When Nickhun Really Got Married (Part 8)

wpid-when-nickhun-really-got-married.jpg

Title: When Nickhun Really Got Married (Part 8)
Author: angangels
Main Cast: Nickhun Buck Horvejkul, Jung Byulgi (OC/You)
Support Cast: Jang Wooyoung, Nichan Horvejkul, Victoria Song, Khun’s Mom, others.
Length: Chaptered
Rating: PG-15

Happy reading dan mohon maaf banget karena lanjutan FF ini sangat amat ngaret to the max. Updatean FF ini kubuat spesial buat pembaca WNRGM paling setia, RAISHA. Maaf kalo ngebacanya gaenak soalnya aku ga sempet ngedit chap ini (-,-v). Komen jangan lupa😄

~~~


Bruk

HYA! Kalau jalan lihat-lihat! Gunakan matamu!”

Mianhaeyo,

Baru saja keyakinan dalam diri Byulgi muncul. Baru saja gadis itu bersedia untuk kembali merajut jalinan kasihnya dengan Nickhun. Baru saja yeoja itu memutuskan untuk mau menghadapi ibu Khun serta Cherrleen.

Tes tes

Air mata gadis itu mengalir perlahan.

Ya, mungkin sudah takdirnya ia menyerah pada hubungan ini.

***

“Khun! Kau sakit apa?”

“Aku hanya kelelahan. Darimana kau tau, anyway?

“Kau ramai diberitakan di TV. Bagaimana bisa aku tak tau?”

Nickhun tersenyum kecil. Senyum itu… Senyum yang telah membuat Victoria Song terpikat.

“Terima kasih sudah menjengukku. Aku tau pasti jadwalmu sangat padat.”

Aren’t we friend? Bagaimana bisa seorang teman tidak menjenguk temannya ketika ia sakit, hm? No worries, Khun.”

“Berarti aku sangat beruntung ya memiliki teman sepertimu? Haha,”

Pandangan Victoria mengarah ke piring penuh makanan yang terletak di meja sebelah ranjang Nickhun.

“Kau sudah makan? Kenapa piring itu masih penuh?”

“Aku tidak nafsu,”

“Ehm…” Victoria menggosok tengkuknya pelan karena salah tingkah, “Mau… Mau aku suapi?”

Belum sempat Victoria menyembunyikan rona merah di pipinya, Khun langsung menimpali, “Tidak. Aku tidak nafsu bukan tanpa alasan. Semua makanan yang masuk ke mulutku terasa amat pahit. Makanya aku tak mau makan dan mengandalkan cairan nutrisi yang disuntikkan ke infusku,”

“Ah… Jadi seperti itu…”

Agak sedih sebenarnya ketika inisiatif Victoria ditolak terang-terangan seperti itu. Andai saja Khun peka, ia akan menangkap raut kecewa dari gadis itu.

“Vic, menurutmu mengapa Byulgi tidak juga datang menjengukku?” tanya Nickhun  tiba-tiba.

“Ah sudah jam segini. Aku ada schedule! Bye Khun! Get well soon…

Bohong. Victoria sudah mengosongkan jadwalnya seharian ini untuk menjenguk Khun. Dalam rencananya, ia berpikir akan menemani Khun hingga petang nanti. Tapi setelah Khun menolak untuk disuapi dan terus menerus tak berhenti mengucapkan nama Byulgi, rasanya Victoria lebih baik pergi. Ia tak mau mendengar nama gadis itu lagi keluar dari bibir Khun. Kenapa setelah gadis itu menyakitinya Khun masih saja tak mau melepas gadis itu? Apa kurangnya Vic dibanding gadis random itu?

Dalam hidupnya, Victoria selalu dikejar para lelaki. Semuanya memperebutkan dirinya. Tapi sekarang apa? Ketika ada laki-laki yang benar-benar ia cintai, lelaki itu malah memilih gadis lain. Tidak apa jika saja gadis itu memang lebih dari Vic. Tidak apa jika gadis itu sepadan dengan Vic. Tapi ini apa? Jung Byulgi bahkan hanyalah wanita yang sangat amat biasa.

***

Setelah melihat Victoria di kamar Nickhun, Byulgi berlari entah kemana. Dan disinilah ia sekarang… Tangga darurat rumah sakit.

Dadanya terasa sangat sesak. Sakit sekali.

Awalnya ia ingin langsung pulang saja. Tapi rindunya pada Khun tak bisa dibendung lebih lama lagi. Bahkan celakanya, setelah hatinya patah ketika melihat Khuntoria, rindunya tak berkurang sedikitpun.

***

Setelah puas menangis tanpa suara di dalam tangga darurat yang gelap dan tertutup rapat, Byulgi memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Berapa lama ia ada di dalam sana? Empat jam kah?

Hari sudah memasuki waktu malam.  Jam di RS menunjukkan pukul sembilan. Jam besuk pasien tentu saja sudah lewat sedari jam enam sore tadi.

Dengan langkah terburu-buru, gadis itu segera menghampiri kamar inap Khun. Semoga saja namja itu sudah tidur. Byulgi hanya ingin melihatnya dari kejauhan saja.

***

Bohong jika Byulgi bilang ia hanya ingin melihat Nickhun dari jauh. Nyatanya, saat ia sampai tepat di depan kamar namja itu, ia ingin masuk ke dalam kamarnya dan mengecek keadaan  Khun. Benar dugaannya, Khun memang sedang tertidur.

Perlahan, dibukanya pintu itu. Namun…

“Jung Byulgi? Apa yang kau lakukan disini?”

“Park Minji? A-a-aku… Menjenguk seorang teman,”

“Tidak boleh! Jam besuk pasien sudah berakhir. Kau tidak boleh melanggar aturan! Kau bisa menganggu waktu istirahat sang pasien!” amuk Minji. Minji adalah teman Byulgi. Gadis itu berprofesi sebagai perawat di RS ini. Byulgi tau betul RS ini adalah tempat kerja Minji, tapi ia tak menyangka sedikitpun akan bertemu dengannya. Bukankah RS ini sangat luas?

“Apa yang kau lakukan?” ujar Minji shock saat Byulgi bersimpuh di hadapannya. “Bangun, Byulgi-ya.

Dengan air mata yang tak bisa lagi ia tahan, Byulgi memegang kaki Minji kuat sekali. “Biarkan aku masuk, Minji-ya. Sekali ini saja. Aku mohon.”

“Bukannya aku tega denganmu, tapi peraturan tetaplah peraturan. Kau bisa datang esok hari. Pukul tujuh pagi jam besuk paling awal.”

“Aku harus menemui temanku sekarang juga. Aku tidak bisa menundanya hingga esok hari. Aku mohon biarkanlah aku menjenguknya sekarang. Jebal…

Minji tidak tau apa alasan mengapa Jung Byulgi berkeras ingin menjenguk temannya sekarang. Tapi ia tau pasti alasan gadis itu pastilah kuat. Byulgi masih saja berlutut dihadapannya. Lama kelamaan, rasa iba muncul.

“Baiklah. Aku izinkan kau masuk. Tapi ingat ya, hanya kali ini saja aku memperbolehkanmu melanggar jam besuk. Arraseo?

Dengan cepat Byulgi bangkit dan memeluk Minji. “Gomawo. Aku berjanji.”

Aigooo. Aku bisa dimarahi habis-habisan jika kepala RS mengetahui ini.”

***

Akhirnya, Byulgi berhasil masuk ke ruangan tempat Nickhun di rawat. Air mata gadis itu turun perlahan ketika mendapati keadaan namja itu.

Badan yang biasanya terlihat kekar dan kuat itu kini begitu terlihat lemah. Badan itu… Badan yang memberikan Byulgi kehangatan ketika Khun memeluk erat dirinya. Badan itu, badan yang seringkali membopongnya ketika Byulgi tertidur di sembarang tempat. Badan itu, badan yang wanginya begitu membuat Byulgi kecanduan.

Nickhun terlihat sangat menyedihkan. Ia sekarang kurus sekali. Wajahnya juga masih pucat.

“Byulgi-ya…

Deg.

Byulgi mematung sesaat. Apa sentuhan tangannya pada namja itu telah membangunkan Nickhun?

“Byulgi-ya…

Tapi mata namja itu tertutup rapat. Ia masih tertidur. Mungkin, Khun tengah melindur.

“Ya. Ini aku, Khunnie. Aku sudah datang menjengukmu.”

***

“Selamat pagi, Tuan Nickhun. Anda bangun pagi sekali hari ini. Apa anda sudah merasa baikan?”

Nickhun memicingkan matanya sesaat. Menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk.

Rasanya hari ini ada yang berbeda. Ia merasa segar sekali. Ah ya… ia baru ingat. Semalam kan ia mimpi dirawat semalaman oleh Byulgi. Gila. Hanya dengan memimpikannya saja, efeknya sudah seperti ini. Andai saja semalam itu bukan mimpi.

Jika saja Khun tau. Kedatangan Byulgi bukanlah sebuah mimpi belaka. Gadis itu benar-benar datang dan merawatnya semalaman. Ia mengelap badan Khun. Ia merapikan kamar inapnya dan melakukan banyak hal lain semalaman. Tak lupa setalahnya, dengan pelan ia mengecup pipi Khun sebagai ucapan selamat tinggal.

***

“Ceria sekali kau hari ini. Ada apa Khun?” tanya Nichan.

“Semalam aku bermimpi Byulgi datang menjengukku dan merawatku.”

“Tsk. Jadi hanya karena itu?”

“Itu bukan hanya. Mimpiku semalam benar-benar terasa nyata.”

“Sebesar itukah pengaruh Byulgi bagimu? Segitu ia hanya mampir dalam mimpimu. Bagaimana jika ia datang menjengukmu sungguhan?”

“Aku pasti langsung sembuh detik itu juga.”

***

One week later…

Sudah seminggu ini Khun selalu memimpikan Byulgi merawatnya di malam hari. Aneh… apa ini semua kebetulan saja? Apa ini karena faktor dirinya yang terlalu merindukan sang gadis?

Ini aneh. Semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

***

Malam ini Byulgi kembali datang menjenguk Nickhun. Sudah seminggu rutinitas ini ia jalani.

Katakan Byulgi pengecut. Memang seperti itulah adanya. Gadis itu belum berani menemui Nickhun ketika namja itu sadar. Ia hanya mampu menemuinya kala Khun sedang terlelap dalam mimpinya. Beruntung selama ini Khun tak pernah terbangun dalam tidurnya.

Merawat Nickhun tiap malam saja sudah cukup baginya. Walau tak bisa saling berinteraksi, setidaknya Byulgi masih bisa melihat Khun tiap malam. Mengingat semua hal buruk yang sudah ia lakukan hingga membuat Khun dirawat di rumah sakit seperti ini, rasanya gadis itu sangat perlu bersyukur masih diberi kesempatan merawat Nickhun.

***

(At the same time, Khun side)

Karena penasaran, malam ini Khun sengaja tak tidur. Ia ingin tau kedatangan Byulgi itu nyata atau hanya fantasinya.

Ketika pintu kamarnya terbuka, buru-buru Khun berpura tidur dengan memejamkan matanya.

Sekarang sudah hampir tengah malam. Tidak mungkin suster datang untuk mengecek keadaannya. Suster yang menangani dirinya selalu rutin melakukan pengecekan terakhir pada pukul sembilan malam.

“Halo, Khunnie. Apa kabarmu hari ini?”

Suara ini… Suara yang sudah Nickhun rindukan setengah mati. Tidak salah lagi. Ini suara Jung Byulgi!

“Aku datang lagi hari ini. Maafkan aku atas kepengecutanku ini. Tapi aku masih belum bisa bertemu denganmu.”

Ingin rasanya Nickhun langsung bangkit kemudian membawa gadis itu dalam dekapannya. Tapi ia masih ingin mendengar curahan hati gadisnya lebih banyak lagi. Apakah kemarin-kemarin Byulgi juga mengajaknya bicara seperti saat ini? Menyesal rasanya melewatkan kesempatan mendengarkan yeoja itu. Kenapa ide untuk membuktikan kehadiran Byulgi baru ia lakukan hari ini?

“Sudah seminggu aku selalu datang dan melihatmu. Tapi kenapa rasa rinduku masih saja ada? Aku ini kenapa? Bukankah seharusnya jika aku sudah melihatmu, seketika itu juga rasa rinduku hilang?”

Tes.

Setitik air mata jatuh tepat di pergelangan tangan Nickhun.

‘Tidak, sayang. Jangan menagis.’ Gumam Khun dalam hati.

“Kenapa setelah aku sakiti sedemikian rupa kau masih saja tidak mau melepaskanku? Aku terlihat begitu mengerikan setelah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Bukan hanya menyakitimu, sebenarnya semua itu lebih menyakitkan lagi bagiku. Kenapa kau tidak juga menyerah dengan hubungan ini?”

Greb

“Aku tidak akan pernah menyerah pada hubungan kita karena aku tau kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama,”

Byulgi shock bukan main ketika Khun membuka matanya seraya mengenggam erat tangan yeoja itu yang baru saja mengelus pipi sang namja.

“Khunnie…”

“Tega sekali kau baru menjengukku sekarang. Sekalinya menjenguk kaupun diam-diam. You don’t have any idea how bad I miss you, honey.

“…”

Byulgi tak menolak ketika Nickhun mendekap tubuhnya dengan erat karena sejujurnya ia juga merindukan namja itu.

“Mau memperjuangkan hubungan kita sekali lagi kan?”

“Entahlah-”

“Tidak ada kata ‘entahlah’. Aku tidak mau tau. Kita harus memperjuangkan hubungan kita apapun yang terjadi.”

Seiring dengan air matanya yang mengalir perlahan, Byulgi mengangguk pelan.

***

Hari ini keadaan Nickhun benar-benar membaik. Karenanya, ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit. JYP memberikan Khun cuti yang cukup panjang untuk waktu istirahat sekaligus pemulihan namja itu. Dan karena itu pula, Khun memutuskan untuk pulang ke Thailand.

“Sudah siap, Khun?” tanya Nichan.

“Ya. Ayo kita berangkat.”

***

@Thailand

“Ya Tuhan apa yang terjadi denganmu, Nak? Oh My God…

No worries, mom. Aku sudah sembuh total. Aku hanya butuh istirahat saja.”

“Kenapa kau tidak mengabariku hm? Aku khawatir setengah mati,”

“Justru itu Mom. Karena aku tau kau akan khawatir setengah mati, makanya aku tak memberitaumu.”

***

A few days later…

Mom, boleh aku bicara ssesuatu?”

Sure. Kau mau bicarakan apa?”

“Byulgi…”

Ibu Nickhun menghela napas perlahan. Gadis itu lagi. Tapi kini ia tak bisa langsung merespon keras seperti waktu itu—lihat akibatnya, anaknya sampai drop di rumah sakit.

“Ada apa dengan gadis itu?”

Khun agak merasa tak percaya ketika mendengar intonasi datar ibunya—tanpa emosi. Apa ini pertanda baik? Apa ini artinya ibunya kini sudah mulai membuka hati untuk Byulgi?

“Aku…” Khun menarik napasnya perlahan,”ingin menikahinya.”

“Khun-”

Mom. Please. I beg you.

“Sudah berapa kali kita bicarakan ini hm? Dan aku rasa kau tau pasti jawabannya.”

Mom, please. Beri aku restu.”

“Tidak Khunnie. Tidak.”

Mom. Selama aku hidup bukankah aku adalah anak yang penurut dan tak pernah membantah?”

“Itu-”

“Bukankah aku selalu menuruti semua permintaanmu?”

“Itu-”

“Bolehkah aku, kali ini saja. Bersikap egois dan mengabaikan laranganmu?”

Nickhun berlutut di depan ibunya. Sang ibu terkejut bukan main. Air matanya menetes perlahan.

“Khunnie-”

“Mom, selama aku hidup belum pernah aku begitu menginginkan sesuatu. Tapi gadis ini lain Mom. Aku bahkan rela menukar apapun—bahkan semua—yang kupunya jika itu bisa membuat dia menjadi milikku. Aku tak bisa hidup tanpanya Mom. Baru tiga bulan ia meninggalkanku hidupku sudah sehancur ini, bagaimana jika ia meninggalkanku selamanya dan pergi dari hidupku? Rasanya lebih baik aku mati saja.”

“Khun. Aku bukannya tak mengerti tentang perasaanmu. Tapi aku adalah ibumu—seseorang yang melahirkanmu—dan aku tak mau anakku sampai salah memilih pendamping hidup. Menikah itu hanya satu kali seumur hidup, Khun.”’

“Justru karena aku hanya kan menikah sekali. Makanya aku melakukan ini. Jika bukan dengannya lebih baik aku tak usah menikah dan terus melajang seumur hidup.”

“Aku ibumu. Aku tau siapa yang baik dan tidak untukmu-”

“Apa buruknya gadisku Mom? Kau hanya menutup mata dengan kebaikannya. Kau bisa melihat dengan jelas tapi berpura buta. Aku berani mempertaruhkan seluruh hidupku karena aku yakin Jung Byulgi adalah gadis yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi ibu darianak-anakku kelak.”

“…”

“Mom. Please…”

Tak tega sebenarnya yang dirasakan oleh ibu Khun ketika melihat anak kesayangannya sampai berlutut seperti ini. Ditambah fakta bahwa anaknya itu terus menunduk, membuat bahu kokohnya yang terguncang hebat akibat tangis terlihat jelas. Tak pernah ia melihat Khun memperjuangkan sesuatu hingga seperti ini.

“Baiklah…”

Takut pendengarannya bermasalah, buru-buru Nickhun mendongkak menatap wajah sang ibu. Tepat saat itu wajahnya yang bengkak akibat tangis terekspos dengan jelas.

“Aku akan merestui kalian. Tapi jika di masa depan kalian ada masalah, aku tidak mau ikut campur. Aku tidak mau tau tentang kehidupan rumah tanggamu. Mengerti?”

***

One month later

Byulgi dan Nickhun tengah duduk bersantai di apartemen baru mereka. Mulai besok, mereka berdua akan resmi menempati apartemen ini. Ya, besok pernikahan mereka akan berlangsung.

Jika kalian membayangkan pernikahan mewah—berhubung Khun adalah Thai prince, oh ya, jangan lupakan status idolnya juga—kalian salah. Besok Khun-Byulgi hanya akan mengucap janji setia di sebuah gereja kecil (eh tunggu, emangnya agama Khun apa? Asaan bukan Kristen ya? Abaikan aja ya bagian ini. Kita ambil yang umum aja. Walau sebenernya aku pengen bilang Nickhun ijab kabul di mesjid istiqlal wkwkwkw –plak). Tak ada resepsi. Tak ada bulan madu. Tak banyak tamu yang diundang. Pernikahan mereka amat private dan sederhana.

Menyedihkan?

Siapa bilang?

Justru pernikahan ini merupakan hal ter-membahagiakan dalam sejarah hidup keduanya.

“Besok kita akan menikah…” gumam Byulgi pelan.

Senyum bahagia tercetak pada bibir Nickhun. Membayangkan bahwa mulai besok gadis di sebelahnya ini akan menyandang gelar Mrs. Horvejkul saja sudah membuatnya girang setengah mati. Akhirnya, setelah melalui rintangan berat ia berhasil juga menjadikan Byulgi sebagai miliknya.

“Hm… Aku sudah tidak sabar menunggu esok hari.” Jawab Khun.

“Bagaimana jika malam ini aku melarikan diri? Tak ada yang tak mungkin bukan?”

Nickhun kaget bukan main. Seketika itu juga ia bangkit berdiri dan memandangi Byulgi. “HYA! Andwaeyo. Mana boleh kau pergi lagi? Tidak kasihan kah kau padaku?”

Byulgi terkikik geli, “Memangnya kau mau aku bersedia menikah denganmu hanya karena aku kasihan padamu?”

“It’s okay. Yang penting kita menikah.”

“Eiy, kau tau tidak? Aku bisa seenaknya saat menjadi isterimu nanti jika kau terlalu menginginkanku seperti ini. Bertindanklah seolah kau tidak se-cinta itu padaku.”

“Tidak akan. Aku tau kau juga mencintaiku sama besarnya. Hanya saja kau itu pandai menyembunyikannya sedangkan aku tidak. Am I right?

“Sok tau!” seru Byulgi sambil melempar bantal sofa ke wajah cute sang calon suami.

“Gi-ya, kau ingat reaksi orang-orang ketika aku bilang kita sudah mengantongi restu dan akan segera menikah?”

Eo. Wooyoung memelukmu sambil menagis haru persis habis menonton drama.”

“Ya, Wooyoung yang paling senang dengan berita ini.”

“Kau tau? Saat aku meninggalkanmu, Wooyoung berubah dingin padaku. Ia bilang ia membenciku.”

“Dia tidak membencimu sungguhan. Kau harus maklum. Hubungan kami sangat dekat. Tak heran jika ia yang paling sedih ketika aku terpuruk.”

“Kenapa kau tidak menikahi Wooyoung saja kalau begitu? Bukankah Woo juga belum punya yeoja chingu?

“Aku dan Wooyoung normal, Miss. Lagipula siapa lagi yang mau menikahimu selain aku? Kalau aku sih tidak usah ditanya, ada jutaan wanita diluar sana yang bersedia aku nikahi jika kita tak menikah. Lah dirimu? Apa ada lelaki yang mau menikahimu? Seorang namja saja tak ada kan yang mendekatimu ketika kita berpisah kala itu?”

Buk!

Kali ini lemparan bantal dari Byulgi sangat keras dan sedikit membuat wajah Khun sakit.

“Kalau begitu nikahi saja wanita-wanita itu! Kau pikir aku tidak bisa mendapat lelaki lain selain dirimu?” amuk Byulgi.

Bukannya terpancing emosi. Khun malah memegangi wajah sang gadis sambil tersenyum puas. “Aigooo, pemarah sekali sih Mrs. Horvejkul yang satu ini? Aku kan hanya bilang ada jutaan wanita yang bersedia aku nikahi, itu tidak berarti aku mau menikahi mereka kan? Sekalipun seluruh gadis di dunia ini mau denganku, apa artinya jika yang aku ingin hanya dirimu hm? Aku hanya ingin menikahimu, aku tak mau yang lain.”

Byulgi masih berpura-pura marah. Dihindarinya tatapan Khun yang berusaha mengunci tatapannya.

“Ah ya! Jangan lupakan respon Cherrleen! Dia shock kan begitu tau ibumu memberi restu? Bukankah ia mogok bicara denganmu hingga hari ini? Bagaimana jika besok ia memiliki rencana yang bisa menggagalkan pernikahan kita?”

Khun lagi-lagi tersenyum mendapati Byulgi punya pemikiran seperti itu. Hey, bukankah artinya gadis itu sama inginnya menikah dengan Khun jika ia takut pernikahannya besok ada yang menggagalkan?

Aw! That’s so sweet honey… Jangan khawatir, aku tau pasti karakter adikku. Kujamin rencana untuk menggagalkan pernikahan kita sekalipun tak pernah melintas dalam benaknya. Percayalah.”

***

Malam ini terasa amat panjang. Rasanya jarum jam tak bergerak sedikitpun. Sekarang baru jam satu. Masih sembilan jam lagi menuju waktu pernikahan mereka.

Khun terus terjaga dan tak bisa memejamkan mata sedetikpun. Ia terlalu tidak sabar menunggu pagi.

Dengan iseng, diambilnya jam dinding yang dari tadi terus ia tatap. Diaturnya jam itu sedemikian rupa hingga jam menunjukkan pukul sepuluh. Khun kemudian tersenyum puas akan kejailannya.

“Ehm. Ehm. Check. One. Two.” Ujar Nickhun mengetes suaranya.

“Saya, Nickhun Buck Horvejkul menerima Jung Byulgi sebagai isteri. Saya berjanji akan selalu setia hingga maut memisahkan. Baik itu dikala senang maupun sedih.”

Merasa ucapannya terdengar kurang meyakinkan, Nickhun kemudian berdiri di depan cermin dan mempraktekan janji sucinya sekali lagi.

Diam-diam, Nichan dan Yanin terkik geli di balik celah pintu kamar Nickhun. Mereka berdua bisa turut merasakan kebahagiaan Nickhun.

***

Jam di ponsel Nickhun masih menunjukkan waktu setengah tiga pagi.

“Ya Tuhan, mengapa jam sepuluh lam sekali datangnya? (T-T)”

Tak ada yang bisa ia lakukan, iseng di-dial-nya nomor Byulgi. Ia ingin tau apa gadis itu berhasil tidur nyenyak atau malah terserang insomnia mendadak sepertinya.

Sekali. Tak diangkat.

Tiga kali. Tak diangkat juga.

Lima kali. Masih tak ada jawaban.

Mungkin gadis itu berhasil tidur.

“Ya sudah, sampai jumpa besok, Ny. Nickhun. Dream of me…

***

Drrrt drrrt

Nickhun calling

Ada apa namja itu malam-malam meneleponnya? Tidak-tidak, Byulgi tidak boleh mengangkat panggilan Nickhun. Jika ia mengangkat bisa gawat, namja itu akan tau kalau Byulgi tidak bisa tidur karena tak sabar menunggu terbitnya matahari esok pagi.

Diabaikannya panggilan namja itu sambil terus memejamkan mata dan berusaha tidur.

***

Pukul 09:55

Disinilah Nickhun Buck Horvejkul. Berdiri di depan altar dan membelakangi pintu masuk gereja. Dada namja itu terus bergemuruh tak karuan. Mengapa belum ada tanda-tanda kehadiaran Byulgi?

Bagaimana jika perkataan gadis itu—tentang kabur dari pernikahan— sungguhan terjadi?

Nickhun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak mungkin Byulgi meninggalkannya lagi. Bukankah gadis itu sudah berjanji?

Dihembuskannya nafas dari mulut—berharap dengan itu pikirannya akan tenang.

“Mempelai wanitanya datang!”

Seketika itu juga rasa lega menjalari Nickhun. Buru-buru ia berbalik dan mendapati Byulgi tengah berjalan anggun sambil dituntun oleh Mr. Jung. Senyumnya makin melebar seiring dengan langkah gadis itu yang makin mendekat.

Senang, tak sabar, dan gugup bercampur jadi satu.

Tanpa terasa, Byulgi sudah ada di hadapan Nickhun. Dengan perlahan, Nickhun mengulurkan tangannya untuk menerima uluran tangan Byulgi dari Mr.Jung.

“Aku titipkan anak semata wayangku ini padamu. Buatlah dia bahagia,”

Nickhun mengangguk kuat-kuat—sekuat tekadnya. Tangan Nickhun bagai tersengat listrik begitu ia mengenggam tangan Byulgi. Rasanya seperti pertama kali mengenggam tangan gadis itu.

Tangan gadis itu terasa dingin sekali. Nervous kah ia? Berniat menenangkan, dieratkannya gengaman mereka.

“Baiklah, apa kita bisa mulai sekarang?” tanya sang pendeta.

Byulgi dan Nickhun mengangguk mantap.

***

“Khun Hyung, Byulgi Noona, chukae! Apa kubilang, cinta kalian terlalu kuat untuk dipisahkan, betul kan?” seru Wooyoung.

“Ya. Terima kasih, Wooyoung-a. Kau adalah saksi hidup perjalanan cinta kami,” ujar Nickhun.

“Kau masih marah padaku, hm?” tanya Byulgi.

“Sedikit.”

“Wooyoung-a, kau tidak boleh marah pada isteriku. Kami kan sudah menikah, kenapa kau masih saja sebal dengannya?”

“Aku sebal saja. Habisnya Byulgi noona dulu keras kepala sekali.”

“Aigo aigo. Tenang saja, noona-mu ini tidak akan pernah keras kepala lagi. Geuraechi, Byulgi-ya?”

Byulgi mengangguk. Saat Byulgi tak sengaja menoleh ke sebelah kanan, ada Victoria yang tengah melangkah mendekati mereka. Seketika itu juga rasa takut menjalari Byulgi.

Tanpa sadar, gadis itu melingkarkan lengannya pada lengan Nickhun. Dieratkannya rangkulannya pada lengan namja itu tanda ia ketakutan. Nickhun yang sadar lengannya tiba-tiba dirangkul kuat, memandang Byulgi yang kini wajahnya mulai memucat.

“Gi-ya, kau kenapa?”

Tak menjawab, Byulgi malah semakin mengeratkan rangkulannya seiring dengan langah Victoria yang semakin mendekat tiap detiknya.

“Nickhun!”

Merasa namanya dipanggil, Nickhun mendongkak dan tersenyum begitu mendapati orang yang barusan memanggilnya tak lain adalah Victoria.

“Hai Vic!”

—To Be Continued—

6 thoughts on “When Nickhun Really Got Married (Part 8)

  1. ya ampyun thoooooorrrrrr……akhirnya di post juga… udah kangen beut…haha
    byulgi ma khun emang wajib nikah mreka pnya cnta yg kuat…
    harus.a janji nikahnya jangan gitu thor jadi gini “saya terima nikah dan kawin.a byulgi binti jung dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai” hihi… ^_^
    next part ditunggu ya thor…
    saran aku –> libatin member 2pm yang laen yah….n buat konflik lagiii…
    hwating thor…gomawo

    • Iya nih. Aku dedikasiin part ini spesial dan khusus buat kamu seorang.

      Cerita baru dimulai say, yg kmrn2 cuma intro. Judulnya aja kan ‘ketika nickhun menikah’, wong nikahnya baru part ini😄. Di depan bakal banyak konflik. Jadi kehadiran member 2pm lain boleh ditunggu😉

Comment please n_n

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s