Uncaring Boyfriend Vs Caring Playboy: Chapter Two

Title: Uncaring Boyfriend Vs Caring Playboy: Chapter Two

Length: (Definitely) chaptered

Author: Jung Byulgi

Cast: Choi Minho, Song Jihyun (Oc/You), Kim Jonghyun

Genre: Romance

Poster Credit: @LALLAKYU

***

HAPPY READING AND DO LEAVE COMMENT, PLEASE (^o^)9

***


Bugh

Suara pecahan kaca terdengar setelah Minho mengepalkan tangan kanannya ke cermin. Darah bercucuran dari kepalan tangannya.

“YOU JERK MINHO! LOSER!”

Bugh

Seakan tak cukup, kini kepalan tangan kirinya tak mau kalah. Hasilnya tak jauh beda. Kini kedua kepalan tangan Minho sudah berlumuran darah. Sakit, tentu saja. Tapi sakit ini tak seberapa dibanding rasa bersalahnya. Berkaca di cermin dan melihat pantulan wajahnya membuat penyesalannya semakin menggunung. Ia jijik melihat dirinya sendiri.

Melampiaskan kekesalannya pada Jihyun memang secara tidak sadar sudah jadi kebiasaannya. Tapi Minho tau betul, bahwa kali ini ia sudah sangat melewati batas. Ia sudah kelewatan.

Minho bisa melihat tatapan Jihyun yang tengah ketakutan setengah mati. Mungkin saat itu, bagi Jihyun Minho tak ubahnya bagaikan malaikat maut.

Minho amat menyesal. Sangat.

Tapi kekalahannya dalam pertandingan kali ini sungguh memalukan. Bukannya menjadi top scorer, Minho malah menjadi black hole di timnya. Bayangkan saja, pemain macam apa yang melakukan gol bunuh diri ke gawangnya sendiri?

Minho tidak suka kalah. Terlebih ketika semua orang menyalahkannya akan kekalahan yang ia peroleh. Tak bisakah mereka diam saja? Minho saja sudah sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Lalu kenapa masih harus menyalahkan Minho?

Saat ia tengah tertekan kala itu, hanya Song Jihyun yang mellintas dipikirannya. Minho tau hanya gadis itu yang bisa membuatnya tenang. Tapi saat mendapati Jihyun tak ada di rumahnya ketika ia butuh, kebiasaan buruknya tiba-tiba saja muncul. Amarahnya yang sudah agak reda mencuat kembali.

Ia tau Jihyun bukanlah benda mati yang bisa dijadikan bahan pelampiasan. Tapi saat emosi, Minho tak kuasa mengendalikan dirinya sendiri. Seakan tak cukup, bahkan Minho hampir saja berbuat hal tak senonoh pada gadis malang itu. Untung saja Jonghyun datang. Jika tidak, ia tak tau lagi apa yang sudah ia lakukan pada Jihyun ketika bisikan setan mengomandoinya.

Melihat kedua tangannya berdarah, tak sedikitpun ada niatan dalam dirinya untuk mengobati tangannya. Ia pantas mendapatkan ini semua. Bahkan harusnya lebih.

Jika saja ada Jihyun sekarang di sisinya. Gadis itu pasti akan mengobati lukanya sambil meneteskan air mata. Bodoh memang. Kenapa ia harus ikut sedih ketika Minho terluka?

Tiba-tiba timbul niat untuk menghubungi gadis itu. Ia harus minta maaf karena telah keterlaluan. Ya, harus.

Rasa perih mendera Minho ketika menggerakan tangannya untuk mengambil ponsel putihnya. Ia meringis kesakitan.

Ditekannya beberapa angka yang sudah ia hapal di luar kepala. Jihyun sering marah ketika tau Minho tidak menyimpan nomor ponsel gadis itu di ponselnya. Ya, Jihyun memang kekanak-kanakan. Gadis itu maunya Minho menyimpan nomornya di ponsel dengan nama my love atau panggilan-panggilan menggelikan lainnya. Hello, jika Minho sudah hapal diluar kepala untuk apa ia menyimpan kontak gadis itu lagi? Tapi Minho tidak pernah mengutarakan alasannya ini. Baginya ini tidak penting. Dia lebih memilih mendengar omelan gadis itu daripada mengatakan hal menjijikan semacam, “Aku sudah hapal nomor ponselmu, untuk apa lagi aku menyimpannya sayang?”.

Jari Minho tinggal menekan lambang telepon berwarna hijau saja sebenarnya. Tapi kenapa ia jadi ragu untuk menghubungi gadis itu?

Rasa enggan kemudian menghampirinya. Ia tiba-tiba tidak ingin menghubungi gadis itu.

Namun tak lama ia kembali ingat perbuatan kejamnya hari ini. Biadab rasanya jika setelah semua ini Minho masih juga gengsi dan tak buru-buru minta maaf.

Minho terus berperang dengan pikirannya sendiri. Ia terus menimbang-nimbang. Perlukah ia menghubungi gadisnya sekarang? Ataukah ia harus bertindak biasa saja dan menganggap kejadian hari ini tak pernah terjadi?

Dan ternyata—seperti yang sudah-sudah— egonya kembali mendominasi. Gengsi Minho tak membiarkannya untuk menghubungi gadisnya.

Sudahlah. Toh masih ada hari esok kan? Lagipula—mungkin—Jihyun juga butuh waktu sendiri dulu.

“Jeongmal mianhae, Jihyunnie.”

***

“JIHYUNNIE! TUNGGU AKU!”

Jonghyun sudah lelah terus mengejar gadis itu sebenarnya. Tapi ia tau gadis itu butuh teman saat ini.

“JIHYUNNIE! TUNGGU!”

“BERHENTI MEMANGGILKU ‘JIHYUNNIE’! BERHENTI MENGEJAR KU!” teriak Jihyun tanpa sedikitpun menolehkan kepalanya ke belakang.

“Aku tidak akan berhenti mengejarmu sampai aku mendapatkanmu. Please, aku tau kau butuh teman. Aku siap mendengar ceritamu,”

“Jangan sok tau! Aku tidak butuh teman. Aku hanya butuh sendiri. Kau pikir kau siapa? Diary berjalan?”

Ketika akhirnya Jihyun menolehkan kepalanya ke arah Jonghyun, dengan cekatan namja itu menarik pergelangan tangan sang gadis. Setelahnya ia tarik tubuh mungil itu dalam dekapannya.

“Ssssh~ Kau terlalu banyak bicara. Percaya padaku, kau harus membagi kesedihanmu denganku. Dengan itu kau akan merasa lega,”

Jihyun mematung begitu Jonghyun mengatakan itu sambil meletakkan dagunya tepat diatas kepala Jihyun.

Tunggu… Bukankah tinggi namja itu tidak berbeda jauh dengannya? Ah. Jonghyun pasti tengah berjinjit saat ini. Menyadari hal itu Jihyun tersenyum bodoh dalam tangisnya.

Ya. Mungkin Jihyun sedang butuh teman cerita seperti Jonghyun saat ini.

***

“Jadi… Kau ini pacarnya kodok tinggi itu?”

“Dia punya nama, Tuan. Minho. Choi Minho.”

“Tsk. Arra. Aku ini mengenalnya sedari junior high. Lagipula aku kan tetanggaan dengannya. Apartemen kami bersebelahan…”

“Oh. Kalian berteman?”

“Tidak juga.”

“Hubungan kalian baik?”

“Tidak juga.”

“Kalau begitu kalian musuhan?”

“Tidak juga.”

“Bisakah jawab dengan jawaban lain? -____-”

Jonghyun tersenyum seraya mengelus rambut Jihyun perlahan.

Sebenarnya, hubungan Jonghyun dan Minho tidaklah baik. Mereka dulunya sahabat dekat. Tetapi ada sesuatu hal yang membuat Jonghyun menjauh dari Minho. Dan hal itu selalu tertanam dalam benak Jonghyun. Ujungnya, ia jadi membenci Minho.

Siapa sangka gadis incarannya kali ini ternyata adalah pacar dari orang yang ia benci? Bukankah ini jack pot? Rebut gadis ini dan hati Minho akan sama hancurnya seperti Jonghyun dulu. Sekali merengkuh dayung, dua atau tiga pulau terlampaui.

***

The next day…

“Jihyun sayang, Minho datang menjemputmu. Ayo cepat keluar!” ujar sang ibu sambil mengetuk pintu kamar sang anak.

Kenapa namja itu harus menjemput disaat seperti ini? Jihyun masih belum ingin melihat wajah namja itu sekarang ini.

Tapi tak ada pilihan lain. Ia tak mungkin bertindak acuh pada Minho di depan ibunya. Ia tak mau diberondongi banyak pertanyaan. Mau tak mau Jihyun harus menemui Minho. Tak apa lah jika ia harus berpura bersikap baik dan berpura tak terjadi apa-apa hanya untuk beberapa menit ini.

***

Tidak ada pembicaraan. Bahkan Minho terakhir membuka mulutnya adalah sepuluh menit lalu—ketika ia pamit pada ibu Jihyun. Jihyun jelas tak mau berinisiatif membuka pembicaraan kali ini. Ia lelah. Lagipula harusnya namja itu sadar dengan perlakuan buruk yang sudah ia berikan.

Di sisi lain sebenarnya Minho sudah ingin berbicara. Namun lidahnya terasa kaku. Ia inginnya meminta maaf, tapi kenapa untuk memulainya terasa sulit sekali?

“Turunkan aku di halte bus depan,”

Minho berpura tak mendengar perintah Jihyun.

“Aku bilang turunkan aku!” ulang Jihyun sekali lagi. Kali ini diiringi nada kesal.

“Aku tidak mau.”

Jika Minho sudah berkata seperti itu, mau tak mau Jihyun harus rela diantar sampai kampusnya.

***

“Nanti sore aku antar kau pulang,”

“Dwaesseo. Aku ada tugas kelompok,” tolak Jihyun.

“Akan aku tunggu. Jam berapa kalian beres?”

“Minho-ya. Aku tidak mau kau antar pulang. Mengertilah.”

“Kau yang harusnya mengerti. Apa maksudmu mendiamkanku seharian ini? Kalau semua ini karena kejadian kemarin aku minta maaf.”

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Jangan bohong. Aku mengenalmu dengan baik Song Jihyun. Kau belum memafkanku,”

“That’s why, Minho. Tolong tinggalkan aku sendiri dulu sementara ini. Aku ingin merenung tentang hubungan kita. Aku rasa kita sebaiknya-”

“Baiklah. Aku akan memberimu waktu.” Potong Minho cepat. Ia tidak mau kalau Jihyun sampai mengeluarkan kata putus dari mulutnya.

***

From: Jihyunnie

Jjong, bisa bertemu sore ini? Aku tunggu kau di taman bermain tempo hari jam empat sore.

Senyum Jonghyun mengembang. Akhirnya… Song Jihyun sudah mulai memberi sinyal bagus. Tinggal tunggu waktu untuk membuat gadis itu jatuh kepelukannya. Lihat saja. Jangan panggil namja ini Kim Jonghyun jika ia tak bisa menaklukan gadis yang ia kehendaki.

To: Jihyunnie

Geurae. See you there sweety :9

***

“Bagaimana menurutmu?”

“Entahlah. Bagaimana perasaanmu pada Minho saat ini?” tanya Jonghyun balik.

“Kenapa kau balik bertanya?”

“Jawab saja pertanyaanku, Jihyunnie.”

“Aku…” Jihyun tertegun begitu ia menyadari bahwa ia juga tak tau bagaimana perasaannya pada Minho saat ini. “Aku…”

“How?”

“Ah sudahlah. Kita bicarakan hal lain saja.”

“Aigooo gadis plin plan. Bukankah kau menemuiku untuk curhat masalah Minho?”

‘Benar juga’ Jihyun membatin.

“Kalau aku jadi kau, aku akan tinggalkan Minho. Namja macam apa yang selalu bertindak kasar seperti itu? Namja seperti itu adalah namja yang tidak bisa menghargai yeoja. Putuskan saja. Segini kalian baru pacaran, bagaimana jika hubungan kalian berlanjut sampai menikah? Kau sanggup terus dikasari?” ujar Jonghyun mulai menghasut Jihyun.

“Minho tidak pernah benar-benar berlaku kasar kepadaku sebenarnya. Hanya sikapnya yang terlampau cuek plus dingin dan emosinya yang tidak bisa ia kontrol. Minho namja yang baik-”

“Kau lupa semalam Minho hampir melakukan rape padamu?” tambah Jonghyun agar Jihyun termakan hasutannya.

“Itu-”

“Dia sudah melewati batas. Percaya padaku. Putuskan dia.”

“Tapi aku masih sayang-”

“Tapi dia tidak sayang padamu. Kau tidak lelah terus tidak dianggap olehnya?”

“…”

“Pokoknya kau harus putuhkan Minho. As soon as possible. Lebih cepat lebih baik.” Tukas Jonghyun.

***

Sudah sebulan Jihyun dan Minho break. Dan sudah sejak seminggu lalu Minho selalu mencoba menghubungi Jihyun. Tapi gadis itu tak kunjung memberikan respon. Telepon di-reject, pesan singkat tak dibalas, chat hanya dibaca, ditambah gadis itu selalu kabur jika tidak sengaja berpapasan dengan Minho.

Sudah habis kesabaran Minho. Hari ini, bagaimana pun caranya, ia dan Jihyun harus bicara.

***

Minho sengaja bolos kuliah terakhir demi menunggui Jihyun di depan kelas gadis itu. Sudah sejak satu jam lalu Minho terus berdiri di depan kelas itu.

Hal kedua yang paling Minho benci selain kekalahan adalah menunggu. Tapi demi Song Jihyun, Minho bahkan rela menunggu walau ia sudah bosan setengah mati.

Treeet

Akhirnya bel tanda kuliah terakhir berakhir berbunyi. Satu persatu penghuni kelas itu berhamburan keluar.

Beruntungnya Minho, Jihyun adalah mahasiswi terakhir yang keluar dari kelas itu. Jihyun tak menyadari kehadiran Minho karena ia berjalan sambil mengobok tasnya—gadis itu tengah mencari ponselnya.

Buru-buru Minho menahan pergelangan lengan gadis itu. Jihyun mendongkak kaget begitu mendapati orang yang memgangi lengannya adalah Choi Minho.

“Kita perlu bicara,”

“Lepas! Tidak ada yang perlu kita bicarakan!”

“Aku ada-”

“Aku tidak mau dengar. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang!”

“Kau masih pacarku!”

Minho mendorong Jihyun masuk ke dalam ruang kelas kosong itu setelah sebelumnya ia menutup pintu.

“Hentikan! Kau mau apa?”

“Sudah kubilang aku mau bicara!”

“Cepat. Waktumu hanya dua menit. Jonghyun sudah menjemputku.”

Mata Minho membulat,“Jonghyun? Kim Jonghyun? Sejak kapan kau-”

“APA PEDULIMU? Tidak usah sok peduli. Toh kau juga biasanya tak pernah mempedulikanku kan?”

“Jihyun-a, dengarkan aku,” ujar Minho melembut. “kenapa kau terus menghindariku? Bukankah waktu yang kuberikan sudah cukup?”

“Aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu. Tolong mengerti aku.”

“Tapi kenapa?”

“Kau menyebalkan! Kau pacar yang buruk! Kau emosian! Kau terlalu cuek! Kau dingin! Kau tak pernah menganggapku sebagai pacarmu! Kau jahat!”

Seburuk itukah image Minho di mata Jihyun?

“Mian,” ujar Minho lirih.”aku tau aku salah. Baiklah. Jika dengan aku melepasmu kau jadi bahagia. Kita putus saja.”

Air mata Jihyun turun dengan deras. Mengapa dadanya mendadak sesak? Bukankah ini yang ia mau? Lepas dari jeratan Minho?

“Hiduplah dengan baik. Aku menyayangimu.”

Minho buru-buru berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Andai saja Jihyun tidak sibuk sendiri dengan tangisnya, gadis itu akan melihat punggung Minho yang bergetar pelan.

Choi Minho. Namja paling cool sejagat raya. Menitikan airmata karena hubungannya dengan Song Jihyun kandas. Bisa kau bayangkan sebesar apa rasa cinta Minho pada gadis itu? Andai saja Jihyun tau.

“Satu lagi.” Seru Minho tanpa mau berepot-repot membalikkan badannya—ia takut tangisnya terlihat Jihyun, “hati-hati dengan Kim Jonghyun. Dia bukan namja baik.”

***

“Sudahlah, Jihyunnie. Untuk apa kau terus menangisi Minho?”

Sejak pulang kuliah tadi sampai detik ini mata cantik Jihyun terus menerus mengeluarkan cairan bening—air matanya. Tangisnya terus meraung. Memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.

“A-a-aku takut salah mengambil keputusan.”

“Tidak! Keputusanmu ini sudah paling tepat!”

“T-tapi aku masih sangat sayang pada Minho, Jjong-a. Bagaimana ini?”

“Kau harus biasakan hidup tanpanya. Kau harus membuktikan padanya kalau kau bisa lebih bahagia daripada saat kau bersamanya. Sekarang ada aku.”

“Dadaku sesak sekali. Aku masih sangat mencintai Minho.”

Jonghyun kesal bukan main. Ternyata cinta kedua insan ini terlampau kuat. Minho juga sama cintanya dengan Jihyun—andai saja gadis itu peka. Hanya saja Minho tak pernah menunjukkan rasa cintanya secara terang-terangan.

“Sudahlah. Aku akan membantumu melupakannya.”

***

One week later

Seminggu sudah Minho hidup tanpa Jihyun. Benar kata orang. Kau akan merasakan betapa berharganya seseorang ketika orang itu sudah tak lagi ada.

“Minho-ya. Sudah seminggu ini kau terlihat kurang bersemangat. Ada apa?” tanya Onew.

“Bukankah biasanya aku memang begini?”

“Well. Tapi tetap saja seminggu ini keu seperti meredup.”

“Aku putus dengan Jihyun, Hyung.”

“Oh. Kukira apa. Bukankah pacaran kalian juga hanya sekedar status? Hubungan kalian kan seperti one sided love. Jihyun yang mencintaimu namun kau tidak. Bukankah kau punya pacar ataupun tidak, tidak ada bedanya? Kau mana pernah berlovey dovey.”

Benar. Harusnya Minho merasa biasa saja. Toh sikapnya saat taken ataupun jomblo sama saja.

“Atau secara tidak sadar kau sudah mulai mencintai Jihyun?” tambah Onew.

***

“Hahahaha. Stop Jjong. Perutku sakit mendengar leluconmu.”

Tawa ini… bukankah tawa Song Jihyun?

Berniat meyakinkan, Minho membalikan badannya perlahan.

Benar. Itu Jihyun dengan… Kim Jonghyun?

Ternyata benar Jihyun dan Jonghyun ada apa-apa. Tapi diantara ribuan namja kenapa Jihyun harus memilih Jonghyun untuk menggantikan posisinya?

Tapi tidak apa. Asal Jihyun bahagia, Minho rela. Ia sadar betul kalau selama ini ia tak pernah membahagiakan Jihyun. Jadi, kalau ternyata Kim Jonghyun bisa membahagiakannya kenapa tidak?

Sudah lama rasanya Minho tak melihat tawa lepas Jihyun seperti tadi. Gadis itu sepertinya bahagia sekali.

‘Kim Jonghyun, tolong bahagiakan dia. Aku titipkan ia padamu.’

***

Awalnya sulit bagi Jihyun untuk membiasakan hidup tanpa Minho. Tidak ada lagi wajah tertekuk Minho ketika Jihyun membuatnya lama menunggu. Tak ada lagi yang ia teriaki ketika ia menonton pertandingan sepak bola di lapangan belakang kampusnya. Tak ada lagi suara serak Minho yang terbangun ketika ia membangunkan namja itu via telepon tiap pagi.

Tapi—seperti kata Jonghyun—ia harus move on. Minho sudah jadi masa lalunya. Dan hidup Jihyun tidak bisa berhenti begitu saja ketika Minho sudah bukan lagi bagian terpenting dalam hidupnya.

Jihyun harus mengingat perlakuan-perlakuan buruk Minho agar bisa lepas dari bayang-bayang namja itu. Minho pacar yang buruk. Ia tak perhatian. Ia tak pernah menganggap Jihyun sebagaimana gadis itu menganggap Minho.

Dengan bantuan Jonghyun, perlahan-lahan bayang Minho mulai kabur sedikit demi sedikit.

Kim Jonghyun berbanding terbalik dengan Choi Minho. Jonghyun sangat amat perhatian. Jonghyun tak pernah gengsi menunjukkan pada dunia bahwa ia sedang dekat dengan Jihyun. Tak jarang, namja itu membawa Jihyun untuk dikenalkan kepada teman-temannya dengan bangga. Jonghyun tau betul caranya menghargai wanita.

Setiap hari pesan singkat penyemangat tak pernah absen Jonghyun kirimkan. Tak lupa ia mengantar jemput Jihyun. Setangkai mawar sudah wajib ia berikan tiap ia menjemput Jihyun.

Mungkin sudah saatnya Jihyun lebih membuka hati lagi untuk Jonghyun.

To be continued

14 thoughts on “Uncaring Boyfriend Vs Caring Playboy: Chapter Two

  1. ishh jjong jangan jadi setan(?) dehh jgn ngehasut JInhyun -_-
    aduhh jgn sama jjong dehh. jjong tuuhh playboy akut. mending kalo dia tobat tp klo seperti niat awalnya manfaatin jihyun cm buat blas dendam ke minho. Mending jauh2 dari jjong dehh..
    Ahh mngkin dl cwe yg dsuka jjong lbh milih minho yaa? makanya jjong sakit hati dan akhirnya benci sama minho?
    MInho jg baru nyadar sihh. makanya jgn trlalu cuek sekali2 kasi perhatian jg. -_-
    Byulgi, seperti biasa next part jgn trlalu lama yaa😀

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s