Dream Granters – Dream One

dreams-graters

Title: Dream Granters – Dream One

Author: angangels aka Jung Byulgi

Cast: Lee Eunsook (OC), Lee Jinki, Jung Byulgi

Support cast: Max, Victoria

Length: Chaptered

Credit poster: chocolatesoda@highschoolgraphic.wp.com

Genre: FANTASYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY ((mohon maaf author ngalay bentar. Selebrasi bikin cerita fantasy untuk pertama kalinya XD—abaikan))

Summary: Pernahkan dirimu mempimpikan sesuatu dalam tidurmu kemudian hal itu jadi kenyataan?

Note: ALOHA READER(S)!!! AKU KEMBALIIIIIIIIIIIIIIIII YUHUUUUUUUUUUUUUUUUUU! Swear deh sekarang otakku buntu kalo diajak nulis ff. Kemampuan nulis aku juga aku rasa ngurang drastis :c. Sebenernya banyak project ff baru yang ngambang di draft. Itu sequel semua dan aku malah pusing karena udah ga bisa nulis kaya dulu. Sekarang tulisanku parah deh. Syedih T___T. Aku comeback bawa fanfict ini deh. Mudah-mudahan ga fail-fail amat ya ;____;. Aku kayannya harus banyak-banyak nulis deh biar biasa lagi kaya dulu ._.. Happy reading lah. Komen jangan lupa. Kritik sangat ditunggu (O.O)b

Oh, lastly. Warna item itu dunia nyatanya Eunsook. Warna merah itu cuma berhubungan sama Byulgi. Eunsook ataupun manusia lain gabisa liat Byulgi karena Byulgi adalah dedemit makhluk gaib yang unyu.

 ***


“Semalam aku bermimpi dipeluk Jinki sunbae!

“Eiy, maldo andwae. Mana mungkin Jinki sunbaenim memelukmu. Mimpimu ketinggian. Seorang most wanted guy di sekolah kita itu mengenalmu pun tidak.”

“Tapi dalam mimpiku-”

“Itu kan cuma mimpi. Mimpi itu hanyalah bunga tidur.”

“Tapi mimpi itu terasa begitu nyata-”

“Kau tau ngarep? Karena kau terlalu berharap. Makanya hayalanmu itu sampai terbawa mimpi dan terasa real,”

Yeah. Mungkin dipeluk Lee Jinki selamanya hanya akan jadi mimpi bagi Lee Eunsook.

********************

“Nayoung-a,”

“Hm?”

“Aku rasa aku sudah gila.”

Wae?

“Semalam aku memimpikan Jinki sunbae lagi.”

Aigoo Eunsook-a. Berhenti terus memikirkan Jinki sunbaenim jika kau ingin ia tak lagi hadir dalam mimpimu,”

Arra. Aku sudah mencoba. Tapi aku tidak bisa mengendalikan mimpiku. Aku sudah berusaha melupakan Jinki sunbae. Tapi aku tetap memimpikannya tiap malam. Ini sudah seminggu dan aku tak pernah absen mempikan Jinki sunbae.

“Ya sudah. Mau bagaimana lagi?”

“Nayoung-a. Tapi lebih gilanya lagi aku yakin kalau suatu saat mimpiku itu pasti akan jadi kenyataan,”

“Otakmu pasti sudah bergeser, Eunsookie.”

********************

“JUNG BYULGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!”

“Ya ampun Max. bisakah kau tak usah berteriak? Ada apa?”

“Kau punya tugas. Buatlah mimpi Lee Eunsook jadi kenyataan!”

“BENARKAH? BENARKAH AKHIRNYA AKU AKAN MELAKUKAN TUGAS PERDANAKU? BENARKAH BENARKAH BENARKAH?”

“Iya. Tidak usah berlebihan seperti itu. Ini debutmu sebagai dream granter.

“YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEAY!”

“Tidak usah terlalu senang. Kau pikir kerja dream granter menyenangkan apa? Sebaiknya kau menyiapkan diri. Nanti sore akan kuberikan semua data Lee Eunsook yang akan kau butuhkan.”

“Terima kasih, Max.”

********************

Nama: Lee Eunsook

Umur: 17 tahun

Jenis kelamin: Perempuan

Ciri-ciri: Gadis nerd. Kutu buku. Hanya punya satu teman yaitu Yoon Nayoung. Selalu menempati peringkat satu di sekolahnya.

Mimpinya: Dicintai oleh Lee Jinki. Lee Jinki adalah lelaki popular di sekolahnya.

Keyakinan klien akan mimpinya: 100%

“Wow. Keren sekali Lee Eunsook ini. Keyakinannya kuat sekali. Keyakinan klien Max yang terbesar yang pernah kulihat selama ini hanya 95%. Baiklah Lee Eunsook. Karena tekadmu sungguh kuat sekali, dalam waktu kurang dari dua bulan akan kubuat Lee Jinki mencintaimu. Aku akan bekerja ekstra keras!”

********************

Dream granter.

Pernahkah kau mendengarnya?

Di atas langit sana ada sebuah kerajaan dimana para dream granters hidup.

Seperti namanya, tugas dream granters adalah untuk membuat mimpi kalian jadi kenyataan.

Setiap orang pasti pernah bermimpi dalam tidurnya. Ada kalanya ketika kau begitu menginginkan sesuatu sampai-sampai hal itu terus hadir dalam mimpimu. Saat seperti inilah dream granter akan bekerja. Jika kau yakin mimpi itu akan menjadi kenyataan, seorang dream granter akan diutus untuk turun ke bumi dan menjadikan mimpi kalian terwujud.

Kerja para dream granter tergantung dari seberapa kuat keyakinanmu. Aplikasimu akan ditolak jika keyakinanmu dibawah 90%—kau tak perlu bingung tentang aplikasi. Kau tidak perlu bertanya bagaimana cara mengirimkan aplikasimu kepada dream granter. Karena ketika kau bermimpi, secara otomatis aplikasimu sudah terkirim—.

Keyakinan adalah kunci utama jika kau ingin mimpimu jadi nyata. Karena cepat atau lambatnya kinerja dream granter juga bergantung pada berapa persen keyakinanmu. Sebagai contoh, jika keyakinanmu 90%, maka mimpimu akan jadi kenyataan dalam waktu satu tahun, setiap naiknya satu persen keyakinanmu, waktu yang dream granter butuhkan akan lebih cepat satu bulan. Maka jika keyakinanmu sudah bulat 100%, mimpimu kan terwujud dalam kurun waktu dua bulan.

********************

“Haaaah sudah lama aku tidak menghirup udara bumi….” Seru Byulgi saat ia turun dari langit.

“Jadi ini sekolah tempat klienku? Sekolahnya keren juga…”

“Lee Eunsook!”

Byulgi buru-buru menoleh ketika nama Eunsook dipanggil.

Dilihatnya gadis berkuncir kuda dan berkacamata super tebal yang tersenyum ketika namanya dipanggil, “Kajja kita pulang, Nayoungie.”

“Hm… Jadi itu gadis yang bernama Eunsook? Gadis itu cukup manis. Bahkan ia lebih manis daripada dalam foto yang ada pada aplikasinya. I see, gadis setipe Eunsook kan memang tidak fotogenik.”

********************

“Bagaimana? Semalam kau masih memimpikan Jinki sunbaenim?

“T-t-tidak!”

“Baguslah kalau begitu,”

“Ckck. Kenapa kau harus berbohong Eunsook? Semalam kau kan memimpikan Lee Jinki mencium pipimu…”

“EUNSOOK! ARAH JAM LIMA! ITU JINKI SUNBAENIM!

Dengan cepat Eunsook dan Byulgi menoleh ke arah yang disebutkan Nayoung. Semburat pink muncul pada pipi Eunsook ketika melihat Lee Jinki berjalan sambil menyapa orang-orang dengan senyum ramahnya.

“Ooh jadi itu yang namanya Lee Jinki? Aigoo tampan sekali. Wah tipeku sekali itu! Matanya indah sekali! Matanya terlihat seperti bulan sabit ketika ia tersenyum,”

“EKHEM! Kau tidak boleh melirik incaran klien,”

OMO MAX! Sejak kapan kau ada disini?”

“Aku sudah tau kau akan begini. Matamu kan jelalatan. Kau paling tidak bisa melihat namja tampan sedikit.”

“Hehe. You know me so well, Max. Tenang saja. Aku kan hanya memuji ketampanan Jinki. Aku tidak akan mengencaninya. Lagipula mana boleh dream granter jatuh hati pada manusia?”

“Syukurlah kalau kau sadar akan tugasmu,”

********************

Week One

Hari ini Byulgi memutuskan untuk menguntit Lee Jinki—setelah kemarin ia menguntit Eunsook seharian. Tujannya menguntit Jinki tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menggali informasi lebih dalam tentang namja bermata sipit itu.

5:30

Alarm yang berada di atas nakas Jinki berdering nyaring. Namja itu langsung membuka matanya ketika alarm itu membangunkannya. Setelah nyawanya terkumpul ia berdiri dan melangkah keluar kamar.

Dugh

“Awww!”

“Ya ampun… Kenapa ia bisa menabrak pintu kamarnya sendiri? Terlalu sipitkah matanya sehingga ia tak bisa melihat jika pintu kamarnya itu belum terbuka?”

~

“Kemana orang tuanya? Apa Jinki tinggal sendiri?” tanya Byulgi menerka-nerka.

“Lee Jinki anak tunggal. Orang tuanya tinggal di luar negeri mengurusi bisnisnya…”

“OMO MAX! Bisakah kau berhenti muncul tiba-tiba? Kau membuatku jantungan! Bagaimana jika nanti aku mati karena serangan jantung? Kau mau tanggung jawab?”

Bletak

“Aw! Kenapa kau memukul kepalaku?” protes Byulgi.

“Kau kan memang sudah mati. Mana bisa kau mati dua kali!”

“Ah… Iya juga ya?”

“Babo,”

“Sebaiknya kau pergi Max! Lee Eunsook dan Lee Jinki adalah tugasku. Kau tidak boleh terus membantuku. Kau harus mengurus kasusmu sendiri.”

“Aku sedang tidak punya kasus. Makanya aku kesini. Aku bosan,”

“Andwae Max! Bagaimana jika Queen Victoria melihat kau membantuku? Kau tidak lupa kan kalau dream granter harus mengurusi kasusnya sendiri—tanpa bantuan orang lain.”

“Kalau begitu kerjakan tugasmu dengan baik! Jangan sembrono terus!”

“Baiklah-baiklah. Sudah sana pergi! Hush!”

“Tsk!” dengus Max sebal. Tapi toh ujungnya Max pergi juga meninggalkan Byulgi.

********************

Week Two

Sudah seminggu penuh Byulgi melakukan observasi dan merancang berbagai cara agar Jinki melihat Eunsook.

Hari ini ia akan memulai mempraktekan cara-caranya. Semoga saja satu dari seratus cara yang ia rancang ada yang berhasil.

“Cara pertama. Buat Eunsook menabrak Jinki di kantin. Bukankah ini keren?”

Dengan kekuatannya Byulgi membuat perut Eunsook tiba-tiba berbunyi nyaring.

“Sookie, kau lapar? Bukankah kita baru saja dari kantin? Kau bahkan makan dua porsi.” Seru Nayoung—setengah tak percaya dengan suara perut Eunsook yang ia dengar. Nayoung tau pasti kalau Eunsook itu memang hobby makan. Tapi biasanya tidak separah ini.

“Entahlah. Aku merasa lapar tiba-tiba,”

“Ya sudah. Mau makan bekalku? Malas sekali rasanya jika harus kembali ke kantin,”

“ANDWAE!”

Dengan panik Byulgi membuat kotak bekal Nayoung terjatuh. Eunsook tidak boleh makan bekal Nayoung!

“OMO!” seru Eunsook panik, “mianhae. Nayoungie. Bekalmu terjatuh.”

“Gwaencanha. Justru aku harusnya yang minta maaf. Maaf kau tak jadi memakan bekalku.”

Kruyuk kruyuk kruyuk

“Nayoungie, aku harus segera cari makanan untuk membuat perutku berhenti berbunyi. Aku akan ke kantin. Kau tak usah menemaniku.”

“YES!” seru Byulgi semangat.

~

Eunsook memutuskan untuk membungkus makanan yang ia beli karena beberapa menit lagi bel tanda istirahat berakhir akan berbunyi.

Treeeeet treeet

Benar dugaannya. Eunsook berlari menuju kelasnya ketika teringat bahwa jam berikutnya adalah mata pelajaran yang gurunya killer.

Tepat saat itu Jinki dan teman-temannya baru saja memasuki kantin. Karena tak melihat jalan, Eunsook menabrak Jinki. Jus strawberry-nya tumpah di baju Jinki.

OMO!

HYA! APA YANG KAU LAKUKAN? KAU TIDAK TAU APA KALAU SETELAH INI AKU AKAN ADA UJIAN PRAKTEK SENI? AKU HARUS MEMAKAI BAJU INI SAAT DI PANGGUNG NANTI!”

Eusook terus menunduk karena ia sedang bergetar menahan tangis. Ini pertama kalinya Jinki bicara pada Eunsook. Tapi kenapa Jinki kasar sekali? Eunsook mengerti—sangat mengerti— mengapa Jinki marah. Itu wajar sekali. Tapi tetap saja hatinya sakit. Karena itu ia tak sanggup menatap mata Jinki yang sepertinya penuh dengan kilatan amarah. Eunsook terus menunduk.

M-m-mianhae Sunbaenim,

“Aish dasar mood breaker! Kau telah menghancurkan mood-ku!”

Jinki dan teman-temannya kemudian pergi meninggalkan Eunsook yang kini air matanya sudah benar-benar turun. Hatinya sakit. Sangat.

“Bodoh sekali kau Byulgi! Bagaimana bisa kau punya ide seburuk ini?” seru Max tiba-tiba. Entah sejak kapan ia muncul—seperti biasa.

Byulgi tak menjawab. Wajahnya pusat pasi. Ia tidak menyangka cara pertamanya akan berujung seperti ini. Bukan ini yang Byulgi rencanakan. Harusnya mereka bertabrakan biasa. Setelahnya Jinki akan membantu Eunsook berdiri dan tersenyum manis pada gadis itu. Dengan begitu Jinki akan tau bahwa ada gadis bernama Lee Eunsook di sekolah ini. Setelahnya Jinki dan Eunsook akan saling sapa tiap berpapasan karena insiden ini. Sungguh bukan kejadian ini yang Byulgi harapkan.

Cara pertamanya gagal. Apa ini karena ia terlalu bersemangat? Atau ini salah Queen Victoria yang langsung memberikan kasus keyakinan 100% pada debutnya?

“Max… A-aku-”

Babo! Harusnya kau tidak memikirkan cara seperti ini! Lihat sekarang apa akibatnya! Jinki akan sebal setiap kali ia berpapasan dengan Eunsook!”

“…” Mata Byulgi mulai berair.

“Kalaupun kau mau memikirkan cara seperti ini, kau bisakan membuat Jinki yang menabrak Eunsook? Jika Jinki yang menabrak endingnya pasti tidak akan seperti ini. Jinki akan merasa sangat bersalah karena menabrak Eunsook. Kemudian ia akan terus meminta maaf tiap kali berpapasan dengan Eunsook. Yang terpenting adalah Eunsook akan selalu memaafkan Jinki apapun yang terjadi. Kalau Jinki kan belum tentu. Kau bisa lihat tidak kedua perbedaan mendasar ini? Kenapa pikiranmu sempit sekali?”

“…”

Max akhirnya melihat Byulgi yang sedang menahan isak tangisnya. Tiba-tiba perasaan bersalah menghinggapinya. Terlalu keraskah ia pada Byulgi?

“Gi-ya…”

“Max, maafkan aku. Mungkin aku memang belum pantas untuk debut menjadi dream granter. Mungkin aku harus lebih banyak belajar sebelum melakukan tugas perdanaku. Bisa sampaikan pada Queen Vic kalau aku menyerah pada kasus ini?”

“Gi-ya… Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Kau pasti bisa, Gi-ya. Aku akan selalu muncul ketika kau butuh bantuan.”

“Tapi aku sudah gagal-”

“Belum! Belum! Kau belum gagal! Tadi Jinki tidak melihat wajah Eunsook karena gadis itu terus menunduk. Besar kemungkinannya Jinki tidak melihat wajah Eunsook. Kau belum gagal.”

“Tapi aku sudah membuat Eunsook menangis hari ini-”

“Tenang saja. Aku akan buat ingatan Eunsook tentang kejadian ini hilang begitu saja.”

********************

Month One

Sudah lima puluh cara dari seratus cara yang Byulgi coba. Belum ada satupun yang membuahkan hasil. Tapi setidaknya tak ada satupun cara gagal itu yang memberikan hasil yang fatal—seperti pada percobaan pertamanya itu.

Hari ini Byulgi akan menjalankan cara ke lima puluh satunya. Membuat bola basket yang Jinki mainkan mengenai kepala Eunsook. Agak ekstrim sih caranya. Dan itu jelas akan sedikit melukai kliennya. Tapi mau bagaimana lagi? Harus ada pengorbanan bukan dalam setiap hasil baik yang diinginkan? Lagipula setelah diamati lebih jauh, Eunsook itu bukan gadis lemah. Ia kuat sekali—mungkin efek hobby makannya.

~

“Hari ini kita praktek basket-”

Songsaengnim. Bukankah menurut jadwal kita seharusnya praktek renang?” protes teman sekelas Jinki. “lagipula kita kan sudah praktek basket minggu lalu.”

Byulgi cekikikan geli di pojok kelas. Ialah dalang di balik semua ini. Byulgilah yang membuat kelas Jinki harus mengulangi praktek basket hari ini.

“Nilai basket kalian jelek-jelek. Sudah jangan banyak protes!”

~

Kira-kira tinggal tiga menit lagi giliran Jinki untuk dites. Byulgi buru-buru pergi ke kelas Eunsook.

Eunsook sedang serius memperhatikan penjelasan gurunya di papan tulis ketika Byulgi datang.

Tergesa Byulgi membuat gadis itu kebelet.

“Sookie. Kenapa kau gelisah? Kau ingin pipis?”

“Iya.”

“Mau aku antar?” tawar Nayoung.

“Tidak usah. Aku akan tahan sampai pelajaran berakhir. Tinggal lima menit lagi bukan?”

ANDWAEEEE! Satu menit lagi giliran Jinki main. Mana boleh Eunsook menahan pipisnya?

Baiklah, tidak ada cara lain.

Broooooooooooooooot

Pandangan satu kelas kini tertuju pada Eunsook. Banyak dari mereka yang terang-terangan menutup hidungnya karena kebauan dengan kentut Eunsook.

“Lee Eunsook… Kau boleh izin ke toilet untuk menyelesaikan urusanmu…”

Mau tak mau Eunsook keluar kelas dengan muka yang memerah padam.

‘Bagaimana bisa aku tiba-tiba kentut? Bahkan tidak ada tanda-tanda aku akan kentut. Kalau aku sungguhan ingin kentut setidaknya aku akan keluar kelas sebelum angin ini keluar.’ Batin Eunsook.

“Mianhae Sookie. Tidak ada cara lain. Tapi tenang saja. You’ll thank me later. I promise.

~

“Tuh kan! Sudah kubilang aku tidak sakit perut!” gerutu Eunsook sekeluarnya ia dari toilet. Sebentar lagi ia akan melewati lapangan dimana Jinki sedang di tes basket.

Tepat saat itu Jinki akan men-shoot bolanya.

Satu

Dua

Tiga

Dengan sekali jentikan jari, bola yang Jinki lemparkan melesat dan mengenai kepala Eunsook.

“AWWW!”

OMO!

“Tuh kan. Lee Eunsook memang gadis kuat. Buktinya ia tidak pingsan!”

Omo omo omo. Mianhae. Jeongmal mianhae. Gwaencanhayo?

G-gwaencanha. Sunbaenim.

“Yakin? Aku tadi melemparnya dengan sekuat tenaga. Kau tidak terluka?”

Dengan cemas Jinki menyentuh wajah Eunsook dan mengelus bagian kepala yang barusan terkena bolanya.

Tak kuat dengan sensasi sentuhan tangan halus Jinki yang mengelus kepalanya. Eunsook pingsan saking senangnya.

Hya hya hya!” seru Jinki panik begitu Eunsook pingsan.

Omooooo. Gadis ini sungguh terlalu. Dilempar bola sebegitu keras tidak pingsan. Tapi giliran disentuh Jinki sedikit malah pingsan. Ckck susah sih kalau sedang kasmaran!”

~

“Eungh!” erang Eunsook begitu rasa sakit menyerang kepalanya ketika ia bangun dari pingsannya.

“Kau sudah sadar? Apa kepalamu masih sakit?” tanya Jinki merasa bersalah.

“T-tidak. A-a-aku baik-baik saja,” jawab Eunsook grogi.

“Tapi kau sampai pingsan begitu. Berarti kau tidak baik-baik saja.”

‘Kau tidak mengerti Sunbaenim. Aku pingsan bukan karena bola itu.’ Batin Eunsook.

“Omong-omong namamu siapa?”

“Aku Eunsook. Lee Eunsook.”

“Kenalkan. Aku Jinki. Lee Jinki.” Ujar Jinki memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.

‘Tanpa perlu mengenalkan diripun aku sudah tau namamu Sunbae.’ Batin Eunsook lagi.

“Sunbaenim. Apa kau sedari tadi menungguiku sendirian di uks?”

“Yup,”

“Dari jam berapa aku pingsan?”

“Sekitar jam 12?”

“Dan sekarang sudah jam 3. OMO! Sunbae pasti bosan sekali. Maafkan aku. Seharusnya Sunbae tidak usah menungguiku-”

“Mana boleh aku menelantarkanmu setelah aku melempar bola padamu?”

“….”

“Lagipula… Aku sama sekali tidak merasa bosan. Bahkan waktu berjalan tanpa kusadari. Melihatmu tidur itu hiburan bagiku. Aku baru tau kalau yeoja juga bisa membunyikan giginya ketika tidur.” (a/n: aduh gimana sih itu nyebutnya? Tau kebiasaan key kalo tidur kan? Nah itu maksudku ._.v)

Mulut Eunsook menganga lebar.

JINKI BILANG APA BARUSAN?

JADI JINKI—pria yang Eunsook gilai setengah mati—MELIHAT KEBIASAAN TIDURNYA YANG MENGERIKAN ITU? MATI MATI MATI MATI MATI.

Hancurlah sudah image Eunsook.

M-mian-”

Wae? Gwaencanha. Bagiku itu cute kok ^^;”

“Eiyyyy… Ternyata Lee Jinki sama anehnya dengan Eunsook. Masa hal memalukan macam itu dia bilang cute? Maldo andwae…” protes Byulgi.

~

“Heuuh, dasar Lee Eunsook! Gara-gara hari ini dia berhasil mengobrol dengan Jinki dan diantar pulang, sedari tadi senyum bodoh dan rona pink di wajahnya tak juga lenyap. Aku seperti sedang melihat orang bodoh saja. Ck.”

“Hey, dream granter macam apa yang mengeluh melihat kliennya bahagia?”

“Kapan kau akan berhenti datang tiba-tiba Max?”

“Itu tidak penting. Anyway selamat ya, misi pertamamu akhirnya berhasil. Well, walau waktu yang kau perlukan sangat amat lama-”

“Kau memuji atau meledek kinerjaku? Kau harusnya maklum. Inikan debut pertamaku.”

********************

Week Six

“Berhenti terus mondar-mandir, Jung Byulgi!” dengus Max sebal. Bagaimana Max tidak sebal? Sudah dari sepuluh menit lalu Byulgi terus mondar-mandir bak setrikaan. Max sampai pusing dibuatnya.

“Max. Bagaimana ini? Waktuku tinggal dua minggu lagi tapi belum ada kemajuan berarti dari hubungan Eunsook dan Jinki.”

“Coba ceritakan seburuk apa keadaannya?”

“Sejak insiden bola waktu itu, memang betul Jinki jadi mengenal Eunsook. Tiap mereka tak sengaja berpapasan, Jinki akan menyapa Eunsook. Tapi ya sudah begitu saja. Hubungan mereka hanya sekedar saling sapa. Bagaimana aku tidak frustasi? Aku harus bagaimana?”

“Hmmm,” Max terlihat mulai berpikir, “selesaikan urusanmu sendiri. Bukankah dream granter tidak boleh saling membantu?”

HYAAAAAAAAAAAA MAX! KALAU BEGITU KENAPA KAU SOK PEDULI TADI?” amuk Byulgi.

“Sudah ya. Aku mau mengurusi klienku dulu. Bye!”

HYA MAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAX! KAU MENYEBALKAN!”

~

Bingung harus melakukan cara apa untuk membuat klien dan pria incarannya lebih dekat lagi, Byulgi memutuskan untuk mengikuti Jinki seharian. Entah kenapa ia memiliki sedikit bad feeling mengenai pria cute itu. Untuk memastikannya, dream granter ceroboh ini pun menguntit Jinki.

“Jinki-ya. Ikut tidak nanti sore? Kita akan sparing dengan kelas sebelah.”

Mian Minho-ya. Nanti sore Junhye sampai di Korea. Aku mau menjemputnya,”

“Junhye? Nugu?” tanya Byulgi penasaran.

“Ah arraseo. Sampaikan salamku padanya.”

“Tentu,”

~

“Junhye-ya. Bogoshipeoyeo.

Na do, Oppa.

“Eeeeeh mengapa mereka berpelukan?” protes Byulgi setengah panik.

“Bagaimana Jepang hm?”

Great. Tapi tetap saja tak sebagus Korea.”

Waeyo?

“Karena di Jepang tidak ada Jinki Oppa (>.<)”

“Hueks,” Byulgi pura-pura muntah, “menggelikan sekali. Gadis macam apa yang manja seperti itu. Berapa umurnya? Dia kira dia anak TK?”

“Eiiiy, gadis kecil ini sudah bisa gombal rupanya.”

Oppaaaaaaa! Berhenti menggodaku!”

Kekeke baiklah chagiya.

MWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO? CHAGIYA? OMO OMO OMO JANGAN JANGAN GADIS INI PACARNYA JINKI???” seru Byulgi panik dan heboh.

“Oh iya Oppa. Aku hampir lupa sesuatu.”

“Apa?”

Cup. Junhye mencium pipi Jinki perlahan. Jinki membeku saking kagetnya.

Happy anniversary, nae sarangeun Oppa. Hope we’ll long last,

“YA TUHAN YA TUHAN YA TUHAN! TUH KAN BENAR KATAKU! MEREKA MEMANG SEPASANG KEKASIH! EOTEOKHAE EOTEOKHAE EOTEOKHAE?

~

 To be continued.

Nah loh Jinki ternyata udah punya pacar. Gima dong nasib Eunsook? Tungguin aja ya, Dream Granters – Dream Two-nya ^o^v

10 thoughts on “Dream Granters – Dream One

  1. Huahahaha kocak bgt nihh saeng xD
    Seperti biasa yaa byulgi selalu eksist hehe..
    Dream granter wahh coba beneran ada.. kali aja mimpiku ketemu onew bisa jd kenyataan xD
    Btw Lee Eunsook. Km tau apa yg aku bayangin? Lee Eunsook it nama onyu versi yeoja, yg kebayang dia masa pas bgt kmren aku abis ngedit foto Jinsook couple wkwkwkk

    • Sengaja kali eon aku make nama onyu versi cewe. Abis bingung nyari nama bagus .______.v
      Terserah yang baca mau nganggep itu beneran oc atau nyupa yeoja version (?).

      Muahaha ya begitulah ya… Jung Byulgi selalu eksis dimana pun. Terutama hatinya Minho /hoeks/

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s