When Nickhun Really Got Married (Part 7)

image

Title: When Nickhun Really Got Married (Part 7)
Author: angangels
Main Cast: Nickhun Buck Horvejkul, Jung Byulgi (OC/You)
Support Cast: Jang Wooyoung, Kim Minjun (Jun. K), Ok Taecyeon, Nichan Horvejkul
Length: Chaptered
Rating: PG-15

Happy reading and do leave comment please😀

Sebulan terasa bagai satu dekade. Satu hari tanpa melihat atau berkomunikasi dengan Byulgi terasa bagai setahun bagi Nickhun.

Khun sengaja tak menemui Byulgi–sesuai kemauan yeoja itu tentunya. Ia tak mau gegabah, karena bisa saja jika ia nekat menemui gadis itu, yeoja itu akan lari. Benar-benar pergi dan takkan kembali. That’s why. Bersabar sedikit lebih baik daripada nantinya harus menderita seumur hidup.

Dengan hati berbunga dan langkah yang ringan, Khun melangkahkan kakinya menuju apartemen yeojanya. Tak sabar, sesekali langkah cepatnya berubah jadi lari-lari kecil. Senyum di wajahnya tak juga lenyap.

***

“Byulgi agasshi sudah pindah dari apartemen ini seminggu yang lalu.”

Khun melangkah dengan gamang. Pikirannya melayang entah kemana. Bahkan ia tak tau kemana ia akan pergi. Ia hanya mengikuti langkah kakinya tanpa banyak berpikir lagi.

Tak lama ia berhenti ketika ia menemui sebuah pintu. Langkahnya ternyata membawanya ke tempat ini. Ruang latihan dance JYP building.

Dibukanya pintu yang tak terkunci itu. Setelahnya ia menyalakan lampu dan duduk termenung di pinggir ruangan. Pandangannya menerawang lurus.

Tiba-tiba pikirannya memutar ulang kenangannya.

Byulgi duduk manis sambil melihat namjanya sedang latihan dance. Gara-gara bolos latihan untuk menemui gadis itu, Khun dihukum untuk latihan sendirian hari ini. Nickhun sama sekali tak merasa menyesal sudah bolos. Hey, dia bahkan bisa latihan sambil ditemani gadisnya! Hal itu takkan bisa ia dapatkan jika 2PM latihan lengkap. Yeah, mungkin lain kali Khun harus lebih sering bolos latihan agar bisa berduaan dalam ruangan dance dengan gadis yang sangat ia cinta itu.

Setelah merasa cukup latihan, Khun ikut duduk disamping gadis itu. Dengan cekatan Byulgi memberinya minum. Selagi Khun menegak minumannya, tangan Byulgi bergerak perlahan menghapus keringat namja itu dengan handuk.

“Capek?”

“Sedikit. Tapi karena ada dirimu, aku jadi tidak capek lagi.”

“Tsk. Cheesy man!” seru Byulgi sambil melempar handuknya pelan ke wajah Khun. Khun hanya tersenyum dan merapatkan jarak mereka.

“Kita hanya berduaan loh, di ruangan ini…”

Byulgi terus memundurkan tubuhnya ketika Nickhun memajukan tubuhnya. Smirk namja itu terlihat cukup mengerikan.

“Mau apa kau?” tanyanya sambil menahan dada namja itu. Kini Byulgi sudah sepenuhnya terbaring di lantai.

“Menurutmu, princess?” jawab Khun sambil perlahan menyingkirkan kedua lengan yang menghalanginya.

“Tuan pervert. Kumohon hentikan.”

“Pervert? We’ll see se-pervert apa diriku.”

Byulgi sudah menutup matanya pasrah ketika Khun mendekatkan wajah tampannya pada wajahnya. Sedikit lagi bibir mereka akan menempel satu sama lain.

Nickhun kemudian terkikik geli. Gadis itu sungguh terlihat ketakutan. Yeah, Jung Byulgi memang seperti itu. Gadis mana lagi sih di dunia ini yang selalu menolak berciuman dengannya selain gadis itu? Walau hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, kissing mereka bisa dihitung jari. Tapi Khun tak pernah mempermasalahkan itu. Baginya menunjukkan rasa cinta tidak harus selalu dengan kissing. Ia juga lebih prefer memeluk atau mencium kening gadis itu untuk menunjukkan rasa cintanya.

Setelah puas menggoda sang gadis, Khun menarik tubuh gadis itu lalu memeluknya. Mereka berpelukan sambil terduduk. Ketika Byulgi menatap bingung pada Nickhun, namja itu mencium keningnya lama.

“Saranghaeyo. Yongweonhi.” bisik Khun pelan.

“Hyung?”

Lamunan Khun buyar begitu mendengar suara Wooyoung.

“Hyung sedang apa disini?”

Nickhun membisu. Rasa sedihnya makin menyesakan dada ketika mengingat gadisnya pergi meninggalkannya begitu saja. Kenapa gadis itu harus pergi? Apa salah Khun padanya?

“Hyung! Kau… Menangis?”

Khun masih terdiam. Mati-matian ia berusaha menghentikan cucuran air matanya. Ia ingin cerita pada Wooyoung. Ia harus membagi ceritanya agar sesak dalam dadanya berkurang sedikit.

“A-aku-”

Gagal. Tangisnya tak bisa ia hentikan. Rintihan tangis Nickhun begitu terdengar pilu. Rintihan itu menyayat hati Wooyoung. Tanpa banyak bertanya lagi, Wooyoung menepuk-nepuk pundak hyung favoritnya itu.

“Jika Hyung belum sanggup, jangan paksakan. Jangan takut. Aku akan ada di sisimu untuk mendengar ceritamu. Kapanpun itu.”

***

One week later…

“Khun, kau belum siap?” tanya Minjun.

“Duluan saja. Aku tidak tertarik ikut party.”

Wooyoung menghela napas pelan. Sudah seminggu ini Khun terus murung. Hidup namja itu terlihat mengerikan. Ia hanya akan tersenyum ketika kamera on. Tapi jika off cam? personalitynya berubah drastis. Khun akan buru-buru masuk dalam kamarnya dan mengunci diri, meratapi nasibnya.

Wooyoung sudah tidak sanggup lagi melihat hyungnya meredup. Didobraknya paksa pintu kamar Nickhun.

“Sudah cukup, Hyung! Memangnya gadis itu siapa sampai bisa membuatku seperti ini? Hanya karena ibu dan adikmu belum menerimanya, ia langsung menyerah begitu saja? Gadis macam apa itu? Sudah Hyung jangan lagi terus terlarut dalam kesedihan. Gadis macam itu tak pantas membuatmu jadi terpuruk seperti ini. Syukurlah ia memutuskan pertunangan kalian. Masih untung kau belum menikahinya. Gadis itu tak pantas untukmu Hyung!”

Plak

Sebuah tamparan keras mendarat kasar di pipi kanan Wooyoung. Wooyoung agaknya cukup shock.

Nickhun tak kalah terkejut. Ia refleks begitu saja. Ia tak suka mendengar gadis yang ia cintai dicela orang.

“Mian Wooyoung-a. Tapi kau sudah keterlaluan. Kau tak berhak menjelekkan Byulgi seperti itu! Gadis itu segalanya bagiku. Dan kami masih bertunangan. Tidak ada yang putus.”

“Kalau begitu kejar dia Hyung. Jangan terus bersedih dan berdiam diri. Kau pikir ia akan kembali begitu saja hah? Kejar dia Hyung! Yakinkan ia kalian mampu menghadapi rintangan ini.”

“Tidak, Woo. Aku inginnya ia kembali sendiri padaku. Aku ingin tau apa ia juga mencintaiku. Aku ingin tau apa ia mampu hidup tanpaku-”

“Tapi jika cintanya tak sebesar itu untuk kembali padamu, bagaimana? Bagaimana jika hidupnya berjalan baik tanpamu? Bagaimana jika hanya kau yang terpuruk sendirian? Bagaimana Hyung? Bagaimana?”

***

One month later

“Nickhun kemana? Tidak sarapan lagi?” tanya Taec.

Semua member mengangkat bahunya tanda tidak tau. Wooyoung yang tau pasti, malah memilih berpura untuk tidak tau apapun.

Wooyoung jengah sekali. Omongannya bulan lalu sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh Khun. Namja itu masih saja terus menyiksa diri. Sekarang bahkan makin parah. Senyum juga tawa Khun tak pernah terlihat sebulan terakhir ini. Khun menyibukkan dirinya dengan puluhan job. 16 jam dalam sehari ia akan terus bekerja non stop. Berangkat fajar dan kembali pada tengah malam. Setelahnya Khun takkan langsung tidur. Ia akan mengaransemen lagu ataupun menulis lirik. Seakan belum cukup, ia masih akan latihan sendiri di ruang dance dari jam 2 sampai setengah 4. Jam 4 ia baru akan tidur–itupun kalau ia sudah meminum obat tidurnya–kemudian bangun lagi pada pukul 5.

Wooyoung sudah ratusan kali memperingatkan Khun agar tak merusak diri. Beruntung coordi noona mereka sangat amat professional dan sanggup menyamarkan wajah pucat dan mata panda Khun dengan balutan make up sempurna. Jadi fans bisa dibodohi dan tidak curiga bahwa Khun sedang punya masalah.

Wooyoung yang lelah omongannya selalu diacuhkan, akhirnya menyerah dan memilih untuk bersikap tidak peduli. Walau kadang ia masih sering ikut merana ketika tak sengaja mendengar senggukan Khun saat tengah malam, ia berusaha tak menggubrisnya.

***

“Noona?”

Byulgi terkejut setengah mati ketika bertemu Wooyoung di perpustakaan kota Busan. Dengan panik, ia berusaha melarikan diri.

Tapi jangan sebut 2PM beastly idol jika membernya tak sanggup mengejar lari seorang gadis. Hanya butuh tiga detik bagi Woo untuk menghentikan Byulgi dengan menahan pergelangan lengan kirinya.

***

“Kenapa kau bisa ada disini? Aku tau home townmu memang di Busan. Tapi Busan luas dan aku tak memperkirakan akan bertemu denganmu.”

“Kenapa kau meninggalkan hyung?”

“Rumahmu di daerah mana? Sedang apa kau di perpustakaan?-”

“Jangan alihkan pembicaraan, Noona.”

“Kau terlihat menyeramkan.”

“Bagaimana bisa aku tidak menyeramkan ketika aku tengah berhadapan dengan gadis yang sudah dengan teganya meninggalkan dan membuat hyungku terpuruk?!”

Nyali Byulgi menciut begitu mendengar perkataan tegas Wooyoung. Tatapan ramah yang biasa ditampakkan Wooyoung tak lagi terlihat. Yang ada hanyalah tatapan tajam penuh amarah.

“Jika kau ingin membuat hidup hyung hancur. Kau berhasil, Noona. Sangat berhasil. Selamat.”

“Aku meninggalkannya bukan tanpa alasan. Kau pikir aku meninggalkannya begitu saja huh? Tentu saja tidak. Aku bahkan harus meyakinkan diriku sendiri bahwa keputusanku untuk meninggalkannya adalah jalan terbaik.”

“Terbaik darimananya? Hyung hancur karnamu! Itu yang kau bilang jalan terbaik? Kau mungkin bisa hidup baik tanpa hyungku. Tapi hyung tidak bisa, Noona. Ia terlalu mencintaimu. Kau egois!”

“Tau apa kau tentang hubungan kami?!” seru Byulgi setengah berteriak. Ia frustasi. “Ini semua tidak sesederhana kelihatannya. Semuanya terlalu rumit Woo!”

“Arra! Aku mungkin tidak mengerti. Tapi jebal Noona, pikirkan sedikit perasaan Khun hyung. Dia menyiksa diri. Ia bagai mayat hidup sekarang. Jangan lari dari masalah seperti ini, Noona. Aku tau mungkin masalah restu bukan hal sepele. Tapi masalah hadir bukan untuk dihindari melainkan diselesaikan. Semua masalah pasti punya jalan keluar. Aku mungkin terlihat sok tau. Aku tau kau mungkin hanya akan menganggapku bocah kecil yang sok mengerti. Aku mungkin memang unexperienced dalam hal dating. Tapi aku bisa lihat hubungan kalian yang sudah amat kuat. Aku yakin masalah ini pasti bisa kalian hadapi. Ayolah Noona, jangan menyerah karena ini. Aku yakin cintamu pada hyung sama besarnya.”

“Andai semuanya memang sesederhana itu. Semuanya bisa beres hanya karena cinta kami.”

“Jangan menyerah, Noona! Jadi kapan Noona akan menemui Khun hyung?”

“…”

“Ya Tuhan. Jangan bilang kau masih tak mau menemuinya. Hyung salah apa padamu? Yang salah ibu dan adiknya, lantas jangan tumpahkan kekesalanmu pada hyung. Hanya kau yang mampu mengembalikan hyung seperti sedia kala.”

“Entahlah, Woo. Aku belum siap untuk kembali menemui Khun.”

“Noona jebal. Aku sudah tak kuat mendengar tangisan tertahan hyung tiap malam. Aku sudah tidak sanggup melihat hyung yang bahkan harus minum obat tidur hanya untuk bisa terlelap. Hyung kehilangan berat badannya bahkan hingga tujuh kilo! Bagaimana tidak?! Hyung tak mau makan, dia bekerja non stop, pikirannya kacau, bicarapun seperlunya. Aku sudah tidak kuat lagi Noona. Aku mohon… Temui dia walau hanya lima menit. Please.”

“Najunge…”

Wooyoung menatap tak percaya pada Byulgi. Mengapa yeoja itu tidak terlihat peduli? Tidak bisakah ia membayangkan separah apa kondisi Nickhun lewat ceritanya? Tak punya hati kah gadis itu?

“Aku pasti akan menemuinya suatu saat nanti. Tapi aku mohon jangan katakan pada Khun tentang keberadaanku di Busan. Berpuralah kita tidak pernah bertemu hari ini. Aku tidak bermaksud mengancam, tapi maaf. Jika Khun sampai tau keberadaanku, aku takkan pernah kembali padanya sampai kapanpun.”

***

Byulgi melemparkan tas kecilnya asal di kasurnya. Bertemu Wooyoung di Busan sungguh bagaikan shock teraphy baginya. Bagaimana jika Wooyoung memberi tau Khun tentang keberadaannya?

Hidup Byulgi sama kacaunya dengan Khun. Hanya saja tidak ada yang mengetahuinya. Rasa rindunya pada namja itu selalu bertambah tiap detik. Jika gadis itu terlihat hidup dengan baik, itu hanya kelihatannya saja.

Ia juga tak menyangka ternyata Khun sudah menjadi bagian yang amat penting dalam hidupnya. Awalnya ia kira dengan pergi ke Busan, ia akan bisa melupakan namja itu. Ia berharap akan terbiasa hidup tanpa keberadaan Khun disisinya. Tapi apa daya jika batinnya menjerit setiap hari karena ingin kembali ke sisi namja itu?

Andai hubungannya dengan Nickhun tak ditentang ibu dan adik dari namja itu, Byulgi pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Tapi Byulgi tau, hidupnya bukanlah fairytale. Dia bukanlah upik abu yang akan hidup bahagia dengan pangerannya. Byulgi hanyalah gadis biasa. Dan hidupnya tidaklah sesederhana fairytale.

***

Byulgi lari terburu-buru begitu diberitau bahwa ia dipanggil oleh atasannya.

Gadis itu sekarang tengah bekerja di sebuah perusahaan ternama yang menjual segala sesuatu tentang sport. Ya, semenjak ia pindah ke Busan, pekerjaannya di Seoul pun harus rela ia lepaskan.

“Memanggilku, tuan?”

“Ya. Byulgi agasshi, hari ini brand ambassador kita yang baru akan datang. Kau harus mengurusi semua keperluannya. Kau akan ikut dia ke Jeju. Kita akan menshoot CF di sana.”

“Ne. Algaeseumnida.”

“Harusnya setengah jam lagi ia sudah sampai di kantor ini. Ketika ia sampai nanti kita akan langsung mengadakan rapat. Sore ini juga kalian harus berangkat ke Jeju karena schedule kita akan padat sekali.”

“Ne. Arasseoyeo.”

***

“Brand ambassador kita sudah datang! Kau tau tidak siapa ia???” jerit rekan kerja Byulgi semangat.

“Nugu?”

“NICKHUN 2PM! Ya Tuhan… Mimpi apa aku semalam sampai bisa bertemu langsung dengan namja tampan itu?”

Deg.

Nickhun?

***

“Annyeonghaseyo, Nickhun imnida.”

Perasaan Byulgi campur aduk rasanya. Ia kaget sekali begitu brand ambassador yang baru itu memasuki ruangan rapat. Diantara ribuan idol, kenapa harus Nickhun?

Sepanjang rapat Byulgi berusaha tak menatap Khun. Ia berpura sibuk mencatat dan melakukan sesuatu. Apapun asal bisa membuatnya tak memandang namja itu.

***

“Nickhun-ssi, ini Byulgi agasshi. Ia yang akan menjadi asistenmu untuk pemotretan anda di Jeju. Semua urusanmu akan diurus oleh Byulgi agasshi.”

“Annyeonghaseyo, Nickhun imnida. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya, Byulgi agasshi?”

Byulgi terpaksa membalas jabatan tangan Khun karena bosnya sudah memelototinya. Nickhun dihadapannya ini bukan Nickhunnya. Nickhun sudah berubah. Sedari tadi Khun bertindak seolah tak pernah mengenal Byulgi. Namja dihadapannya ini bak orang asing baginya. Bukankah harusnya ia senang? Bukankah ini bagus jika sekarang Khun membencinya? Tapi mengapa Byulgi merasakan sesak di dadanya?

***

Entah Byulgi harus mengatakan apa pada situasi saat ini. Driver yang seharusnya mengantar ia dan Nickhun mendadak tak bisa dihubungi. Karena atasannya tau Byulgi bisa menyetir, diperintahkannya gadis itu untuk menjadi supir Nickhun. Dan disinilah ia, duduk hanya berdua dengan Nickhun dalam mobil. Untung Khun memutuskan untuk duduk di belakang.

Sepanjang perjalanan tak ada suara. Tidak ada yang membuka mulut walaupun hanya sekedar basa-basi. Nickhun benar-benar bersikap seolah tak kenal dengan Byulgi. Di belakang sana, Khun sibuk dengan gadgetnya.

Seharusnya Byulgi merasa lega. Tidak ada mellow drama. Tidak ada adegan peluk-peluk dan ucapan ‘aku merindukanmu’ seperti yang ia pikirkan. Syukurlah. Kelihatannya kini Khun sudah sangat membencinya.

***

Shooting hari ini berjalan cukup lancar. Tapi karena hujan lebat ia tak bisa kembali ke Busan malam ini. Ia terpaksa harus bermalam di hotel terdekat.

Bertemu Jung Byulgi hari ini sungguh merupakan kejutan bagi Nickhun. Hingga detik ini rasanya ia masih tak bisa mempercayai fakta itu. Saat pertama melihat gadis itu di ruang rapat, rasanya Khun ingin langsung berlari lalu memeluk erat gadis itu tanpa melepasnya lagi. Tapi ia tak melakukan itu karena tau ia akan kehilangan gadis itu lagi jika ia nekat melakukannya. Saat hanya berduaan di dalam mobil, ingin sekali Khun menghentikan mobilnya dan mengambil kemudi lalu membawa lari Byulgi kemanapun. Kemanapun itu asalkan mereka bisa terus hidup bahagia berdua.

Harusnya sekarang Khun tidur. Tapi apa daya matanya tak kunjung mengantuk. Bagaimana bisa ia tidur jika besok pagi ia sudah harus kembali ke Seoul dan kembali kehilangan gadis itu pada siang harinya? Gadis itu hanya akan menemaninya pada shooting hari ini. Walaupun Khun brand ambassador yang tentu saja tidak hanya akan sekali memasarkan produk, tidak ada jaminan jika di lain waktu Byulgi lagi yang akan menjadi asistennya seperti sekarang.

Nickhun bergegas bangkit dari posisi tidurnya. Ia lelah terus berpura tak mengenal gadis itu. Tanpa mengetuk, dibukanya kamar di sebelahnya.

Byulgi tengah tertidur. Gadis itu mungkin kelelahan. Khun berjanji dalam hati takkan membiarkan gadis itu menyetir esok pagi. Dengan perlahan, diangkatnya tubuh mungil gadis itu dari sofa. Setelahnya Nickhun membaringkan yeoja itu di ranjang.

Bekas air mata Byulgi terlihat belum mengering. Sehabis menangis kah ia? Apa ia juga sama sedihnya dengan Nickhun?

Telunjuk Nickhun bergerak menyentuh lekukan wajah gadis itu. Akhirnya, takdir kembali mempertemukan mereka. Bolehkah ia berharap jika mereka berdua memang berjodoh?

Di kecupnya kening gadis itu lama. Sudah berapa lama bibirnya tidak mendarat di kening gadis itu? Tiga bulan kah?

***

Byulgi terbangun ketika merasa keningnya di kecup seseorang. Dengan mata tertutup, ia bahkan bisa tau bahwa yang mengecup keningnya adalah Nickhun. Gadis itu menyangka ia hanya berhalusinasi. Tapi semua ini terlalu nyata. Dan ya, ternyata Nickhun memang tengah menciumnya. Untung saja dari awal Byulgi tidak membuka matanya. Dengan begini Khun akan menyangka bahwa ia masih tertidur.

Saat bibir Khun mendarat pada keningnya. Sengatan cinta itu muncul lagi. Rindunya pada namja itu makin membuncah.

Ketika Khun mengelus rambutnya dengan lembut, Byulgi kembali ke alam mimpinya.

***

Byulgi terkejut setengah mati begitu ia bangun dan mendapati dirinya tengah tertidur dalam dekapan Nickhun. Bagaimana ia bisa tidur seranjang dengan namja itu? Apa semalam Nickhun tidak kembali ke kamarnya ketika ia sudah mengelus rambutnya?

Buru-buru Byulgi melepaskan dekapan Khun sebelum namja itu terbangun.

“Mau kemana?”

Suara serak itu. Suara serak seorang Nickhun Buck Horvejkul yang tidak semua orang bisa mendengarnya secara langsung.

Byulgi hanya bisa membalas tatapan Khun dengan pandangan yang sulit namja itu artikan.

“Kenapa kau tega meninggalkanku? Apa sekarang kau puas?”

Bukannya menjawab, gadis itu malah sekuat tenaga melepaskan dekapan Nickhun. Tapi sekeras apapun gadis itu berusaha, dekapan Khun takkan mengendur sedikit pun.

“Lepaskan aku, Nickhun-sshi. Kita sudah harus kembali ke Busan sekarang juga.”

“Aku tidak peduli. Kau tidak akan bisa lari lagi dariku. Jawab aku! Kenapa kau menyuruhku menunggu lalu meninggalkanku begitu saja? Apa salahku padamu?”

“Lepaskan!”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi. Bagaimana bisa kau meninggalkanku?”

“Aku sudah memutuskan pertunangan kita! Aku dan dirimu sudah tidak ada hubungan lagi sejak saat itu. Jadi lepaskan!”

“Memutuskan pertunangan kau bilang? Tidak. Bagiku kita masih tunangan. Pertunangan tidak putus jika hanya satu pihak yang menghendaki. You’re mine. Melepas cincin lantas menyuruhku tak menemuimu sebulan penuh lalu kabur tidak akan membuat kau bisa pergi dariku begitu saja. Kau milikku dan kupastikan kau takkan pernah berpisah denganku.”

Isakan kecil perlahan terdengar oleh Nickhun. Gadisnya tengah menangis. Dieratkanya dekapannya pada gadis itu sambil mengelus rambut panjangnya.

“Geumanhae. Jebal. Jangan begini. Lepaskan aku. Kau juga harus hidup dengan baik tanpaku, Khun. Ya, aku memang mencintaimu. Tapi keadaan kita tak memungkinkan.”

“Kita bisa, sayang. Mom dan Cherrleen pasti lama kelamaan akan luluh. Jangan malah bertindak seperti ini, justru inilah yang mereka inginkan. Melihat kita berdua terpisah.”

“Tapi aku tidak bisa. Aku rasa kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama.”

***

“Sudah kubilang aku takkan membiarkanmu menyetir. Turun!”

“Maaf Nickhun-sshi, tapi aku sudah diperintahkan atasanku.”

“God! Berhenti bertindak formal!”

“Tidak bisa, Nickhun-sshi. Kita rekan kerja.”

“Tapi kita tidak sedang bekerja sekarang. Pikyeo!”

Mau tak mau Byulgi bergeser ke jok samping pengemudi ketika Khun memaksa masuk. Tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu mobil dan pindah ke jok belakang.

“Apa aku supirmu?” seru Khun dingin sambil mengunci pintu dengan kendali yang ada di dekatnya.

Lagi-lagi pembicaraannya dengan gadis keras kepala itu berujung buntu. Nickhun kesal bukan main pada kerasnya sifat gadis itu.

***

“Shooting hari ini sukses. Terima kasih untuk kerja samanya, Nickhun-sshi. Semoga ke depannya kerja sama kita akan terus berjalan lancar seperti ini.”

“Ah ya. Aku juga berharap seperti itu. Aku pamit pulang. Senang bekerja sama dengan kalian.”

Setelah menyalami beberapa staff, Nickhun melangkah menuju tempat parkir mobilnya.

Bingo! Tidak jauh dari situ Jung Byulgi tengah berdiri sendirian. Gadis itu tengah menunggu taksi.

Tin tin

“Ayo naik. Kuantar kau pulang.”

“Thanks untuk tawarannya Nickhun-sshi. Tapi anda tidak perlu repot. Anda bisa langsung kembali ke Seoul. Kudengar jadwalmu sungguh padat kan? Tidak usah berbaik hati mengantarkanku pulang karena itu hanya akan membuang waktumu.”

“Aku akan dengan senang hati membatalkan seluruh scheduleku hari ini. Jadi tidak ada alasan untuk menolak. Ayolah, tinggal beritau aku dimana kau tinggal sekarang ini.”

Byulgi melengos pergi begitu saja. Justru itu alasannya. Ia tak ingin diantar Khun karena dengan itu otomatis namja itu akan mengetahui rumah barunya. Kemana lagi Byulgi harus kabur jika persembunyiannya sudah ditemukan Khun?

Greb

Byulgi mendengus dalam hati. Kadang ia lupa kalau namjanya–ups, maksudnya mantan namjanya– adalah salah satu dari beastly idol. Byulgi mau berlari sekencang apapun, Khun pasti bisa mengejarnya dengan mudah.

“Lepaskan.”

“Kau membuatku frustasi! Apa susahnya memberitauku dimana tempat tinggalmu sekarang?! Bertemu denganmu disini tanpa sengaja merupakan hal yang tak pernah aku bayangkan. Mana mungkin aku melepasmu begitu saja ketika akhirnya Tuhan membuat kita bertemu lagi?”

“Kau juga sama! Kau membuat aku frustasi! Berhentilah bertindak seolah kau sedang mengemis cinta padaku! Aku bukan siapa-siapa! Aku tidak pantas kau kejar seperti ini!”

Tepat setelah gadis itu menuntaskan perkataannya, taksi berhenti. Buru-buru ia naik ke dalam taksi itu.

Nickhun berusaha mengejarnya dengan berlari. Akal sehatnya sudah tak mampu lagi memikirkan bahwa mengejar dengan mobilnya akan jauh lebih efektif. Yang ia tau hanya satu. Ia tak mau lagi kehilangan gadis itu.

Dalam taksi mati-matian Jung Byulgi menahan kepalanya agar tak menoleh ke belakang. Diabaikannya teriakan Khun yang memanggil namanya dengan lantang. Saat teriakan Khun tak lagi terdengar, rasa lega sedikit menghampirinya. Ia berharap Khun berhenti mengejarnya karena kelelahan.

Tapi jika saja Byulgi mau menolehkan kepalanya ke belakang, ia akan melihat Nickhun yang tengah jatuh pingsan.

***

“Minjae Hyung! Khunnie Hyung sekarang ada di rumah sakit!”

Dengan panik Wooyoung mengabari manager dan semua member 2PM. Bagaimana ia tidak panik? Siang tadi pihak rumah sakit Busan menelepon ke ponselnya bahhwa Nickhun pingsan di tengah jalan. Pihak RS menghubungi Woo karena di ponsel Nickhun, Wooyounglah orang yang terakhir ia hubungi.

Keadaan Khun tidak parah. Hanya saja namja itu harus istirahat total selama sebulan penuh. Kondisinya sangat drop. Jika dibiarkan ia bisa beresiko terkena banyak penyakit gawat. Akibat aksi menyiksa diri Nickhun, namja itu kini terbaring lemah di ruang ICU.

“Puas kau sekarang Hyung? Tubuhmu sudah drop. Ini kan yang kau mau?” seru Wooyoung kesal.

Nickhun terkekeh pelan.

“Kenapa kau marah? Anyway… Kau harus tau sesuatu. Aku kemarin bertemu Byulgi di Busan.”

‘Jadi Nickhun sudah menemukan keberadaan Byulgi?’ ujar Wooyoung membatin.

“Byulgi lagi! Byulgi lagi! Bisakah sedetik saja kau lupakan dia? Lihat siapa dalang di balik semua ini. Kau dirawat di RS karena siapa?”

“Jangan salahkan Byulgi. Gadis itu tak bersalah. Ini semua salahku.”

“Aku tidak pernah mengerti mengapa kau masih bisa mencintainya setelah semua yang ia perbuat padamu.”

***

Hari ini Wooyoung mengajak Byulgi bertemu di sebuah cafe yang sepi. Bagaimana Woo bisa menghubungi Byulgi? Mudah saja. Saat setuju untuk tutup mulut tentang keberadaan gadis itu di Busan, ia meminta nomor ponsel gadis itu. Awalnya Byulgi menolak. Tapi apa daya jika Woo mengancam akan membocorkan keberadaannya saat ini jika gadis itu tak memberikan nomor ponselnya?

“Puas kau sekarang huh?”

Tidak ada basa-basi. Tidak ada lagi sapaan ‘noona’. Belum juga gadis itu duduk, Wooyoung sudah melontarkan perkataan tajam seperti itu.

“Puas?” ulang gadis itu sambil menggernyitkan dahi.

“Hyung sekarang dirawat di ruang ICU.”

“Nickhun… Dirawat? Bagaimana bisa? Dimana ia dirawat? Apa dia masih di Busan?”

“Cih. Tak usah sok peduli. Jika kau memang peduli, dari awal kau takkan pernah meninggalkannya.”

***

“Woo, apa Byulgi datang?” tanya Khun ketika ia terbangun dari tidur siangnya.

“Tidak, Hyung.”

“Begitukah?” ujar Khun sedih, “Apa ia tak berniat menjengukku? Atau jangan-jangan ia tidak tau kalau aku sakit? Mungkin ia sedang sibuk makanya tidak melihat berita di TV. Jika ia tau aku sakit, ia pasti akan menjengukku bukan?”

“Stop Hyung! Berhenti menyebut nama Byulgi! Aku muak!”

“Andai aku bisa menghubunginya. Aku pasti akan cepat sembuh jika ia yang merawatku. Woo, maukah kau cari tau alamat Byulgi? Atau cari nomor ponselnya! Kau bukankah punya banyak teman di Busan? Bagaimana bisa kau tak pernah bertemu dengannya?” cerocos Nickhun–sepenuhnya mengabaikan kejengkelan Wooyoung.

“Busan luas, Hyung! Lagipula aku mana ada waktu untuk mencari gadis itu.” dusta Wooyoung lancar.

Wooyoung dongkol sekali pada Byulgi. Gadis itu tidak ada niatan sama sekali untuk menjenguk Khun. Padahal gadis itulah yang membuat semuanya jadi seperti ini.

***

Sudah seminggu dirawat, tidak ada tanda-tanda membaiknya kondisi Nickhun. Namja itu terus terbaring lemah di tempat tidurnya.

Member 2PM bergilir menjenguknya. Beberapa temannya juga sudah menjenguk. Tapi ada satu orang yang Nickhun tunggu kehadirannya. Jung Byulgi.

Wooyoung tau pasti tentang itu. Makanya, walau Woo sudah sebal sekali pada gadis itu, hari ini ia akan mencoba menemui gadis yang tak punya hati itu.

“Jujur saja, aku sudah lelah berurusan denganmu. Sifatmu keras sekali. Aku tidak tau apa yang membuat hyungku begitu menyukaimu.”

Dalam hati Byulgi mengiyakan pernyataan Wooyoung. Ya, gadis itu sadar sekali bahwa dirinya keras kepala.

“Sebenarnya aku sudah tidak mau berurusan lagi denganmu. Tapi apa daya, aku tidak punya pilihan lain. Untuk yang terakhir kalinya, sekali lagi aku mohon padamu, tolong temui hyung. Kondisinya tidak kunjung membaik. Setiap hari hyung menanti kedatanganmu. Bahkan tiap malam, dalam tidurnya ia selalu menyebut namamu.”

Andai Wooyoung tau, sejak hari dimana Byulgi tau bahwa Nickhun dirawat, gadis itu tak berhenti menangis tiap malam. Andai Wooyoung tau, bagaimana mati-matiannya Byulgi menahan diri agar tak datang ke RS. Setiap hari, Byulgi selalu datang ke RS itu. Tapi kemudian ia hanya akan terdiam di depan pintu masuk dan kembali pulang bahkan sebelum menginjakan kakinya ke dalam RS.

“Tentang aku yang keras kepala, kau benar. Dan harusnya kau tau pasti, Woo. Aku takkan menjenguk Khun apapun yang terjadi.”

“Bagaimana bisa ada gadis yang begitu menyebalkan sepertimu? Aku menyesal pernah mengenalmu. Kuharap hyung akan membuka matanya dan segera sadar bahwa gadis sepertimu tak pantas dicintai.”

***

“Khunnie! Oh My God!”

Nichan terkejut begitu mendapati keadaan adiknya yang tengah terbaring di RS.

“Nichan! Bagaimana kau bisa tau aku sedang dirawat?”

“Aku yang seharusnya bertanya! Kenapa kau tak mengabari kami kalau kau sakit? Mom yang paling worry!”

“Justru itu. Karena aku tak mau membuat kalian khawatir makanya aku tak memberi tau kalian.”

“Kau pikir ini permainan hah? Kesehatanmu itu urusan hidup dan mati!”

“Tsk. Berlebihan sekali. Aku tidak akan mati semudah itu. Tenang saja.”

***

“Jadi… Adikku seperti ini gara-gara gadis bermarga Jung itu? Gadis itu berkeras ingin memutuskan pertunangan setelah tak mendapat restu mom tapi adikku tak mau melepaskannya. Setelah gadis itu menghindari Khun, adikku itu tak lagi punya semangat hidup seperti ini. Tsk. Mellow sekali sih.”

“Begitulah Hyung, kurang lebihnya.”

“So… Kira-kira apa yang bisa kita lakukan?”

“Tepatnya kau Hyung. Kau bisa melakukan sesuatu.”

“Apa?”

“Temui Byulgi noona dan buat ia menjenguk Khun.”

“Hanya itu?” ujar Nichan mengentengkan.

“Let’s see apakah Hyung bisa membawanya dengan mudah. Aku sudah berkali-kali mencoba tapi gadis itu tetap berkeras untuk tak mau berhubungan lagi dengan Nickhun hyung.”

“Aku akan mencobanya. Aku tau pasti gadis itu sama cintanya dengan adikku. Aku bisa lihat itu dari matanya.”

***

Teng tong

“Sebentar,”

Byulgi membuka pintu rumahnya tanpa melihat intercome terlebih dahulu.

“Halo, adik ipar…”

“P’ Nichan…”

***

“Apa kabar?” tanya Nichan basa-basi.

“Baik…”

“Oh begitukah? Kau baik-baik saja sedangkan adikku merana karenamu.”

Sindiran Nichan begitu mengena. Tamparannya tepat sasaran.

“Kau tau adikku sedang dirawat?”

“Arra,”

“Kau sudah menjenguknya?”

“….”

“Belum ya? Kenapa?”

“…”

“Dengarkan aku… Aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Aku tidak peduli tentang kau yang ingin putus dan adikku yang sama kerasnya tak mau melepasmu. Itu semua urusan kalian. Tapi tidak bisakah kau menjenguk adikku sebagai seorang teman?”

“Aku-”

“Just friend. Anggap saja kau dan adikku tak pernah punya hubungan spesial. Dan kalian berteman. Tidakkah teman akan menjenguk temannya jika ia sakit?”

“Tapi-”

“No excuse, Miss. Kau harus menjenguknya. Aku memaksamu.”

***

Sebenarnya… jauh sebelum Nichan memaksa Byulgi, gadis itu sudah mulai goyah hatinya. Tiba-tiba ia merasa takkan sanggup lagi terus menghindari Nickhun. Tiba-tiba ia ingin kembali ke sisi namja itu. Tiba-tiba keinginannya untuk berusaha mendapat restu ibu Nickhun muncul. Tiba-tiba gadis itu mulai melanjutkan lagi impiannya tentang rumah tangganya kelak dengan Nickhun.

Tiba-tiba saja keyakinannya muncul. Ia akhirnya meyakini jika cintanya pada Khun pasti bisa meluluhkan hati sang ibu yang tak kunjung memberi restu, Ya. Byulgi mau mencoba hubungan mereka sekali lagi.

Sore ini Jung Byulgi berjalan dengan kaki gemetaran. Namun langkahnya cepat. Ia takut dan bersemangat di waktu yang bersamaan. Ia takut jika keputusannya untuk kembali memperjuangkan cintanya adalah salah. Tapi sejujurnya ia amat yakin, keputusan terbodoh yang pernah ia ambil dalam hidup adalah berusaha hidup jauh dari Khun dan menghindarinya. Tidak ada lagi keputusan terbodoh yang pernah ia lakukan selain itu. Dan ia amat menyesali itu semua. Langkah yeoja itu makin lebar ketika gedung rumah sakit sudah terlihat di depan matanya. Rasa rindunya pada Nickhun semakin membuncah dalam tiap langkahnya.

***

Sesampainya di depan kamar sang namja, gadis itu mematung sesaat,

Sudah benarkah keputusannya untuk datang kemari?

Tapi tekadnya sudah sangat kuat. Ia takkan sanggup untuk hidup jauh dengan Nickhun lebih lama lagi.

Dalam bayangan skenario Byulgi, gadis itu akan membuka pintu lalu langsung memeluk Nickhun seerat mungkin. Setelahnya ia akan meminta maaf dan memberitau namja itu bahwa kini ia siap memperjuangkan restu dari keluarga Khun. Setelahnya ia harap mereka bisa kembali seperti dulu.

Perlahan tangan mungil gadis itu menggenggam kenop pintu. Digigitnya bibir karena nervous. Dengan gerakan amat pelan, dibukanya pintu kamar itu tanpa suara. Celah kecil pun terlihat karena pintu itu akhirnya terbuka sedikit.

Deg.

Air mata gadis itu jatuh begitu saja. Ditinggalkannya pintu yang baru terbuka sedikit sambil berlari kencang. Hatinya hancur.

Kenapa…

Kenapa harus ada Victoria di dalam sana?

-TBC- 

Haloooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo maaf ya ini ngaretnya pake banget. Maaaaf maaf maaf. Kehidupan kuliah emang gila banget. Waktu aku untuk istirahat aja udah susah banget, makanya aku boro-boro kepikiran ngelanjutin FF :c. Saking capenya, tiap pulang kuliah aku pasti langsung tidur. Leisure time pas kuliah itu bener-bener berharga banget. Karena waktu luangnya juga dikit, dan aku kurang istirahat, makanya waktu luangku tuh gabisa dipake buat mikirin FF. Padahal ya aku seneng banget ngetik story line ini FF. Gatau kenapa pokoknya mau ngetik ini FF sampe end! Plot kasarnya udah ready sampe end. Doain aja akunya bisa bagi waktu dan punya banyak waktu luang supaya bisa update FF ini.

Buat yang masih nungguin (itu juga kalo ada) makasih banget. Kalian luar biasa. Kok mau-maunya sih nungguin updatean FF gaje begini? Aku tersentuh loh. Love you full, reader. Ah ya, aku sekarang jaraaaaaaaaaaaaaaang buka wp. Kalo ada yang mau disampein dan pengen cepet kurespon (emangnya ada?) bisa mention atau dm lewat twitter di @jungbyulgi

15 thoughts on “When Nickhun Really Got Married (Part 7)

  1. Onnie ini bagus. Tapi kok ceritanya kaya ada yabg keputus ya? Di part 6 kan byulgi ga nyuruh nickhun buat ngejauhin dia? Tapi serius ini bagus. Makasih onnie udah mau pst ff lagi disini

  2. akhirnya bisa baca juga setelah sekian lama menghilang. . hahaha
    daebak. .critanya makin okeh tiap byulgi hampir happy eh dateng lagi yang namanya vic. hihihi aku suka tu penderitaan byulgi kesannya dia susah payah bgt bwat pertahanin perasaan dia ke khunie oppa. . author jjang. . .
    pokonya aku nunggu ampe end deh walaupun lama. . hehehe
    keep writing yup. . fighting. . . ^_^

    • Raishaaaaaa haha part ini udah cukup lama aku post tauk hihi.

      Aku juga seneng kalo byulgi menderita HUAHAHAHA /author kejam/

      Syip. Aku ngusahain bgt buat bikin FF ini tamat kok \o/

  3. eonni,, cerita.x makin bagus aja dan aq berharap semoga byulgi bisa sm nickhun smpe akhir
    d tunggu next chapter.x and jngn lama2 ya eonni nge~lanjutin.x
    fighting^^

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s