Dream Granters – Dream Two

dreams-graters

Title: Dream Granters – Dream Two

Author: angangels aka Jung Byulgi

Cast: Lee Eunsook (OC), Lee Jinki, Jung Byulgi

Support cast: Max, Victoria

Length: Chaptered

Credit poster: chocolatesoda@highschoolgraphic.wp.com

Genre: FANTASY

***


“GAWAT! Ini gawat sekali. Bagaimana bisa aku tidak tau kalau Lee Jinki sudah punya kekasih? Lebih gawat lagi karena Junhye jauh lebih cantik dari Eunsook. Eoteokhaeyeo? Eoteokhae?”

“Gi-ya… Jangan pantang menyerah. Terkadang siapa yang lebih cantik belum tentu yang terpilih.”

“Arra. Tapi tetap saja aku khawatir. Waktuku tidak banyak, Max!”

“Sudah tenang saja…”

“Bagaimana aku bisa ten-” Max tiba-tiba menarik lengan Byulgi paksa, “Hya! Kau mau membawaku kemana?”

~

“OMO OMO OMO! ITU MAX! ITU! GADIS ITU YANG NAMANYA JUNHYE!”

“Aku sudah tau,” jawab Max acuh. Harusnya Byulgi merasa sangat berterima kasih. Dalam kasus perdananya ini Max sangat-sangat membantunya. Max diam-diam menyelidiki Eunsook dan Jinki sampai detail terkecil—Max bahkan tau kalau Jinki memang sedang memiliki seorang kekasih.

“Namja yang sedang memeluk Junhye itu siapa?”

“Pacarnya,”

“Oh…” jawab Byulgi asal, “MWO? BUKANKAH PACAR JUNHYE ADALAH JINKI?”

“Tsk responmu lamban sekali. IQmu hanya dua digit ya?”

“Berhenti mengejekku. Jawab saja perta-”

“Aish! Tak bisa kah kau menyimpulkan sendiri? Junhye selingkuh di belakang Jinki!”

“YA AMPUN YA AMPUN YA AMPUN!”

“Ck. Sudah lambat mengerti, sekalinya sudah mengerti hebohnya minta ampun. Dasar Jung Byulgi!”

“Jadi aku tinggal buat Jinki tau kalau Junhye berselingkuh dan mereka akan putus?”

“Sudah kubilang kan dari awal kau tak usah panik tentang waktu dua minggumu itu?”

“MAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAX! KAU PENYELAMATKU!”

“Menyingkirlah. Tak usah peluk-peluk. Kerjakan saja tugasmu dengan baik. Kau sungguh membuatku kerepotan,”

Byulgi mencibir kesal. Tapi toh ia sangat merasa berterima kasih. Ia tau Max adalah pria yang baik walau hati dan perlakuannya sedingin es di kutub sana.

~

“Sookie, kenapa kau terlihat murung?” Tanya Nayoung khawatir. Bukan apa-apa, hari ini Eunsook tiba-tiba saja jadi pendiam. Bagaimana bisa Eunsook yang bawel berubah pendiam? Apa gadis itu sedangsakit gigi?

“Anio, nan gwaencanha.”’

“Geotjimal. Marhaebwa. Ada apa denganmu?”’

“Junhye. Ia sudah kembali.”

“Junhye? Nugu?”

~

Percuma ia cerita pada Nayoung. Gadis itu taupun tidak siapa itu Junhye.

Junhye sudah kembali. Ini berarti mulai hari ini ia akan kembali melihat sepasang sejoli itu terus berduaan disekolah. Dimana ada Jinki disitu pasti ada Junhye. Memuakkan.

Belum kering rasanya mulut Eunsook pasca membicarakan Jinki-Junhye, kini sejoli itu tepat sedang berjalan ke arahnya. Oh crap. Buru-buru Eunsook berbalik sebelum Jinki keburu menyadari keberadaannya.

“Lee Eunsook?”

Sial. Jinki keburu melihat keberadaannya Eunsook rupanya.

“J-jinki Sunbaenim-” jawab Eunsook ragu-ragu.

“Nugu Oppa?” Tanya Junhye langsung.

“Ah, Junhye-ya. Kenalkan, ini Lee Eunsook. Dia satu tingkat denganmu.”

Dengan berat hati Eunsook mengulurkan tangannya—mengajak Junhye berjabatan tangan—namun Junhye malah hanya memandang tangan Eunsook yang menggantung kemudian memalingkan wajahnya dengan angkuh.

Eunsook berusaha sabar dengan kelakuan Junhye—keangkuhan gadis itu sudah sangat populer di sekolah ini. Keterlaluan memang. Padahal dalam hati Eunsook juga sangat enggan berjabatan tangan apalagi mengambil inisiatif mengulurkan tangan pertama kali—seperti yang ia lakukan tadi. Nah ini, sudah tinggal menyambut jabatan tangan saja tak mau. Dasar gadis angkuh. Dia piker tangan Eunsook berkuman apa?

“Junhye-ya, kau tidak boleh begitu. Eunsook-a, maafkan kelakuan yeojachinguku ya…”

“Ania. Gwaencanha.”

“Kau tau Hye-ya? Eunsook ini lucu sekali. Pernah saat itu-”

“Oppa. Aku tidak suka kau memuji gadis lain. Apa aku kurang lucu?” potong Junhye.

“Hye-ya…”

“Kajja Oppa kita pergi.”

Jinki pun hanya menurut dan pasrah ketika ia diseret oleh Junhye untuk melangkah menjauh dari Eunsook.

Eunsook tersenyum getir.

‘Kenapa aku harus menyukai namja yang sudah punya seorang kekasih? Apa aku berhenti saja ya menyukai Jinki sunbae?’

~

“JUNG BYULGIIIIIIIIIII!” teriak Max mencari-cari gadis bermarga Jung itu.

Byulgi yang sedang memikirkan berbagai cara untuk membuat hubungan Jinki-Junhye kandas cukup kaget ketika namanya diserukan kencang.

Ia sudah biasa mendengar suara keras Max saat memanggil namanya ketika namja itu merasa geram, namun kali ini berbeda. Max terlihat panik sekali.

“Ya Max?”

“Ayo ikut aku ke kantor pusat! Sesuatu terjadi dengan Lee Eunsook! Kepercayaannya pada mimpinya yang akan jadi kenyataan menurun drastis sekali.”

“MWO???”

~

“Kau yakin ini bukan karena alatnya yang rusak?” Tanya Byulgi sekali lagi.

“Kau pikir ini saatnya bercanda? Mana mungkin alat kita rusak? Tak pernah ada alat yang rusak. Dalam Kerajaan Dream Granters tak ada yang namanya rusak. Kita berbeda dengan bumi—kalau kau lupa.”

Byulgi tau jelas jawaban dari pertanyaannya sebenarnya. Tapi otaknya buntu. Semua isi kepalanya berhamburan entah kemana.

Mencari cara yang tepat untuk membuat Jinki mengetahui perselingkuhan Junhye saja sudah cukup sulit, apalagi membuat hubungan kedua insan itu kandas. Seakan tak cukup di tengah kesibukannya merancang segala macam cara sang klien tiba-tiba tak lagi punya kepercayaan pada mimpinya. Byulgi bisa apa? Dalam peraturan dream granters, jika klien sudah hilang kepercayaannya akan mimpinya maka dream granter tak bisa lagi melanjutkan misinya.

“Eoteokhae? Naega eoteokhae?”

~

Max berinisiatif menguntit Jinki hari ini. Hanya satu tujuannya, mengetahui apakah namja bermarga Lee itu punya perasaan lebih pada Eunsook.

Kemana Jung Byulgi? Dream granter satu itu masih berusaha mengikuti Eunsook dan melakukan segala cara agar keyakinan Eunsook akan mimpinya muncul kembali.

Max menguntit Jinki tanpa sepengetahuan Byulgi. Padahal, harusnya ia tak perlu membantu gadis itu—bahkan sebenarnya Max punya kasus sendiri. Max sudah professional dalam bidang ini, makanya tak perlu ada yang dikhawatirkan ketika Max meninggalkan kasusnya. Bagi Max mengabulkan mimpi adalah perkara mudah, namja itu juga sudah ahli dalam merancang segala strategi dan hal lainnya—mengingat ia sudah menjadi dream granter sejak lima tahun lalu.

Sebagai senior, Max memutuskan untuk membantu Byulgi semaksimal mungkin—namun tanpa sepengetahuan Queen Vic tentunya. Byulgi masih belum bisa apa-apa dan gadis itu sudah dapat kasus yang sangat sulit—ingat seberapa besarnya keyakinan Eunsook? 100%—. Apa yang gadis itu bisa lakukan dalam waktu sempit itu? Ia mengatur strategipun masih sering ceroboh.

Tergeraklah hati Max untuk terjun langsung dalam kasus ini. Ya, ia harus membantu gadis itu.

“AWWWW! Ternyata takbamku memang kuat…”

Max menggelengkan kepalanya prihatin melihat kebodohan Jinki yang mentakbam dahinya sendiri dengan kencang.

So, I guess… that’s why people calling him sangtae?

~

“Aigooo… Sepertinya aku sudah mulai gila…”

Max mengangguk setuju ketika sedari tadi terus melihat Jinki yang tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh. Sebenarnya apa yang namja itu pikirkan huh?

“Kenapa aku terus terbayang Eunsook ya? Aish… Ini pasti gara-gara aku melihat sleep habit-nya di UKS saat itu. Kekeke dimana lagi aku bisa melihat gadis unik macam itu? Lagipula kalau dilihat-lihat, Eunsook itu lucu dan tidak jaim. Lain sekali dengan Junhye. Junhye jaim sekali. Dan yang paling menyebalkan adalah dia tak pernah tertawa saat mendengar guyonanku—unlike Eunsook yang bahkan tanpa malu tertawa terbahak-bahak saat mendengar lawakan garingku. Hmm… Aku ini kenapa?”

You love her but you don’t realize it, fool!”seru Max geram namun sedikit lega juga.

Oke. Terjawab sudah. Setidaknya… Jinki punya rasa tertarik pada Eunsook. Ia punya perasaan lebih.

~

“Bagaimana Lee Eunsook?”

“Nothing changed. Kepercayaannya masih di bawah 30%. Aku sudah mencoba berbagai cara tapi hasilnya nihil. Sepertinya ia serius tentang akan melupakan mimpinya dan Jinki. Hari ini saat berpapasan dengan Jinki pun ia terlihat tak bahagia. Bahkan ia seharian ini terus menghindari namja itu,” lapor Byulgi pada Max dengan suara khas orang putus asa.

“Mungkin Eunsook perlu waktu. Yang jelas… Jinki ternyata sudah mulai punya rasa ketertarikan pada Eunsook.” Lapor Max datar.

“JINCHAREO? JEONGMALYEO?” pekik Byulgi girang. Entah kenapa setelah mendengar kabar bahagia ini rasanya kesedihannya sirna begitu saja. “kau serius Oppa?”

“Oppa? Sudah lama aku tak mendengar kau memanggilku Oppa.”

“Whatever. Aku tak mengerti kebaikan apa yang aku lakukan di hidupku yang sebelumnya sampai aku bisa mendapatkan Oppa yang selalu ada di sisiku juga selalu memiliki jalan keluar untuk segala masalahku. Aku sangat amat bersyukur dan berterima kasih-”

“Errr, kau berlebihan sekali. Ini menggelikan kau tau?”

~

“Eunsook-a…”

Byulgi mendengus sebal—untuk kesepuluh kalinya hari ini—ketika melihat Eunsook berbalik pergi dan berpura mendengar tiap Jinki menyapanya.

“Lee Eunsook kenapa?” Tanya Jinki heran.

Perlahan Jinki berjalan ke arah depan—dimana tadi Byulgi sudah membuat buku catatan Eunsook terjatuh tanpa disadari oleh gadis itu.

Ige mwoya?” Tanya Jinki sambil membuka lembar pertamanya, “bukankah ini catatan Biologi Lee Eunsook?”

“Kembalikan Lee Jinki cepaaaaaaaaat!” seru Byulgi sebal ketika menghadapi respon lamban Jinki.

“Sepertinya aku harus mengembalikan buku catatannya, geuraechi?”

Dan Jung Byulgi pun menepuk jidatnya. “Tentu saja mister lamban! Tsk!”

~

“Apa ini kelasnya Lee Eunsook?” Tanya Jinki pada seorang haksaeng yang duduk paling depan.

“Ne sunbaenim.”

“Tapi aku tidak melihatnya di kelas ini. Gadis itu kemana?”

“Eunsook mungkin sedang di perpustakaan, Sunbaenim.”

“Eo begitukah? Aku akan kesana kalau begitu. Terima kasih atas infonya…”

Sepeninggal Jinki, haksaeng yang barusan ditanya Jinki langsung lemas. “Aigooo mimpi apa aku semalam sampai bisa mengobrol dengannya hari ini?”

“Eiyyy, jadi benar Lee Jinki itu populer?” Tanya Byulgi setengah tak percaya.

~

Jinki tersenyum begitu mendapati Eunsook yang sedang berkutat dengan tugasnya sendirian di perpusatakaan. Gadis itu sepertinya sedang sangat serius—pasalnya ia ta menyadari kehadiaran Jinki yang tengah berada didepan pintu sambil terus memandang ke arahnya.

Karena Eunsook tak kunjung menyadari kehadirannya, Jinki maju dan menundukan tubuhnya agar sejajar dengan Eunsook.

“OMO! Kau membuatku kaget!”

“Sedang serius eoh? Kau sedang mengerjakan apa?”

“Aku ada ujian Biologi seminggu lagi dan aku masih belum sepenuhnya mengerti akan materi yang akan diujikan.”

“Biologi ya? Kau tau tidak, kalau sunbae-mu yang satu ini jagonya Biologi?” Tanya Jinki bermaksud pamer.

“Tidak, aku tidak tau.”

“Hya! Apa kau bilang? Bagaimana bisa kau tidak tau kalau aku mahir Biologi? Tak tau kah kau kalau tahun lalu aku sudah menyumbangkan emas untuk sekolah ini?”

Eunsook terkikik geli. Senang berhasil mengerjai sunbae-nya itu. “Arraseo. Arraseo. Aku tau itu Sunbaenim. Aku hanya bercanda.”

“Akhirnya kau tersenyum juga… Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku melihatmu tersenyum. Kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku?”

“Anio. Aku tidak menghindarimu. Itu perasaanmu saja, Sunbaenim.”

“Benarkah?” tanya Jinki tak yakin.

“Ya. Sunbaenim, kau tidak pulang? Nanti Junhye mencarimu.”

“Bagaimana bisa seorang master Biologi pulang ketika melihat ada orang yang menulis matriks mitokondria sebagai tempat terjadinya glikolisis? Hya, kau bisa membuat para ilmuwan Biologi menangis! Glikolisis itu terjadi di sitoplasma…”

“…”

“Aku akan mengajarimu sampai kau bisa.”

“Tapi-”

“Tidak ada tapi-tapian. Kita tak kan keluar dari perpus ini sebelum aku yakin kau akan mendapat nilai 100 dalam ujian Biologimu.”

“Geundae… Sunbaenim… Aku sangat payah dalam Biologi. Jadi… berhubung sekarang sudah agak sore… Bisakah kita keluar setelah kau yakin aku mampu mendapat nila 70?”

“Oke. Aku setuju. Tak apa hari ini target kita 70. Itu berarti seminggu full aku harus mengajarimu sampai nilaimu bisa 100.”

“Tapi-”

“Fix. Bagian mana yang tak kau mengerti?”

********************

Week Seven

Sudah tiga hari ini Eunsook dan Jinki menjadi pengunjung tetap perpus. Mereka akan bertemu di perpus ketika bel pulang berbunyi dan akan pulang ke rumah masing-masing ketika petugas perpus mengusir mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, dan Eunsook sudah bisa melihat petugas perpus beres-beres.

“Sunbaenim, hari ini sudah dulu ya? Sekarang kan sudah mau jam enam.”

“Kau masih belum bisa membedakan reaksi gelap dan terang, dan kau minta pulang? Tidak sampai kau mengerti.”

“Tapi petugas perpus sudah beres-beres.”

“Ya sudah. Kita kan bisa belajar di tempat lain.”

“T-tapi-”

“Kajja!”

~

Tik tik tik

Eunsook mengulurkan telapak tangannya untuk merasakan air hujan yang mengguyur Seoul sore ini. Matanya mendongkak menatap langit yang memang mendung.

Jinki yang tepat berada di sebelahnya secara tak sadar memandangi sosok Eunsook intens. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang tidak dimiliki gadis lain. Dan itu membuat Jinki tertarik pada Eunsook.

“Sunbaenim…Hujan. Bagaimana ini?”

“Huh?” Jinki terkejut begitu Eunsook dengan tiba-tiba menolehkan kepala ke arahnya.

“Kubilang sekarang sedang hujan. Kita harus bagaimana?”

“Itu-”

“Aku akan panggil taksi. Terima kasih sudah mengajariku hari ini.”

Andwae! Kau tidak boleh pulang dulu! Masih banyak yang kau tak mengerti dan ujianmu sudah semakin dekat. Kau mau kena remedial? Kita harus lanjutkan sesi tutor kita.”

“Tapi-”

“Tidak ada tapi-tapian. Ayo pakai jaketku. Kita lanjutkan di rumahku saja.”

~

Sunbaenim… Apa tidak apa-apa aku kesini?”

“Memangnya kenapa?”

“Err… Itu… Soalnya…”

“Tidak apa-apa. Kita kan hanya akan belajar.”

“Eum.. Ya.”

By the way, kau suka hujan?”

“Hujan adalah hal favorit keduaku di dunia ini setelah makanan ^o^”

“Apa bagusnya hujan?”

“Banyak! Hujan membawa kesejukan! Hujan selalu menarik untuk dilihat. Aku paling suka dengan gerimis. Gerimis itu romantis.”

“Romantis? Oh kau bilang kau suka makan? Aku juga! Jadi apa makanan kesukaanmu?”

“Aku makan semuanya. Aku bukan tipe pemilih.”

“Kalau aku suka sekali dengan ayam.”

“Ayam?”

“Iya. Ayam. Sehari saja aku tak makan ayam rasanya aneh sekali.”

“Errr, Sunbaenim… Maaf sebelumnya. Bisa kita langsung mulai sesi tutornya? Hari sudah semakin gelap.”

“Ah aku hampir saja lupa. Oke. Tapi kau harus janji akan mengobrol santai seperti itu denganku lain kali. Oke?”

“Baiklah” –‘dengan senang hati. Jika saja Junhye tidak ada.’

A few days later…

From: Jinki Sunbae

Chukae, ku lihat nilai Biologimu nyaris sempurna. Mau bertemu sore ini?

To: Jinki Sunbaenim

Gamsahamnida, Sunbae. Semua ini berkatmu. Maaf aku ada acara sore ini.

From: Jinki Sunbae

Begitu ya? Kalau sepulang sekolah besok bisa?

To: Jinki Sunbae

Mian… Aku tidak bisa juga

From: Jinki Sunbae

;_____; kau bisanya kapan?

Eunsook menghembuskan napas pelan. Sesak rasanya. Menjauhi Jinki ternyata tak semudah yang ia terka.

TBC

 

12 thoughts on “Dream Granters – Dream Two

  1. Aigoo… Semoga jinki sama eunsook jadi beneran. Aamiin
    tapi, eon… Aku juga pengen byulgi sama max jadian jugaa/banyak maunya lo/
    keep writing ya eon! Aku suka ceritanya

  2. Ihh byulgi lelet bgt nahh -_- *dgetok byulgi
    gampang bgt taukk ngebuat junhye ketauan..
    Sekali kali buntuti junhye jg biar tau jdwal kgiatannya. bgtu dia brncana brtemu dg selingkuhannya. buat jinki pergi ketempat yg sama dg yg d.datangi junhye. Dan akhirnya… tada(?) jinki tau kalo junhye selingkuh. Gampang kan! gimana sihh -_-
    Eunsook jg knp menghindar? jinki sdg pedekate taukk jgn dhindari!!! REBUT JINKI!!! PPALLI PALLI!!! /capslock jebol krn trlalu gemes sama byulgi & eunsook -_-v

    • Aigo aigo aigo bersemangat sekali eonni yang satu ini .-.

      Ada kok ntar di part depan. Pokoknya Junhye pasti ketauan selingkuh. Tenang aja (?)

      Wahahahaha Byulgi di cerita ini emang dong dong banget karakternya😀

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s