinggal sendiri disana. Pikirannya terus mengulang adegan ketika Jonghyun mengusap kepalanya. Mengusap kepala adalah salah satu perbuatan paling romantis yang Jihyun pernah terima dari Minho. Itu juga hanya sesekali.

Lagi-lagi Minho memenuhi pikirannya.

Drrt drrt

Minho calling

Panjang umur sekali namja ini. Untuk apa dia menelepon? Dengan malas Jihyun mengangkat panggilannya. Bukan apa-apa, namja itu pasti akan marah jika Jihyun mengabaikan teleponnya.

“Yeob-”

“DIMANA KAU?”

Deg. Jihyun tersentak kaget. Apa barusan Minho sedang meneriakinya?

“A-a-aku sedang ada di luar rumah,”

“AKU TAU ITU! AKU SEDANG ADA DI DEPAN RUMAHMU. IBUMU BILANG KAU TIDAK DI RUMAH. KAU PERGI KEMANA? BUKANKAH SUDAH KUBILANG KITA AKAN KENCAN? AKU TUNGGU SEPULUH MENIT LAGI DISINI”

Buru-buru Jihyun berlari menuju rumahnya. Ia tau Minho tengah marah besar.

Hanya ada satu penjelasan. Pertandingan sudah selesai dan timnya kalah. Jihyun sudah hapal tabiat Minho. Sudah sering Jihyun jadi bulan-bulanan pelampiasan kekalahan Minho.

Minho benci kekalahan. Amat benci. Ia akan menyalahkan diri sendiri. Tapi semenjak punya pacar, Minho jadi punya sasaran pelampiasan. Bentakkan sudah makanan sehari-hari bagi Jihyun. Ia sudah kebal. Tapi Jihyun tidak tahan dipandang dengan tatapan tajam Minho. Belum lagi makiannya. Tapi jangan salah, namja itu tidak pernah main tangan.

“Aw!”

Jihyun tersandung batu. Saking terburu-burunya, Jihyun sampai tidak fokus pada jalanan. Dengkulnya tergores. Darah mengalir perlahan. Tapi Jihyun tidak perduli. Ia tetap berlari walau rasa perih terus menderanya.

***

Jonghyun tidak mendapati siapapun sekembalinya ia dari kedai ice cream.

“Kemana gadis itu? Dia tidak mungkin kabur kan?”

Tidak tertarik memikirkannya lebih jauh, Jonghyun dengan santai mulai menjilati ice cramnya sambil mulai melangkah meninggalkan arena bermain.

“Time for hunting girls…”

***

Napas Jihyun terengah-engah begitu sampai di depan rumahnya.

Sial, mobil di rumanhnya tidak ada di garasi. Berarti kedua orang tuanya tidak ada di rumah. That’s mean… Minho akan semakin leluasa memarahinhya.

“BUKANKAH AKU BILANG WAKTUMU LIMA MENIT?”

“Minho-ya. Di telepon kau bilang sepuluh-”

“AKU BILANG LIMA! JANGAN MEMBANTAH!”

Jihyun mendengus sebal dalam hati. Ya, Minho memang tak pernah mau salah.

“Pakai helmmu.”

Jihyun dengan cekatan mengambil lemparan helm Minho. Gagal satu rencana Minho. Padahal dia inginnya Jihyun gagal menangkap agar helmnya jatuh. Dengan begitu Minho bisa memarahinya kan?

“Kita mau kemana? Aku tidak mau pergi. Lebih baik di rumahku saja.”

“AKU BILANG PERGI YA PERGI!”

Dengan gemetar Jihyun mulai menaiki motor sport Minho.

“Pegangan!”

Pegangan? Apa Jihyun salah dengar? Jihyun tidak pernah diperbolehkan untuk berpegangan pada Minho saat ia sedang dibonceng selama ini. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba…

“AKU BILANG PEGANGAN! APA KAU TULI?”

Dengan kasar Minho menarik paksa kedua lengan Jihyun. Saking kerasnya, kedua lengan mungil yeoja itu sampai memerah. Jihyun menahan ringisan sakitnya. Tau akan seperti ini, lebih baik tidak usah pegangan saja selamanya.

***

Pegangan Jihyun mengerat seiring dengan ketakutannya. Minho sepertinya ingin membuat Jihyun mati. Namja ini mengendarai motornya dengan kecepatan full. Lampu merah diterjang. Orang tengah menyebrang tak ia berikan jalan. Puluhan kali mereka hampir menabrak kendaraan lain. Ratusan kata makian sudah Jihyun dengar dari orang-orang.

“Minho-ya, aku takut,”

“Apa aku peduli?”

Dan Jihyun hanya bisa berdoa. Semoga saja ajalnya tak datang hari ini.

***

Satu jam kemudian mereka sampai di apartemen Minho. Jihyun masih tidak bisa percaya bahwa dirinya masih hidup hingga detik ini.

Sang pengendara gila dengan santainya melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemennya. Ia melangkah tanpa beban, sepenuhnya lupa bahwa ia baru saja hampir membuat dua nyawa manusia melayang.

Dengan enggan Jihyun mengikuti langkah Minho ke apartemennya.

***

“Minum dulu…” seru Jihyun.

Jihyun menyodorkan segelas orang juice pada Minho. Tapi namja itu tak bergeming dari posisi menonton TVnya. Sepenuhnya mengabaikan Jihyun.

Sudah setengah jam Minho sibuk dengan dirinya sendiri. Lalu untuk apa ia membawa Jihyun kemari?

Jihyun seperti orang bodoh yang terus saja berbicara sendiri.

***

Bosan dengan TV, Minho mematikannya. Dibantingnya remote TV ketika ia teringat kekalahan timnya hari ini. Rasa kesalnya masih diubun-ubun.

Tak sengaja menoleh dan ia mendapati Jihyun tengah tertidur. Minho perlahan mengelus pipi yeojanya pelan. Jihyun terlihat begitu polos ketika tidur. Dan Minho menyukainya. Baru kali ini ia melihat Jihyun tidur.

Dengan perlahan, diangkatnya badan Jihyun menuju kasurnya.

***

Harusnya Minho langsung pergi ketika selesai menidurkan Jihyun di kasurnya. Lihat apa akibatnya jika Minho malah memutuskan untuk berbaring di sebelahnya sambil terus memandangi wajah angelicnya. Tangannya ketagihan. Disentuhnya semua bagian wajah Jihyun.

Pipinya terasa sangat halus. Hasrat Minho mengatakan untuk mengecupnya.

Perlahan, dikecupnya kedua pipi gadis itu.

Tak cukup sampai situ, ketika melihat bibir pacarnya, tiba-tiba gejolak memenuhi tubuh Minho. Tak kuat menahan nafsunya, diciumya bibir lembut yang baru sekali ini ia rasakan.

***

Jihyun merasa tubuhnya tengah digerayangi. Ia tersentak kaget ketika bajunya sudah turun sampai sebatas dada. Lebih tersentak lagi ketika ia mendapati tangan Minho yang sedang menggapai kaitan branya. Sang pemilik tangan tidak menyadari bangunnya Jihyun karena ia tengah asik menciumi leher gadisnya.

Buru-buru Jihyun mendorong Minho sampai ia tersungkur di lantai. Ditariknya selimut sampai menutupi tubuhnya yang terekspos. Ya Tuhan… Apa yang tengah Minho lakukan barusan?

“Tubuhmu bagus. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

Plak.

Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi Minho.

“APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?”

“Bukan apa-apa. Kita bahkan belum memulai apapun.”

“K-k-k-kau mau apa?” tanya Jihyun panik begitu Minho merangkak naik ke kasurnya.

“Melanjutkan yang belum selesai, tentunya.”

“AKU TIDAK MAU!”

“BARUSAN KAU BERANI MENAMPARKU. TADI MEMBENTAK. SEKARANG SUDAH BERANI MENOLAK PERMINTAANKU?”

Minho terus mendekati Jihyun. Posisi gadis itu terjepit. Kini ia dihimpit Minho dan tembok. Ia tak bisa mundur dan menghindar lagi.

Air matanya mengalir deras.

“Jangan Minho. Jangan,”

Plak.

“Berani menolak sekali lagi, kau menantang maut.”

“SIAPAPUN TOLONG AKU!”

Minho menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia tertawa mengejek Jihyun.

“Kau mau minta tolong siapa, sayang? Tetanggaku tidak akan ada yang peduli,”

“SESEORANG AKU MOHON TOLONG AKU!”

Jihyun terus berteriak. Selalu ada harapan. Jihyun tidak boleh menyerah jika ia ingin seseorang datang menolongnya.

Brak

Jihyun dan Minho menoleh kearah pintu apartemen Minho yang didobrak seseorang. Jihyun lega sekali. Akhirnya ada juga penyelamat yang datang.

“Choi Minho, apa yang sedang kau lakukan? Dan bukankah kau adalah Nona Song Jihyun?”

Jihyun tidak begitu memperhatikan sang penyelamat sampai ia mendengar suaranya. Bukankah itu suara Jonghyun?

—TBC—

 

 

13 thoughts on “Uncaring Boyfriend Vs Caring Playboy (Part 1)

  1. Peran minho disini jahat banget. Gregetan bacanya. Tapi aku rada aneh sama jonghyun. Dia selalu ada pas OC nya lagi kesusahan. Kesannya kaya pahlawan banget. Tapi serius itu kerennn
    keep writin onnie

  2. Omo! g nyangka minho sejahat itu..
    jihyun sm jonghyun aj klo gt..eh tp jjong playboy -_-
    ngomong2 sikap cueknya minho ngigetin aku sm someone kkkk
    Byulgi-ya lanjutannya jan kelamaan yaa..

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s